Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 74: Dimana Sahabat Ku?


__ADS_3

Chapter 74: Dimana Sahabat Ku?.


 Kedua mata itu saling bertatapan satu sama lain.


 Sandwich yang ada di tangannya hampir saja jatuh.


 Ran batuk seketika melihat seseorang yang ada di depannya.


 Begitu juga dengan seseorang orang yang ada didepan Ran saat ini.


 Dia tidak percaya dengan apa yang ia lakukan sekarang.


"Ini bukan mimpi. Aku percaya itu" kata Red.


Dia melakukan teleportasi dan yang terjadi adalah dia berpindah tempat sampai didepan Ran yang ada di luar negeri dan juga sedang makan sandwhich.


 Ran langsung menaruh sandwhich miliknya diatas piring.


"Kau terluka" kata Ran.


 Red dengan darah terus mengalir di lengannya akibat anak panah tadi yang mengenai lengan kanannya ia belum berhenti menahan darah keluar dari lengannya menggunakan tangan kirinya.


"Apa?" tanya Ran.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Ran.


 Red sedang menatap Ran.


 Ran langsung menjauh sepuluh langkah dari gadis itu.


"Dia menghilang?" tanya Ran.


 Red tiba tiba pergi menghilang dari hadapan Ran menggunakan teleportasi lagi.


"Aku tidak tahu dia sekuat itu" kata Ran.


 Dia kembali memakan sandwhich lalu mencoba menghubungi seseorang.


 Dengan luka yang ia dapatkan dia masuk kedalam rumah Flow mengunci pintu kemudian dia dengan tangan berlumuran darah mengeluarkan kekuatan penyembuh miliknya sendiri dan menyembuhkan luka yang ia dapat sedikit demi sedikit.


 Cahaya biru keluar dari telapak tangan kirinya yang berlumuran darah.


"Aku saja bisa merasakan sakit. Kenapa kau tidak menangis?" tanya Bling.


"Ini sakit. Aku tahu" kata Red.


"Aku ingin memeluk mu sahabat" kata Bling.


"Sudahlah. Ini akan sembuh dengan cepat" kata Red.


"Iya. Kau hebat sekali" kata Bling.


 Luka itu bisa sembuh dalam tiga puluh detik dengan kekuatan yang ia miliki.


"Ini bukan kekuatan milik ku. Aku hanya manusia biasa" kata Red.


 Red kemudian pergi ke kamar mandi dengan membawa baju ganti untuk mengganti baju dan roknya  yang berlumuran darah.


 Dua puluh menit cukup untuk  membersihkan diri sekaligus mencuci baju seragamnya di kamar mandi.


 Red keluar dari kamar mandi.


"Kau sudah selesai. Aku akan menggunakan kamar mandi" kata Flow.


"Silakan" kata Red.


"Sammy tidak pulang. Dia menginap dirumah sakit lagi" kata Flow.


 Red pergi ke halaman belakang rumah untuk menjemur seragam sekolah yang baru saja ia cuci.


"Apa tak apa menjemur pakaian di malam hari?" tanya Bling.


"Kenapa memangnya?" tanya Red.


"Teman temanku suka bermain pakaian yang dijempur di malam hari" kata Bling.


 Red tidak jadi menjemur seragam sekolah miliknya di luar rumah.


"Dia penurut sekali. Itu juga katanya" kata Bling.


 Red menggantung seragam sekolahnya di dalam kamar dengan diberi kipas angin yang menyala.


 Flow datang di kamar Red.


 Red sedang berbaring diatas tempat tidur.


"Aku sudah lupa janji ku padamu" kata Flow.


"Apa?" tanya Red.


"Sepertinya akhir akhir ini aku akan sibuk" kata Flow.


"Aku senang mendengarnya" kata Red.


"Sorry" kata Flow.


"Ehm" kata Red.


 Red berbaring di atas kasur sendirian menatap langit rumah kemudian menatap langit di luar jendela.


"Apa Jun masih marah karena aku menyegel temannya itu?" tanya Red.


"Nanti kita tanyakan saja" kata Bling.


"Mau bagaimana lagi, kalau aku tidak menyegel temannya itu. Bisa gawat" kata Red.


"Kasihan sekali dengan temanku itu. Arwah nya dibangkitkan oleh mereka hanya untuk menabur racun pengrusakan manusia" kata Bling.


 Red menatap matanya sendiri. Dia sedang melihat mata Bling dari cermin yang ia gunakan saat ini.


"Kenapa kau tahu segalanya?" tanya Red.


"Tahu darimu dan Ran" kata Bling.


"Dari berita yang ku baca dari beberapa artikel para pelaku yang berbuat jahat kepada Dree semuanya sudah dipenjara" kata Red.


"Apa mereka memanfaatkan dendam Dree sehingga mereka membangkitkan arwahnya untuk kepentingan mereka?" tanya Red.


"Itu yang ku amati selama ini" kata Bling.


"Aku hanya berpikir semudah itu Jun memaafkan ku. Aku tidak yakin, dia memaafkan ku dengan begitu saja" kata Red.


"Mungkin kamu kurang istirahat jadi terdengar ragu. Cepatlah tidur" kata Bling.


"Dan yang aku tahu, kau adalah pacarnya wajar kau membelanya" kata Red.

__ADS_1


"Tambah ngelantur" kata Bling.


 Gadis ini sedang mencoba menghubungi seseorang.


"Aku tidak mendapat kabar dari Kak Sew" kata Red.


"Kita juga tidak melihat Hera hari ini" kata Bling.


 


 Red sedang sulit bergerak hanya bisa menertawakan diri sendiri karena sedang dalam proses penyembuhan dari racun anak panah yang tadi ia dapat di lengan kanannya sejak ia berbaring menatap langit di luar jendela kamar.


 Flow sudah kembali di kamarnya dan sudah tak memiliki aktivitas lagi.


"Kemungkinan dia sudah tidur" kata Bling.


 Sekarang sudah pukul sembilan malam sedangkan Red sudah tiga jam menahan racun itu perlahan keluar dari tubuhnya.


 Asap asap hitam keluar dari dalam tubuhnya sebagai tanda bahwa racun itu perlahan keluar dari tubuhnya.


 Malam sebelum Ran pergi ke luar negeri.


"Kau benar akan pergi?" tanya Jun.


"Seharusnya minggu depan" kata Ran.


"Ada apa kau memanggil ku datang?" tanya Jun.


 Mereka ada di rumah sakit tempat Red saat malam itu dirawat karena tak sadarkan diri setelah darah keluar begitu banyak dari dalam mulutnya dan jatuh pingsan di pangkuan Ran.


"Red ada didalam ruang unit gawat darurat" kata Ran.


"Sepertinya ini sangat serius" kata Jun.


"Sangat serius. Aku harus pergi jaga dia jauhkan dia dari Jimmy" kata Ran.


"Apa hubungannya semua ini dengan Jimmy?" tanya Jun.


"Aku dan Jimmy memiliki kekuatan yang sama seperti apa yang dimiliki Red" kata Ran.


"Kita bertiga tidak boleh saling mendekat karena hanya akan memperpendek usia Red" kata Ran.


"Itu alasan mu pergi jauh dari Red?" tanya Jun.


"Kau bisa menyimpulkan ini" kata Ran.


 Karena alasan ini Ran memilih mempercepat pergi ke luar negeri meski ia tahu ia harus pergi tanpa berpamitan dengan Red. Dia harus tetap pergi.


"Apa penyebab dari semua ini?" tanya Jun.


"Itu karena racun yang sama yang telah dia dan kau terima itu" kata Ran.


"Kenapa hanya dia yang bisa merasakan rasa sakit sedangkan aku tidak?" tanya Jun.


"Kau bisa meninggal atau bahkan lenyap tanpa kau dan orang lain tahu kapan saja itu bisa terjadi padamu" kata Ran.


 Jun sangat terkejut dengan apa yang Ran jelaskan tentang garis hidupnya.


"Kau tidak percaya. Ingin mencobanya?" tanya Jun.


 Ran hanya mendekatkan jemarinya di wajah Jun dan apa yang terjadi Jun langsung pergi berpindah tempat menjauh dari depan Ran menggunakan teleportasi.


 Jun dan Ran berjarak sepuluh langkah.


"Jimmy belum akan memberi efek signifikan terhadap kalian karena di telah kehilangan sebagian kekuatannya. Tapi, apakah kau tak khawatir dengan itu?" tanya Ran.


 Ran langsung pergi disaat itu juga disaat Jun mendapat sedikit hal yang Ran takutkan kepada mereka berdua.


 Mulai hari itu dia sudah memutuskan untuk pergi lebih awal untuk melanjutkan pendidikannya.


 Jun berada di luar ruang rawat Red melihatnya juga melihat dirinya sendiri.


"Udara yang ku hirup sama dengan udara yang kalian hirup" kata Jun.


"Kenapa?" tanya Jun.


"Kenapa kita berbeda?" tanya Jun lagi.


 Jun berada dalam kepanikan yang ia sembunyikan didalam sifat tenang dan dinginnya itu.


 Dia kembali melihat ke arah Red.


 Dia bersembunyi.


 Dia bersembunyi dari Red yang sudah  tersadar dari pingsan tadi.


 Jun mencoba mendengar apa yang dikatakan oleh gadis itu dari luar ruang rawat itu.


"Dia menanyakan tentang Ran" kata Jun.


 Gadis itu tak berapa lama kemudian pergi dari ruang unit gawat darurat tersebut.


 Dia terlihat berlari keluar tanpa sadar seseorang sudah menunggunya di luar ruang rawat tadi.


 Jun mengejar gadis itu.


 Kemudian, langkahnya terhenti dengan melihat kondisi Red saat ini.


 Red terlihat sedang membaca pesan dari seseorang.


"Dia telah pergi lebih awal tanpa pamit denganku" kata Red.


 Red berjalan pelan.


 Jun mengikuti gadis itu dari arah belakang.


 Red melewati tempat bagian informasi rumah sakit.


 Dia duduk diantara baris baris kursi di ruang pertama pintu masuk utama rumah sakit.


 Jun ingin menghibur gadis yang ia lihat saat ini.


 Disaat itulah datang Jimmy duduk disebelah kiri Red.


 Jun mulai berbisik kepada Red.


"Bisakah kau tetap dengan dirimu" kata Jun.


"Dirimu adalah milik mu sendiri" kata Jun.


"Kau tak boleh melupakan itu" kata Jun.


"Kau mendengar suara ku kan?" tanya Jun.


"Jangan pernah luluh dengan kisah kisah sedih yang kau dengar" kata Jun.

__ADS_1


"Aku juga bisa berbohong dan orang lain pun sama" kata Jun.


 Red mendengar suara Jun yang ia rasa cukup dekat dengan dirinya saat itu.


"Dia sudah pergi" kata Red.


"Kemana pemilik suara itu?" tanya Red.


 Jun sudah berpindah tempat dengan teleportasi  masih di area rumah sakit untuk mengawasi Red dan Jimmy dari kejauhan.


 Red masih menatap langit malam yang sangat indah tanpa awan mendung.


 Merasa tak berdaya dengan rasa sakit yang ia rasakan.


"Ini hanya mimpi dan besok aku akan terbangun dari mimpi ini" kata Red.


"Aku baik baik saja" kata Red.


 Mencari cara untuk tidak menyerah dengan semua ini. Dia mulai frustasi sudah pasti. Mencari jalan agar bisa menghilangkan masalah ini.


 Suara malam semakin jelas terdengar semakin menyiksa bagi mereka berdua untuk Red dan Jun yang juga sama sama sedang di tempat tidur mereka masing masing menatap langit malam sendirian.


"Aku belum lupa siapa namaku. Aku juga belum menyerah" kata Jun.


 Di sekolah Red masuk ke kelas seperti biasa namun kali ini sepertinya dia akan mengurangi lagi berbicara dengan orang lain.


 Dia juga tahu dia harus tetap fokus dengan tujuan datang ke sekolah. Belajar.


"Hati hati dengan Red. Dia agak mencurigakan memang" kata salah satu temannya.


"Jaga barang berharga kalian" kata Sima.


 Terdengar berbisik namun karena suasana di kelas cukup hening akhirnya suara suara lirih itu terdengar oleh teman teman kelasnya.


"Lama lama mereka bosan" kata Red.


 Yang dia maksud adalah dengan gosip tentang dirinya sekarang yang telah menyebar dan itu pasti terjadi namanya juga manusia.


"Aku hanya perlu bungkam" Kata Red.


 Entah kenapa ketua kelas mereka datang hampir terlambat didalam kelas yang amat dingin ini.


"Kebencian telah menyebar di muka bumi ini" kata Good didalam pikirannya tentang Sima.


 


 Masih di area sekolah tepatnya di belakang ruang laboratorium komputer.


 Jun mencari tempat dimana Red pergi membawa tasnya.


"Dia pergi, cepat sekali" kata Jun.


"Kenapa dia tidak memberitahu ku, kemana dia akan pergi?" tanya Jun.


"Astaga. Dia takkan kemana kemana dia masih di bumi ini" kata Doe.


"Apa salahnya aku khawatir!" kata Jun.


"Cinta bertepuk sebelah tangan memang menyakitkan" kata Doe.


"Bisa tidak kau keluar dari tubuhku" kata Jun.


"Jika kau ingin mengakhiri hidupmu. Silahkan!" kata Doe.


 Gadis ini pergi di waktu pukul sembilan pagi dari sekolah di jam istirahat pertama dengan membawa tas ransel hitamnya dengan cepat menggunakan teleportasi.


 Dia mendatangi rumah Sew.


 Suara pintu gerbang besi terdengar nyaring terdorong oleh Red.


 Udara sejuk dengan tumbuhan hijau menghias di sepanjang pagar rumah bunga bunga merambat di dinding dinding rumah merah berbau bunga tercium sedang bermekaran.


 Semua nampak baik baik saja tak ada hal yang mencurigakan atau keanehan di saat ia melewati pintu gerbang rumah seseorang yang ia anggap sebagai kakaknya itu.


 Dia melihat dari kejauhan sebuah cangkir teh ada di atas meja di depan rumah beserta beberapa kue kering ada diatas piring hitam datar.


 Red akan mencoba melangkah lebih mendekat memeriksa.


 Mata birunya di aktifkan kembali.


 Kemudian, langkahnya terhenti.


 Jika dia melewati tangga pertama itu. Dia bisa langsung lenyap menjadi abu.


 Kemudian, Red tak bisa tinggal diam dengan mantra yang menyegel rumah Sew saat ini yang telah terpasang.


 Red menonaktifkan mantra yang telah terpasang di rumah Sew. Lalu, ia menggunakan kekuatan cahaya biru yang keluar dari jemari tangan kanan seperti kilatan cahaya biru ia arahkan di sekeliling rumah untuk menghancurkan mantra itu segera menjadi abu.


 Mantra penyegel rumah Sew sudah hancur.


 Ia mengambil beberapa serbuk abu dari mantra yang sudah tidak berfungsi dengan jemari tangan kanannya.


"Mantra ini belum terlalu lama di aktifkan disini" kata Red.


 Gadis ini dengan seragam dan jaket jeans nya serta sepatu sport hitam bertali hitam juga ransel yang ia pakai melangkah berhati hati menaiki anak tangga depan rumah Sew.


 Sebelum gadis ini datang ke rumah Sew.


"Kau anak buah orang itu kan!" kata Sew berteriak.


 Seseorang berpakaian serba hitam menutup separuh wajahnya datang dengan membawa pedang mendatangi Sew.


 Dia menyegel rumah Sew pada saat itu juga sehingga tak ada orang yang bisa mendengar teriakan pemilik rumah.


"Berteriak sekeras yang kau bisa. Mereka tidak akan mendengar mu" kata seseorang dengan penutup wajah itu.


 Orang itu langsung mencekik leher Sew dan menyeretnya dengan menarik lehernya sampai membentur lemari kamarnya.


 Darah keluar mengalir dari belakang kepala Sew jatuh ke bawah lantai kayu rumah.


 Kaca lemari dibelakang kepala Sew retak.


 Dia mulai sulit bernapas karena lehernya masih berada dalam kuasa pria itu.


 Wanita ini dengan kekuatan yang ia miliki mencoba melawan namun ia belum berhasil karena pada saat itu ia langsung mendapat serangan di bagian sumber kekuatannya yang tersimpan di lehernya itu.


 


 Sew akan mengambil ponselnya yang terjatuh dari saku roknya.


 Dia dengan cepat bisa menghubungi Red.


 "Buggggg!" 


 Tangan Sew di pukul dengan keras oleh tangan pria itu.

__ADS_1


__ADS_2