Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 149: Selesai sekian dan terima kasih.


__ADS_3

Chapter 149: Selesai sekian dan terima kasih.


 Terdengar suara orang orang yang bekerja di area syuting sebuah film horor yang dibintangi oleh mantan pacar Marid, sekarang bergegas berlari kesana kemari akibat gerimis sekitar pukul setengah dua pagi semua yang turut andil dalam syuting malam ini pergi menyelamatkan diri dari datangnya gerimis.


 Marid melihat ke langit awan mendung terlihat makin menutupi bulan terang di sekitar langit yang ia kagumi menutup kedua mata dengan kedua lengan.


 


 Dari kejauhan Samima melihat mantan pacarnya dari sela sela pagar besi pembatas lapangan masih disana berbaring diatas bangku panjang belakang rumahnya sendiri.


 Apa yang sedang gadis ini hitung yang sedang ia hitung adalah waktu yang berlalu semakin maju setelah ia putus dengan mantan pacar.


"Seharusnya aku yang sedih tapi kenapa sebaliknya" kata Samima merasa ada yang mengganjal dipikiran.


 Kemudian, Samima mengambil cermin rias yang ada diatas meja kayu yang sekarang ia dan dua asisten pribadinya digunakan untuk berteduh berhenti sejenak dari proses syuting.


"Wajahku akan jauh bervolume besok" kata Samima memeriksa pipi kanannya.


"Kau mau makan malam demi dia tapi kenapa kalian putus?" tanya asisten pribadinya yang bernama Gent.


"Ya. Begitulah" kata Samima dengan nada suara tidak semangat.


"Mmmmmmm" kata asisten pribadinya yang bernama Lan.


"Lan!" kata Samima.


"Tidak" kata Lan.


"Jangan melihat ku seperti itu. Katakan saja jika kalian tidak bisa putus" kata Lan.


"Baru beberapa menit yang lalu kita putus masa iya langsung balikan" kata Samima.


"Aku kan nggak nyuruh sekarang juga" kata Lan.


 Sambil minum teh hitam hangat tanpa gula dalam sebuah gelas berukuran cukup besar warna biru terbuat dari plastik.


 Gent menyimak dan menyimak tema obrolan kali ini diantara kedua orang di depannya menunggu kapan waktunya dia ditanya lagi untuk memberikan solusi dari masalah ini.


 Samima terlihat baik baik saja saat ini karena mode mood dalam dirinya sedang diatur tidak boleh dengan mata bengkak dalam proses syuting kali ini.


"Dia bahkan tidak menangis kali ini" kata Gent.


 Meminum teh hitam hangat lagi dengan gelas berwarna biru berbahan plastik berkode PP5 dibawah gelas.


 Lan memandang Marid dari arah mereka bersama.


"So gentleman" kata Lan.


"Kalau kau tidak mau balikan dengan mantanmu biarkan aku mendekatinya" kata Lan.


"Sepertinya dia akan memilihku" kata Gent.


"Dia menaburkan visual indahnya kepada siapapun" kata Samima.


 Marid diatas bangku itu membuka mata melihat langit yang masih gerimis membuka ponsel melihat wallpaper di ponselnya masih dengan gambar dirinya dengan mantan pacarnya yang belum di ganti.


"Takkan ku biarkan kau menangis dengan semua sifat ku" kata Marid.


 Good dengan mengendarai motor dengan kecepatan sedang juga tidak mungkin tidak memikirkan apa yang telah terjadi dengan sahabatnya itu.


 Melewati persimpangan jalan kota.


 Melanjutkan pergi ke arah pulang ke rumah.


"Kenapa dia tidak mengatkan saja bahwa dia menyukainya?" tanda tanya klasik yang sudah diketahui sejak dulu oleh mereka.


"Mantan mantannya juga tidak buruk. Mereka semua sangat baik" kata Good.


"Kisah cinta yang rumit" kata Good.


 Remaja ini tiba di depan gerbang rumah berpagar tembok yang di tumbuhi rumput hijau dengan lampu terang disetiap sisi rumah.


 Pintu gerbang terbuka otomatis ketika ia datang didepan gerbang.


 Good masuk dan melewati pintu gerbang.


 Pintu gerbang tertutup lagi.


 Kemudian, Good ke dalam halaman rumah dengan jalan menuju garasi rumah di sebelah kiri rumah masuk ia memarkirkan motornya.


 Melepas helm membawanya menuju pintu depan masuk rumah.


 Dia diantara petugas keamanan yang berjaga di didepan rumah yang bertugas malam ini.


 Pintu rumah terbuka terlihat dua asisten rumah tangga dengan seragam hitam dan putih dua wanita membukakkan pintu depan rumah.


 Good melewati ruang tamu dengan helm hitam di tangan kiri.


"Aku belum tidur. Kenapa?" tanya Good.


"Kakak sudah melahirkan!" kata Good mulai berjalan keluar melewati ruang tamu.


 Kedua asisten rumah tangga membukakkan lagi pintu masuk depan rumah.


 Good berlari.


"Dimana kakak sekarang?" tanya Good.


"Tunggu!" kata Good.


 Good memakai helm lagi dan pergi keluar lagi menuju dimana kakaknya yang sedang hamil delapan bulan sedang dirumah sakit baru saja melahirkan.


 Tiga jam berlalu sudah mereka berdua melewati waktu mereka putus cinta.


 Seseorang dengan jaket hitam ada didalam mobil dengan diiringi lagu sedih dengan tema putus cinta terus berulang di putar di dalam mobil yang bergerak pergi ke arah pulang yang berjarak satu jam setengah untuk sampai ke rumah.


 Lagu bertema sedih itu sudah berputar sebanyak tujuh kali terngiang di telinga orang orang yang ada di dalam sana kedua asisten pribadi dan driver pribadi yang tanpa suara ada didalam sana dengan suara tangisan dari aktris mereka yang menangis sejak masuk kedalam mobil lalu menutup mobilnya.


"Aku tahu. Aku tidak terlalu cantik seperti mantan mantannya itu" kata Samima dengan tisu di tangan menghapus air matanya sendiri.


"Kenapa dia memberiku pilihan itu?" tanya Samima.


"Pasti ada yang salah denganku tapi kenapa dia tidak bilang" kata Samima.


 Menangis lebih keras lagi.

__ADS_1


 Lan dan Gent memberikan satu kotak tisu wajah dari tangan mereka masing masing yang berada diantara Samima saat ini di mobil baris kedua.


"Setidaknya berikan waktu untukku memperbaiki tapi dia langsung ingin putus atau tidak" kata Samima.


"Benarkan. Aku bisa berusaha berubah semampuku" kata gadis ini lagi.


 Ada situasi dimana driver pribadinya berniat akan mengganti lagu sedih yang diputar menjadi lagu bertema ceria.


 Baru akan menggantinya.


"Jangan ganti. Ini lagu kesukaan mantan pacarku" kata Samima.


 Dia tidak jadi mengganti lagu yang sedang di putar saat ini.


 Paman ini kembali dengan pekerjaan yang sedang ia lakukan.


 Dia, Samima masih belum berhenti menangis.


 Hujan di luar cukup deras dengan intensitas masih aman untuk melakukan perjalanan dengan kendaraan roda empat.


 Di rumah.


 Marid mengupas sebuah telur rebus.


 Marid sedang di meja ruang dapur bersama dengan adiknya yang terbangun baru saja. Melihat kondisi Marid dengan sambil memakan telur rebus di tangan.


 Marid memberikan telur rebus yang baru di kupas olehnya untuk adiknya yang berusia empat tahun yang sedang memakan telur.


 Mata bulat besar dengan pipi tembam bertambah tembam dengan apa yang dia makan melihat kakaknya yang sedih.


 Suara menggemaskan itu bertanya pada Marid.


"Kakak baru putus lagi?" tanya adiknya.


"Tidak" kata Marid.


"Mata kakak merah lagi" kata Adiknya.


"Minum susunya lagi" kata Marid.


"Masih panas" kata adiknya menolak.


"Sorry. Kakak lupa" kata Marid.


 Marid meniup susu yang tadi ia buat masih cukup panas jika di minum oleh anak anak berusia seusia adiknya.


 Membantu meminumkan susu hangat tanpa gula dengan sendok kecil kepada adiknya.


"Lagi?" tanya Marid.


 Marid menyuapi minum adiknya beberapa kali.


"Cukup, nanti minum lagi" kata adiknya.


 Dengan satu telur rebus masih utuh di sebelah tangan kiri dan setengah telur rebus yang terisisa setelah dimakan barusan.


"Kenapa mencari kakak malam malam begini?" tanya Marid.


"Mamah sedang tidur. Jadi, aku pergi dari tempat tidur mencari Kakak" kata adiknya. 


"Karena aku sangat lapar" kata adiknya Marid.


"Besok. Jangan keluar rumah malam malam" kata Marid.


"Ok!" kata adiknya dengan senyum pipi tembem.


"Gadis kecilku yang baik" kata Marid.


 Pipi adiknya terlihat kuning telur dan nasi putih menempel disana Marid sedang mengusap pipi adiknya dengan tisu basah wajah untuk balita.


"Lihat senyum kakak tampan sekali" kata adiknya tertawa dengan pipi yang terisi makanan.


 


 Tertawa keras di ruang makan adiknya menunjuk wajah kakaknya dengan tangan kanan masih dengan telur yang belum habis di makan.


"Heehehehheheh" 


 Di ruang tamu rumah.


 Red sudah bisa melihat lagi orang yang ia sayang ada disana dengan visual yang tidak kurang sama sekali.


"Ini. Ini akan sembuh dengan obat merah saja" kata Ran.


 Ran sedang memberikan obat merah di bibirnya yang terlihat terluka akibat pertarungan yang baru saja mereka lewati bersama dengan Cotton bud.


 Melihat ke layar kamera lagi.


"Sudah. Ini segera sembuh" kata Ran.


 Menatap wajah seseorang yang ia sayang senyum lembut ramah belum berhenti saling menatap.


 Berkedip remaja ini.


"Sudah" kata Red.


"Sudah" kata Ran.


"Ya sudah. Bye bye!" kata Red.


 Melambaikan tangan mengucapkan salam perpisahan kepada Ran.


"Bye" kata Ran.


"Tunggu!" kata Red.


"Ada apa?" tanya Ran.


"Selamat ulang tahun!" kata Red.


 Obrolan keduanya di tutup lebih awal oleh Red.


 Ran merasa kaget dengan apa yang baru saja di katakan oleh Red padanya.


"Apa dia mengatakan ucapan selamat ulang tahun untukku" kata Ran.

__ADS_1


 Hari ulang tahunnya sama dengan hari ulang tahun seseorang, dia adalah Jun.


 


 Cahaya biru terlihat diantara tangannya muncul kembali seperti bintang bintang kecil. 


 


 Buku yang ia dapat dari Hech yang sebelumnya ada ditangan Sima teman satu kelasnya itu terlihat ikut bersinar terang akan mulai menghilang sama halnya dengan tangan Red dengan waktu yang sama segera dia meraih buku itu dengan cepat.


"Hampir saja" kata Red.


"Lalu bagaimana dengan Jun yang tidak memiliki buku ini" kata Red.


 Dia dengan berniat akan keluar dengan teleportasi pergi memeriksa keadaan Jun saat ini.


"Ada apa ini?" tanya Red.


 Di luar rumah masih dengan seorang Sniper berjaga sudah dengan anak panah yang tertancap di empat sudut rumah menjadi tameng sekaligus mencegah gadis yang ada di dalam rumah itu pergi.


 Red merasa ada yang aneh terjadi lagi pada dirinya lagi.


 Cahaya biru itu mulai muncul kembali seperti kekuatan energi biru yang ia miliki tapi kali ini berbeda dari sebelumnya kini semakin menghilang dan menghilang perlahan raganya dari mulai tangan kemudian perlahan lengan pundaknya menghilang.


 Di ambil lagi buku yang juga akan menghilang bersamaan dengan dirinya.


 Sendi sendi didalam tubuhnya seakan nyeri dengan rasa sakit yang luar biasa.


"Aaaaaaaaa"


 Red terjatuh ke lantai dia sulit menggerakkan jemari jemari tangannya lagi.


 Dia sedang berusaha bangun.


 Rasa sakit itu sampai membuat dia menangis dengan sendirinya.


 Ponsel diatas meja terus bergetar dengan seseorang menelponnya.


 Dia sedang menahan dirinya sendiri agar tidak menghilang dengan terus memegang buku itu. 


 Wayne terus memanggil nomor  ponsel yang merupakan milik sepupu perempuannya itu.


 Di rumah sakit di sebelah Jimmy.


 


 Wayne sedang memeriksa kondisi sepupu perempuannya itu dengan energi pemindai jarak jauh.


 


 Wayne melihat Jimmy yang menyalurkan energi penyembuh dan pelindung untuk Sima.


 Wayne menyenggol siku Jimmy sebelah kiri.


"Heh. Kenapa energi pemindai ku tidak bekerja?" tanya Wayne.


"Itu bukan apa apa. Mungkin kawanmu sedang liburan" kata Jimmy.


"Itu tidak mungkin. Aku sekarang masih terkoneksi dengannya" kata Wayne.


"Jangan heboh. Aku sudah pernah kehilangan semuanya" kata Jimmy.


"Ya. Kau yang terhebat" kata Wayne.


"Ya" jawab Jimmy dengan tenang.


 Wayne rasanya ingin mengajak sahabatnya itu berkelahi.


 Dia mencoba ingin pergi dengan teleportasi tapi tetap gagal sedangkan untuk Jimmy sudah tahu akan seperti ini terjadi kepada Wayne.


 


 Dampak dari tusukan yang ia dapat dari makhluk misterius itu yang menyamar sebagai seorang bodyguard perempuan Sima lalu kejadian penusukan itu dialami oleh dirinya dan juga Sima.


"Padahal ini sudah sembuh. Kenapa masih terasa sakit?" tanya Wayne.


"Kau baru saja pulih dan langsung bekerja. Itulah akibatnya" kata Jimmy.


"Tidak semua orang sekaya dirimu" kata Wayne.


"Makanya kamu bekerja sangat keras" kata Jimmy.


 Wayne rasanya lebih ingin mengajak berkelahi melebihi sebelumnya. Namun, dia berpikir bahwa akan membuang buang waktu jika berkelahi dengan Jimmy.


 Mengapa Wayne tidak bisa memeriksa kondisi Red sekarang, itu karena meski hantu penjaga atau Bay sudah pergi efek dari mantra obat dari "Orang itu" atau Makhluk Misterius itu masih ada di raga Red dan itu tidak bisa dibohongi dengan bukti kondisinya yang mengalami perubahan lagi sewaktu kala itu dia juga hampir kehilangan nyawanya sendiri didepan Jun, Ben dan juga Jimmy saat berada di kelas ketika waktu istirahat sekolah.


 Waktu detak jarum jam berputar di ruang tamu menempel di dinding  bercat putih. Red ada di sana di bawah lantai dalam keadaan menahan rasa sakit sendirian.


 Melihat jam dinding berwarna biru muda. Red.


 Jun juga memanggil nomor ponsel Red terus bergetar lagi ponsel milik gadis ini sedang diatas meja.


 Red sulit untuk berbicara darah keluar dari ujung bibir sebelah kirinya dan itu berbau sangat busuk.


 Kedua tangan yang kaku memaksa dia mencekik dirinya sendiri dengan energi cahaya biru seperti kilatan petir.


 Saat ini, dia sulit bernafas dengan tanpa kendali sendiri mencekik lehernya hingga terlihat luka membiru sudah mulai terbentuk dari luar rumah bukan hanya Wayne yang tidak bisa melihat kondisi gadis ini yang sedang melawan ketidak inginan ini terjadi pada dirinya sendiri.


 Jun tidak tahu kenapa ada luka lebam mulai terlihat di lehernya saat ia sedang bercermin di salah satu kamar rumah Radan.


"Kenapa semakin memerah dan berbau busuk?" tanya Jun.


"Kenapa aku juga tidak bisa menemukan keberadaan Red?" tanya Jun.


"Tapi, ponselnya masih aktif. Dimana dia saat ini?" tanya Jun.


 Flow yang sedang bersama keponakan keponakan yang tidur di setiap sisinya terlelap mereka ada di kamarnya lalu luka yang sama juga muncul di leher Flow tanpa sebuah rasa sakit hanya saja sangat berbau busuk.


 Luka di leher mereka bertambah memerah darah mengalir di beberapa bagian leher seperti bekas cekikan seseorang jelas terlihat oleh Jun.


"Darah?" tanya Jun.


 


 

__ADS_1


__ADS_2