
Chapter 104: Sudah. Aku disini.
"Kenapa kau datang kemari?!" kata Jimmy.
Sima tak bisa menjawab pertanyaan dari Jimmy.
"Pergilah. Kau terlihat paling menyedihkan disini!" kata Jimmy.
Dia Sima masih belum percaya dengan apa yang ia terima dari perlakuan Jimmy.
Menahan tangis.
"Tapi, aku ... " kata Sima.
Di atas mereka berdua yang sedang bertengkar ada disana di lantai dua sebuah gedung melihat dengan jelas dengan pertunjukan teater bergenre romansa ini.
Perasaan gadis ini di pukul lagi dan lagi tapi tetap saja dia tidak mau menyerah.
Situasi macam apa ini ada seseorang yang sedang mengemis demi cinta yang tak pernah ada sungguh ini memalukan dan menyedihkan.
"Bisakah kisah seperti ini tidak ku lihat?" tanya Jax.
Jax ada di lantai gedung bercat putih sedang menunggu seseorang didalam sana.
Jimmy akan pergi bersama dengan gadis lain tapi gadis itu menahannya.
"Maaf" kata Sima.
Jimmy bertahan dengan sikap itu tak peduli dengan apapun yang dilakukan oleh gadis itu.
"Maksudmu, aku yang bersalah dalam masalah ini?" tanya Jimmy.
"Bagaimana cara agar kau tidak meninggalkan ku?" tanya Sima.
"Aku sudah muak dengan mu!" kata Jimmy.
Jimmy menghempaskan kedua jemari tangan Sima.
Dan bergerak meninggalkan gadis ini.
Sima bertambah sedih dan dia meneteskan air mata setelah mendapatkan kalimat terakhir itu.
"Tapi, apa aku salah jika menyukai mu!" kata Sima.
Jimmy menghentikan langkah kakinya bersama gadis disebelah kirinya. Red.
"Aku tidak pernah menyukai mu!" kata Jimmy.
Jimmy dengan mudah pergi dari hadapan Sima bersama dengan Red.
Tak bisa berbuat banyak dengan masalah orang lain saat ini. Mereka dikatakan terkejut juga tidak karena sudah sedikit tahu karakteristik Jimmy sebelumnya.
Di area parkir rumah sakit yang saat itu juga ada Jun dan Ben juga Good serta Bee.
Bee melepas tangan kanan pacarnya pergi menuju Sima.
"Kau jangan menangis. Ayo kita pergi dari sini" kata Bee.
Sima melihat ke arah gadis teman satu kelasnya itu.
Belum mengiyakan ajakan temannya.
"Kau jangan nangis. Aku jadi sedih" kata Bee.
Ini malah Bee yang ikutan nangis.
"Kenapa kamu yang nangis?" tanya Sima.
"Ayo kita pergi dari sini. Kamu ingin kita pergi kemana, aku mau menemani mu?" tanya Bee.
Ketiga remaja yang tadi ada di area parkir datang menemui Bee.
Bee dan Sima melihat ke arah mereka.
"Kamu mau ikut aku atau dia?" tanya Good.
Bee melihat ke Sima.
"Aku ikut dia" kata Bee.
Good mengambil sesuatu dari dalam dompetnya.
Menarik tangan kanan pacarnya.
Good memberikan kartu ATM miliknya untuk Bee.
"Pakai ini. Aku akan masuk kedalam bersama mereka" kata Good.
"Aku akan memanfaatkan ini sebaik mungkin" kata Bee.
Mereka bertiga pergi meninggalkan kedua gadis itu.
Bee mengajak lagi gadis di depannya itu.
"Kita mau pergi kemana?" tanya Bee.
Sima tersenyum kepada Bee.
"Wahhh. Akhirnya, kau tersenyum lagi" kata Bee.
"Ayo kita pergi" kata Sima.
Sima dan Bee pergi dengan menggunakan taksi yang Bee pesan melalui aplikasi online yang ada di ponsel.
Di jalan bangsal dalam perjalanan menuju ruang inap sahabat mereka.
"Apa itu tidak berlebihan?" tanya Ben.
"Aku juga ingin uang mu" kata Jun.
Ketiganya tertawa.
"Itu salah satu dari milik ku" kata Good.
"Pantas semua ingin jadi pacar mu" kata Ben.
"Itu untuk berjaga jaga saja" kata Good.
"Suami idaman" kata Jun.
Di lantai dua rumah sakit Jax telah melihat Sima yang sudah pergi dengan teman satu kelasnya.
Temannya datang memberikan satu cup kopi hangat.
"Ini" kata temannya.
Didalam taksi Bee mendapatkan pesan dari Good.
"Aku sayang kamu. Kamu tahu maksudku kan"
__ADS_1
Itu pesan dari Good untuk Bee.
Bee tidak tersenyum setelah membaca pesan dari pacarnya karena dia harus menjaga perasaan orang yang ada di sebelahnya.
"Iya Iya Iya Iya Iya Iya"
Good tersenyum mendapat pesan ini dari pacarnya.
Mereka bertiga mengetuk pintu masuk ke ruang rawat inap Wren.
"Tok tok tok!"
"Masuk" kata Wren.
"Dewa langit!" kata Good.
Good menaruh ponselnya di atas selimut yang ada di ranjang temannya yang sedang membaca sesuatu dari dalam layar tablet miliknya.
Dia menaruh tabletnya di sisi kirinya.
Sebuah tangan sedang mencoba mengambil ponsel milik Good dan itu terlihat oleh Jun dan remaja itu tetap membiarkan hal itu terjadi.
Dia dengan leluasa mengubah pengaturan ponsel milik Good agar tidak bisa menerima atau mengirim juga memanggil nomor yang ia atur didalam ponsel milik Good.
Ben melihat ke arah Jun yang juga ikut tersenyum jahat melihat aksi yang dilakukan oleh temannya ini.
Ben menaruh ponsel milik Good kembali ditempat semula.
Wren juga tahu bahwa Ben akan melakukan hal ini kepada Good.
Sebelum mereka datang diruang rawat Wren masih di dalam lift.
"Nanti bantu aku mengamankan ponsel milik Good?"
"Untuk?" tanya Wren berbalas.
"Keselamatan dunia" kata Ben.
Mereka berdua saling memberitahu lebih awal.
Setelah Wren selesai mengalihkan Good agar berbicara dengannya lebih lama untuk waktu selanjutnya ia tidak ikut turut andil lagi berjalan sebagaimana mestinya.
Itu juga yang ia lakukan kepada Bee agar dia tidak terlalu dekat dengan Jimmy.
Ben sudah melakukan pembatasan komunikasi bahkan untuk beberapa aplikasi chat yang ada didalam ponsel mereka. Dia tidak bisa membuat hal itu membuat hubungan keduanya cepat berakhir.
"Bagaimana kalau dia akan jadi pacar mu atau bahkan istri mu?" tanya Jun.
"Aku tidak tahu masa depan" kata Ben.
"Aku ramal ... " kata Wren.
Ben melempar satu bantal putih ringan kepada Wren.
Marid datang dengan membawa kopi dalam empat cup ditangan.
Melihat ke arah Wren yang sedang di lempar dengan satu bantal.
"Kalian sungguh tega kepada seorang pasien" kata Marid.
"Kak datang!" kata Wren.
"Aku bukan kakak mu" kata Marid.
Marid membagi kopi kepada ketiga sahabatnya itu.
"Kau benar" kata Marid.
Ben meminum kopi dari Marid.
"Dunia macam apa ini?" tanya Ben.
"Dunia kita?" kata Wren.
Jax selesai berdiskusi dengan temannya yang seorang Psikiater itu.
Dia pergi turun dari lantai dua gedung tersebut dengan lift melewati bangsal rumah sakit dan bergerak pergi menuju pintu masuk dan keluar rumah sakit.
Jun mengejar kakaknya.
"Makan ini!" kata Jun.
Jun memberikan makanan dalan tote bag berwarna krim kepada Kakaknya yang ia beli tadi di restoran rumah sakit.
"Ini ... ?" tanya Jax.
Jax akan mengejar adiknya tapi Jun pergi lebih cepat sebelum kakaknya akan memanggilnya.
Jax melihat isi dari tote bag yang ia terima itu dan melihat adiknya yang berjalan jauh masuk kembali kedalam lift.
Didalam lift rumah sakit dengan membawa makanan pesanan dari teman temannya.
"Alasan ini" kata Jun.
Dia mulai sedikit memahami kenapa kakaknya masih saja menyukai gadis itu. Sima.
Beberapa detik berlalu pintu lift terbuka Jun keluar dari dalam lift melangkah kembali kepada teman temannya yang masih disana sedang menjenguk temannya.
Jax sudah masuk kedalam kursi kemudi mobil melihat makanan yang diberikan oleh adiknya barusan.
Dia menyalakan mesin mobil kemudian pergi dari area parkir rumah sakit keluar dari pintu keluar untuk kendaraan roda empat tempat ini.
Jax pergi dari rumah sakit menuju kantor lagi menyelesaikan pekerjaan lagi bukan karena belum selesai tapi karena dia sedang menyibukkan diri.
Jax akan turun dari mobil dia mengambil makan siangnya dari Jun dan dia hampir saja melewatkan sesuatu. Dia mengambil sebuah undangan pernikahan dari seseorang.
Dia membawanya bersama dengan beberapa dokumen miliknya dari dalam mobil pergi masuk kembali ke kantor tempat ia bekerja.
Dia sudah sampai di tempat para karyawan sedang bekerja.
Melihat ke meja tempat Flow bekerja dan dia belum melihat wanita yang ia kenal itu datang kembali bekerja.
"Kapan dia akan kembali?" tanya Jax.
Setelah sebelas detik melihat ke arah meja kerja Flow. Dia kembali melanjutkan langkah menuju ruang kerjanya yang berjarak tidak jauh dari tempat para karyawan itu sedang sibuk bekerja.
Red ada disana bersama Jimmy.
Tak ada yang bicara banyak disaat ini semua terasa canggung.
Jimmy dan Red membawa buah buahan untuk Wren dan mengucapkan kata kata turut sedih terhadap apa yang telah menimpa Wren.
Setelah beberapa kalimat ia katakan kepada Wren setelah itu pula ia melanjutkan bermain ponsel menunggu Red yang sedang mengobrol bersama teman temannya.
Jamie datang dengan penuh raut sedih menjenguk Wren bersama kakak laki lakinya.
"Kakak akan pergi sebentar" kata Kakaknya Jamie.
Dia mengguncang kedua bahu Wren memeriksa dengan tanpa tahu akan hal bahwa yang ia lakukan tidak boleh untuk orang yang masih menjalani penyembuhan.
__ADS_1
Kemudian, dia akan memeluk Wren seketika Jun langsung mencegah hal ini ia lakukan kepada Wren.
"Tidak boleh!" kata Jun.
Terkejut dengan kata kata Jun yang begitu bersemangat terdengar bisa menimbulkan orang orang disekitarnya salah paham.
"Katakan saja kau menyukainya" kata Jimmy.
Semua mata melihat ke arah Jimmy.
"Kenapa. Apa aku salah bicara kita lihat saja kedepannya" kata Jimmy.
Jamie melepas tangan Jun dari kedua lengannya yang sedang ditahan oleh Jun agar tidak memeluk Wren.
Kakak dari Jamie datang sambil membawa beberapa kudapan.
"Ada apa ini?" tanya kakaknya Jamie.
"Tidak ada apa apa" kata Jamie.
Dia masuk lagi ke ruangan tersebut menaruh makanan yang ia bawa diatas meja sofa ruangan ini.
"Kalian pasti lapar ambil saja sepuasnya" kata Kakaknya Jamie.
Semua kompak menjawab "Terimakasih".
Kakaknya Jamie adalah teman Wren dalam hobi yang sama yaitu menembak.
Dia menarik menggeser adiknya agar duduk tenang di sebelah Jimmy dan dia juga duduk disebelah adiknya melihat ke arah mereka.
"Santai saja. Anggap saja tidak ada orang disini" kata Kakaknya Jamie.
Jamie memang sering datang jika kakaknya sedang mengerjakan hobi itu bersama dengan Wren, Jun, dan juga Bob.
Kakak dari Jamie berkata lagi.
"Sorry untuk senapan mu yang rusak" kata Kakaknya Jamie.
"Iya tak apa. Kakak malah menggantinya dengan yang lebih baik" kata Wren.
Setelah berkata ini dia melanjutkan berusaha menaikkan level bermain game online saja seperti yang dilakukan oleh Ben yang tepat berada disebelah ia duduk disana didalam ruangan itu.
Di kebun binatang, Sima dan Bee datang disana ramai dengan para pengunjung tawa anak anak terdengar membuat Sima ikut tertawa melihat mereka.
Mereka sedang berada di depan pagar para jerapah jerapah yang sedang memakan wortel yang diberikan oleh para petugas sore ini.
Sima melihat Bee yang juga dengan aura positif ia perlihatkan dari wajah lembutnya.
Sima sedang berpikir bahwa gadis di sebelahnya terlalu baik untuk dijadikan teman olehnya.
"Seharusnya seharusnya aku sedang sangat sedih saat ini" kata Sima dari hatinya berbicara.
"Dan dia menghibur ku" kata Sima.
"Apa aku bisa menerima ini. Ini tidak adil untukku" kata Sima.
Bee mengajak bicara Sima tapi dia hanya memandang wajah temannya itu.
"Kakak Cantik aku sedang bicara dengan mu" kata Bee.
Ia baru sadar.
"Oh. Ya" kata Sima.
Dia tersenyum kepada Sima.
Mereka berdua pergi ke area koala koala yang juga penghuni kebun binatang di tempat itu.
Wayne datang sendiri entah apa yang ia lakukan disana.
Membawa empat tusuk satai olahan dari udang dan cumi dengan empat saus yang berbeda.
Makan sendiri di sebelah Bee tanpa melirik ke arah keduanya pokoknya fokus dengan diri sendiri.
"Aku ingin menyapa tapi aku takut dia akan menawarkan paket liburan lagi" kata Bee.
Dia teringat diwaktu di rumah sakit saat bersama dengan Good dan Red juga Radan.
Sima sedang tidak ingin mengobrol dengan apapun yang berhubungan dengan Jimmy termasuk sahabatnya itu. Jadi, dia membiarkan dia dengan dunianya sendiri.
"Bee" kata Sima memanggil.
"Ya" kata Bee.
"Kau bisa pergi dari sini" kata Sima.
"Pergi?" tanya Bee.
"Aku takut suatu saat aku akan menyakiti mu" kata Sima.
"Kenapa kau bicara seperti itu?" tanya Bee.
"Aku sedang berada di level ingin menyakiti orang lain" kata Sima.
Bee akan menangis ketika mendengar perkataan dari temannya bukan karena takut tapi dia sedang sedih.
"Aku harap kamu tidak bertindak hal itu" kata Bee.
"Pergilah" kata Sima.
Nada suara yang terdengar oleh gadis yang berbicara dengan Bee seperti seseorang yang sedang menahan tangis sejak tadi.
"Maaf tidak bisa menjadi teman mu" kata Bee.
Bee pergi dari hadapan Sima dengan berjalan pelan.
Bee pergi semakin menjauh meninggalkan Sima.
Sima duduk di kursi yang tidak jauh darinya berdiri saat itu.
Dia tertunduk dan menangis.
Terisak sendiri disana.
Wayne melihat ke arah gadis mantan pacar sahabatnya sambil memakan satai olahan udang dengan saus barbeque.
"Mengapa ada gadis semalang dia?" tanya Wayne.
Dia belum berhenti menangis setelah tiga puluh menit menangis di kursi hitam taman panjang bergaya klasik terbuat dari besi.
Makanan di tangan Wayne sudah habis. Dia membuang tusuk satai itu di tempat sampah yang juga tidak jauh dari Sima duduk berjarak lima meter dari tempatnya duduk.
Wayne duduk disebelah kiri Sima.
"Untuk apa kau disini?" tanya Sima.
"Ibuku memiliki saham di tempat ini. Apa aku salah jika kemari?" tanya Wayne.
"Dasar kalian memang" kata Sima.
"Memang kami sangat kaya" kata Wayne.
__ADS_1