
Chapter 96: Sniper.
"Air matamu berwarna biru?" tanya hantu yang menjadi tawanan Red.
"Dimana yang lain. Kau sendiri lagi?" tanya hantu itu lagi.
"Aku hanya perlu menghapusnya kan?" tanya Red.
"Apa waktunya semakin dekat?" tanya Bling.
"Hidupku selalu seperti ini. Bahkan ketika aku sedang baik baik saja" kata Red.
"Apa arti dari senyum mu itu?" tanya hantu yang disandera oleh Red.
Dia terbangun di tengah malam dalam mimpi buruk malam ini. Berbaring diatas tempat tidur dengan selimut abu abu tebal dan seprei putih bergaris hitam horisontal.
Dia mengambil napas dalam kamar tidurnya menatap sekitar kamar dengan langit penuh lampu lampu kecil menyala seperti langit di malam hari.
"Aku tadi mimpi apa. Kenapa aku langsung lupa?" tanya Wren.
Dia kemudian meninggalkan tempat tidur dan beranjak pergi menuju kamar mandi.
Dia masuk kedalam kamar mandi.
Dari luar kamar mandi terdengar suara air mengalir tak berapa lama ia keluar dengan wajah telah basah oleh air tadi saat di kamar mandi.
Dia pergi melakukan meditasi disisi kamarnya sendiri bagian kiri tempat tidur beralas kain seperti karpet dengan aroma lilin aromaterapi yang ia nyalakan berbau citrus.
"Berapa waktu ku yang tersisa?" tanya Jun.
"Kita tidak tahu" kata Doe.
Jun sedang menangis diatas roof top sekolah sendirian.
"Rasanya aku ingin mati saja sekarang" kata Jun.
"Kau kemari ingin lompat dari atas gedung ini" kata Doe.
"Kau gila!" kata Doe.
Jun terdiam di angin malam yang sangat kencang malam ini diatas gedung sekolahnya sendiri.
"Aku selalu menganggap dunia ini tidak mempermainkan hidupku tapi kenapa sekarang aku mulai ragu?" tanya Jun.
"Aku tahu kau tidak mungkin melakukan hal yang sama seperti ku dulu" kata Doe.
Jun akan melakukan hal aneh yang pernah dilakukan oleh Doe disaat dia akan mengakhiri hidupnya sendiri.
Doe tidak bisa mengendalikan raga Jun dia ingin mencegah hal itu terjadi kepada Jun tapi dia tidak bisa.
"Kau akan menyesal!" kata Doe.
Jun benar benar akan melakukan hal itu.
"Darrrrrrrrrrr!"
Dan yang terjadi adalah terdengar suara tembakan dari arah jauh datang dengan peluru terbelah menjadi empat bagian dan menjadi alat pelindung Jun dan mendorongnya dengan keras terhempas membawa Jun terlempar ke arah tembok dekat pintu masuk arah atas gedung terkunci sangat erat disetiap bagian peluru yang terbelah tadi merekat ke dinding.
Peluru putih tepat mencegah Jun melakukan hal semacam itu.
Sniper itu dengan cepat datang mendekat ke arah Jun.
Dia dengan jubah dan pakaian serba hitam dan senjata berlaras panjang ada di tepat di depan Jun.
Dia akan menembak Jun dengan peluru berbeda dari bentuk peluru sebelumnya ia arahkan kepada Jun
"Tetaplah disini" kata pria itu.
"Jika kau ingin hidup" kata Pria itu.
Jun semalaman dengan peluru peluru itu sebagai perisai dan alat penyandera remaja laki laki ini agar tidak bertindak di luar rencana hidupnya.
Hampir dua jam Jun disana.
"Kau sedang apa?" tanya Hera.
Jun terbangun.
"Kau?" tanya Jun.
"Ya. Kau sedang apa disini?" tanya Hera.
"Tolong lepaskan aku!" kata Jun.
"Aku menunggu selama hampir dua jam sejak tadi" kata Hera.
"Lalu kenapa kau tidak menolong ku?" tanya Jun.
"Kau jauh lebih hebat dariku. Lakukan sendiri" kata Hera.
Jun duduk di bangku panjang dekat di sisi kanan Jun sambil bersandar di di dinding menatap langit.
"Tolong aku!" kata Jun.
"Kakak. Tolong aku!" kata Jun.
Dia sedang memohon.
"Siapa suruh mau bunuh diri" kata Hera.
"Apa dia temanmu?" tanya Jun.
"Jun tidak seperti ini yang ku kenal" kata Hera.
"Makanya lepaskan aku. Aku mohon" kata Jun.
"Kau bukan adikku" kata Hera.
"Sekarang kau kakakku" kata Jun.
"Diam. Sekarang aku mau tidur" kata Hera.
Hera membuat Jun menjadi diam tak bersuara meski dia berusaha berbicara itu tak membuatnya dapat didengar oleh hantu ataupun manusia sepertinya.
"Kau kejam seperti biasa Hera!" kata Doe.
Hantu yang ada didalam raga Jun.
"Aku memang kejam" kata Hera.
Hantu ini langsung pergi dari dekat Jun dan Doe sahabatnya sendiri.
Tubuh Jun semakin menghilang tapi ia dapat merasakan dirinya masih ada.
"Apa ini?" tanya Jun.
"Aku tidak bisa melihat raga ku sendiri" kata Jun.
__ADS_1
"Jangan panik bocah!" kata Doe.
"Siapapun pasti panik" kata Jun.
"Jangan pura pura lagi. Lihat matamu berubah memutih lagi" kata Doe.
Entah apa yang datang siapa sosok dibalik energi yang terasa memanas jika energi itu menyentuh melewati raga Jun.
"Dia tidak melihat ku?" tanya Jun.
"Ku rasa dia bisa merasakan bukan berarti dia tahu itu kau" kata Doe.
Energi itu terus mencari Jun disana terbang mencari dan mencari.
"Dimana bocah yang bernama Jun itu?" tanya energi jahat itu.
Sosok itu tidak menampilkan wujud aslinya tapi yang terlihat hanya energi hitam seperti asap yang terus mencari keberadaan Jun.
"Dimana kekuatan mu?" tanya Doe.
"Kau tahu kekuatan ku semakin menghilang setelah aku mengalami mimpi buruk ini" kata Jun.
"Sudah. Selesai" kata Doe.
"Jangan membuat ku pesimis" kata Jun.
"Kau tadi ingin mati kan. Ini kesempatan mu" kata Doe.
"Apa masih bisa dihitung dosa ku tadi?" tanya Jun.
"Entahlah. Aku bukan Tuhan mu" kata Doe.
"Tapi tadi tidak jadi ku lakukan" kata Jun.
Energi itu terus mencari Jun dan membuat tubuhnya terasa terbakar tanpa bisa melakukan apapun.
Dari kamar Flow yang sedang tertidur dengan selimut menyelimuti diatas meja studi buku catatan itu kembali terbuka dengan sangat cepat tanpa ada angin ataupun yang membukanya dengan cahaya pelangi berganti ganti warna dan akhirnya terbuka tenang.
Dia sana di satu lembar buku itu tergambar dengan cepat sebuah gambar dengan tinta hitam dengan sendirinya tanpa seseorang disana. Menggambar situasi dan kondisi yang sangat persis dengan apa yang terjadi kepada Jun saat ini.
Tertulis juga nama seseorang lagi dan itu adalah Jun yang ada disana yang sedang bertahan sendirian.
Nama Jun terhapus lagi tergantikan dengan kata kata lain.
"Tolong aku!"
"Siapapun tolong aku!"
"Aku disini"
Itu adalah kata kata yang sama persis yang dikatakan oleh Jun saat ini disana.
Gambar itu kembali perlahan terhapus hilang dari lembar buku itu dengan cepat buku itu kembali seperti semula tanpa gambar dan tulisan apapun.
Tertutup kembali buku itu.
Flow terbangun dari tidurnya.
Melihat ke arah buku itu yang tidak bergerak sama sekali disaat ia melihatnya dari tempat ia duduk terbangun.
"Tadi seperti ada sebuah cahaya disana" kata Flow.
Tapi itu tidak ada lagi setelah Flow terbangun dari tidurnya.
Piyama berlengan panjang dan celana panjang berbahan satin tampak berkilau di malam Flow terbangun dari tidurnya menuju ruang dapur.
Satu anak panah biru muncul mengarah tepat ke arah energi hitam yang terus mencari Jun.
"Boommm!"
Hancur berkeping keping bagai api dari depan Jun.
Red datang segera didepan Jun.
"Keluarkan pedang milik mu itu!" kata Red.
"Dari mana kau tahu aku?" tanya Jun.
"Cepat lakukan!" kata Red.
Red akan menyentuh dan berniat melepaskan anak panah yang mengarah kepada Jun.
"Arrggghh!" kata Red.
Telapak tangan Red langsung terluka dan berdarah dengan kekuatan seperti terisap.
"Kau tidak apa apa?" tanya Jun.
"Kau tidak lihat tangan ku berdarah" kata Red.
Jun melanjutkan mengeluarkan pedangnya yang sedari tadi sulit untuk muncul dan ada di genggaman tangan.
"Kau tidak memiliki mantra apapun untuk memanggil pedang mu?" tanya Red.
"Mantra apa!" kata Jun.
Setelah menunggu di detik kelima akhirnya pedang merah muda muncul kembali dan kini muncul dengan wajah berubah memerah akibat darah yang mengalir dari tangan Jun secara tiba tiba karena dia memaksa agar bisa menolong dirinya sendiri.
Benar dia bisa mengeluarkan pedang miliknya dan mengubahnya menjadi jauh lebih memerah memerah darah lalu melepas peluru perisai itu secara paksa.
Tanpa suara peluru peluru itu berhasil terlepas oleh Pedang Jun yang mendorong perisai peluru itu dari raga Jun.
Ya peluru itu terlepas tanpa suara dan menghilang dengan cepat.
"Kau tak apa?" tanya Red.
"Kau tidak lihat mulut ku keluar banyak darah" kata Jun.
"Anak ini" kata Red.
Dia sedikit tersenyum kepada Jun.
"Jangan sentuh aku!" kata Jun.
"Aku hanya ingin menolong mu" kata Red.
"Jika kau menyentuh ku maka aku akan menghilang" kata Jun.
"Benarkah?" tanya Red.
Dia malah mengusap wajah Jun yang terkena darah yang keluar dari mulutnya.
"Ah benar. Wajah mu mulai menghilang" kata Red.
"Hentikan!" kata Jun.
Red menghentikan tindakannya karena tangannya terasa terbakar disaat itu pula dan mulai menghilang sama seperti yang dialami oleh Jun.
__ADS_1
"Aku baru tahu ini alasan jika aku dekat dengan mu tubuhku seperti terbakar" kata Red.
"Makanya kita tidak boleh terlalu dekat" kata Jun.
Red langsung berpindah menjauh mengambil jarak tiga meter dari sebelumnya hanya satu langkah dari temannya itu.
"Seperti ini?" tanya Red.
Jun tak menjawab dia menghapus darah yang keluar dari mulutnya dan kini pun belum berhenti begitu juga dengan tangan Red darah masih mengalir.
Red kembali lebih dekat dengan Jun di jarak yang sama tidak peduli dengan luka yang dialami oleh Jun tapi dia sedang tertarik dengan pedang yang dimiliki oleh Jun.
Menyentuh dan memegang pedang itu tanpa ia tahu.
"Menghilang?" tanya Red.
"Pemiliknya menolak mu untuk menyentuhnya" kata Jun.
"Dasar pelit!" kata Red.
"Busur dan anak panah mu juga sudah menghilang" kata Jun.
Suara hantu remaja gadis datang diantara mereka berdua.
"Cepat pulang. Aku sudah ngantuk" kata Bling.
"Kalian masih remaja. Aku sudah berumur cepat pulang sekarang" kata Doe.
Mereka dengan cepat menghilang dari atas gedung sekolah.
Dari arah belakang ia terlihat dengan susu kotak stroberi ia minum sembari duduk di sebuah bangku kecil melihat ke arah Red dan Jun sejak awal Jun mendapatkan perisai darinya.
"Aku berniat menolongnya tapi jika gadis itu datang terlambat maka kekuatan ku akan melahap siapapun yang ia lindungi" kata Pria itu.
Kemudian ia pergi menghilang dari tempat itu membawa senjatanya dan susu kotak stroberi miliknya tadi.
Keluar dari gerbang asrama sekolah wanita.
Dari kejauhan Red sudah melihat dari arah belakang remaja laki laki ia menghadap ke depan jalan.
"Kita berangkat sekolah bersama?" tanya remaja itu.
"Kita. Ayo!" kata Red.
Dan satu teriakan muncul dari arah belakang Red dan ikut bergabung bersama keduanya berangkat sekolah bersama.
"Hallo semua!" kata Jamie.
Dia menggandeng keduanya berada di tengah diantara mereka berdua.
Menggandeng keduanya dengan sangat erat.
"Kau tidak bisa melepas tanganku" kata Jamie kepada Wren.
Red terlihat pasrah dengan tingkah remaja wanita yang sedang menggandeng lengan kirinya.
"Aku kira kamu sudah berangkat" kata Red.
"Belum" kata Jamie.
"Oh ya Dewa langit diam saja. Ayo bicara!" kata Jamie.
Dia tetap diam.
Jamie terus melakukan hal itu hingga masuk kedalam gerbang sekolah bahkan sampai depan pintu masuk kelas Red.
"Kamu mau ikut ke kelas ku?" tanya Red.
"Tidak" kata Jamie.
Tangannya melepaskan lengan kedua temannya itu lalu berlari dengan cepat pergi ke kelasnya sendiri.
Wren juga menyusul Jamie pergi ke kelas yang sama.
Satu notifikasi muncul di ponsel milik Red.
Red membuka notifikasi dari dalam ponsel.
Dia mendapati notifikasi bahwa jumlah uang didalam rekeningnya telah bertambah.
Dia membaca dari mana sumber pengirim yang ternyata itu berasal dari anak buah Presdir Ma yang mengurusi dibagian keuangan.
"Jumlah ini terlalu banyak menurut ku" kata Red.
Jam pelajaran pertama di kelas di mulai.
Jun terlihat baik baik saja dan lagi untuk Ben, dia juga masih dengan dirinya mengikuti mata pelajaran pertama pagi ini dengan sangat fokus.
"Apa kau perlu sesuatu?" tanya Ben.
Red menggelengkan kepala kepada Ben.
"Kau mengganggu ku" kata Jun.
Dia sama halnya dengan siswa lain sedang mengerjakan soal matematika dari guru matematika mereka yang masih cuti melahirkan anak pertama.
Sammy hari ini tidak masuk sekolah dengan alasan dia sedang sakit jadi kursinya tidak ada yang mengisi seharusnya tapi lihat siapa lagi yang ada di depan Red sekarang. Jimmy.
Dia mulai mengajak bicara gadis yang ia sukai tanpa peduli dengan Sima yang sedang terus memperhatikan mereka berdua.
"Apa kabar?" tanya Jimmy.
Dia ramah tiba tiba.
"Kau tidak jawab aku?" tanya Jimmy.
"Kau mau apa dariku?" tanya Red.
"Tidak mau apa apa" kata Jimmy.
"Lalu kenapa bicara padaku?" tanya Red.
"Tidak boleh" kata Jimmy.
"Boleh. Katakan apa mau mu?" tanya Red.
Jimmy tidak mau jawab tapi hanya terus memperhatikan gadis di depannya.
"Kau sudah mengerjakan tugas ini?" tanya Red.
"Sudah" kata Jimmy.
"Ternyata kau sama pintarnya dengan Jun" kata Red.
Gadis ini merasa ada hal aneh terjadi bereaksi pada tubuhnya disaat ia mulai berbicara dengan Jimmy.
Tubuhnya makin terasa terbakar hebat dan mengeluarkan asap biru. Kepalanya semakin sakit tak tertahankan.
__ADS_1
Dia tak bisa fokus dengan apa yang ia lihat semua menjadi bayang bayang yang tidak jelas.