
Chapter 60: Teman Ya.
"Aku tidak tahu akan kehilangan kalian berdua"
"Hari ini, aku datang"
Hari itu adalah hari di saat Jun datang di pemakaman kedua orang yang berarti untuknya. Satu diantara mereka adalah sahabat sejak ia kecil yaitu Dree dan yang satunya lagi adalah kekasihnya, Bay.
Dua keluarga datang disana melakukan pemakaman putri mereka yang akan dimakamkan. Keduanya, dimakamkan secara kebetulan bersebelahan.
Jun sudah tak bisa menumpahkan airmata lagi mengering wajah dan bibirnya sudah sangat pucat memikirkan apa yang telah terjadi saat ini.
Menaruh bunga di atas makam mereka berdua.
Mulai hari itu dia secara bergantian didatangi hampir setiap hari didatangi keduanya didalam mimpi hingga ia terbiasa dengan mimpi itu.
Ketika hari pertama Red bertemu dengan Jun saat itu adalah hari pertama dia masuk sekolah di awal tahun sekolah menengah atas.
Murid murid sudah mulai berlarian berlarian ke kelas sedangkan untuk Jun dia tetap berjalan biasa menuju kelas dan untuk Red dia berlari dengan cepat mengikuti yang lain. Tapi, akhirnya dia memutuskan untuk tetap berjalan biasa karena dia melihat seorang hantu menabraknya dari arah belakang menembus raganya. Dia melihat hantu wanita itu melihat ke arahnya dengan tatapan sinis namun juga sedih mengikuti seorang remaja di depannya itu. Dia mengendap-endap melangkah memastikan bahwa hantu itu tak melukai Jun lalu Red membuat sebuah rencana.
"Sorry. Sorry!" kata Red menabrak Jun secara sengaja.
Red melihat ke arah Jun dengan senyum wajah tak bersalah.
Jun terdiam saat melihat Red menghentikan langkahnya.
Disaat Red menabrak Jun disaat itulah dia menyalurkan kekuatannya kepada Jun untuk menyegel tubuhnya agar tidak bisa di kendalikan sepenuhnya oleh hantu bergaun hitam itu.
Dia tahu hantu di sebelah kiri Jun sedang berubah penuh amarah kepada Red saat itu juga karena dia tidak sepenuhnya bisa menguasai raga orang di sebelahnya.
Red segera cepat berlari menuju kelas meninggalkan Jun disana masih terdiam karena tertabrak.
"Dia bukan Bay" kata Jun.
Hari pertama ia masuk sekolah menengah atas di hari itu pula dia mendapatkan hukuman keliling lapangan sekolah dua puluh kali putaran.
Menakjubkan disaat itulah mereka saling bertemu. Ya, mereka adalah Ben, Good, dan Marid.
Red yang selalu diikuti Neo sejak dahulu sejak sekolah menengah pertama menjadi terbiasa dengan segala apa yang dia lakukan adanya dimulai hari itu sudah sangat jelas terlihat menuju ruang komputer Neo berjalan dibelakang Red tak boleh siapapun yang boleh menyentuh Red dan gadis ini cuma geleng geleng kepala.
"Siapa gadis itu?" tanya Jun.
Masih terus berlari Good menjawab pertanyaan dari Jun, dan dia berkata "Dia ada di kelas ku".
"Dari mana kau tahu?" tanya Marid.
"Aku tahu saja" kata Good.
Bakat Good sudah terlihat sejak pertama mereka bertemu.
"Tidak percaya. Kita bisa taruhan" kata Good.
Mereka akhirnya taruhan dengan sebuah perjanjian bahwa yang kalah akan mengerjakan tugas tugas dari si pemenang selama sebulan.
Seorang guru yang bertugas piket hari ini berteriak kepada keempat siswa baru ini.
"Lebih cepat!" kata Pak Gerry.
Semua menjawab dengan sangat tegas dan kompak.
"Siap!" kata mereka berempat.
Di ruang kepala sekolah disana ada seorang guru yang ada disana bersama kepala sekolah memperhatikan siswa siswa baru yang sudah mendapatkan hukuman di hari pertama mereka masuk sekolah.
"Mereka siswa siswa baru kita kan?" tanya Kepala sekolah.
Dia seorang laki-laki berusia enam puluh tahunan di sebelahnya adalah guru olahraga sekolah itu.
Kepala sekolah melihat data tentang keempat siswa itu.
"Ikut sertakan mereka dalam lomba olahraga bulan depan" kata kepala sekolah memberikan perintah.
"Salah satu dari mereka ada yang belum pernah mengikuti lomba olahraga" kata Guru Olahraga.
"Saya percaya, Bapak bisa mengurusnya seperti tahun lalu" kata Kepala sekolah.
Mulai hari itu mereka harus mengikuti latihan latihan untuk mengikuti perlombaan di bidang olahraga bersama siswa dan siswi yang lain sesuai arahan kepala sekolah.
Hari ketika mereka sudah kelas dua sekolah menengah atas.
Di pasar malam dengan remaja-remaja yang tadi mengejar Jun dan Ben sudah ada didepan Bee mengantri untuk meminta foto bersama dengan Bee.
"Jika kalian ingin berfoto denganku. Kalian harus membeli makanan yang di jual oleh Nenek di kedai ini" kata Bee.
Mereka semua mengiyakan persyaratan dari Bee.
Tidak hanya mereka yang ikut membeli makanan yang dijual oleh Nenek tersebut melainkan lebih banyak lagi dari remaja remaja disana.
"Kita jangan pergi dulu" kata Jun.
__ADS_1
"Siapa yang akan pergi" kata Ben.
Mereka sedang melihat Bee dengan para fansnya sedang bernegosiasi.
"Untung saja ada Bee" kata Jun.
"Apa kekuatan mu menghilang seharusnya kau bisa mengalahkan mereka" kata Ben.
"Aku bukan berasal dari dunia fantasi" kata Jun.
"Aku lupa. Sorry" kata Ben.
"Bagaimana seorang dewa seperti kita takut dengan mereka?" tanya Jun.
"Kita hanya manusia biasa" kata Ben.
"Aku juga lupa itu" kata Jun.
"Apa prioritas mu sore ini?" tanya Ben.
"Aku sedang ingin libur bekerja. Kau?" tanya Jun.
"Aku harus menjaga tetanggaku itu" kata Ben.
Mereka menunggu disana sampai semua remaja remaja itu pergi dari kedai tempat Bee ada disana.
"Malam ini kita benar-benar akan pergi ke rumah Jimmy?" tanya Ben.
"Tentu saja. Kita sudah meminta mengganti kelompok kita, tapi tetap saja ditolak oleh Pak Gerry" kata Jun.
"Kita juga tahu Jimmy juga ada disana" kata Ben.
"Tetap saja ditolak" kata Jun.
Sebenarnya ini adalah rencana yang di susun oleh Good agar mereka bertiga bisa lebih akur dengan adanya tugas kelompok ini. Tugas mata pelajaran sejarah.
Dalam lima belas menit remaja-remaja itu akhirnya pergi setelah berfoto dengan Bee.
Jun datang bersama Ben kepada Bee.
Jun tersenyum kepada Bee dengan kedua tangan kebelakang.
"Maaf soal tadi karena kata kataku" kata Jun.
Jun mengulurkan tangan kepada Bee untuk meminta maaf atas kesalahannya pada Bee.
"Aku tahu pasti pengawal-pengawal mu ada disini. Jadi, aku berani melakukan itu. Tapi, jika tidak ... " kata Jun.
"Pokoknya aku minta maaf" kata Jun.
Ben merasa akan ada sesuatu diantara mereka jika mereka terus mengobrol dengan suasana seperti ini.
"Aku sudah maafkan" kata Bee.
Good datang menyapa mereka.
"Pura-pura saja tak melihat ku" kata Good.
"Kalian juga hanya berpura-pura menjadi pacar. Akting kalian sangat mendalami sekali" kata Ben.
Bee, Jun dan Good tertawa dengan kata kata Ben itu.
"Kakak mu memang sangat baik" kata Jun kepada Bee.
Ben memang sudah saling melindungi sejak kecil. Mereka semua sudah tidak heran dengan hal ini.
"Kenapa kalian kabur tadi?" tanya Bee.
"Kita tidak boleh kena masalah lagi seperti kemarin" kata Jun.
"Nada bicara mu seperti saat berbicara dengan Red" kata Good.
"Aku sedang memancing mu" kata Jun.
"Ayo kita pergi" kata Jun pada Ben.
Jun dan Ben pergi kerumah Jimmy sedangkan untuk Bee pergi ke kafe milik Ibunya lalu Good melanjutkan pekerjaannya di restoran.
"Aku melihat ada seseorang masuk kedalam raga Jun sedari pulang sekolah tadi hingga sekarang" kata Ben.
Hantu yang dilihat oleh Ben adalah hantu yang sama memakai gaun berwarna hitam.
Kenapa dia sangat penasaran dengan identitas hantu itu. Itu karena dia pernah melihat gadis yang hampir mirip denga hantu yang ada di raga Jun di suatu tempat.
Perasaan Ben antara sedih dan perasaan penyesalan yang tidak pernah bisa hilang di hari dia melihat seseorang melakukan bunuh diri di depannya sendiri.
Cerita itu sudah lama dan dia masih ingat di ruang resepsionis sebuah apartemen dia memesankan beberapa kamar untuk keluarganya yang ingin berlibur sekaligus dalam urusan bisnis. Dia bersama gadis itu berdiri didepan meja resepsionis untuk menunggu kunci kamar yang mereka pesan.
"Astaga. Dia sangat cantik" kata Ben kala itu melihat ke sisi kirinya, disana ada Dree.
__ADS_1
Ben yang masih sangat muda belum begitu berani untuk menyapa gadis yang ada disampingnya itu. Jadi, dia masih pesimis akan dirinya padahal dari segi apapun dia sudah terlihat manly sejak kecil.
Ben tak sengaja melihat gadis disebelah kirinya itu meneteskan airmata lalu ia segera menyeka pipinya sendiri.
Ben berpura pura tak melihat.
Setelah mendapatkan kunci kamar kamar hotel, Ben lebih dulu pergi mengecek kamar yang akan di pakai keluarga dan kerabatnya yang akan segera datang. Dia melakukan dua kali pengecekan apartemen satu kali dengan aplikasi yang menyediakan layanan pesan hotel dan apartemen dengan sedetail mungkin dan satu kali lagi setelah sudah memesan datang langsung memeriksa kamarnya secara langsung. Bisa complain disini juga.
Dan lebih mengejutkannya lagi Ben memang memesan kamar yang bersebelahan dengan Dree di malam dia akan melakukan bunuh diri.
Detik detik itu terjadi saat Ben akan membuka pintu kamar yang mengarah ke balkon kamar hotel untuk bibinya yang ada di kamar disebelah kamar Dree. Ya, dia ada disana disaat Ben sudah membuka pintu tak ada rasa curiga apapun yang Ben lihat dan ketika Ben mulai akan menyapa gadis itu, gadis itu menjatuhkan diri didepan Ben air mata yang ia lihat masih mengalir saat itu yang ada di pikiran Ben adalah kenapa tadi aku tak menyapanya, kenapa tadi aku tak mengajaknya bicara setidaknya dia bisa sedikit membaca isi pikiran dan hati dari cara dia berbicara dengan orang lain.
Dia melihat kebawah dan nyawa gadis tadi yang ia lihat sudah tak bernyawa dengan darah darah di sekeliling tubuhnya.
Dia belum lupa dengan hari itu hari dimana seseorang mengakhiri hidupnya di depannya sendiri dan dia tidak bisa mencegah ataupun menolongnya. Itulah salah satu hari tersedih bagi Ben.
"Jika aku bisa mengulang masa itu. Aku ingin menjadi temannya" kata Ben.
Jun datang dari belakang Ben setelah memarkir motor Ben tadi.
"Kau melamun?" tanya Jun pada Ben.
"Tidak" kata Ben.
Red belum selesai dengan meditasinya dan dia didatangi oleh seorang hantu, hantu itu adalah hantu bergaun hitam.
Dia mencoba menghajar Red yang sedang bermeditasi namun gagal dalam satu pukulan yang dia lakukan.
Dia belum menyerah, dia melakukan lagi dan kini Red benar benar mengeluarkan kekuatannya kepada Hantu tersebut dan benar hantu itu benar benar hancur berkeping keping.
Tidak semudah itu, dia dengan mudahnya kembali kedalam bentuk semula dan tertawa dan terus menyerang gadis itu yang mulai mengeluarkan banyak darah dari dalam mulutnya karena kondisinya belum stabil akibat penyakit yang ia miliki.
Ada Sew yang juga sedang membagi energi yang ia miliki kepada Red. Sejak mereka saling bertarung, Red dan si hantu bergaun hitam.
"Kau menuduh ku melakukan semua itu?" tanya Si Hantu berteriak kepada Red.
Red membuka matanya dan berkata kepada Hantu tersebut.
"Tidak. Kami tidak memiliki bukti. Namun, kami masih terus menyelidikinya" kata Red.
"Kau benar lakukan saja. Kau tak kan bisa menyimpulkan semua adalah salahku" kata Si Hantu.
Dia kemudian pergi dari hadapan Red dan Sew yang sedang mengunci beberapa raga teman mereka dari gangguan hantu itu dari kejauhan.
"Kau istirahat saja. Kau juga sedang sakit" kata Sew.
"Aku harus menyelesaikan ini" kata Bling dan Red.
"Kita harus menyelesaikan kesalahpahaman ini" kata Red.
"Lihatlah. Tubuh mu mengeluarkan banyak darah lagi" kata Sew.
Benar, akhirnya Red tumbang berbaring di lantai akibat banyak darah yang keluar dari tubuhnya tanpa terkendali.
Sew mengambil satu bantal dari atas tempat tidur Red yang ia taruh dibawah kepala gadis di depannya itu.
"Bertahanlah. Aku akan berusaha menolong mu" kata Sew.
Sew melakukan meditasi menyalurkan kekuatannya kepada Red yang sedang sekarat disampingnya. Tubuh Red menyala membiru terang menguap asap biru keluar dari dalam tubuhnya dengan begitu cepat menghilang menguap di udara. Dia mulai sulit bernapas dengan kedua telapak tangan menahan raganya yang mengalami rasa sakit luar biasa.
Sew terus memberikan bantuan kepada rekan kerjanya itu.
Didalam tubuh Jun sekarang sulit untuk hantu itu masuk karena tubuhnya mulai terkunci oleh kekuatan Red dan Sew yang diberikan kepadanya tanpa Jun menyadarinya.
Jun belum pergi dari rumah Jimmy karena memang tugas kelompok mereka belum selesai dikerjakan.
Dia merasakan rasa tak nyaman seperti terbakar kepanasan saat berada diruang tertutup di musim panas.
"Kau sudah menyalakan AC?" tanya Jun pada Jimmy.
"Sudah. Ini yang paling dingin seumur hidupku" kata Jimmy.
"Kalian seperti api dan es" kata Ben.
Ben terus di awasi oleh hantu bergaun hitam dan dia belum takut sama sekali kepada hantu itu.
Dia belum pernah melihat wujud menakutkan hantu itu. Entahlah, bagaimana reaksinya nanti jika melihatnya.
Beberapa menit terus bertambah waktu bertambah malam mereka mengerjakan tugas.
"Kita taruhan jika ada yang tidur berarti dia yang harus mengerjakan tugas kelompok ini. Ok?" tanya Jun.
"Siapa yang takut. Ayo!" kata Jimmy bersemangat.
Ben seperti tak ada disana saat mereka membuat taruhan.
"Kenapa kalian melakukan itu. Disini aku yang paling tidak kuat begadang?" tanya Ben.
"Kita sedang taruhan sendiri. Kami menganggap mu tidak ikut taruhan ini" kata Jimmy.
__ADS_1
Semakin malam Ben merasa dia tidak baik baik saja dengan semua tekanan tekanan teman temannya yang bertambah eksentrik.
"Aku tak ingin satu kelompok lagi dengan kalian" kata Ben.