Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 69: Gadis Tercantik Di Kampus


__ADS_3

Chapter 69: Gadis Tercantik Di Kampus.


"Apa aku harus menolong Jun?" tanya Bling.


"Apa kau tidak ingin menolongnya?" tanya Ran.


"Aku hanya tahu kau hanya ingin menolong Red" kata Bling.


"Kau tidak lihat kita sudah tidak punya banyak waktu. Mereka memiliki batas waktu lebih pendek dariku" kata Ran.


"Tapi, kau bukan Tuhan" kata Bling.


"Aku tahu. Tapi, lihat kita tak punya banyak waktu lagi. Tolonglah Red, aku mohon" kata Ran.


Itu adalah hari disaat Bling masuk di raga Red disaat gadis ini sedang sekarat mengeluarkan banyak darah dari mulutnya dan dibawa ke rumah sakit menggunakan taksi bersama Ran sebelum ia pergi melanjutkan pendidikannya di luar negeri.


Jun mengejar Red yang sedang berlari menuju luar gedung sekolah dia belum berhenti mengejar Red yang berlari akan melewati gerbang masuk sekolah. Dia diantara banyak siswa yang akan masuk ke sekolah.


Red sudah melewati pintu gerbang sekolah.


Radan masih di sekitar depan sekolah melihat Red yang sedang berada di tempat penyeberangan jalan yang tidak jauh dari sekolahnya.


Radan keluar dari dalam mobil dan menghampiri gadis itu.


"Tubuh mu semakin berubah menjadi seperti fisik yang ku miliki" kata Bling.


"Kau juga semakin sulit mengendalikan nada suara mu" kata Red.


"Bagaimana kalau ini dilihat oleh orang lain?" tanya Bling.


Red menunggu lampu penyeberangan jalan berubah warna menjadi merah.


Langkah Jun terhenti melihat Red yang dihampiri oleh seseorang.


"Red" kata Radan menyapa gadis ini.


Dia meraih pergelangan tangan Red.


"Oh. Kakak" kata Red.


Suaranya agak berubah seperti suara Bling.


Radan bisa mengenali gadis yang ada di depannya itu adalah Red.


"Mungkin dia melihat tas dan jaket ini. Dia bisa mengenali ku" kata Red.


"Kenapa kau terdiam. Kau sedang sakit, kakak akan mengantar mu ke rumah sakit?" tanya Radan.


Langsung seketika tubuh Red berubah seperti sedia kala seperti raga Red sendiri bukan raga milik Bling.


"Aku baik baik saja" kata Bling.


"Lalu kau mau kemana. Kau tidak sekolah?" tanya Radan.


Red lebih terkejut lagi tubuhnya tidak merasakan rasa sakit apapun lagi seperti sebelumnya.


"Apakah dia hadiah dari Tuhan untukku?" tanya Red.


"Kau bicara apa?" tanya Radan.


"Kakak sangat tampan" kata Red.


Radan melepaskan pergelangan tangan Red.


Wajahnya memerah saat itu didepan Red.


"Wajah kakak memerah" kata Red.


Dia jadi malu mendengar Red yang telah memujinya.


"Kakak seperti buah persik. Itu lihat Senyummu" kata Red.


Dia menunjukkan wajah Radan dengan cermin kecil dari dalam tas Red.


"Kau terdengar seperti bukan dirimu. Hentikan itu" kata Bling berbicara kepada Red.


"Sudah sudah. Lihat, sudah hampir masuk kelas lima menit lagi. Cepat masuk ke kelas" kata Radan.


"Ok" kata Red.


Red memberikan salam perpisahan kepada Radan dengan senyuman polos.


"Aku akan salamkan Kakak pada Kak Flow" kata Red berteriak kepada Radan.


Red kemudian masuk kembali melewati pintu gerbang sekolah.


Dimana Jun berada, dia sedang bersembunyi di sisi kiri gerbang sekolah diantara bunga bunga kertas putih yang bermekaran.


Dia melihat Red sudah sepuluh langkah melewati pintu gerbang sekolah menuju ke kelas lagi.


Jun mengejar Red yang ada di depannya itu. Dia berusaha menjadi dirinya sendiri.


"Dor!" kata Jun.


"Kau mengikuti ku?" tanya Red.


"Iya. Aku khawatir denganmu. Jadi, tadi aku mengejarmu" kata Jun.


"Kau tadi melihat aku sedang bersama dengan Kak Dan?" tanya Red.


"Iya" kata Jun.


"Tapi. Aku tidak mendengar pembicaraan kalian. Aku langsung berhenti disamping gerbang sekolah disaat kalian sedang mengobrol tadi" kata Jun.


Red tertunduk tersenyum mendengar perkataan dari Jun.


Perjalanan menuju ke kelas.


Good dan Bee baru saja ke ruang guru dengan membawa beberapa buku.


"Kau darimana saja?" tanya Bee.


"Kita keluar sebentar tadi" kata Red.


"Kita. Aku tidak melihat siapapun selain dirimu" kata Good.


Red berpikir tentang apa yang baru saja Good katakan.


"Maksudmu?" tanya Red.


Mereka bertiga saling menatap.


Red kemudian memutuskan untuk pergi dari kedua temannya itu menarik tangan Jun.


"Kau mau kemana?" tanya Bee berteriak.


"Aku akan pergi ke Unit Kesehatan Sekolah sebentar" kata Red.


Red menarik Jun menuju ruang unit kesehatan sekolah.


Jun kaget dengan apa yang terjadi pada dirinya saat ini.


"Ayo cepat tak ada waktu lagi" kata Red.


Red membuka jendela unit kesehatan sekolah beserta tirai tirai putihnya.

__ADS_1


Dia juga membuka pintu masuk kedalam ruangan ini.


Untuk Jun, dia ada disebelah Red yang sedang fokus bermeditasi.


"Ada apa kau mencari ku?" tanya seseorang.


Doe datang sendirian memenuhi panggilan dari Red.


Red membuka mata.


Kemudian, dia mengambil cermin memberikannya kepada Jun.


"Coba lihat wajah mu di cermin" kata Red.


Jun menerima cermin yang Red berikan kepadanya.


Saat ia melihat dirinya tidak ada atau lebih tepatnya tak memiliki bayangan di cermin itu ia lempar cermin itu di atas ranjang ruangan itu.


"Tidak. Tidak mungkin" kata Jun.


"Terima atau tidak. Kamu tidak memiliki bayangan sekarang" kata Red.


"Lalu bagaimana denganku?" tanya Jun.


Doe melihat keduanya terlihat agak mencurigakan.


"Tunggu. Apa aku dilibatkan dalam masalah ini?" tanya Doe.


"Iya. Iya, duduk yang tenang" kata Red.


Doe duduk tenang didepan mereka yang sedang juga duduk bersilah saling bersebelahan.


"Ok" kata Doe.


"Aku akan menolong mu dengan beberapa syarat" kata Red.


"Apa syaratnya?" tanya Jun.


"Kau harus menjaga identitas dan apa yang telah terjadi denganmu saat ini. Bagaimana?" tanya Red.


"Aku bersedia" kata Jun.


Suaranya mengagetkan Red dan Doe.


"Kau tidak takut dengan konsekuensinya?" tanya Red.


"Tidak" kata Jun.


Red berpikir sejenak.


"Dia agak mirip denganku" kata Red.


Doe membaca situasi ini lalu bertanya kepada Red, "Apa harus masuk kedalam raga bocah ini?".


"Kau sudah tahu masuklah sekarang juga" kata Red.


"Tunggu. Kau bisa melihat ku?" tanya Doe kepada Jun.


"Iya" kata Jun.


"Dan kau juga tahu selama ini?" tanya Doe dengan wajah mengarah kepada Red.


"Iya" kata Red.


"Wahhhhh. Kalian partner kerja yang hebat" kata Doe.


"Aku tidak mau masuk ke raga bocah ini" kata Doe.


Detik detik jarum jam dinding ruangan ini terdengar di heningnya ruangan ini.


"Kau coba lihat punggung Jun" kata Red.


Doe tak menuruti perintah dari Red.


"Lihat!" kata Red membentak.


"Iya. Iya" kata Doe.


Doe melihat punggung Jun.


Kedua matanya terbelalak melihat apa yang telah terjadi kepada Jun.


"Dia memiliki tanda yang sama seperti milik mu" kata Doe.


"Sulit untuk dipercaya" kata Doe.


"Katakan syaratnya kepada remaja ini" kata Doe.


"Baiklah. Aku akan mengatakan ini kepada mu. Dengarkan" kata Red.


"Pertama, kau akan dimasuki seorang hantu pria dan kau harus terima jika dia mengendalikan mu. Kedua, dia tidak akan bisa pergi bolak balik sesuka hati dengan kata lain dia akan menetap di raga mu agar raga mu bisa terlihat seperti biasanya. Ketiga, jika dia keluar dari tubuh mu sebelum kau mendapatkan penawar dari racun yang ada di tubuhku nyawamu dan nyawanya akan melayang" kata Red.


"Lalu jika dia tak masuk kedalam tubuhku?" tanya Jun.


"Beberapa menit lagi. Kau akan kehilangan nyawamu. Bagaimana?" tanya Red.


"Aku siap!" kata Jun.


"Ok" kata Doe.


Doe kemudian masuk kedalam raga Jun dengan segera.


Jun menutup mata.


"Buka matamu" kata Doe.


Jun membuka mata.


Dia sudah ada di kelas tubuhnya kini dikendalikan oleh Doe.


Ben memanggil nama Jun tapi Jun tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu.


"Kau tidak dengar. Ben memanggil mu" kata Red.


"Siapa Ben?" tanya Doe.


Dia sedang dikendalikan oleh Doe.


Padahal Doe sudah mengenal siapa yang memanggil Jun itu. Doe dengan sifat aslinya kembali bermain main.


Red mewakili Jun menjawab pertanyaan dari Ben saat ini.


"Ada apa kau memanggil Jun?" tanya Red.


"Aku sedang memanggil Jun bukan kamu Red. Apa kamu sekretarisnya?" tanya Ben.


Satu kelas tertawa dengan ucapan Ben.


Red melempar pulpen kosong kepada Ben.


"Coba kau ulangi" kata Red.


"Sorry. Ini sangat sensitif hanya untuk anak laki laki" kata Ben.


"Sensitif apa. Aku dengar tadi kau mau meminjam buku catatannya" kata Red.

__ADS_1


Kelas dalam keadaan masih mengerjakan beberapa soal dari guru mereka yang sedang izin ke rumah sakit karena sedang cuti melahirkan.


"Bisa diam tidak" kata Good.


"Ok. Ketua kelas" kata Red.


Doe melihat buku catatan milik Jun lalu melanjutkan mengerjakan soal soal matematika yang diberikan oleh gurunya.


Doe hanya tersenyum melihat soal soal yang sedang ia baca.


Hera datang.


"Dimana Doe, aku tak melihatnya sejak tadi?" tanya Hera.


Doe melihat kearah Hera dengan menggunakan wajah Jun.


Hera hampir saja terjatuh ke jendela yang tertutup itu.


Petir menggelegar diatas gedung mereka.


"Kau?" tanya Hera menunjuk kearah Doe.


Doe kemudian menyelesaikan lagi satu soal matematika di jam pertama belajar mengajar ini.


Setelah mengerjakan soal soal tadi, Doe langsung memilih untuk tidur di kelas.


Red memeriksa Jun apa dia baik baik saja setelah kejadian tadi pagi.


Gadis itu melihat buku Jun yang sudah tertutup rapi dengan pulpen dan peralatan menulis disisi kanan tangan Jun sedang tertidur. Dia mengambil buku Jun dan memeriksa isinya.


"Kau sudah menyelesaikan semua ini" kata Red.


Doe menyelesaikan soal soal itu hanya dalam waktu tiga puluh menit.


Doe terbangun dan berkata, "Apa ada yang salah?".


Semua teman satu kelasnya mulai menargetkan dirinya. Kemudian, buku yang ada di tangan Red langsung ia ambil lalu ditaruh dibawah wajah sebagai alas tidurnya.


"Aku tidak mau hasil kerjaku diambil oleh orang lain" kata Doe.


Red memang sedang melihat Jun tetapi ia sadar bahwa yang ia ajak bicara adalah Doe sahabatnya.


Kelas dalam keadaan kesibukannya sendiri dengan soal soal matematika yang membuat mereka harus memang mengerjakan itu tak jarang mereka juga saling berdiskusi untuk mencari cara menyelesaikan soal soal itu.


"Tidak biasanya Jun seperti ini. Biasanya, dia akan mengajari ku mengerjakan soal soal matematika" kata Ben.


"Kenapa dia jadi seperti Bee sekarang?" tanya Ben.


Ben menatap tajam kearah Jun.


Sammy sedang mengerjakan soal soal itu dengan berusaha keras untuk bisa menyelesaikan sendirian.


Sekilas dia menatap Jimmy dari arah belakang sorot mata lembutnya terlukis bahwa dia memang sedang sedih tetapi dia juga harus merelakan seseorang telah pergi menentukan pilihan.


Kemudian, dia melanjutkan membaca soal soal matematika yang ia dapat.


"Apa benar aku bukan siapa siapa untuknya?" tanya Sammy.


Jimmy sedang membuka layar ponsel miliknya didalam layar yang belum menyala itu. Ia tahu seseorang baru saja memperhatikan dari belakangnya. Dia tahu siapa orang itu.


Dia tersenyum setelah mengetahui bahwa Sammy baru saja memperhatikan dirinya.


"Kenapa aku jadi plin plan begini. Kau tidak ingat terakhir kamu putus, dia melempar helm ke kepala kamu?" tanya Sammy pada dirinya sendiri.


Jun terbangun dari tidurnya dan dari kendali Doe.


"Kau tidak bisa marah padaku" kata Doe.


"Kita sama sama didalam posisi yang tidak menguntungkan. Kau tidak perlu mengancam ku" kata Jun.


Red berbalik kearah Jun.


Dia menyadari bahwa hal seperti ini pasti akan terjadi kepada mereka berdua.


"Kalian tidak perlu bertengkar" kata Red.


Dia memberikan permen lolipop kepada Jun.


"Aku tidak suka permen" kata Doe.


"Tapi, dia suka" kata Red merujuk kepada Jun.


Jam istirahat pertama tiba tiba Jimmy tidak menghampiri Sima melainkan sedang menggoda seseorang yang duduk di kursi dibelakangnya itu siapa lagi kalau bukan Sammy.


"Kau tadi diam diam memperhatikan ku kan" kata Jimmy.


"Tidak" kata Sammy.


Jimmy tak lepas dari pandangan mata Sima.


Jun sedang memperhatikan gadis yang bernama Sima itu yang sedang melihat pacar barunya.


"Kau menyukai gadis cantik itu?" tanya Doe.


"Tidak. Aku hanya menyukai gadis didepanku" kata Jun.


"Hanya mencintai gadis didepan mu" kata Doe.


"Sulit di mengerti" kata Doe.


"Bisa tidak kita bekerja sesuai isi kontrak" kata Jun.


"Tidak. Jika itu menyangkut Red" kata Doe.


Doe dengan tanpa ragu langsung mengendalikan raga Jun.


Dia pergi menemui menarik tangan gadis yang ia tahu sebagai sahabatnya itu. Benar dia membawa pergi Sammy dari gangguan Jimmy.


Jimmy tak bisa berkutik namun tetap dia sedikit tersinggung.


"Ikut aku sebentar" kata Doe.


"Oh" kata Sammy.


Jimmy melihat Sima yang masih menatapnya.


Sammy dibawa pergi oleh Doe menuju lapangan basket sekolah yang kemudian diikuti oleh Ben juga Good.


Red juga dengan berjalan tidak lambat mengejar mereka berdua seperti tidak ada apapun telah terjadi yang terlihat seperti mereka biasa akan pergi bermain disaat jam istirahat sekolah seperti biasanya.


Ran yang sedang berbaring diatas rumput luas lapangan kampusnya bersama teman temannya menatap langit biru luas.


Dia dalam keheningan ini.


"Aku harap kamu bisa bertahan disana" kata Ran.


Ran baru saja menerima informasi terbaru tentang keadaan Red dari seseorang melalui pembicaraannya di ponsel tentang dia dan Jun dan juga Sima melalui orang kepercayaannya yang juga bersekolah di sekolah yang sama dengan Red.


"Gadis ini. Gadis yang kau suka" kata seseorang.


Dia berasal dari negara yang sama dengan Ran. Dia baru saja melihat wallpaper layar ponsel Ran yang terdapat gambar Dia dengan Red.


"Ya" kata Ran.


"Ini alasan mu menolak gadis tercantik di angkatan kita" kata seseorang itu.

__ADS_1


"Benar" kata Ran.


__ADS_2