Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 85: Mystery Box


__ADS_3

Chapter 85: Mystery Box.


Radan dengan satu gelas kopi di meja.


Di roof top rumah yang ada disebelah kanan tempat usaha gym Ben.


"Aku masih boleh bicara denganmu?" tanya Hera.


"Tentu" kata Radan.


"Maaf. Maafkan kesalahan ku" kata Hera.


"Soal apa?" tanya Dan.


"Kenapa kau tidak marah dengan apa yang telah aku lakukan kepada kekasihmu dulu?" tanya Hera.


"Itu sudah lama sudah berlalu" kata Dan.


"Kenapa kau sebaik ini?" tanya Hera.


"Ku rasa aku terlalu emosional hari ini" kata Dan.


"Maaf" kata Hera.


"Iya. Aku maafkan" kata Dan.


Hera malah tambah nangis lebih keras diatas rumah Radan di waktu malam yang sudah menginjak pukul sebelas malam.


Ben yang ada di lantai atas sampai terbangun dari tidur pulasnya dan membuka tirai kamar jendela.


Radan melihat tirai jendela kamar Ben akan terbuka dia langsung menghilang sementara mencegah seseorang bisa melihatnya sedang bersama hantu.


Melihat keluar, Ben.


"Wahhhhh!" kata Ben.


Dia terkejut melihat seorang hantu sedang menangis memakai gaun putih diatas rumah Ran.


Dia menutup tirai jendela kamarnya lagi. Lalu, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


Radan muncul kembali di dekat Hera.


"Sudah. Jangan menangis lagi" kata Radan.


Dia merapikan rambut kepalanya yang terkena angin.


"Padahal aku sedang tidak cantik" kata Hera.


"Aku juga sedang jelek" kata Dan.


"Kau bercanda. Kau selalu keren" kata Hera.


"Aku baru tahu. Hantu bisa selucu kamu" kata Dan.


"Jika aku masih menjadi manusia. Maka ... " kata Hera.


Dan tertawa lembut menatap Hera.


"Jantungku bisa merasakan itu" kata Dan.


"Maaf. Maaf pernah menjadi seperti itu" kata Hera.


Hera menghilang di hadapan Dan.


Radan sedikit kaget tanpa sebab Hera pergi.


Dia kembali lagi dalam satu detik kemudian.


"Bagaimana aku sudah cantik?" tanya Hera.


Hera dengan gaun kuning dan sepatu hitam boots datang kembali.


Dan menatap Hera.


Hera menatap Dan.


Hera menghilang segera di hadapannya.


"Dia sudah pergi" kata Dan.


"Sudah pukul berapa ini. Aku merasa lapar" kata Dan.


Dan juga menghilang dari atas rumahnya.


Dan sudah ada didepan sebuah mini market yang jaraknya lebih jauh dari mini market dekat rumahnya.


Bisa ditebak dia ada dimana.


Seorang wanita membawa satu kantung berisi susu kotak besar dan buah juga beberapa kotak yogurt keluar dari mini market.


"Kau tinggal di sekitar sini?" tanya Flow.


"Aku. Aku tak sengaja lewat daerah sini" kata Dan.


Radan tak mengucapkan banyak kata dia langsung masuk kedalam mini market melewati Flow.


"Dia kenapa?" tanya Flow.


Flow ikut bergabung dengan para pekerja mini market yang sedang shift malam.


"Hello girls!" kata Flow.


Dia dengan berbekal makanan yang sudah ia dapatkan memakannya disana bersama mereka.


"Kalian boleh berbagi dengan ku" kata Flow.


"Tidak kami sedang diet!" kata mereka kompak.


Flow baru duduk bersama dengan mereka lalu Radan datang keluar dari mini market dengan makanan yang ia dapat dalam kantung besar.


"Kau cepat sekali" kata Flow.


"Aku sudah memesan ini semua. Aku hanya tinggal mengambilnya" kata Dan.


Flow sedikit mulai paham apa yang ia katakan.


"Ini aku juga sudah beli yogurt kesukaan mu" kata Dan.


Karyawan mini market yang sedang duduk bersebelahan dengan Flow mulai memberikan ruang untuk mereka berdua berpindah tempat di kursi kursi di sebelah meja tempat Flow duduk saat ini.


"Aku hanya ingin memberikan ini semua ini untuk mu" kata Radan.


Flow agak merasa ini situasi yang memiliki arti lebih.


Dan lebih membuat Flow lebih terheran dan merasa kalau Radan lucu adalah dia langsung pergi setelah memberikan yogurt yogurt kepada Flow.


Radan pergi.


Flow agak heran sekali lagi.


Dia menerima satu dus yogurt dari Radan beserta make up yang biasa ia pakai.


"Sudah berapa dus yogurt dirumah ku" kata Flow.


Flow melihat kearah para karyawan mini market tadi sedang berkumpul didepan mini market.

__ADS_1


"Mereka juga menghilang" kata Flow.


Dia kembali untuk pulang ke rumah.


Flow menaruh dus yang berisi yogurt dan makanan serta minuman yang ada di kedua tangannya.


Dirumah yang terkunci dari luar Flow membukanya.


Flow dengan cepat masuk kedalam rumah meski ia tahu disekitar tempat tinggalnya masih tetap ramai dengan para pedagang kaki lima yang rajin berjualan tapi dia seorang diri di rumah.


Flow menutup pintu rumah setelah ia membawa masuk semua barang barang yang ia dapat tadi.


Mengunci pintu masuk rumah dari dalam.


"Hera!" kata Flow.


"Hera!" kata Flow.


"Kau dimana?" tanya Flow.


Hera tidak muncul setelah beberapa kali ia panggil.


"Sudah lama tidak bertemu. Tapi, dia cepat sekali pergi. Apa dia tidak merindukan ku?" tanya Flow.


Flow membaca pesan yang ditulis oleh Hera di atas buku catatannya dengan menggunakan darah dari kukunya.


Sebelum Hera pergi dari rumah temannya itu.


Dia menggigit kukunya dan menulis nama seseorang diatas buku catatan milik Flow dengan ujung jari.


Lalu dia pergi dengan cepat lewat jendela kamar Flow.


Flow melihat tulisan nama orang yang baru saja datang menemuinya didepan mini market.


"Apa yang sebenarnya yang ingin dia katakan padaku?" tanya Flow.


Dia sudah membaca nama itu dari buku catatannya.


Buku itu masih terbuka dengan nama yang tertulis dari tulisan tangan Hera.


"Kenapa dia menulis nama Radan di buku ini?" tanya Flow.


"Kenapa aku bisa melihat rasa bersalah dari tulisan Hera?" tanya Flow.


"Kenapa aku tak bisa berhenti menangis?" tanya Flow.


Flow tidak bisa berhenti sesaat setelah membaca tulisan itu.


Hera tidak menemui Radan lagi dia tidak muncul meski pria ini memanggil namanya. Hantu ini juga belum juga kembali datang ke rumah Flow.


Sepulang sekolah Jun berniat untuk pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kembali kondisi kejiwaan dirinya di Psikiater yang bertugas di rumah sakit biasa ia memeriksakan diri.


"Terdengar seperti suara hujan. Benar hujan" kata Jun.


Jun dengan nomor antrian ke dua puluh di sore ini.


Jun melihat ada Sima juga datang diantara kursi tunggu ruang pemeriksaan pasien untuk para pasien yang akan di periksa oleh Psikiater yang sama dengan Jun akan memeriksakan perkembangan kesehatan.


"Harus pura pura tak kenal" kata Jun.


"Anak anak memang begini" kata Doe.


Sima sepuluh menit kemudian datang ke ruang pemeriksaan.


Jun masih tetap memastikan bahwa keberadaannya disana tidak bisa diketahui oleh Sima.


Dia bersembunyi dengan masker dan topi hitamnya.


Jun menunggu Sima sampai ia keluar selesai berkonsultasi sore ini.


"Dia sudah pergi. Sudah jangan berlebihan" kata Doe.


Jun merasa lega dengan ini.


Dua nama setelah Sima di panggil telah selesai menjalani pemeriksaan dan kini giliran Jun di panggil untuk diperiksa oleh Dokter Psikiater yang biasa memeriksa.


Pemeriksaan sedang berlangsung dalam beberapa menit.


"Perjalanan ini akhirnya berjalan dengan lancar" kata Jun.


Jun akan pergi menuju apotek rumah sakit untuk menebus obatnya. Lalu, dia melihat kakaknya Jax juga ada disana dan baru saja datang dari pintu masuk untuk pemeriksaan para dokter spesialis.


"Aku harus bersembunyi" kata Jun.


"Dia itu kakak mu sendiri. Kenapa harus bersembunyi?" tanya Doe.


"Apa ada sesuatu hal yang sangat penting sampai dia mengunjungi temannya?" tanya Jun.


Jun tiba tiba menjadi seorang detektif.


Dia mendengar isi pembicaraan mereka dari dalam ruang pemeriksaan pasien setelah semua pasien selesai diperiksa.


Sepulang sekolah Red dan Wren tidak diduga akan satu bus yang sama dalam perjalanan pulang.


Wren mengeluarkan headphone dari dalam tas silver ransel miliknya.


"Coba dengarkan lagu ini" kata Wren.


Red mendengarkan lagu bergenre pop dan juga R&B dari ponsel Wren melalui headphone yang Wren berikan kepada Red.


"Bagus kan lagunya?" tanya Wren.


"Ini enak didengar" kata Red.


Red mendengarkan lagu sedangkan untuk Wren melihat ekspresi wajah gadis yang ada di sebelahnya.


"Astaga. Aku baru tahu ada temanmu yang nice banget" kata Bling.


Red sedang menikmati lagu yang Wren putar dan melihat wajah teman sekolahnya yang sedang memberikan senyum dewa langit kepada Red.


Kedekatan mereka terjadi secara alamiah tanpa ada sebuah paksaan dari siapapun.


Suatu ketika disaat Ran sedang bersama kakaknya mengobrol bersama di roof top rumah dekat dengan tempat gym milik Ben.


"Bagaimana jika gadis itu menyukai orang lain?" tanya Radan.


"Aku akan menghormati keputusan gadis itu" kata Ran.


"Paling tidak bisa tidur juga malas makan" kata Radan.


Ran tertawa mendengar kata kata dari kakaknya.


"Itu salah satunya" jawab Ran.


"Kakak senang dengan kejujuran mu" kata Radan.


Malam disaat Ran akan pergi ke bandara.


Radan mengantar adiknya pergi ke bandara untuk keluar negeri melanjutkan pendidikan strata satu dengan jalur beasiswa.


Radan melihat ke luar tempat lain yang ia anggap sangat bagus tempat itu di jadikan tempat melihat pesawat mulai lepas landas terbang.


Dia melihat adiknya telah pergi dengan pesawat terbang yang ia gunakan sebagai alat transportasi.


Angin sepoi sepoi datang dari berbagi sisi mengisi ruang terbuka di tempat Radan berdiri disana melihat Ran pergi.

__ADS_1


Untuk Red dan Wren.


Red dan Wren mengikuti lirik lagu yang di putar di bus yang mereka naiki.


Menyanyi bersama.


Bling melihat mereka berdua sangat gembira dan ia tidak ingin mengganggu keduanya.


"Persahabatan baru akan terbentuk" kata Bling didalam hati.


Jimmy yang sedang didalam mobil duduk di kursi belakang melihat ke arah luar jendela.


Mobilnya dan bus yang di naiki oleh Red dan Wren berpapasan dengannya.


"Mystery box" kata Jimmy.


"Ku rasa aku punya saingan baru" kata Jimmy.


Mobil Jimmy pergi mendahului bus yang di naiki kedua teman sekolahnya yang dikemudikan oleh Radan sebagai bodyguard Jimmy.


"Aku punya album terbaru boyband ini. Kamu mau?" tanya Wren.


"Album edisi terbatas itu?" tanya Red.


"Ya. Aku punya dua jika kamu mau aku akan berikan satu untuk mu" kata Wren.


"Tidak. Aku takut tidak bisa membalas perbuatan baik mu" kata Red.


"Oh ya. Aku pulang dulu. Dah!" kata Wren.


"Dah" kata Red.


Wren turun lebih awal dari Red.


Red melanjutkan perjalanan menuju rumahnya yang dulu ditempati oleh Sew.


"Apa kau lembur hari ni?" tanya Bob.


"Ya" kata Flow.


"Bagaimana dengan makanan buatanku?" tanya Bob.


"Sudah dimakan?" tanya Bob.


"Ini" kata Flow.


Flow mengirim fotonya yang sedang makan olahan jamur panggang dengan topping keju.


"Terimakasih. Ini sangat lezat" kata Flow.


"Itu karena aku yang buat" kata Bob.


"Iya. Iya" kata Flow.


Flow sedang di kantor sedang menikmati makanan yang baru ia terima dari Bob.


Bob sedang didalam mobil bersama asisten pribadinya.


Bob sedang perjalanan pergi ke luar kota dan sore ini ia mulai berangkat menggunakan mobilnya dengan di temani oleh asisten pribadinya sekaligus yang bertugas mengantar Bob agar sampai tujuan tempat syuting dalam drama baru yang sedang tayang waktu ini.


"Ini apa?" tanya Bob.


"Itu daftar menu makanan yang anda inginkan" kata asisten Bob.


"Ok. Besok, aku akan mencoba membuatnya sendiri" kata Bob.


Bob sedang belajar memasak dibantu oleh asistennya yang juga pernah bekerja sebagai seorang koki.


"Kau tidak bekerja lagi sebagai koki?" tanya Bob.


"Saya sedang bekerja dengan anda" kata asisten Bob.


"Bagaimana kabar putri mu?" tanya Bob.


"Sehat dan ceria" kata asisten Bob.


"Istri mu pasti membutuhkan mu setelah selesai melahirkan kemarin" kata Bob.


"Terimakasih Tuan Bob sudah memberikan saya cuti" kata Asisten Bob.


"Hmmm" kata Bob.


Jun masih berada di luar ruang praktek Dokter Psikiater. Dia masih menunggu kakaknya keluar dari ruangan tersebut.


Tiga detik kakaknya masuk kedalam ruangan itu.


Jun mendapat panggilan telepon masuk saat itu juga.


"Apa kamu akan di luar saja?" tanya Jax.


"Ternyata aku ketahuan juga" kata Jun.


Tak mungkin dia kabur dari sana. Dia sudah tertangkap basah oleh kakaknya sendiri.


Dia kembali masuk memenuhi panggilan dari kakaknya ke ruang pemeriksaan pasien di ruang dokter spesialis kejiwaan yang ada di sisi kanan dinding tempat ia bersembunyi.


Jun akan masuk ke ruang pemeriksaan tersebut.


"Aku harus pergi" kata Jun.


Dia berlari meninggalkan kakaknya setelah mendapatkan panggilan telepon masuk dari seseorang.


"Aku akan mengganggu pekerjaan mu" kata Jax.


"Aku sedang istirahat. Aku akan bekerja lagi setelah pukul enam lima belas menit malam ini" kata temannya Jax.


Jax dan Psikiater temannya itu melanjutkan pembicaraan mereka berdua.


Yang terlihat di sekitar Flow saat ini adalah tempat tidur yang ada di ruang rumah sakit yang terisi dengan orang orang yang juga di rawat.


Tangan terinfus dia ada disana sendirian.


Dia sedang kelelahan akibat bekerja. Sekarang, dia tertidur.


Jun ada di ruang unit gawat darurat melihat kondisi Flow.


"Apa aku perlu memanggil kakakku?" tanya Jun.


"Aku takut jika terjadi salah paham" kata Jun.


Jun melihat Flow yang masih tertidur di ranjang rumah sakit.


"Ku rasa aku harus membeli makanan untuknya" kata Jun.


Jun pergi keluar sebentar untuk mencari keperluan yang dibutuhkan oleh Flow.


Sepuluh menit berlalu.


Jun menaruh makanan dan barang barang kebutuhan yang dibutuhkan oleh Flow diatas meja dekat Flow sedang tertidur.


Dia merasa tidak yakin untuk memanggil kakaknya untuk datang menemuinya.


"Aku akan menaruh ini disini" kata Jun.


Jun pergi setelah menaruh barang barang yang ia beli barusan diatas meja.

__ADS_1


__ADS_2