
Chapter 42: Aku Melihatnya Lagi.
Bagaimana dengan keadaan Sammy, dia tentu tidak baik baik saja. Namun, untung saja dia menutupi apa yang terjadi dengan apa yang ia lihat tadi di konser.
Pulang nonton konser.
"Kau terlihat pucat" kata Jimmy pada Sammy.
"Aku baik baik saja" kata Sammy.
"Aku antar pacarku pulang" kata Jimmy.
Teman teman Jimmy memakai kendaraan mereka masing masing untuk perjalanan pulang.
Minggu pagi di sebuah apartemen.
Ditemukan satu orang remaja berusia sekitar delapan belas tahun telah meninggal dunia akibat serangan jantung.
Jenazah ditemukan berada di atas tempat tidur.
"Lum meninggal" kata Jimmy saat membuka ponsel.
Jimmy membaca berita ini ketika bangun dari tidur.
"Kau mendengar berita tadi pagi tentang Lum?" tanya Ge menghubungi Jimmy.
Jimmy bersiap-bersiap untuk pergi rumah Lum untuk menghantar jenazah Lum ke pemakaman siang ini.
Ada Jimmy dan juga Sammy disana serta Ge juga teman teman Lum yang lain yang datang di pemakaman Lum.
Pukul tiga lebih dua puluh menit sore di kolam peternakan ikan milik Ben.
"Neo tidak datang?" tanya Good.
"Ya. Katanya, dia pergi ke pemakaman temannya" kata Ben.
"Lalu, bagaimana dengan tugas kita?" tanya Good.
Kedua remaja ini melihat kearah Jun yang sedang bermain gitar.
"Apa aku berbuat salah pada kalian?" tanya Jun.
"Ya. Aku akan bantu kalian mengerjakan tugas" kata Jun.
Jun melempar batu kerikil kearah Red.
"Ada apa?" tanya Red pada Jun.
"Kau memang Red" kata Jun lalu bermain gitar lagi.
Good dan Ben sedang mengerjakan tugas kelompok.
Kali ini Red tidak satu kelompok dengan Good dan Ben. Jadi, dia sedang sibuk bekerja sejak pagi.
"Jangan lempari aku batu lagi!" kata Red, melempar batu kerikil kepada Jun.
"Aku tidak akan berhenti" kata Jun berteriak.
"Kalian mengganggu tahu!" kata Ben.
Jun kembali patuh saat mendapatkan teguran dari Ben.
"Baiklah. Aku akan bantu kalian mengerjakan tugas sekolah" kata Jun.
Jun membantu kedua temannya untuk menganalisa mengenai semua yang berkaitan dengan produk domestik bruto.
Hantu bergaun hitam sekarang ada di sekitar Jun terus mengamatinya.
"Kenapa kau selalu mengincar remaja itu?" tanya Hera.
"Benar. Karena raganya sangat mudah ku manfaatkan untuk melenyapkan orang orang yang ku benci" kata Hantu bergaun Hitam.
"Apa kau sudah tak waras. Dia juga punya keluarga?" tanya Hera.
Hantu bergaun hitam tak menjawab pertanyaan dari Hera. Dia menghilang dari sebelah Hera.
"Susah sekali membuat hantu itu berhenti" kata Hera.
"Bahkan dia bisa sulit untuk di hancurkan kalau seperti ini terus" kata Hera.
"Apa mungkin dendam yang membuatnya menjadi orang lain?" tanya Hera.
"Aku bahkan melihat ia bunuh diri waktu itu dengan mataku sendiri. Aku bisa apa" kata Hera.
Ran sedang bekerja di tempat pensiunan tentara.
"Hantu itu sudah membunuh nyawa seseorang" kata Ran.
"Kenapa tak ada informasi tentang pergerakan hantu ini dari tim bos?" Ran bertanya tanya pada diri sendiri.
"Kabar yang ku miliki. Dia meninggal akibat bunuh diri, itu saja" kata Ran.
Ran mempercepat pekerjaannya dan akan segera pergi menemui Red yang sedang bekerja.
"Hari ini Ran akan pulang lebih awal" kata Red.
"Kau jangan melamun, lihat masih empat kolam lagi harus dibersihkan" kata Jun.
Satu jam kemudian Ran datang.
"Hai. Lihat aku disini!" kata Red melambaikan tangannya kepada Ran.
Ran membalas sapaan Red.
"Hey, Bro. Apa aku diizinkan membantu menyelesaikan pekerjaan Red?" tanya Ran pada Ben.
"Silakan" kata Ben.
Ran datang menemui Red.
"Aku belikan susu hangat untukmu" kata Ran.
Ran memberikan satu cup susu hangat untuk Red.
Red duduk diatas pinggiran dinding kolam.
__ADS_1
"Terimakasih atas minumannya" kata Red.
Sebelum Red meminum minuman dari Ran dia memberikan kesempatan untuk Ran mencobanya lebih dulu.
"Kau coba dulu?" tanya Red.
"Tidak. Itu untuk mu" kata Ran.
Good yang sedang fokus mengerjakan tugas kelompok kembali turun tangan.
"Bagaimana kalau untuk ku?" tanya Good.
Ran langsung menerima tawaran dari Red lalu meminum sedikit susu hangat dari tangan Red.
"Bagaimana?" tanya Red.
"Enak. Coba saja!" kata Ran.
Red kemudian meminum minuman dari Ran setelah Ran mencobanya lebih dulu.
"Rasanya tetap itu tak berubah" kata Jun.
"Jun cemburu guys" kata Ben.
"Iya. Aku cemburu" kata Jun.
Ran mengambil alat untuk membantu Red membersihkan kolam kolam disana.
Jun memperhatikan Red yang juga bersama Ran menyelesaikan pekerjaannya. Dia juga melihat Red terlihat sangat senang saat bersama dengan Ran.
"Sudah. Sudah tak ada lagi ruang untuk ku" kata Jun.
"Aku dengar" kata Red.
Red sedang membersihkan kolam didepan Jun persis.
Semua orang orang disana ikut tertawa mendengar Red menjawab perkataan dari Jun.
"Masih ada kesempatan untuk mu. Kau jangan khawatir" kata Ran.
"Jun. Bantu tugas kami lagi?" tanya Good.
Jun merasakan empati kepada Good.
"Iya" kata Jun.
Good jauh lebih muda dua tahun dari Jun sehingga tanpa disadari Good seperti berbicara dengan kakaknya sendiri jika berbicara dengan Jun.
Hari ini ingin sesuatu yang lebih romantis yang terkadang hidup penuh dengan humor humor lucu yang didapat setiap hari.
Ingin cinta yang hanya bertemu hanya satu kali tanpa banyak menyakiti. Seperti bunga bunga bermekaran dan akan mewangi atau menghitam tak bisa menjadi sebuah harapan lagi karena terlalu lelah mencari tahu apa maksud tentang apa yang terjadi, itu bukankah bukan berarti harus menyerah.
"Katakan saja maksudmu terus melihat wajah gadis itu?" tanya Jun dalam hatinya.
"Kau mungkin sedang berkhayal" kata Jun lagi.
Pukul lima lebih lima menit pekerjaan Red sudah berakhir. Dia akan bersiap untuk pergi bersama Ran untuk pulang.
Ibu Ben datang membawa menu makan malam.
"Benar. Kalian makanlah dulu sebelum pulang, ok" kata Ben.
Mereka berdua tak bisa menolak untuk tidak ikut makan malam bersama tiga sahabat itu.
Red makan malam satu meja dengan mereka semua.
"Ayo kita makan!" kata Ben.
Sedikit kisah tentang Sammy.
Pulang ke rumah baru yang Ayahnya sewa seminggu yang lalu. Sepulang kerja menjadi sales promotion girl di salah satu pusat perbelanjaan di kota. Dia mendapatkan bagian di jual beli kendaraan roda empat di salah satu merek yang sudah resmi tercantum di kategorikan sebagai perusahaan asing.
Pukul sepuluh malam dia pulang dari tempat kerja. Dia harus melewati banyak rumah yang kebetulan memang rumahnya melewati empat gang dan ia harus jalan kaki untuk sampai dirumah.
Kalau siang masih sangat ramai karena banyak penjual dan toko disekitar gang tersebut. Lain lagi kalau sudah malam sudah pasti banyak toko yang sudah tutup.
Sammy melewati gang gang tersebut, jalan yang ia harus lewati tidaklah lurus melainkan berkelok dan melewati pekarangan yang masih kosong atau bisa dikatakan belum terbangun oleh bangunan apapun.
"Menyeramkan" kata Sammy.
Dia melewati sebuah pekarangan yang terdapat beberapa orang yang sedang mabuk disana.
Sammy berhenti sejenak mengamati waktu yang tepat untuk bisa ia melewati mereka semua dengan selamat. Meski ia memiliki kemampuan ilmu bela diri tapi tetap saja dia harus tetap waspada dan berjaga jaga dari gangguan semacam ini.
Terdiam bersembunyi di ujung jalan mengamati orang orang itu yang ada di pekarangan rumah itu. Jarak rumahnya tinggal seratus meter lagi.
Dia mengirim pesan kepada Ayahnya agar cepat datang menjemput.
"Tunggu Ayah" kata Ayahnya Sammy.
Pesan ini ia sudah kirimkan sejak ia pertama turun dari bus tadi. Karena Sammy tak ingin membuat Ayahnya berjalan terlalu jauh untuk menjemputnya, akhirnya dia memutuskan untuk berjalan menuju ke rumah sambil menunggu Ayahnya datang.
Hal semacam ini sering Sammy alami setiap pulang kerja sejak beberapa bulan setelah ia pindah rumah baru lagi.
"Kakak!" kata Ayahnya Sammy datang dari arah belakang.
Sammy terkaget melihat ayahnya datang mengagetkan.
"Kenapa ayah dari arah berbeda, Ayah baru pulang?" tanya Sammy.
Mereka telah melewati orang orang tadi yang Sammy takuti.
"Ayah belum jawab pertanyaan ku tadi" kata Sammy.
"Ayo kita pulang dan cepat makan malam. Ibu mu sudah menunggu di rumah" kata Ayahnya Sammy.
"Apa ayah mencari pekerjaan lain?" tanya Sammy.
"Tidak. Bagaimana ayah melakukan itu, lalu siapa yang akan menjaga toko kita?" tanya Ayahnya Sammy.
"Ayah memang pintar membuatku tak bisa bertanya lagi" kata Sammy.
"Kapan kau berhenti bekerja, Ayah masih sanggup membiayai sekolah mu" kata Ayahnya Sammy.
"Aku tahu ayah khawatir. Tapi, percaya sama Sammy. Ok, Ayah" kata Sammy.
__ADS_1
"Iya. Tapi, jangan lupa belajar. Lihat nilai mu belum ada kemajuan" kata Ayahnya Sammy.
"Aku akan lebih rajin lagi. Tapi, tetap izinkan aku tetap bekerja yah" kata Sammy.
"Iya. Tapi, kamu harus tetap bisa jaga diri. Ayah tak ingin putri ayah menangis" kata Ayahnya Sammy.
"Iya. Iya" kata Sammy.
Hari selanjutnya, masih di situasi pulang kerja.
Kali ini agak lebih malam karena mall tempat Sammy bekerja sedang sangat ramai di kunjungi oleh banyak pengunjung.
"Apa yang bisa diandalkan punya pacar seperti Jimmy. Dia lebih memilih pergi dengan teman temannya daripada aku" kata Sammy.
"Jangan peduli dengan anak itu bisanya buat orang sabar terus" kata Sammy.
"Syukurlah malam ini tak ada orang orang yang mabuk disepanjang jalan" kata Sammy.
Benar benar tidak ada suara orang orang yang belum tidur disepanjang jalan Sammy pulang hampir sampai dirumah.
Suara jangkrik itu sudah wajar dan biasa ia dengar di malam malam setiap ia akan pulang kerumah.
Sammy memakai jeans hitam dan sepatu sport putih bertali hitam. Jaket jeans hitam dan kaus putih dan ransel putihnya serta ponsel yang ia bawa.
"Aku justru lebih curiga dengan ketenangan ini" kata Sammy terus memperhatikan jalan yang ia lalui saat ini.
Ayahnya tidak bisa menjemput karena ia sedang bersama ibunya pergi berkunjung ke salah satu saudara yang sakit dan letak rumah mereka harus melewati satu kota. Sammy sendirian di rumah.
"Apakah dia hantu itu lagi?" tanya Sammy ketakutan menghentikan langkahnya.
Jarak rumahnya tinggal lima puluh meter lagi ia akan sampai dirumah.
"Tenang Sammy. Tenang" kata Sammy.
Hantu itu tak mau pergi atau bergeser dari tempat itu.
"Kau lihat Sammy. Dia melihat kearah mu" kata Sammy.
Deg degan perasaan takut tapi tak bisa berbuat apa apa, kakinya terkunci disana didepan rumah dengan tiang listrik tempat Sammy bersembunyi.
"Kenapa aku tak bisa lari?" tanya Sammy.
"Kirimkan penolong untukku Tuhan" kata Sammy.
Dari arah belakang Sammy datang seseorang dengan keadaan apa adanya.
"Kau dimana jemput aku" kata Ben.
"Iya. Aku akan segera mengirimkan alamatnya padamu" kata Ben.
Ben tidak menyadari bahwa Sammy sedang bersembunyi di belakang tiang listrik dibelakangnya, mungkin karena lampu yang tiba tiba saja meredup saat ada hantu yang dilihat oleh Sammy tadi.
"Aku harus berkata apa. Aku saja sampai sekarang masih ketakutan dan bibir ku terkunci" kata Sammy.
Ben menunggu Jun datang untuk menjemputnya malam ini dan saat ia menutup ponsel dan melihat ke arah dua puluh lima langkah kaki dari jarak ia melihatnya sekarang.
"Dia benar hantu. Aku harus bersembunyi" kata Ben.
Ben mencari tempat persembunyian dan ia mendapatkan Sammy juga sedang bersembunyi dibelakang tiang listrik dibelakangnya sebelumnya.
Ben melangkah pelan mundur ke belakang tiang listrik itu. Benar saja Ben juga tak bisa berbicara saat itu juga. Jantungnya berdetak sangat cepat tak bisa banyak bergerak pergi dari sana.
Lima menit menunggu hantu itu pergi dari sana.
Lampu sebuah kendaraan sudah terlihat dari pintu masuk gang pertama disini.
Hantu itu melirik kearah Sammy dan Ben. Dia melotot kearah mereka seperti merasa terganggu. Akhirnya, dia mendekat kearah kedua remaja itu.
"Kenapa dia malah kemari?" tanya Ben dalam lisan terkunci.
Hantu itu menyadari kehadiran orang lain disaat ia sedang asik bermain dengan dunianya sendiri merupakan gangguan. Hantu itu cepat sekali terbang kearah mereka.
Jun datang tepat saat hantu itu hampir sampai didepan mereka.
"Aku datang" kata Jun motornya masih menyala.
Lampu motor ia arahkan didepan kedua remaja yang sedang bersembunyi di belakang tiang listrik itu.
"Kalian sedang apa?" tanya Jun.
Mereka belum bisa menjawab pertanyaan dari Jun.
"Sammy. Benarkan itu kamu?" tanya Jun.
Sammy akhirnya bisa bernapas lega dan bisa berbicara lagi begitu juga dengan Ben.
Jun turun dari motornya lalu menghampiri mereka.
"Sammy kau tinggal didaerah sini?" tanya Jun.
"Iya. Kau benar" kata Sammy.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Ben.
"Ya. Dia teman sekolah menengah pertama ku dulu. Sammy" kata Jun.
"Perkenalkan aku Ben" kata Ben.
Sammy menerima perkenalan ini.
"Aku akan mengantar mu sampai dirumah" kata Jun.
"Lalu bagaimana dengan temanmu?" tanya Sammy.
"Aku akan menjaga motornya. Jun akan mengantar mu pulang. Iya kan, Jun?" tanya Ben.
"Ben benar. Aku akan antar kamu" kata Jun.
Sammy diantar pulang oleh Jun sampai kerumah dengan jalan kaki.
Ben melihat mereka yang berjalan menjauh di depannya.
Ben menjaga motornya Jun.
"Apa hantu itu tidak datang lagi?" tanya Ben.
__ADS_1
Disaat Jun mengantar Sammy pulang hantu tadi lewat didepan motornya Jun dengan santai dan pandangan lurus kedepan melayang diatas tanah.