
Chapter 95: Mendengar Suaranya Lagi.
"Kenapa dia nangis?" tanya Jun.
"Kalian belum nikah tapi sudah saling menyakiti" kata Ben.
"Hey kalian bicara apa sih" kata Red.
Sambil minum susu kotak rasa karamel untuk Jun sedangkan rasa stroberi milik Ben, Bee menangis gara gara Good.
Jalanan depan mini market masih ramai di pukul delapan malam.
"Jangan nangis aku nggak bawa permen" kata Jun.
"Aku bawa ini" kata Red.
"Ya terus kenapa kamu nangis?" tanya Jun.
Ben merasa ia tidak perlu ikut campur urusan rumah tangga orang lain.
Dia asik dengan kacang panggang yang baru ia buka bungkus plastiknya.
"Kalian memang selalu berantem" kata Ben.
"Ya cerita kenapa?" tanya Jun.
"Jangan bilang kalian sudah putus" kata Red.
"Ternyata semua pembeli kue buatan Good adalah fansnya dan lagi cantik cantik semua" kata Bee.
Ben memberikan kacang panggang kepada Bee.
"Makan ini. Jangan nangis lagi" kata Ben.
"Ambil ini juga" kata Jun.
Satu kotak susu rasa cokelat.
"Cokelat ini juga untuk mu" kata Red.
Bee menerima pemberian mereka bertiga.
"Aku juga mau donat itu" kata Bee.
Arah matanya tertuju pada donat donat milik Jun.
"Yang lainnya boleh. Ini masih banyak tapi jangan ini" kata Jun.
Sedang mempertahankan donat donat di tangannya.
"Sudah berikan saja" kata Red.
Ben sedang makan donat rasa keju.
"Tapi ini rasa kesukaan ku" kata Jun.
"Tidak mau" kata Jun.
"Kau ambil punya ku dengan rasa yang sama" kata Red.
Jun merasa tak tega dan akhirnya ia mengalah.
"Ini. Ambil" kata Jun.
Bee tidak menangis lagi setelah mendapatkan donat donat milik Jun.
Sedangkan untuk Ben sudah tahu bakal berakhir seperti ini. Dia sudah terbiasa sejak kecil karena mereka juga bertetangga.
"Aku akan berbagi dengan mu" kata Red.
"Makasih" kata Jun.
Ben masih dengan kacang panggang yang sedang ia makan.
Bee makan dengan lahap donat donat dari Jun.
"Pelan pelan makannya" kata Ben.
"Iya" kata Bee.
Jun masih terlihat tidak rela jika donat yang ia miliki dimakan oleh Bee.
Gadis itu tidak peduli dengan ekspresi wajah polos yang ia perlihatkan kepada teman teman kelasnya.
Jun mengambil ponsel lalu mengirim sebuah pesan kepada seseorang.
"Berapa lama kalian akan bertengkar?" tanya Jun.
"Ada apa?" tanya Good.
"Aku tahu kamu sangat polos tapi bisa tidak bawa pacar mu dari sini?" tanya Jun.
"Dia mengganggu mu?" tanya Good.
"Dia mengganggu kami disini" kata Jun.
"Syukurlah" kata Good.
Dan pacar gadis yang bernama Bee tidak membalas pesan lagi meski Jun mengirim banyak pesan.
"Dia tidak akan berhenti merengek tentang pacarnya" kata Ben.
"Padahal dia sangat cantik. Apa aku salah?" tanya Red.
"Tidak" kata Jun.
Ben sedang menunggu waktu untuk remaja ini bertanya kepada gadis yang ia anggap adiknya sendiri.
"Tadi sore kamu jadi jumpa fans mu?" tanya Ben.
"Ya" kata Bee.
"Lalu siapa yang mengantar mu?" tanya Ben.
"Good" kata Bee.
"Apa fans mu kebanyakan para remaja laki laki?" tanya Ben.
"Ya" kata Bee.
"Apa dia terlihat lebih diam?" tanya Ben.
"Dia memang seperti itu" kata Bee.
"Dia tetap menemani mu sampai akhir?" tanya Ben.
"Ya. Selalu" kata Bee.
"Apa yang kamu tangisi dia memang sangat sayang kamu?" tanya Red.
"Jangan nangis lagi. Dia nggak akan pergi" kata Jun.
"Benarkah?" tanya Bee.
"Benar" kata Jun.
Bee makan donat lagi menghabiskan donat dari Jun.
__ADS_1
Gadis ini tidak tahu kalau pacarnya sudah datang dan ada di belakangnya sejak tiga menit lalu setelah Jun mengirim pesan agar pacarnya tidak menangis lagi dan dia benar benar datang.
Dia duduk di sebelah kiri Bee.
"Ini Sorbet untukmu" kata Good.
"Kau datang" kata Bee.
Ben membagi kacang panggang di tangannya kepada Red dan Jun.
Kedua temannya menerima dengan senang hati melanjutkan menonton drama romantis didepan mereka.
"Kenapa kamu nangis?" tanya Good.
"Tidak. Aku hanya ingin" kata Bee.
"Ya sudah setelah ini. Aku akan mengantarmu pulang" kata Good.
"Tidak perlu. Rumahku juga disamping rumah Ran" kata Bee.
Salah satu rumah Bee ada disebelah kanan rumah Ran yang juga disebelah tempat gym Ayahnya Ben yang ada disisi kiri rumah Ran.
"Itu alasan mu tidak mau mengantarnya tadi?" tanya Jun.
"Ya" kata Good.
Red dan Jun mengambil kunci motor mereka.
"Kita pulang dulu" kata Red'
Mereka pulang saat itu juga. Sedangkan untuk Ben dia masih didepan mini market bersama dengan Bee dan juga Good.
"Kau tidak pulang?" tanya Good.
"Aku pulang sekarang" kata Bee.
Good mengantar pacarnya sampai didepan gerbang rumah.
Ben mengawasi mereka dari depan mini market sambil minum susu kotak yang harus ia habiskan.
Ia menunggu sampai Good kembali di mini market.
"Aku akan menginap di rumah mu" kata Good.
"Silahkan" kata Ben.
Bob menunggu makanan yang ia pesan secara online.
Didalam mobil dengan jaket tebal yang ia pakai dan selimut putih tebal ia bersembunyi didalam sana sambil membaca beberapa dokumen pekerjaan.
"Apa tidak ada yang bisa membantu ku?"kata Bob.
"Itu karena aku menyuruh sekretaris ku pulang" kata Bob.
Wanita yang ia sayang masih sedang makan malam bersama kedua teman kuliahnya di sebuah kafe dekat dengan kantor tempat ia bekerja.
"Kapan kita pergi menembak lagi?" tanya seseorang dari notifikasi pesan di ponsel Bob.
Bob mengambil ponselnya didalam saku.
"Oh. Dia mengajak menembak lagi" kata Bob.
"Menurut mu kapan?" tanya Bob.
"Saya mengikuti arahan senior" kata seseorang itu.
"Bagaimana dengan airsoft ku?" tanya Bob.
"Ya. Sekalian aku mau mengembalikan barang milik mu?" tanya Seseorang itu.
"Siap!" kata Wren.
Remaja ini sedang membersihkan airsoft milik Bob yang ia pinjam minggu lalu.
Bob kembali membaca dokumen pekerjaan di map biru dari beberapa map yang ia bawa pulang kerumah.
"Tuk tuk tuk!"
Suara kaca mobil Bob diketuk oleh seseorang dengan berpakaian seragam restoran tempat ia bekerja dengan logo khas mereka.
"Paket!" kata pengantar makanan.
Bob membuka kaca jendela mobil dan menerima paket makanan dari pria pengantar makanan.
"Terimakasih" kata Bob.
"Sama sama Pak" kata pria pengantar paket.
Jendela mobil ditutup kembali dengan diberi jarak lima sentimeter untuk angin datang masuk kedalam mobil.
"Selamat makan!" kata Bob.
Dia makan bagel pizza yang ia beli di salah satu restoran beserta ice strawberry.
Ada Flow akan melewati mobilnya.
Dia bersembunyi.
"Setidaknya dia tidak akan tahu ini aku" kata Bob.
Dia menggunakan mobil milik asisten pribadinya yang ada di kantor saat ini sudah pulang.
Flow bersama Jax masuk kedalam kantor sedang untuk Macy teman kuliahnya pulang dijemput oleh pacarnya.
Terlihat dengan mobil cokelat ia pergi dari depan kafe.
Beberapa orang kemudian menyusul masuk kedalam kantor setelah Flow dan Jax masuk kesana.
"Dar!"
"Dar!"
"Dar!"
Suara senapan dari seseorang yang menebak terdengar sampai arah mobil Bob.
Dia mendengar suara itu jelas mendengar begitu juga orang orang yang ada disana.
Bob tak mungkin keluar dari dalam mobil yang ia kemudikan sendiri sampai didepan kantor tempat Flow bekerja.
Memeriksa situasi kondisi sekitar.
Dia menggaruk pelipis matanya disebelah kanan.
Ice strawberry ia ambil lalu meminumnya perlahan.
"Segarnya" kata Bob.
Suara tembakan itu jelas terdengar disekitarnya.
Orang orang juga mencoba menebak dimana asal suara keras tembakan itu.
Dia tak terlihat dalam keadaan malam di kota yang terlihat ramai tapi terasa sangat kesepian.
Seseorang dengan jubah hitam dan tanda hitam bergambar api di pergelangan tangannya muncul dari atas gedung dengan senapan berlaras panjang.
Dia terlihat sedang mengawasi seseorang bukan Bob tapi orang lain yang menjadi targetnya selanjutnya.
__ADS_1
Tanda api yag tergambar di pergelangan tangannya lalu kembali menghilang menguap di udara.
"Siapa orang itu?" tanya Red.
"Dia orang yang sama yang mengawasi ku disaat aku mendapatkan ramuan obat untuk Sima bersama dengan Sew dulu" kata Red.
"Tanda itu. Tanda yang ada di pergelangan tangannya akan berubah ketika menyadari kehadiran kita" kata Bling.
Dia membawa senjata berlaras api di tangannya berlari dengan cepat berpindah tempat dengan teleportasi yang ia keluarkan hadir di samping kanan Red.
Red terkaget dengan apa yang ia lakukan mengejutkan dia dalam satu detik terdiam kemudian energi didalam raganya muncul dengan kilatan biru memutih seperti petir muncul seketika menjadi perisai.
Dia dengan setelan serba hitam dan masker hitam mencoba berbisik kepada Red.
"Dia mempunyai energi itu" kata Red.
"Hidupmu tidak akan bertahan lama" kata Pria itu.
Suara itu berakhir berkata kepada Red lalu segera menghilang dengan cepat dari sisi kanan Red.
Berpindah ke tempat lain ada di gedung di seberang Red ada diatas sana.
Melihat ke arah Red dengan cahaya putih dan mata putih ia terlihat lalu menghilang secara tiba tiba dari atas gedung di seberang gedung Red menjadi kristal cahaya.
"Kenapa dia tidak melenyapkan ku?" tanya Red.
"Jarak kita sangat berbahaya" kata Bling.
Hera muncul menemui Red.
"Siapa orang tadi bahkan kekuatannya membuatku tak bisa bergerak menolongmu?" tanya Hera.
"Kau baik baik saja kan?" tanya Red.
"Aku sudah jauh membaik setelah ia jauh dari mu" kata Hera.
Red dan Bling serta Hera pergi dari atas gedung itu kembali ke dalam kamar asrama sekolah.
Bob keluar dari dalam mobil lalu melihat ke arah gedung tempat semula Pria bersenjata senapan laras panjang ada disana.
Sambil memakan satai sapi bakar kemudian Bob melihat ke arah gedung tempat Red semula ada disana bersama dengan Hera.
"Suara itu berasal dari gedung itu tapi semua terlihat baik baik saja" kata Bob.
Banyak polisi satu jam yang lalu berdatangan memeriksa ke atas gedung setelah kejadian itu terjadi dan tidak menemukan apapun di kedua gedung itu.
Flow keluar dari dalam kantor bersama teman teman kantornya yang baru selesai lembur kerja.
Bob tidak ingin berteriak kemudian ia menelepon Flow yang akan menuju tempat perhentian bus.
Flow mengangkat panggilan dari Bob.
"Oh Kise. Ada apa?" tanya Flow.
"Lihat ke arah seberang jalan dekat kafe didepan kantor mu" kata Bob.
Flow ada didepan toko buku disebelah kantornya lalu melihat ke tempat yang di arahkan oleh Bob.
"Jangan bergerak. Biarkan aku datang menemuimu" kata Bob.
Bob masuk kedalam mobil lalu mengemudikan mobil mendekat ke arah Flow yang sedang menunggu didepan toko buku.
Sampai didepan Flow.
Bob membuka pintu mobil kemudian keluar dari dalam kursi kemudi mobil.
"Kita pulang bersama?" tanya Bob.
"Bagaimana kalau aku yang menyetir?" tanya Flow.
"Hey kau bukan sopir ku tapi wanita ku" kata Kise.
"Aku anggap kau sedang tidak sadar kalo ini" kata Flow.
"Terserah. Ayo kita pulang bareng" kata Kise.
Kise menjemput Flow setelah pulang dari kantor.
Dari dalam kantor ada seseorang dengan terburu buru ke luar dari dalam kantor. Dia adalah Jax.
"Rupanya aku terlambat lagi" kata Jax.
Dia melihat Flow masuk kedalam pintu mobil yang dibukakan oleh Kise.
Mobil melaju pergi dari depan toko buku dekat dengan kantor Flow.
"Sorry keponakanku. Aku hanya ingin dia tetap milik ku" kata Kise.
Ia melihat ke arah spion mobil melihat Jax yang ada didepan kantor melihat ke arah mereka pergi.
Suatu waktu melihat ke arah Jax kemudian mengarah meninggi ke atas melihat ke langit cahaya lampu kota terlihat sangat indah seperti bintang di langit saat ini.
Dia pria dengan masker hitam dengan setelan hitam masih dengan senjata berlaras panjang yang ia bawa melihat pemandangan malam ini dari atas gedung yang berbeda. Kedua mata yang tajam dari jauh melihat kejadian yang terjadi kepada Bob, Flow dan Jax dari arah satu kilometer.
Uri dengan raga milik Flow sedang memerankan bagaimana gadis pemilik raga yang ia masuki bersikap kepada orang yang ada di sebelahnya yang sedang tersenyum hangat sejak awal ia datang menatap dan berbicara di depan toko buku.
"Tatapan hangat itu hanya milik gadis ini" kata Uri.
"Aku selalu sedih jika melihat wajah ini" kata Uri.
Maksud Uri adalah wajah dari ketidaktahuan tentang Flow yang tak bisa mengutarakan isi hatinya tentang situasi sekarang.
"Kau pasti membutuhkan dia sekarang" kata Uri.
"Maaf" kata Uri.
"Maaf" kata Uri.
"Maaf jika aku terlambat" kata Uri.
"Aku takut. Sungguh aku takut" kata Uri.
Angin masuk dari jendela dekat Flow disisi kirinya terbuka separuh dari jendela menyentuh rambut Flow lembut.
Dia merapikan rambutnya ke arah belakang telinga.
"Ada apa kenapa kau terus melihat ku?" tanya Kise.
Flow tak menjawab.
"Aku memang selalu tampan kan" kata Kise.
"Kau sedang menyetir mobil" kata Flow.
"Ya. Ya" kata Kise.
Dia tak pernah berubah bahkan hingga kini. Itu yang dirasakan oleh Uri selama ia masuk kedalam raga Flow.
"Mengapa dunia seadil ini" kata Uri.
Dia melihat ke arah depan jalan mobil yang ia naiki terus berjalan ke arah rumahnya.
Kise tersenyum melihat lagi bayangan Flow dalam kaca depan mobil.
"Aku tidak mendengar suara wanita ku dan aku sudah sangat sedih" kata Kise.
"Bisakah kau katakan padanya bahwa aku tidak mendengar suaranya lagi" kata Kise.
__ADS_1