Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 134: Diamonds in a desert.


__ADS_3

Chapter 134: Diamonds in a desert.


"Ini tidak bercanda kan" kata Ben.


 Tak ada ponsel atau kompas Ben ada di sebuah tempat asing lagi tempat asing berbeda lagi sendiri.


 Memandang dari atas tebing dengan tangan mengarah lurus diatas alis mata dalam siang yang sungguh panas di sebuah area bebatuan dengan tebing diantara mereka berdiri kokoh tak jarang terdapat tanaman.


 Remaja laki laki ini melihat jauh ke bawah tebing berpindah tempat turun dan kini dia ada ditempat yang ia inginkan. Istirahat.


 Ben bersandar di sebuah tumbuhan dengan genius semak semak dengan subfamili mimosoideae atau sering disebut dengan pohon akasia.


 Kerlap kerlip cahaya berjatuhan diatas Ben duduk disana telapak tangan terbuka dan merasakan sejuknya momen ini menangkap menangkap lagi cahaya yang berjatuhan dari langit sungguh sebuah fantasi yang begitu indah bukan remaja laki laki ini sedang mengimajinasikan dedaunan yang jatuh dari atasnya yang telah mengering di segarkan kembali oleh kekuatan energi Ben yang ia miliki bermain menganggap dirinya lagi masih berusia anak anak bermain untuk menghibur diri.


"Kakak lapar?" tanya seseorang tiba tiba muncul di sebelah kiri Ben.


 Ben bergeser sedikit sedikit dari orang di sebelah kirinya.


"Aku hanya menawarkan makanan. Kenapa kau takut?" tanya orang itu.


"Aku. Aku adalah manusia yang tidak pernah lapar" kata Ben.


"Aku tebak kau selalu di putuskan pacar pacar mu kan?" tanya orang itu.


 Ben mulai agak badmood dengan pendapat ini.


"Kenapa dia bisa tahu?" bertanya Ben dalam hati.


 Angin sejuk di sebuah gurun saat ini sedang mengajak Ben untuk berdebat sepanjang waktu.


 Datang dan pergi hanya sekedar menyapa sudah cuma itu saja.


 Memandang di depan tak ada jalan yang ia temukan.


"Kakak belum menjawab pertanyaanku" kata Orang itu.


 Ben tidak peduli dengan pertanyaan dari seorang anak kecil yang duduk di sisi sebelah kirinya itu. 


"Pacarmu banyak tapi tidak pernah bertahan lama. Iya kan?" tanya gadis kecil itu lagi.


 Ben delapan puluh persen menahan amarah.


 Gadis kecil itu juga tidak mau menyerah dengan pertanyaan pertanyaan yang akan ia ajukan selanjutnya.


 Senjata gadis kecil ini kembali dikeluarkan untuk membuat Ben terdiam lagi.


"Kau selalu minder karena teman temanmu lebih tampan darimu" kata Gadis kecil itu lagi.


 Enam puluh persen tingkat kemarahan yang terpendam terdengar pertanyaan ini sudah sedikit familiar terdengar oleh orang orang disekitarnya. 


"Keluarkan semua pertanyaanmu" kata Ben.


 Mulai merespon.


"Suara kakak bagus ketika bicara" kata gadis kecil ini.


 Sedikit senang senyum sedikit tapi kemudian segera sadar diri.


 Dalam hati merespon.


"Masa iya. Sejak kapan, buktinya mereka semua pergi" kata Ben.


 Tidak percaya diri lagi.


"Oh ya. Satu lagi untuk soal pekerjaan kakak paling profesional tapi tetap disalahkan" kata gadis kecil ini.


 Ben mulai sedih jika mengingat ini.


 Gadis kecil ini melihat ke arah Ben.


"Sedihnya jadi kakak" kata gadis kecil itu.


 Berdasarkan pengalaman yang telah ia lalui selama menjalani hidup di dunia penuh modifikasi ini dia sadar jangan sampai anak kecil juga ikut mengatur cerita untuk orang dewasa sepertinya juga.


 Terlihat sedang berakting serba sok tahu dan tidak mau tahu ia terapkan mulai detik ini. 


"Kakak cuek banget" kata gadis kecil itu.


 Agak terkejut mendengar kalimat ini keluar dari seorang anak kecil.


 Ingin lari juga terpikirkan oleh Ben tapi lihat apa yang ada disekitar Ben semua sama saja.


 Masih dengan dunianya sendiri.


 Menatap langit.


 Bunyi perut Ben terdengar lagi.


 Ben masih dengan memasang wajah cool tanpa beban bersandar di pohon akasia rindang dengan dedaunan yang cukup lebat.


"Mengapa hidupmu sangat membosankan?" tanya gadis itu lagi.


 Tingkat kemarahan sembilan puluh persen.


 Ingin langsung memarahi gadis disebelahnya tapi dia teringat seseorang yang lebih parah yang selalu mengejeknya di hampir semua umurnya sekarang dan dia menjadi terbiasa.


"Bagaimana dengan Bee di luar sana?" tanya Ben.


 Melihat keadaan gadis yang ia pedulikan sedang apa sekarang.


 Dia sedang sangat sibuk dengan kegiatan kegiatan sehari hari yang sengaja dibuat sibuk oleh diri sendiri.

__ADS_1


 Kembali dengan Ben dengan dimana Ben ada di dimensi ini.


Gadis kecil itu melihat ke arah Ben lagi.


 Mata jernih dengan bulu mata panjang lentik senyum ceria anak seusianya terlihat sangat tulus membuat remaja ini tidak tega jika ia akan membentak atau memarahi gadis kecil ini.


 Dia sedang bermain api di jemari jemari kecil di tangannya menunjukkan kepada Ben tanpa rasa takut dan malu dengan orang yang baru ia kenal dia terlihat sangat senang sekali ada Ben hadir disana menjadi temannya bermain hari ini.


 Kelima api muncul dari jari jari gadis kecil itu.


"Jangan bermain api nanti bisa terluka" kata Ben.


 Dia tidak menghiraukan apa yang dikatakan oleh Ben dan dia tetap bermain api api di ujung ujung jemari.


 Meniup api di jari tengah kemudian menyalakan lagi api di jari tengahnya lagi.


 


 Menghitung satu persatu jemari tangan kanan dan kiri dengan api masih menyala.


 Ben tiba tiba saja menangis dengan air mata darah keluar dari pelupuk mata.


"Kakak menangis" kata gadis kecil itu.


 


 Ben menghapus air mata di pipinya.


"Tidak" kata Ben.


 Tapi nyatanya dia menangis.


 Bingung dengan keadaan ini.


"Kenapa ini bisa terjadi?" tanya Ben.


"Jika kakak masih bisa menangis berarti hati kakak sangat baik" kata Gadis kecil ini.


 Ben tersentak dengan kata kata seorang gadis kecil yang baru saja ia temui ini secara kebetulan.


 


 Sepuluh jari jari gadis kecil ditiup olehnya lalu sepuluh api di ujung ujung jari gadis ini padam.


 Dia memberikan lima permen lolipop rasa lemon  kepada Ben dengan begitu saja seperti berbicara dengan teman sebayanya sendiri.


"Oh. Kakak menangis lagi" kata gadis kecil itu.


 Ben tidak tahu mengapa ia menangis lagi bahkan air mata yang ia keluarkan adalah air mata darah dan dia menghapusnya lagi.


 Senyum hangat seperti biasa menjadi milik Ben kini mulai kembali.


"Lihat kakak bisa tersenyum" kata Gadis kecil ini.


"Terburu buru sekali waktu siang disini sangat lama" kata gadis kecil ini.


"Benarkah. Jangan jangan tak ada malam disini" kata Ben.


"Tebakan kakak tepat sekali" kata Gadis kecil itu.


 Memakan permen lemon lagi dari dibungkus baru yang ia buka untuk yang ketiga kalinya.


 Entah kenapa Ben merasa bahwa ia merasa di tempatnya sekarang ia berada membuatnya jauh lebih tenang.


 Ben bukan sekedar duduk disana tetapi dia sedang bertanya tentang mengapa ada seorang gadis kecil yang masuk kedalam dimensi ini. Dia juga bertanya tanya mengapa dia juga bukan hantu seperti pada umumnya cukup jinak jika diajak bicara meski Ben tahu wajar karena usianya masih tergolong sangat kecil sekitar delapan tahun jika dilihat dalam sekilas mungkin seusia itu.


"Kamu membawa banyak sekali makanan itu pasti berat" kata Ben.


"Tidak juga. Aku sudah terbiasa membawa ini semua" kata gadis kecil melihat dan tersenyum kepada Ben dengan permen lolipop di mulut.


"Setiap hari?" tanya Ben.


"Ya. Setiap hari aku kemari" kata Gadis kecil.


"Memang disini akan ada apa?" tanya Ben.


"Orang orang yang datang dari dimensi lain seperti kakak" kata Gadis kecil.


 Mendengar penjelasan ini Ben berpikir apakah benar ada orang lain selain dia masuk ke dimensi misterius ini. Kalau iya ada, apa alasannya.


"Benar ada orang lain datang kemari!" kata gadis kecil ini.


 Gadis kecil ini sedikit menaikkan volume suaranya.


"Kamu juga bisa tidak mau mengalah rupanya" kata Ben.


"Tentu saja. Itu karena aku berkata benar" kata Gadis kecil.


"Dimana rumah mu. Kakak akan antar pulang?" tanya Ben.


"Itu mudah. Aku bisa pulang sendiri" kata gadis kecil.


 Jun tertawa dibuat olehnya karena gadis kecil ini mulai marah dan sama persis dengan tingkah sahabatnya sendiri di dimensi manusia.


 Di dunia dimensi tempat tinggal manusia ada seorang gadis yang disebut namanya oleh Ben langsung bersin.


"Haciehhhh!" 


 Bee bersin dengan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.


 Good ada disebelah Bee di kursi panjang depan kantin sekolah sedang makan siang bersama dengan ketiga temannya yang lain. Red dan Marid serta Wren.

__ADS_1


"Aku tidak bisa tenang jika anak itu tidak pulang pulang" kata Bee.


 Perasaan cemas karena Ben belum juga pulang ke rumah rasa cemas yang sama dirasakan oleh semua yang duduk di kursi kayu panjang taman dekat kantin itu.


 Apa yang harus di ceritakan untuk hal ini kepada orang lain mungkin ada yang percaya dengan apa yang mereka saksikan dan lalui itu tapi bagaimana dengan orang lain yang menggunakan logika dalam menyelesaikan semua masalah. Ini akan sulit untuk dicerna oleh orang orang lain selain mereka.


"Mengapa kakak tidak pintar?" tanya gadis kecil itu.


 Belum juga Ben memberikan jawaban, dia sudah mendapatkan pertanyaan lain lagi dari gadis kecil ini.


"Kemana isi dari otak kakak?" tanya gadis kecil ini lagi.


 Ben dengan kemarahan memuncak tak tertahankan lagi sudah sembilan puluh sembilan persen tingkat kemarahannya kali ini.


"Jangan marah seharusnya kamu lebih rajin belajar lagi" kata gadis kecil ini berbicara menatap Ben dengan wajah memelas.


 Menyilangkan kedua tangan diatas perut Ben sudah dengan argumen yang disiapkan untuk gadis kecil ini.


"Apa kau tidak di kasih uang jajan jadi seperti ini?" tanya Ben.


 Dengan tenangnya gadis kecil ini membuka tas ranselnya lalu menunjukkan kepada Ben.


"Lihat. Ini dari ibu dan ayahku" kata Gadis kecil.


 Tumpukan uang, emas dan berlian ada di bagian lain tas ransel merah miliknya.


 Sudah Ben sulit dan mulai malas jika sudah seperti ini jika sedang berargumen dengan orang lain bahkan sekarang dengan anak kecil.


"Lalu kamu tidak bermain dengan teman temanmu?" tanya Ben lagi.


"Aku tidak suka. Aku lebih suka bermain dengan orang yang jauh lebih dewasa dariku" jawab gadis kecil itu.


"Kenapa?" tanya Ben.


"Itu membuatku jauh lebih dewasa dengan anak seusiaku. Hal itu membuatku jauh lebih keren" kata gadis kecil itu.


"Kamu datang darimana sebenarnya?" tanya Ben.


"Kau tidak perlu tahu" kata Gadis kecil ini.


 Gadis kecil ini memberikan dua potong kue coklat miliknya untuk Ben memaksa Ben untuk menerimanya meski dia tidak mau.


 Ben dengan makanan dari gadis kecil ini menerima tanpa memakannya memang dia sedang tidak ingin makan saja. Rindu rumah.


"Kakak kangen rumah yah" kata gadis kecil ini lagi.


  


 Ben dibuat geleng geleng lagi sedangkan gadis kecil di sebelah kirinya sedang asik dengan kue coklat.


 Kemudian, dia membuka isi ponsel membuka jadwal pekerjaan yang harus ia kerjakan dalam minggu ini sungguh membuatnya khawatir sedangkan dia belum keluar dari tempat ini berpikir yang terlalu overthinking benar karena dia sadar tempat yang menjadi tempat ia mencari nafkah bukanlah miliknya.


"Menjadi orang dewasa memang melelahkan" kata gadis kecil itu lagi.


"Hahh?" tanya Ben dalam hati.


 Ben lebih terkejut lagi dengan kata kata ini.


"Aku tahu kakak pasti lelah tapi itu impian kakak bukan?" tanya gadis kecil itu.


"Coba kamu tebak. Apa pekerjaan kakak?" tanya Ben.


"Yang suka lewat di televisi kan diantara acara televisi yang sedang tayang" kata gadis kecil itu.


"Aktor iklan" kata Ben.


"Ya itu. Sorry, itu bukan bidangku berbicara tentang hal itu" kata Gadis kecil itu.


 


 Ben menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya sendiri dan berusaha menganggap dia sedang tidak bicara dengan siapapun. Rasa malu juga terkejut sedari tadi diajak bicara seorang gadis kecil yang berusia sangat kecil tapi dia tidak bisa mengalahkan argumen argumen yang ia terima.


 Gadis kecil itu mengajaknya bicara lagi akan tetapi kedua telinganya masih ia sengaja tutup dengan kedua telapak tangannya lagi.


"Kakak kakak dengarkan aku!" gadis kecil itu berteriak.


"Aku tidak dengar!" kata Ben.


 Dia menarik lengan baju Ben yang penuh darah sejak awal ia datang di dimensi ini.


"Kakak!" kata gadis ini memanggil lagi.


 Merengek.


"Kakak!" kata gadis kecil itu lagi.


"Aku tidak dengar. Aku tidak dengar!" kata Ben. 


 Dua menit kemudian lalu untuk yang ketiga menit selanjutnya suara itu tidak terdengar lagi oleh Ben.


 Ben membuka mata, dia hanya melihat tas ransel merah yang terbuka dengan isi yang tetap sama saat gadis kecil itu menunjukkan isi dari tas ranselnya yang berisi makanan dan uang serta emas serta berlian yang dia bilang adalah dari kedua orang tuanya. Lalu, kue kue serta permen yang ada di kotak makan terbuka masih terlihat kue yang tadi ia makan dari bekas gigitan gadis kecil itu.


 Ben mulai curiga dengan gundukan tanah di sebelah tas ransel dan kotak makan serta tempat minum juga permen warna warni di sebelahnya.


 Menggali tanah gundukan itu. 


 Menggali lagi.


 Sesuatu ia temukan menjadi sebuah petunjuk dari teka teki tidak langsung ini.


 Tangan kecilnya terlihat berwarna hitam legam menggali lagi lebih dalam dan dia mendapatkan jawaban bahwa gadis kecil tadi memang meninggal terkubur di sana.

__ADS_1


 Ben menghapus debu di wajah gadis kecil itu dengan lembut.


 Siapa yang tidak menangis dengan hal ini, dia sedang menahan rasa sedih dengan apa yang baru saja ia temukan.


__ADS_2