Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 135: Pangeran dan Tas kecilnya.


__ADS_3

Chapter 135: Pangeran dan Tas kecilnya.


 Gadis kecil itu pergi dan remaja laki laki itu masih disana sendirian lagi.


"Tidak" kata Ben.


"Jangan pergi lagi!" teriak Ben.


"Mengapa kau pergi lagi. Jangan pergi lagi!" kata Ben.


 


 Ben menangis disana sejadi jadinya dengan memeluk tas milik gadis kecil tadi.


 Wajahnya memerah dengan noda darah di beberapa titik wajah semua terasa dingin untuk Ben dan dimensi ini.


 Ben merapikan kue kue yang ada di kotak makan merah milik gadis kecil itu mengambil permen warna warni di sekitar tas yang ia pegang dengan tangan kirinya sambil mengusap lagi air mata darah yang belum berhenti membasahi wajahnya.


"Itu benar kau. Aku mengingatmu lagi. Jadi, kembalilah!" teriak Ben.


 Dia melakukan merapikan semua barang barang milik gadis itu dengan cepat tapi apa daya bahwa itu hanyalah sebuah ilusi lagi tentang kesedihan yang disimpan selama ini luka lama yang ia sembunyikan sejak bertahun tahun lamanya.


"Dia datang lagi" kata Ben.


"Dan dia cepat sekali pergi" kata Ben.


"Dia belum berubah. Dia masih seorang gadis kecil yang kukenal" kata Ben.


"Tolong izinkan aku melihatnya lagi. Aku mohon sekali ini saja" kata Ben.


 Remaja ini masih menangis haru dan dia belum bisa menerima bahwa dia sudah pergi lagi.


 Tas yang ia peluk erat kini perlahan lenyap sendiri diikuti oleh benda benda lain yang juga milik gadis kecil tadi.


 Ben duduk didepan pohon akasia yang rindang itu terisak sendiri menghapus air matanya sendiri berulang lagi ia melakukan itu hari semakin berubah makin gelap matahari hangat menutup hari ini.


 Sapa dingin angin diawal malam ini dalam hening suasana ini terdengar suara tangis seseorang dan itu suara tangis remaja laki laki ini.


 Ben bersandar lagi di pohon akasia itu lagi melihat lagi sisi kiri pohon besar yang ia gunakan untuk bersandar lagi.


 Mengingat lagi waktu disaat gadis kecil itu ada disana mengajaknya terus untuk berbagi cerita dalam obrolan penuh semangat dan kasih sayang seorang kakak kepada adik laki lakinya. 


 Semua kembali sepi lagi ruang ini bertambah membutuhkan solusi untuk meninggalkan rasa bersalah ini agar dia bisa bertahan lagi dan bisa melanjutkan hidupnya lagi sebagai sebuah hadiah yang Tuhan berikan untuknya.


 Ben tertidur.


 Hari makin gelap.


 Makin gelap. Dia disana.


"Jangan pergi kakak" kata Ben mengigau.


"Jangan pergi. Maaf, maafkan aku" kata Ben.


"Kakak. Kakak, jangan pergi" kata Ben.


 Ben terbangun dalam tidurnya.


 Orang orang yang tidak asing ada disana memperhatikan Ben yang baru saja terbangun. Ibunya Ben ada disana memegang erat tangan putranya yang sudah terpasang alat infus menyala di rumah sakit.


 Disana juga ada orang tua Bee yang merasa lega bisa melihat Ben sudah kembali dalam keadaan utuh tidak kurang apapun.


 Ibunya Bee dan juga Bee menghampiri Ben yang masih sedikit pusing karena baru bangun tidur dari koma selama dua hari setelah ditemukan jatuh dari sebuah tebing yang curam yang berada delapan kilometer dari rumah sakit tempat dia dirawat sekarang.


"Ibu senang kamu sudah sadar" kata Ibunya Bee.


"Kakak. Aku takut sekali, ketika kakak belum bangun. Jangan seperti ini lagi" kata Bee.


  Bee menangis pada Ben.


 Ben melihat bahwa ini bisa bahaya jika terlalu lama dia bersikap seperti ini padanya karena didalam ruangan itu juga ada Good yang masih menjadi pacarnya.


 Ben membangunkan Bee yang sedang menangis di lengan kirinya.


"Sudah. Aku sudah baik baik saja" kata Ben.


 Ben memberikan senyum hangat yang biasa Bee lihat sejak kecil pada Ben.


 Di dalam ruangan itu juga ada Red dan Marid juga Jimmy.


 Di luar kamar rawat Ben sudah ada di sana menunggu seseorang dengan buket bunga yellow rose berdiri di sisi kanan di sebelah pintu masuk ruangan ini.


 Jimmy keluar dari ruangan itu melihat Jamie yang ada disana dengan keraguan.


 Menghampiri Jamie berdiri di sebelah kiri gadis teman satu sekolahnya itu.


 Menatap Jamie.


 Jamie masih mempertimbangkan apakah dia harus melakukan ini atau tidak.


"Itu untukku?" tanya Jimmy.


"Kau mau. Ini untukmu saja" kata Jamie.


  Jimmy menerima bunga dari Jamie lalu pemberi bunga yellow rose itu pergi meninggalkan Jimmy.


 Jimmy melihat bunga yang ia terima dari Jamie dan menyentuh kelopak bunga yang terlihat segar.


 Jimmy menunggu di luar ruangan dibelakangnya duduk dengan kursi besi rumah sakit yang tersedia di depan kamar Ben.


 Kedua orang tua Ben pergi sebentar setelah dokter datang sesaat setelah Jamie pergi memberi bunga untuk Ben kepada Jimmy untuk membicarakan perkembangan kesehatan putra mereka.


 Dilihat juga ibu dan Ayahnya Bee keluar dari ruangan itu lima menit kemudian setelah dua hari bergantian ikut menemani Ben yang sedang koma bersama kedua orangtua Ben menjaga.


 Jimmy yang sengaja menunggu momen ini masuk kedalam dengan bunga yellow rose dari Jamie tadi.

__ADS_1


 Jimmy datang.


 Percaya diri seperti biasa.


"Apa ini?" tanya Ben.


"Untukmu" kata Jimmy tanpa basa basi.


"Untukku. Dari?" tanya Ben.


"Mantanmu" kata Jimmy.


"Yang mana?" tanya Ben.


"Tanya saja mereka satu persatu. Kenapa tanya aku" kata Jimmy.


 Dia telah kembali lagi menjadi pangeran yang mungkin bisa dikatakan menyebalkan bisa juga tidak. Itulah Jimmy.


 Red melihat kedua orang ini bisa seakrab ini itu sebuah keajaiban bagi mereka.


 Jimmy menarik lengan kanan Red.


"Ada apa?" tanya Jimmy.


"Aku lapar. Ayo kita makan" kata Jimmy.


 Jimmy juga melirik ke arah Marid yang tidak peduli dengan mereka sedang sibuk dengan membalas pesan kepada pacar barunya.


"Kau juga boleh ikut" kata Jimmy.


 Bee dengan Good masih kompak bersama berdua menyiapkan buah untuk Ben makan setelah sadar ini.


"Kalian ingin kami bawakan apa?" tanya Jimmy tiba tiba saja.


 Satu ruangan menghentikan aktivitas mereka setelah mendengar kelembutan niat baik Jimmy yang baru pertama kali mereka dengar dari seorang Pangeran kerajaan ini.


"Kalian kenapa. Aku hanya menanyakan makanan ekspresi kalian jauh diluar dugaan" kata Jimmy.


"Ayo kita pergi!" kata Red lalu menarik lengan kanan Jimmy pergi keluar dari ruangan itu.


 Jimmy dibawa oleh Red keluar dan membuat obrolan dengan sahabat masa kecilnya itu.


 Jimmy selalu menurut saja dengan apa yang dilakukan dengan gadis yang sedang membawanya pergi ke kantin rumah sakit.


 Senyum senang bahagia Jimmy sedang digandeng belum gadis ini lepaskan dan dia menyukai hal ini.


 Jimmy senyum senyum sendiri hingga akhirnya Red tersadar sendiri.


"Sorry. Aku lupa" kata Red.


"Bisa lebih lama lupanya?" tanya Jimmy.


"Lihat!" kata Red.


"Ya. Sorry" kata Jimmy.


 Red memperlihatkan telapak tangan yang baru saja menggandeng pergelangan tangan Jimmy mengelupas terbakar langsung darah keluar dari luka itu segera ia aktifkan energi penyembuh miliknya lagi.


"Ok. Kita akan makan apa?" tanya Red.


 Jimmy senang Red sudah mulai mau mengenalnya lagi seperti saat ini.


 Red menunggu makanan yang ia pesan diam fokus tanpa suara.


 Untuk Jimmy sudah dia kalau ada Red lebih patuh pake banget tidak ada yang bisa membuatnya menjadi anak baik selain Red.


 Datang Marid dengan berdiri tepat di belakang Red dan Jimmy dengan berbagai ide estetik  yang ia sedang pilih pilih di dalam isi kepala untuk di aplikasikan dalam obrolan selanjutnya bersama dengan dua teman sekolahnya ini.


"Katanya, kita tidak boleh menunda sesuatu" kata Marid tiba tiba saja bicara.


 Agak garing dalam membuat candaan kali ini tapi itu termasuk niatnya juga karena dia belum tahu bagaimana gaya bercanda Jimmy ketika sedang bersama dengan teman temannya secara mereka berdua masih tahap teman baru akrab kemarin.


 Red berbalik kebelakang mendengar suara yang sudah ia kenal itu.


"Silence!" kata Red.


"Ada apa?" tanya Jimmy.


"Aku sedang membaca pikiran Marid" kata Red.


 Jimmy melihat Marid yang ada di belakangnya.


 Benar benar tidak lucu sama sekali didengar oleh Jimmy.


"Terkunci" kata Red.


 Berbalik lagi sudah itu saja.


 Jimmy melihat Marid.


"Pangeran akan terbiasa dengan ini" kata Jimmy.


"Ternyata kau lebih narsis dari yang kukira" kata Marid.


 Red berbalik melihat Marid.


 Marid terpaku dengan situasi ini.


"Jangan ganggu Pangeran!" kata Red.


 Berbalik lagi untuk mengambil pesanan makanan lagi.


 Marid merasa ada yang tidak beres dengan  gadis yang ia anggap sebagai dewi perang itu.


 Jimmy merasa satu tingkat lebih diperhatikan oleh gadis ini.

__ADS_1


 Marid mengambil pesanan setelah kedua sahabatnya sudah mendapatkan tempat duduk di kantin malam ini di pukul setengah tujuh malam.


 Marid datang di meja mereka lalu Red memberikan kursi kosong di sebelah kirinya persis kedua remaja ini menghadap Jimmy untuk menikmati makan malam.


 Marid santai makan malam sambil ambil foto menu makan malam itu dan dikirim ke pacarnya yang nunggu balasan pesan dari pacarnya yang sedang apa sekarang.


 Melihat pengunjung kantin rumah sakit sedang makan malam selain mereka bertiga.


 Red menunggu makanan yang baru ia pesan supaya lebih tidak panas duduk manis menatap makanannya sendiri dengan uap hangat yang terlihat menguap ke udara.


 Marid melihat gadis gadis yang juga makan disana makan bergaya model kecantikan dan yang satunya lagi seperti tuan putri yang lain juga hampir seperti itu.


 Red mulai makan.


  Gadis ini memesan satu menu seafood berukuran besar  yang sengaja Red pesan untuk dimakan bersama dengan Jimmy sekaligus Marid tentunya.


 Jimmy sedang mengupas kerang yang dimasak saus tiram dari cangkangnya dengan sendok lalu Red menerimanya dengan tangan yang sudah memakai sarung tangan plastik dan langsung memakannya begitu saja.


"Apa ada yang aneh?" tanya Red.


"Tidak. Kita sudah terbiasa makan seperti ini" kata Marid.


 Marid juga ikut makan malam dengan cara yang sama seperti Red lakukan di depan Jimmy yang baru tahu tentang hal ini mengenai Red.


"Ayo coba makan ini" kata Red.


 Satu kerang ia kupas dan memberikannya kepada Jimmy.


 Jimmy menerima satu suapan kerang dari Red.


 Memakan makanan dari Red barusan.


 Menikmati waktu makan malam bersama mereka berdua.


"Sudah lama aku tidak berteman dengan mu. Sekarang kau banyak berubah" kata Jimmy.


"Aku memang seperti ini" kata Red.


"Ya. Aku sedih tidak ada disampingmu ketika masa masa itu" kata Jimmy.


"Ayo kita makan. Kau hanya makan sedikit sekali sedari tadi" kata Marid.


 Jimmy mengambil ponsel dan menunjukan fotonya yang ada di salah satu promo iklan yang gadis ini iklankan.


"Bagaimana dengan ini?" tanya Jimmy menunjuk foto Red yang terlihat langsing dengan gaun merah.


 Red langsung sadar maksud dari pertanyaan Jimmy.


"Oh itu. Aku hanya makan sayur rebus saja" kata Red. 


"Sungguh perutmu baik baik saja" kata Jimmy.


 Red memberi satu suap kerang lagi untuk Jimmy.


"Ayo makan biar tidak sakit" kata Red.


 Jimmy menerimanya.


 Marid merespon dengan tertawa kecil


"Lezat kan?" tanya Red.


 Jimmy mengangguk menjawab pertanyaan dari Red.


 Makan malam berlangsung selama dua puluh menit dan mereka setelah selesai makan duduk sebentar untuk menenangkan makanan yang baru saja mereka makan barusan.


 Kantin mulai berdatangan serombongan anak muda yang juga bisa dibilang seusia dengan mereka.


 Red yang duduk dalam satu meja dengan Jimmy dan Marid terkaget dengan mereka semua yang histeris setelah melihat ada Red datang di rumah sakit ini.


 Red bangun dan memeluk salah satu gadis yang dia bilang adalah fans beratnya senang sampai histeris nangis bisa melihat secara langsung. Begitu juga dengan yang lainnya sampai ada yang salah tingkah dibuatnya sesi foto dan tanda tangan hadir diantara Jimmy dan Marid yang juga harus mulai terbiasa dengan kondisi semacam ini jika terjadi di lain hari.


 Fans dari Red sudah pergi Red duduk lagi satu meja dengan kedua temannya. 


 Akan duduk langsung Red mengambil inisiatif duduk di sebelah kiri Jimmy dengan cepat.


 Mencurigakan.


 Tiga aktor pendatang baru ada disana mengambil satu meja yang kosong yang ada di kantin rumah sakit.


 Marid asik bermain game online tapi masih tetap menyimak apa yang terjadi di sekitarnya.


 Jimmy mengikuti arus ini sambil membaca apa yang harus dilakukan jika tahu sesuatu hal. Apakah itu menguntungkan atau merugikan.


 Red sedang menyembunyikan diri.


 Aktor aktor itu mulai membicarakan sesuatu hal yang menurut mereka cukup menarik.


 Sudah dimulai dua menit yang lalu. 


"Kenapa kita harus datang menemui bocah itu?" tanya salah satu aktor dengan warna rambut agak ke kuningan.


"Bos yang menyuruh kita datang padahal aku malas datang" kata aktor yang lain.


"Koneksinya cukup kuat meski tidak sekaya kita" kata Aktor berambut ikal.


"Kita akan satu projek baru dengan Ben lagi kan?" tanya aktor bergaya retro dan rambut coklat.


 Jimmy menangkap maksud jelas dari pembicaraan ketiga aktor baru itu.


 Red masih dengan sikap netralnya dengan alasan bahwa dalam pekerjaan ini mereka sedang berada di masa persaingan yang cukup ketat.


 Marid ingin menghajar mereka namun dicegah oleh Red dengan memegang tangan kanan Marid yang ada diatas meja.


 Jimmy sedang melihat daftar nama aktor pendatang baru yang akan satu projek yang sama dengan Ben dalam iklan produk dari salah satu bisnis Ayahnya yang akan bekerjasama dengan agensi milik Bob.

__ADS_1


"Apa aku perlu mengganti mereka dengan aktor aktor lain?" tanya Jimmy.


"Dia bisa menghadapi semua ini. Kalian tenang saja" kata Red.


__ADS_2