
Chapter 133: Siapa mereka?.
Gadis itu terbangun di tengah malam di ruang bercat serba putih.
Melihat ponselnya yang bersih tanpa pesan apapun dari siapapun ia tersenyum kepada dirinya sendiri.
Dia menegakkan setengah raganya duduk diatas ranjang tempat tidur.
Menutup mata berusaha untuk tidur lagi.
Gadis ini sulit untuk tidur lagi.
Bangun lagi.
Melihat ke arah sebelah kanan ranjang rumah sakit.
Api biru muncul dari buku yang sudah ada diluar tas hitam miliknya.
Buku itu terbakar.
Alat infus ia perhatikan tetap dengan keadaan aman. Setelah itu Sima segera pergi turun dari ranjang tempat ia tidur tadi mengambil buku yang sedang terbakar oleh api biru.
Sima datang akan menyentuh buku itu langsung api itu padam seketika tanpa gadis ini sentuh.
"Sungguh aku tidak berbuat apa apa" kata Sima.
Gadis ini jadi takut dan merasa dalam dunia fantasi.
Halaman itu sudah menghapus nama yang tertulis di sana disaat gadis ini membuat buku itu berhenti terbakar.
Sima mengambil buku yang masih menyala terang berwarna biru mengambilnya masih tetap sama tak ada apapun disana yang ada hanya halaman yang benar benar masih kosong tanpa tulisan apapun.
Buku itu redup lagi memadamkan cahayanya setelah Sima menutup buku itu.
Di dimensi misterius.
Jun menembus semua pembatas itu dengan kekuatan kristal yang ada di jemari tangannya menembus kaca jari jari kristal memecah retak seperti dinginnya es di atas danau di musim salju. Ran jatuh dari atas sana bersimbah darah yang Jun kira hanya sebuah gerimis tapi itu tidak, ini sangat serius.
Jun meraih lengan kanan Ran dan memapahnya berdiri di udara diatas hutan bakau itu.
Masih di atas langit semua pembatas buatan makhluk misterius itu pecah menjadi kristal kristal putih berterbangan terbawa angin.
Ran kembali menyembuhkan lukanya sendiri dengan energi menyala hijau di setiap luka yang ia dapat di bagian dada dan lehernya.
Langit mulai terbuka dengan awan putih yang datang malam yang disangka malam bukanlah malam semua terjadi adalah rencana makhluk misterius yang ada di depan mereka berdua sedang mulai terlihat memiliki mulut yang tidak utuh dalam kabut tebal berbentuk manusia dalam wujud yang tidak sempurna.
Jun masih dengan darah di lengan Ran yang begitu deras dan bahkan jika dilihat dari wajah hingga kaki remaja ini mendapatkan luka yang sangat parah.
Dia tertunduk dengan nafas yang belum pergi dan darah segar yang mengalir terus dari dalam mulut dengan mata terpejam sedikit senyum dengan kondisi yang sedang ia alami ini.
Suaranya sangat lirih seperti sulit untuk berbicara.
"Apa ini, aku masih hidup?" tanya Ran.
Jun merasa bersyukur bahwa rekannya masih bernafas.
"Kematian yang tertunda" kata Jun.
Ran masih dengan sulit bernafas.
"Aku berhutang padamu" kata Ran.
"Mungkin" kata Jun.
Jun membangun secepat satu detik dinding pelindung berbentuk kristal memutar berbentuk bola cukup dengan raga Ran yang sedang ia beri pelindung.
Ran berbaring disana dengan darah terlihat membekas di bawah ia berbaring yang juga dalam proses penyembuhan.
Awan putih itu datang mendekat ke arah makhluk misterius di depan Jun berjarak tiga puluh meter dari tempat ia berdiri di atas pepohonan hutan bakau menyatu dengan makhluk misterius itu.
Jun sudah dengan pedang miliknya berwarna putih menembus jantung makhluk itu segera sebelum mereka menyatu.
Makhluk itu dengan kabut gelap yang ia miliki menahan pedang dan tangan Jun agar tidak bisa mencabut pedang yang sudah melukai dada makhluk misterius ini.
Taring taring muncul diantara awan awan itu yang berjumlah lima gumpalan awan besar di sisi kanan dan kiri Makhluk misterius itu dengan berpusat kepada makhluk itu yang berada di tengah tengah awan awan dengan gigi bertaring.
"Grahhhhhhhhhhhhh!"
Mereka berteriak secara bergiliran.
Jun mulai tertarik kedalam sana terhisap oleh mereka.
Bertahan dari tindakan yang ia terima.
"Graaahhhhhhhhhhhh!"
Menggema dan membisingkan telinga Jun membuat kepalanya tiba tiba mengalami rasa sakit yang luar biasa.
Kristal kristal yang ia bangun mulai retak dan retak di berbagai sisi menahan Makhluk ini yang sedang menarik Jun tanpa putus asa mengajaknya bersatu.
Jun meningkatkan satu level lagi kristal pelindung miliknya.
"Grrraaahhhhhhhhh!'
__ADS_1
Suara bising ikut datang lagi.
Makhluk disekitar Makhluk misterius ini berteriak lagi dengan suara sangat keras sehingga kedua telinga Jun sampai mengeluarkan darah lagi.
Jun melihat kondisinya kali ini sangat berbahaya jika dia tidak cepat menarik pedang miliknya kembali.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaa!"
Jun berteriak keras dan sekuat mungkin menarik kembali pedang kristal putih sepanjang satu meter miliknya dari dada Makhluk misterius sebagai lawannya kini.
Pedangnya dicabut kembali.
Kristal kristal pelindung milik Jun retak sangat cepat berhamburan di udara berbarengan dengan tercabutnya pedang milik Jun. Dia mundur menjauh sejauh dua puluh meter dari jarak mereka semula.
Cairan berwarna abu abu membekas di pedang Jun yang berhasil melukai makhluk itu kini perlahan menguap ke udara menjadi uap panas.
Tangan kanan masih memegang pedang melihat ke arah makhluk itu.
Langit berubah sangat cepat berganti warna terang gelap putih kuning merah dan biru dan itu terjadi pada Jun.
Perut bagian kiri Jun tertembus tangan Kabut tebal milik makhluk misterius di belakang remaja ini.
Mencabut pedang dari pinggang bagian kiri Jun.
Langsung berpindah tempat lagi ke arah Jun berdiri di bagian depan Jun.
Tangannya siap menusuk lagi perutnya di sebelah kanan dengan tangan kirinya.
"Boooom!"
Jun mendorong kuat makhluk misterius itu yang akan menusuk perutnya lagi secara terang terangan di depannya sendiri.
Makhluk itu terhempas sejauh dua puluh meter.
Jun juga terdorong mundur sejauh lima meter dari tempat awal.
Memegang luka di perutnya dengan tangan kiri darah keluar terlihat dari seragam putih sekolah darah deras keluar terbang ikut terbawa angin kencang saat ini.
Dengan tangannya pula ia menyembuhkan lukanya sendiri lagi, kristal putih datang menyembuhkan luka masih dalam proses penyembuhan luka ini.
Jun segera berlari mendekat ke arah ia melihat makhluk misterius itu datang dengan cepat melebihi dirinya saat ini.
Terlihatlah sebuah arah gambar lingkaran memutar seperti arus air yang deras berputar masuk kedalam dasar pusat putaran air yang berwarna hitam pekat.
Hening.
Semua menjadi gelap.
Satu detik dua detik jarum jam terdengar muncul lagi.
Asap berkabut putih datang lagi bertiup ke arah Jun mengurung raga ini dalam sebuah ilusi mencoba menjebak remaja ini agar masuk kedalam perangkap makhluk misterius ini.
Makhluk misterius hilang meninggalkan kabut yang tertinggal terbang dan hilang segera.
Suara pusaran air mengalir terdengar lagi setelah ilusi tadi menghilang terbawa makhluk misterius tadi, kini datang lagi.
Awal yang baru untuk Jun lagi.
Jun menaikkan level energi pelindung yang sedang bekerja menjadi energi pelindung untuk Ran yang masih dengan berlumuran darah didalam ruangan yang dibuat oleh Jun.
Suara itu masih terdengar suara air berputar di satu arah membawa energi Jun merasa terombang ambing diatas laut padahal dia ada di atas pepohonan hutan bakau sangat jauh terlihat dari atas tempat ia dan Ran ada disana dari arah pantai atau laut.
Ran sedikit mulai membuka mata dalam pandangan kabur melihat ke arah Jun memaksakan lagi menggunakan energi biru matanya untuk memeriksa apa yang sedang terjadi di momen yang sudah dilewatkan di sekitar sepuluh menit ini.
Semua terlihat sebuah ilusi bagi Jun tapi tidak oleh Ran bahwa mereka sudah ada di laut dengan langit cerah biru tanpa awan. Ran dalam pandangan kabur mencoba memastikan bahwa yang terjadi ini bukanlah dari kesalahan dirinya yang berada dalam posisi sangat terluka.
"Pergi naik lebih tinggi" kata Ran.
Menggunakan pesan telepati sebisa mungkin agar orang yang ada di depannya terbang lebih tinggi dari dirinya yang mendapatkan pertolongan dari Jun.
Terdengar lagi suara air laut yang samar terdengar oleh Jun. Namun, tidak terlihat olehnya bahwa dia sedang berada di situasi yang buruk yang telah menimpa Ran yang sudah terluka parah.
Bau asam sangat menyengat dari air laut yang hitam pekat mulai mendidih lagi terlihat buih dari dalam tempat Ran mendapat perlindungan sedangkan tidak merasakan hal ini.
Di dalam ruangan buatan Jun, Ran sedang berusaha untuk berteriak kepada Jun agar pergi tapi nyatanya dia untuk bicara masih sulit ia lakukan.
Air laut yang hitam pekat dan berbau asam inilah yang telah membuat Ran jadi seperti ini dan hal ini akan menimpa Jun yang membuat Ran sangat frustasi dengan situasi ini.
Di saat bau asap ini baru mulai tercium.
Ran berada di sebuah ilusi bahwa dia juga selamat ada di atas pepohonan hutan bakau tanpa Jun sendirian disana mencium bau asam menyengat ia merasakan yang pertama kali dan menjadi ilusi tanpa apapun telah terjadi dan pada akhirnya ia seperti ini.
"Aku ingat apa yang dikatakan oleh Marid saat aku bertemu dengannya terakhir kali" kata Jun.
Setelah Ran berhasil membawa Marid pergi meninggalkan ilusi jurang dalam tak berujung beberapa jam lalu jika dihitung lagi setelah itu Ran datang di dimensi yang didatangi oleh Jun ini.
Ran akan mencoba saran yang dilarang oleh Marid sebelumnya.
"Hancur" kata Ran
Air mendidih yang tadi ia lihat makin menghilang dalam bayangan ilusi.
"Hancur!"
Dalam hitungan detik mantra ilusi itu hilang.
__ADS_1
Ran mulai bernafas lega.
Hanya satu detik ya satu detik saja nyatanya apa yang ia lihat jauh lebih mencemaskan dan berbahaya.
Jun melihat ke arah Ran dan kembali mencari makhluk misterius yang belum juga muncul lagi mata putih energi menyala terlihat terus mencarinya.
Air didalam raga Jun mendidih dengan gelembung terlihat dari Ran walaupun dalam mata belum melihat jelas karena rasa sakit itu tapi itu benar benar terlihat oleh Ran.
"Dia bisa hancur sehancur hancurnya!" kata Ran.
Belati milik Ran datang dan menghilang dari pandangan mata Ran.
Ran menembus kristal pelindung yang dibuat oleh Jun.
Dalam langkah yang sangat sulit ia bangkit berjalan diatas udara mendekat ke arah Jun.
"Arggggggggghhh!"
Teriak Jun keras.
Belati itu menusuk punggung kanan belakang Jun mantra itu keluar bersamaan dengan darah yang mengalir milik Jun.
Jun berbalik dan melihat Ran sudah menusuknya dari belakang dengan belati yang dicabut kembali segera dari punggung temannya ini.
"Apa kau juga ingin seperti ku?" tanya Ran.
Tertunduk ke bawah dengan penyembuhan luka yang masih berjalan sangat cepat sistem imun tubuhnya menyembuhkan diri sendiri.
Langit kembali menjadi gelap setelah ilusi barusan pergi.
Jun melihat mantra berbentuk asap tebal keluar dari raganya hilang mengudara.
"Terimakasih sudah menyelamatkanku" kata Jun.
"Hutangku telah lunas" kata Ran.
Tawa sinis Ran perlihatkan kepada Jun masih dengan mata tertutup sedikit terbuka menahan banyak rasa sakit.
Marid mendapatkan informasi langsung dari Ayahnya Ben bahwa para bodyguard Ben sudah mendapatkan tugas baru lagi sejak sepulang sekolah anaknya untuk mencari anaknya yang tidak kunjung pulang dan Ayahnya juga sudah melaporkan tentang kehilangan putranya kepada pihak kepolisian. Namun, pihak keluarga di mohon untuk bersabar karena laporan kehilangan putra mereka belum sampai dua puluh empat jam jadi sekali lagi pihak kepolisian memberi saran agar tetap tenang dan sabar dengan hal ini.
Bob juga Jax melaporkan ke kantor polisi yang kebetulan sama dengan Ayahnya Ben datangi untuk melaporkan anaknya yang belum juga pulang.
"Iya. Aku baik baik saja sedang dirumah teman sekolah ku" kata Marid.
"Siapa?" tanya Ayahnya Marid.
"Jimmy" jawab Marid.
"Jimmy?" tanya Ayahnya Marid.
"Teman beda kelasku" kata Marid.
Obrolan berakhir dan segera Marid mengirim satu gambar dirinya bersama dengan Jimmy sedang makan malam di ruang makan Jimmy.
Makan bubur dengan topping ikan panggang dan potongan daging sapi lembut kuah bening dan potongan buah buahan tersaji di piring bundar keramik hijau muda besar diatas meja makan.
"Kau punya baju seragam lain?" tanya Marid.
"Kau mau pinjam?" tanya Jimmy.
"Ya" kata Marid.
"Aku jamin aku kembalikan sepatunya juga" kata Marid.
"Kalau sepatu ada disana di ruang kanan sebelah kamar ini" kata Jimmy.
"Siapa mereka di samping Neo?" tanya Marid.
Hening Jimmy belum segera menjawab pertanyaan dari Marid.
Neo adalah sahabat dari Jimmy yang juga teman sekolah Marid yang meninggal jatuh dari gedung atas sebuah perusahaan yang diduga melakukan tindakan bunuh diri yang nyatanya tidak. Kisahnya menggemparkan seluruh sekolah bahkan hampir seluruh stasiun televisi memberitakan kematian remaja ini dulu.
Marid terdiam tidak membuat pertanyaan lagi kemudian memakan makan malam lagi miliknya.
"Sahabatku dan ketiganya telah pergi" kata Jimmy.
"Mereka semua telah meninggal" kata Jimmy.
Diantara foto foto disana juga ada foto foto lain yang ia pajang menempel di dinding diantara mereka di foto yang berbeda juga ada foto Wayne bersama dengan Jimmy dengan baju olahraga sekolah..
Dan fotonya bersama dua orang lainnya yang juga sahabat Jimmy yang sekarang jarang sekali bertemu lagi.
Wajahnya yang selalu tampak selalu paling bahagia hingga saat ini ia tunjukkan adalah sebuah cara agar dia bisa menghadapi semua ini menghadapi kenyataan bahwa mereka adalah korban dari mantra iblis yang dikenal dengan panggilan "Orang itu".
"Sorry" kata Marid.
"Ok. No problem" kata Jimmy.
Mungkin mereka bisa akan menjadi sahabat kelak di masa depan.
__ADS_1