Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 140: Where did you go wrong?.


__ADS_3

Chapter 140: Where did you go wrong?.


"Bagaimana kita keluar dari tempat ini?" tanya Jun.


"Aku tidak tahu" kata Ran.


"Hey. Kau bercanda" kata Jun.


"Tidak" kata Ran.


"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu" kata Jun.


"Aku juga" kata Ran.


 Ran dengan santainya menjawab pertanyaan dari Jun.


 Satu remaja dari kedua remaja ini mulai khawatir kemudian mengambil kue kering dari dalam tas.


 Membuka bungkus merah lalu bungkus kue itu terbuka.


 Jun mengambil satu kue kering coklat dari dalam bungkus makanan yang berisi kue kering.


"Kau bisa membawa bekal kemari?" tanya Ran.


"Pertanyaanmu terdengar bahwa aku tahu tempat ini" kata Jun.


"Ini!" kata Jun berbagi makanan.


 Ran agak ragu menerima pemberian dari Jun lagi.


"Makan saja" kata Jun.


"Tidak!" kata Ran agak ngegas.


 Jun tidak berhenti untuk bicara.


"Tidak mau. Tanpa syarat apapun, yakin nggak mau?" tanya Jun.


  Jun memberikan empat kue coklat kering untuk Ran.


"Kakak!" kata Jun memanggil.


"Kakak?!" kata Ran.


"Ok. Ok, kita seumuran. Lagian, aku serius ini ngajak ngomong" kata Jun.


"Pasti lagi bosen" kata Ran.


"Itu tahu" kata Jun.


 Semua yang dikatakan oleh Ran, dia masih belum percaya dalam obrolan akrab tapi juga sebagai rival abadi mereka berdua tidak lupa dengan hal itu.


 Mereka berdua ingin berpisah tapi tidak mungkin bagi Ran untuk meninggalkan Jun sendirian.


"Pergi saja" kata Jun.


"Kau bisa membaca isi pikiranku" kata Ran.


"Aku bilang aku hanya menebak saja" kata Jun.


"Kita seharusnya memang tak seakrab itu" kata Ran.


"Oh ya. Kau tidak meminta tanda tangan ku?" tanya Jun.


"Untuk apa?" tanya Ran.


"Aku kan actor" kata Jun.


"Aku tunggu kau mendapat banyak penghargaan" kata Ran.


"Bagaimana dengan kuliahmu?" tanya Jun.


 Ran melirik kepada Jun setelah mendengar pertanyaan ini berulang kali.


 Jun memperhatikan gestur tubuh yang ditunjukan oleh Ran saat ini.


 Ran sadar Jun masih belum yakin kalau yang dikatakan olehnya ternyata memang benar tidak bohong sama sekali bahwa dia juga tidak tahu cara agar bisa pulang ke dunia manusia.


 Di dimensi manusia Flow bersama dengan Uri sudah bersiap dengan setelan elegan lengan dan celana panjang serba putih dan rambut sebahu tergerai lurus serta tas hitam selempang lalu sepatu hitam sport tidak bertali.


"I am going home!" kata Flow.


 Ponselnya juga ia bawa yang baru ia beli tadi di toko ponsel dekat rumah tempat tinggalnya saat ini.


 Dia mengirim pesan kepada Kise atau Bob adalah nama yang sama.


"Besok makan apa?" 


 Satu pesan untuk Bob dibatalkan oleh Flow.


 Dia harus cepat cepat naik bus malam hujan turun lagi.


 Berada di bandara udara.


 Bob sudah pulang setelah perjalanan bisnis.


 Melihat foto di akun sosial media milik Flow.


 Stay cool.


 "Mengapa dia belum kembali" kata Bob.


 Asisten pribadi Bob dengan dua koper di kedua tangan ditarik.


"Mobil Bos sudah datang" kata Asisten pribadi Bob.


 Asisten pribadinya membukakan pintu mobil sebelah kiri baris kedua mobil. Kemudian, menyusul masuk kedalam mobil setelah Bob masuk kedalam mobil.


 


 Mobil menuju perusahaan agensi yang ia kelola selama ini.


"Kantor kita sedang tahap  renovasi . Jadi, … " kata Asistennya.


"Aku rindu kantorku" kata Bob.


 Mereka pergi ke kantor perusahaan.

__ADS_1


 Di dalam mobil dia memeriksa dan memeriksa lagi ponsel melihat akun sosial media milik Flow.


 Rooftop sebuah gedung.


 Pori pori kulit Red mengeluarkan darah deras perlahan dan akhirnya menghempaskan Jamie dengan darah Red berubah jarum tajam menyerang Jamie.


"Red" kata Jamie.


 Darah berubah menjadi senjata tajam dan berhasil mendapatkan target barunya gadis dengan kaos putih dan celana jeans pendek biru gelap sepatu sports putih bertali dan kaus kaki putihnya berubah seperti hujan darah telah mengguyur semua tubuhnya basah kuyup oleh darahnya sendiri.


 Melihat Red, dia tersenyum sinis dengan gadis yang menyerangnya barusan dengan tanpa sebuah emosi.


 Jamie berkedip kepada gadis itu gadis yang juga sudah berlumuran darah tanpa rasa sakit.


 Energi dari tangan Jamie segera pergi menyerang kembali Red masuk kedalam pembuluh darah gadis itu melalui pori pori kulit gadis itu dengan kekuatan miliknya.


 Mata hitam gadis yang bernama Red mulai terlihat energi merah muda masuk menguasai raga gadis itu.


 Mulai bekerja membakar semua hantu hantu jahat yang ada didalam raga gadis itu memerah visual raga gadis itu. Jamie menatap tajam mata gadis yang masih temannya itu melihat jauh kedalam energi miliknya yang sedang bekerja masuk menyusup ke segala arah pembuluh darah terjadi penolakan antara banyak energi di dalam sana dan Jamie melihat hal itu pada raga Red.


 Energi milik Jamie berjalan mulai melambat  kemudian berhenti karena bertabrakan dengan energi biru asli milik Red.


 Mata Jamie menahan agar energi miliknya tidak saling melawan energi dari energi milik Red.


 Lingkar mata yang semakin menua sekarang Jamie tunjukan dengan pertahanan ini semakin mengering otot otot di luar kedua matanya nampak menjadi merah muda menyala terdorong mulai keluar oleh energi milik Red menolak energi ini bekerja.


 Jamie mengaktifkan mata merah muda miliknya dengan satu kali kedipan mata mencari celah lain menyerang energi hantu hantu yang ada didalam raga Red yang mengganggu kinerja sistem tubuh gadis itu.


 Mencari jalan lain menekan energi terus membakar energi energi hantu dan itu tujuan utama Jamie melakukan ini.


 Mereka mulai terbakar lagi.


 Jamie melihatnya mendalam ke pembuluh darah gadis di depannya.


 Tangan kanan Red mengeluarkan lagi belati milik dirinya dengan cepat memotong bagian dari rambutnya yang ada di sisi kiri.


  Melempar rambutnya terbakar di udara asap itu dengan sangat cepat menyerang Jamie.


 Asap itu melewati Jamie dengan sangat mudah.


 Jamie terdiam sesaat.


 Semua energi yang ada di dalam raganya mulai melemah namun tidak dengan energi miliknya yang ada di dalam raga Red.


 Kendalinya mulai berkurang mengontrol energi miliknya yang bekerja membakar energi hantu hantu yang ada didalam raga Red.


 Jamie mulai cemas dan dia sulit menguasai dirinya yang kian melemah sedangkan visual yang Red terlihat makin memerah jelas energi itu bekerja di luar kendali dan batas yang seharusnya.


"Aku tidak akan membunuhnya kan" kata Jamie.


 Jamie mulai berkaca kaca dengan melihat kekuatannya yang membakar Red dari dalam raga Red yang akan menjadi luka dalam yang mengerikan.


 Jamie mulai jatuh tumbang melihat langit perlahan malam ini.


"Ini tidak bisa berakhir dengan mudah" kata Jamie.


"Bruggg!"


 Akhirnya ia jatuh diatas lantai atap gedung darah yang ada didalam dirinya pergi dengan mudah mengalir di sana bersama dengan energi yang ia miliki juga keluar terserap oleh Red.


 Kedua sudut mata gadis ini mengeluarkan air mata yang menyapu darah bagian wajah yang ada di sekitar pelipis mata.


 Bagaimana kondisi yang dialami oleh Red untuk saat ini. Kondisinya saat ini sesuai dengan apa yang diprediksi oleh Jamie dengan luka bakar dalam mulai merusak membakar energi energi hantu yang ada didalam Red tanpa terkendali.


 Dia nampak tenang tanpa rasa sakit lagi dengan serangan orang orang seperti sebelum sebelumnya.


 Dia makin memerah visual yang ia alami, selanjutnya energi milik Jamie kini keluar bersama dengan darah melalui pori pori gadis ini.


 Bunyi air mendidih terdengar sangat keras dari dalam raga Red.


 Jamie sedang mendengarnya.


 Kekuatan energi negatif milik Red makin bertambah seiring bertambahnya hantu hantu yang masuk kedalam dirinya secara paksa maupun sukarela.


 Terdengar bunyi sesuatu retakan yang berasal dari dalam tubuh Red.


 Dia dengan gestur tubuh tegap tangan lurus ke bawah datar melihat sekitar tidak peduli dengan keadaan sekitar bahkan dirinya sekalipun.


 


"Darrrrr!"


 Satu tembakan energi pemberhenti kinerja energi apapun di tubuh Red menimpa di dada di sebelah kanan jantung.


 Tembakan itu tepat mengenai gadis itu dia tumbang jatuh dalam udara dingin penuh angin datang yang saling berlawanan. Red mengambil arah angin berlawanan darah mengalir dari dalam luka tembak di bagian dada tidak mengenai jantung karena itu akan membahayakan nyawa gadis ini.


 Darah  keluar pergi meninggalkan Red yang dengan mata terbuka berkaca kaca melihat langit malam yang cerah dengan segala bagian langit terang.


 Dia sulit untuk bernafas.


 Sniper itu datang menemui keduanya yang sudah berlumuran darah.


 Telapak tangannya mengeluarkan segenggam cahaya putih diberikan segera pergi menuju Jamie.


 Jamie mulai bisa mengendalikan dirinya energi miliknya kembali menjadi milik gadis ini. Energi yang ia dapat dari Sniper itu mulai bekerja menyembuhkan luka yang didapat dari pertarungan ini.


 Sniper itu sudah ada di sisi kiri gadis yang mendapatkan peluru energi pemberhenti energi miliknya tadi.


 Kedua lutut bertumpu di atas lantai atap gedung ini dengan alat tembak yang ada di belakang pundaknya.


 Energi putih dari Sniper pergi menyebar menyembuhkan raga Red.


 Red dengan rasa sulit bernafas dan mata berkaca kaca melihat Sniper itu sedang mengeluarkan energi putih dari dalam tangannya  kepada raga Red terbang datang menenangkan energi hantu hantu yang ada di dalam pembuluh darah gadis ini. 


 Energi energi hantu yang ada didalam raga Red sudah terlihat jinak dengan ditandai dengan visual raga Red yang sudah kembali normal.


 Energi milik Jamie yang ada di dalam raga Red  sudah mulai kembali kepada pemiliknya sendiri.


 Sniper itu kembali berjalan kepada Jamie dan dia membantu Jamie untuk bisa duduk dengan benar.


"Terima kasih" kata Jamie.


 Dia masih dengan masker hitamnya menatap mata Jamie lalu mengangguk menjawab ucapan terima kasih dari Jamie.


 Setelah memastikan semua energi milik Jamie telah kembali dia kembali lagi kepada Red.


 Melihat bekas peluru yang mengenai raga Red sudah tidak berbekas semua sudah mulai normal kembali.

__ADS_1


 Red masih dengan bekas rasa sakit yang diakibatkan dari pertarungan barusan melihat Sniper itu akan pergi dari sisinya lalu ia segera meraih tangan Sniper bersetelan serba hitam itu mencegahnya pergi lebih awal.


  


 Red masih berbaring dengan darah yang ia miliki dalam proses penyembuhan.


"Kau siapa?" tanya Red.


 Dia tertahan oleh Red.


"Kenapa kau selalu menolongku?" tanya Red.


 Sniper itu tidak menjawab pertanyaan ini kemudian melepas tangan kiri Red yang berlumuran darah memegang tangan kanannya.


 Dia pergi benar benar pergi dengan teleportasi pergi dari hadapan Red dan Jamie.


 Red sedang berusaha untuk bangun dari lantai atap gedung.


 Jamie mendekat menghampiri Red yang mulai tersadar lagi.


 Mereka dengan baju penuh darah yang menempel di baju mereka.


"Sorry. Baju kesukaanmu jadi kotor" kata Red.


"Salahku yang terlalu terburu buru dan ceroboh" kata Jamie.


"Kenapa semua menjadi salahmu?" tanya Red.


 Red melihat Jamie.


"Terima kasih telah menjagaku" kata Red.


"Aku akan jauh lebih berlatih lagi" kata Jamie.


 Ponsel Red berdering dari saku jaket baseball putih yang ia pakai.


 Red mengangkatnya segera.


"Benarkah. Aku akan segera memeriksanya" kata Red.


"Kau mendapat misi baru lagi?" tanya Jamie.


"Ya" kata Red.


"Baiklah kita berpisah lagi. Aku juga harus menyelesaikan misi lagi" kata Jamie.


 


 Mereka berpisah di tempat itu.


 Jamie pergi berpindah tempat dengan teleportasi.


"Padahal dia belum juga pulih sepenuhnya" kata Jamie.


 Tidak jauh berbeda dia juga masih dalam keadaan hampir tidak jauh dengan apa yang dialami oleh Red yang pergi berbeda arah dari arahnya pergi sekarang.


 Sniper itu dari jauh memperhatikan keduanya yang mulai pergi dan menjauh dari tempat itu.


 Dia juga akan segera pergi setelah memastikan keduanya bisa menggunakan energi mereka lagi meski ia tahu mereka masih butuh beberapa waktu lagi untuk sembuh sepenuhnya namun mereka akan sembuh dalam beberapa detik lagi atau menit lagi tidak sampai tiga menit cara kerja energi yang ia berikan kepada mereka.


 Sampai dia pergi dari sana dengan santai ia terbang dan menyuntikkan cairan energi ke tangannya sendiri.


 Selesai mengobati diri.


 Dia memasukkan alat suntik itu ke dalam tas yang ia pakai melingkar erat di bagian perutnya.


"Bugggggg!"


 Satu tendangan mengenai pinggang sebelah kiri Sniper ini terpental jauh dia ke bawah jatuh mengenai bangunan bangunan atap gedung debu debu datang tak terkendali dari bangunan bangunan yang rusak karena ditabrak oleh Sniper ini.


 Dia dengan tumpukan dinding dinding yang hancur tak beraturan menindih raganya dia segera terbangun kemudian.


 Bebatuan ia singkirkan.


"Buggggg!"


 Dia mendapat satu pukulan lagi.


 Lagi.


"Buggghgh!" 


 Lagi dan lagi berulang kali.


 Separuh topeng yang ia pakai hilang akibat pukulan berulang barusan.


 Dia bangun.


 Di hajar lagi perutnya.


 Dia bangun.


 Di hajar lagi wajahnya.


 Senyum sinis dari separuh bibir terlihat dari topeng yang sudah hilang tak beraturan dari wajahnya.


"Bugggghh!"


 Kaki kanannya berhasil menendang dada makhluk misterius itu cairan pekat berwarna abu abu keluar dari dada makhluk itu. Dia  melihat asap panas ada diantara cairan berwarna abu abu yang akan mengarah ke arah padanya. Dia menghindar.


"Booommmm!"


 Cairan abu abu itu meledakkan apapun yang terkena cairan itu.


 Dia menghapus darah yang menutupi indera penglihatan akibat darah yang mengalir akibat bekas pukulan barusan.


 Makhluk itu menghilang.


 Hening.


 Suasana hening dengan kepulan asap ledakan barusan yang masih panas panasnya api ada disana.


 Busur panah muncul di tangan kanan Sniper ini lalu kemudian menyusul empat anak panah siap terlepas pergi ke arah langit.


 Suara anak panah melesat.


 Menembus langit awan awan malam.

__ADS_1


 Gerimis datang hujan menjadi sangat deras memadamkan api di sekitar Sniper itu.


__ADS_2