
Chapter 28: Ada apa dengan sahabat ku?.
Bob sudah datang lebih awal ditempat ia dan Flow akan bertemu.
Bob setelah meeting dengan salah satu klien di salah satu meja restoran saat tempat itu dalam keadaan tidak seramai ini.
Bob menunggu Flow yang masih dalam perjalanan menuju tempat ini.
"Wanita sepertinya pasti tak mungkin laku" kata seorang yang tidak jauh dari Bob duduk saat ini.
Bob mendengar pembicaraan mereka semua sejak awal mereka datang hingga sekarang. Dia tidak tahu kalau orang yang mereka maksud adalah Flow yang ia kenal.
Bob masih menggunakan masker setelah meeting selesai sepuluh menit yang lalu.
Flow datang disana.
Bob membuka maskernya agar Flow bisa mudah mengenalinya.
"Sorry membuat mu menunggu" kata Flow.
"Seharusnya aku jemput kamu, tapi tadi aku harus menyelesaikan pekerjaan ku dulu. Tidak apa kan?" tanya Bob.
"Nggak apa apa. Oh ya, katanya kamu mau minta bantuan ku?" tanya Flow pada Bob.
"Duduk dulu. Kita makan malam, terserah kamu mau makan apa?" tanya Bob dan mencoba membuat Flow lebih rileks.
Flow duduk didepan kursi Bob dan melihat hal diluar dugaannya.
"Mereka datang kemari?" tanya Flow dalam benaknya.
Flow melihat kearah teman temannya yang sedang merayakan keberhasilan proyek perusahaan mereka.
Dan memperhatikan Flow yang sedang melihat orang orang yang sejak tadi sedang membicarakan seseorang yang bernama Flow.
"Apa Flow yang mereka maksud adalah wanita yang kukenal?" Dan agak penasaran dengan hal ini.
Flow menatap lama teman temannya saat Bob sedang memilih makanan yang akan dipesan olehnya.
"Kau sedang melihat apa, mereka teman temanmu kan?" tanya Bob.
"Tadi kamu bicara apa?" tanya Flow pura-pura tidak dengar apa yang dikatakan oleh Bob.
"Aku mau pesan ini dan ini. Kamu?" tanya Bob.
"Aku pesan ini saja" kata Flow.
Flow memesan makan malam yang ringan dan tentu dengan harga yang masih wajar dengan kantungnya.
"Aku juga pesan yang sama dengan wanita didepan saya" Bob berbicara kepada pramusaji di depannya itu.
Teman teman kantor Flow pura-pura tak melihat Flow padahal memang iya melihat Flow terkaget bahwa menegaskan siapa yang menjadi temannya yang sedang makan malam bersamanya.
Leo bertanya kepada Dan, "Dia kan teman kamu waktu itu. Kok dia bisa kenal aktor terkenal itu?".
Dan berbicara dengan tegas dan suara agak keras.
"Dia satu kampus dan fakultas yang sama dengan aktor itu" kata Dan.
"Darimana kau tahu itu?" tanya Rose pacar Leo.
"Kalian tidak percaya. Aku akan menelepon aktor itu" kata Dan.
Dan mengambil ponsel dari jaketnya lalu menekan nomor ponsel Bob.
"Iya. Dan" kata Bob.
"Lihat ke arah jarum jam tiga" kata Dan.
"Ada apa?" tanya Bob.
"Lihat saja!" kata Dan kepada Bob.
Bob mengikuti arahan dari Dan untuk menghadap kearah jarum jam tiga tepat ia berdiri saat ini.
Bob berdiri dan melambaikan tangan ke arah Dan.
"Hai, kami disini!" kata Bob melambaikan tangannya kepada Dan.
Ponselnya ditutup.
"Lihat kan. Aku tidak bohong" kata Dan dengan suara tegasnya yang juga didengar oleh teman teman kantor Flow yang belum selesai dengan pesta mereka.
Flow melihat kearah Dan dengan senyum pada Dan.
"Kau bahkan memiliki nomornya juga?" tanya pacar Leo.
"Dia juga manusia, sama seperti kita" kata Dan.
"Dia juga baik. Semua gosip itu cuma hiburan" kata Dan.
Nyali teman teman Flow menciut melihat Flow memiliki teman.
"Ternyata dia Flow yang Leo maksud itu. Dia sangat cantik sekali" kata Rose pacar Leo memuji.
"Aku dengar dia juga membantu Dan membawa Leo kerumah sakit. Baik banget, padahal baru kenal Leo dari Dan" kata Rose memuji lagi tentang Flow.
Flow dengan Bob sedang membahas pekerjaan sambil makan malam.
Makanan yang Flow terima dari Dan dan Bob tadi siang sudah dikirimkan lewat jasa pengiriman barang pesan antar yang ia pesan lewat sebuah aplikasi lalu ia kirimkan semua makanan itu ke rumah sakit dengan nama pasien dari Ibunya Sammy.
Red dengan Sew.
"Kak Sew" Red memanggil.
"Hmm" jawab Sew.
"Peluk aku!" kata Red.
"Peluk. Ok, sini aku peluk" kata Kak Sew.
Masih didalam mobil ada Ran juga disana sedang menikmati salad sayur saus kacang.
"Seharusnya aku yang dipeluk" kata Ran menuntut.
"Aku tidak mau. Ran terlalu wangi" kata Red.
"Aku tahu, aku memang tampan" kata Ran.
"Sekali lagi, kau bilang seperti itu. Kau tidak digaji bulan ini" kata Sew mengancam.
"Kenapa Kakak jadi galak. Benar kok, aku tampan" kata Ran menguji kesabaran kedua wanita itu.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya Ran.
"Kita akan begadang malam ini. Siap?" tanya Sew.
"Siap!" kata Ran.
Tak ada waktu lagi untuk besok target malam ini harus diusahakan tercapai. Itulah keinginan ketiganya.
"Kau juga harus makan nasi. Agar perut mu tidak sakit lagi" kata Red pada Ran.
"Akhirnya, dia perhatian lagi padaku" kata Ran.
"Kau bahkan sampai tahu ini. Hebat!" kata Kak Sew merasa takjub.
"Sudah pelukannya. Aku lapar, mau makan" kata Red mengambil salad pemberian dari Ran.
"Pacar mu tidak marah kan. Jika aku mengambil makanan ini?" tanya Red pada Ran.
"Marah. Pacarku kan kamu" jawab Ran.
"Dasar tukang rayu" kata Red.
"Memang aku pacar kamu kok" kata Ran.
"Tiba-tiba aku pusing dengan obrolan kalian" kata Sew sambil memegang kepalanya.
"Ran?" Red memanggil Ran.
"Iya" jawab Ran.
"Aku bukan orang spesial. Jadi, jangan bilang aku pacar kamu" kata Red.
"Kenapa harus spesial baru jadi pacar aku?" tanya Ran.
"Sudahlah, nggak mau ngomong lagi. Dia terlalu pintar buat aku" kata Red.
"Harus jadi pintar, kamu kan suka laki laki pintar" kata Ran.
"Ya Tuhan. Kapan ini berakhir?" tanya Kak Sew.
Terkadang ingin menceritakan tentang kisah dirinya namun, dia memilih untuk bungkam. Terasa menyakitkan karena terbiasa semua ia tanggung sendiri.
Ia berusaha untuk lari terdengar pengecut bukan kenyataannya semua tempat yang ia datangi tak jauh berbeda pasti sama karena memang itu bagian dari hidup yang harus ia hadapi.
Malam ini juga sama dia masih bisa terprogram untuk bisa menahan kantuk demi bisa bertahan hidup.
Terkadang memang ia merasa hidup tak adil padanya. Apa hanya dia saja yang menghadapi itu semua, pertanyaan ini akan membuat orang orang berkata kau terlalu membesar-besarkan masalah. Apa yang kau jalani tak seberapa dengan apa yang aku alami.
Tekanan demi tekanan hidup terus datang berusaha memporak-porandakan segala usaha yang sedang ia wujudkan. Sampai ia tak tahu bingung dengan dirinya sendiri apa yang harus ia lakukan.
Marah kepada siapa, takdir dan Tuhan itu membuatnya merasa sangat egois.
Tertidur.
Kemudian, terbangun dengan cepat didalam mobil.
Mode siapnya aktif kembali.
"Kau dengar itu?" tanya Red.
"Iya. Aku mendengarnya" kata Ran.
"Suara itu hilang kembali" kata Sew.
"Cepat sekali perginya mereka" kata Ran.
"Bagaimana kalau kita memancing mereka agar mau datang kemari?" tanya Red.
"Jangan berpikir macam macam" kata Ran.
"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Red.
"Sudah kalian jangan bertengkar terus" kata Sew mulai marah.
Sew memang sedang melakukan meditasi agar jika hantu itu datang mereka tidak berani mengganggu mereka bertiga yang ada didalam mobil.
"Dia sudah datang" kata Ran.
Wanita itu menatap kearah dalam mobil perlahan berjalan terus mengambang tak menginjak tanah.
Wajah yang terlihat lembut dengan tatapan itu.
Namun, ada jiwa yang marah yang ia pertahankan. Entahlah, itu amat jelas seperti sebuah rasa dendam kepada seseorang.
Dia tersenyum, lalu terdiam kembali.
Menunggu agar hantu itu terbiasa. Terbiasa dengan kedatangan mereka.
Jendela kaca mobil di kursi depan ia buka.
"Apa kau mau berbagi kisah mu pada kami?" tanya Ran pada hantu itu.
Hantu itu tetap diam.
"Ada apa dengan hari itu?" tanya Ran kembali.
Hantu itu menyerang Ran dengan mencoba menusuk lehernya dengan kukunya yang sangat tajam.
Ran mendorong hantu itu.
Hantu itu terpental lima meter dari tempat semula.
Ran turun dari mobil.
Hantu itu kembali siap menyerang Ran.
Pukul dua pagi di dekat danau.
"Apa maksud dari semua penyeranganmu kepada orang orang yang masih hidup itu?" tanya Ran.
"Jangan ganggu aku!" kata hantu itu membentak Ran.
"Katakan. Apa kau dikirim oleh seseorang?" tanya Ran.
"Aku tidak memiliki tuan siapapun" Jawab si hantu.
Hantu berpindah tempat masuk kedalam mobil duduk di kursi depan sebelah kiri mobil.
"Aku ingin menggunakan raga gadis ini. Tapi, hanya hantu lain yang bisa masuk ke raganya" kata hantu itu menatap wajah Red.
Red akan menyentuh wajah hantu itu.
__ADS_1
Hantu itu langsung berpindah tempat lagi ke luar mobil.
"Aku tahu gadis itu bisa menghancurkan ragaku hanya satu sentuhan saja" kata si hantu.
"Jadi, kau takut?" tanya Ran.
"Aku takut, tapi sekarang tidak. Karena, aku yakin aku tidak bersalah" kata Si Hantu.
"Apa yang kau maksud dari perkataanmu itu?" tanya Ran.
"Aku tidak akan memberitahukan kepada kalian" kata hantu mulai marah.
Wajah hantu dan seluruh kulit yang nampak terlihat dari luar berubah menjadi melepuh seperti keluar gelembung gelembung mengelupaskan kulit yang mengering seperti luka baru sembuh namun timbul luka baru yang jauh parah memerah dan juga berbau sangat busuk.
"Jangan tanyakan lagi ini, aku takkan berhenti" kata si Hintu.
Tangannya yang penuh luka darah bernanah menggambar sesuatu yang tak berbentuk di kaca jendela mobil dengan jemari tangannya.
Hantu itu tersenyum kepada Red. Lalu, pergi menghilang.
Nanah dan darah milik hantu itu tertinggal di kaca jendela mobil Ran dibagian depan bagian kiri bukan untuk pengemudi.
Red mengambil tisu keluar dari dalam mobil mengusap noda itu bersama Ran.
"Apakah noda ini akan hilang?" tanya Red.
"Dua hari akan hilang setelah kita menghapus saat ini" kata Ran.
"Jadi, kita hanya bisa membantu menghilangkan tapi tidak sepenuhnya membantu?" tanya Red.
"Iya. Anak baru. Jadi, masuklah ke dalam mobil. Kita harus pulang" kata Ran.
Red masuk kedalam mobil sedangkan Sew masih bermeditasi di dalam sana sebagai usaha untuk perlindungan.
Di sebuah mini market di pinggiran kota.
Jalan masih lengang lebih bisa dibilang sepi di jam jam begini.
Jam dua pagi lebih lima belas menit.
Mobil diparkir didepan mini market. Cukup aman karena banyak beberapa orang berjaga di pos jaga didepan pintu masuk gang pemukiman warga.
Sew ada didalam mobil, dia langsung tidur setelah selesai dengan pekerjaan tadi.
Red bersama dengan Ran ada disana untuk membeli sesuatu untuk dimakan.
Ran mendorong pintu mini market dan mempersilahkan Red masuk lebih dulu.
Masuklah Red lebih dulu kedalam mini market. Kemudian, Ran.
Tak ada yang aneh dalam beberapa detik ada disana. Ran menanyakan makanan apa yang akan mereka beli.
Ran sesekali berjalan kearah lain untuk memilih apa apa yang ia butuhkan.
"Kamu saja yang pilih, aku yang bawa barang belanjaan" kata Ran.
Daripada berantem gara-gara sikap Ran yang selalu usil dimanapun tempat. Red lebih memilih untuk membawa satu pack roti dan tiga botol susu rasa original sendiri.
Ran membawa camilan keripik kentang rasa rumput laut dan olahan daging sapi siap makan.
Mengantri di kasir.
"Eh. Eh, lihat gadis itu" kata ibu ibu salah satu pembeli di mini market.
"Iya. Kenapa?" tanya temannya yang lain, ibu ibu juga.
"Jam segini masih diluar, anak gadis lagi" kata ibu ibu yang pertama.
Datang bapak bapak masuk kedalam mini market.
Dia kemudian mencari sesuatu yang berkaitan dengan kopi.
Red dan Ran masih tak peduli.
Obrolan ibu ibu masih berlanjut.
Masih memilih barang barang kegiatan pokok mereka.
Datang lagi berdiri disekitar Red dan Ran.
Petugas kasir sedang melayani pembeli yang membeli banyak barang barang dari costumer tersebut, didepan Red.
"Bener. Kayaknya, mereka pacaran sampai lupa pulang" kata salah satu ibu memakai baju merah yang tadi juga ikut membicarakan Red dan Ran.
"Iya. Anak jaman sekarang memang begitu kalau pacaran suka kelewatan" kata temannya yang tadi memulai obrolan ini lebih awal.
Seseorang yang tak dikenal lagi ikut ikutan ngomongin mereka berdua.
Bapak-bapak yang tadi.
"Kalau saya punya anak gadis seperti itu sudah saya usir dari rumah" kata bapak-bapak itu.
Red dan Ran masih stay and cool dengan perlakuan mereka. Ya mereka, sudah jelas orang yang mereka maksud memang Red dan Ran karena hanya ada mereka berdua anak remaja yang masuk kedalam mini market tersebut.
"Kalau diladeni pasti nggak kelar kelar. Tapi, lama kelamaan bikin sakit hati" berbicara dengan dalam diam Red.
Ran menatap mata Red.
"Masa iya. Aku harus berantem sama orang tua. Masih pagi pula, Red pasti sedih" kata Ran dalam isi kepalanya yang sedang berpikir.
Mereka menunggu dibelakang Red dan Ran untuk membayar barang barang belanjaan mereka.
"Istriku. Ikut aku sebentar. Ada yang ingin aku beli lagi" kata Ran.
Red kaget. Wajah datar.
"Ok" kata Red kembali memilih barang barang yang akan mereka beli lagi.
Orang orang tadi ikut kaget mendengar ini.
Red masih memilih makanan yang tidak jauh dari kasir. Ran kembali berdiri dibelakang orang-orang tadi yang menggunjing mereka berdua.
Saat salah satu ibu itu akan membayar barang belanjaan mereka. Ran yang masih memakai masker mengambil dompetnya.
"Biar saya saja yang bayar. Semua teman ibu ini, sekaligus Bapak juga" kata Ran sambil memberikan senyum kepada mereka.
Mereka semua merasa tak enak hati, kemudian berterimakasih dan salah satu dari mereka meminta maaf kepada Red dan Ran.
"Maaf ya Nak. Kami salah paham" kata ibu ibu yang memulai topik tadi.
"Iya. Anggap saja ini memang salah paham" kata Ran.
__ADS_1