Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 111: Satu kesempatan terbaik.


__ADS_3

Chapter 111: Satu kesempatan terbaik.


 Ben sedang berusaha dengan keras untuk melupakan kejadian hari ini.


 Dia sudah didepan televisi yang berada didalam kamarnya. Tirai jendela kamar belum tertutup sepenuhnya oleh tirai lapis putih jadi masih bisa dilihat jelas keadaan diluar kamar Ben di waktu ini.


 Ben sedang mengeringkan rambut kepalanya setelah mandi dengan air hangat barusan. Dia sudah memakai kaus putih dan celana santai biru muncul menghadap ke arah jendela kamar.


 Tak ada yang aneh malam ini.


 Setelah rambut kepalanya sudah kering, dia mematikan lampu kamar.


 Dia berusaha untuk tidur berbaring ditempat tidur dengan lampu kuning di meja di dekat ranjang yang baru ia matikan.


 Satu dua tiga empat hingga dua  puluh menit Ben belum bisa tidur.


 


 Dia membuka selimut bergerak pergi dari tempat tidur.


 Duduk didepan televisi mengambil remote control televisi mengganti channel tv mengganti lagi.


 Menonton film horor.


 Tapi, dia juga sedang menghitung waktu yang terus berjalan.


 Akhirnya, dia mulai menikmati acara film horor yang ia tonton malam ini di kamarnya sendiri tapi bagaimana ekspresi remaja laki laki ini. Dia nampak datar biasa biasa saja melihat acara yang ada.di televisi yang ia tonton bukan berarti filmnya tidak bagus tapi dia seperti itulah keadaannya sekarang.


"Guk guk guk guk guk!"


 Dia merasakan suara suara malam kendaraan yang lewat didepan tempat gym ini dan jika ada binatang berkaki empat berkeliaran dan melolong berteriak baginya adalah hal yang wajar terjadi di malam malam seperti ini.


 Dia ingin tidur tapi belum bisa.


  Dari tadi dia juga kenapa terus melihat ke arah luar jendela padahal tidak ada apapun disana.


 Itu ia lakukan hampir beberapa kali terjadi tanpa ia sadari.


 Dia bangun dari kursi sofa pergi memeriksa jendela kamar yang sudah tertutup meski tirai jendela tidak tertutup sepenuhnya.


 Dia membuka tirai kedua berwarna putih di jendela, tidak membuka jendela kamar tapi dia tetap memeriksa dari dalam kamar memeriksa bagian bawah jendela di luar rumah ia tetap periksa.


 Ben masih melihat para bodyguard Ayahnya dengan center menyala melewati sisi kanan rumah.


"Bukankah ini seperti film horor, tapi tidak juga" kata Ben.


 Dia kembali di kursi tempat ia menonton televisi.


 Adegan demi adegan hantu muncul mengerikan teriakan demi teriakan pemeran dalam film yang ia tonton terasa menambah horor malam ini tapi wajah Ben tetap datar datar begitu tak berubah sejak masuk ke kamar tempat ini.


"Dug!" 


"Dug dug dug!"


 Suara itu muncul bergabung dengan suara film yang Ben tonton.


 Dia mulai mengubah wajah datarnya menjadi lebih fokus.


 Mendengar lagi menunggu jika suara itu muncul.


 Dia mengecilkan volume suara televisi.


"Dug dug dug dug dug dug dug dug!"


 Suara itu muncul lagi dan dia mendengar suara itu ada disana. Ben mendekat ke arah dimana suara itu terdengar. 


 Membuka semua tirai jendela dengan perlahan.


"Red!" kata Ben berteriak.


 Dia sedang bergelantungan disana dengan penuh luka. 


 Ben membuka jendela mengulurkan tangannya kepada Red yang sedang mati matian bertahan dengan tangan berpegangan pada sebuah bagian dari bangunan rumah Ben yang terbuat dari semen dan bebatuan kuat berbentuk panjang lurus menempel di bawah jendela kamar Ben.


"Pergi" kata Red.


 Suara itu tak bisa didengar oleh Ben karena memang dia sedang berbicara namun tidak bisa didengar oleh Ben.


"Ini tidak akan lama bertahanlah!" kata Ben.


 Dia menatap Ben yang sedang berusaha meraih tangannya.


"Pergi" kata Red.


  Remaja laki laki ini berhasil meraih tangan gadis teman satu kelasnya. Namun inilah yang terjadi selanjutnya.


  Mata biru milik Red kembali aktif menarik Ben dengan cepat setelah ia berhasil meraih tangannya. Bukan berarti dia juga akan menyelamatkan diri sendiri dan mengorbankan orang lain tapi dia disana bersebelahan dengan Ben yang juga sedang bertahan berpegangan di bagian bangunan dibawah jendela kamar miliknya agar tidak terjatuh.


 Aneh itu yang dirasakan oleh Ben pada saat bersama dengan teman perempuannya ini.


"Kau bukan Red" kata Ben.


 Mata biru itu lebih menyala lagi tangan yang masih dengan bekas gigitan hantu hantu itu masih mengeluarkan darah mencoba melepas tangan Ben yang sedang bertahan agar tidak jatuh kebawah dengan ketinggian dua puluh meter.


 Ben masih punya cara bertahan disana berpegang lagi di bagian tangan kanan dibawah jendela.


 Tangan kiri yang telah berhasil di lepas dari genggaman bagian bangunan rumah Ben kembali berusaha menolongnya bertahan dalam kematian.


 Tak ada rasa sedih dan bersalah di tatapan mata gadis yang sudah ia anggap saudaranya sendiri.


 Tatapan dingin ingin ia selalu tunjukan itulah yang tergambar oleh Red.


"Sadarlah!" kata Ben.


 Dia tidak menjawab pertanyaan dari Ben tatapan kosong dia kali ini dengan beragam perasaan kebencian itulah yang lebih tepat diberikan.


 Burung burung hitam berdatangan satu persatu singgah diatas rumah Ben tanpa bersuara mereka melihat mata Ben.


 Ben melihat ini.


"Aku tidak baik baik saja Tuhan tapi aku belum ingin mati" kata Ben.


 Dia mulai ketakutan dengan situasi ini melihat tatapan mata Red semakin bertambah penuh amarah dan itu sangat menakutkan bagi siapapun. 


"Ben" kata Red.


 Tanpa Ben ketahui sebenarnya dalam suara yang tidak ia dengar seseorang sedang berusaha agar tidak menyakiti siapapun dalam kondisinya kali ini. Mengendalikan diri agar tidak mengeluarkan belati miliknya dari tangan yang sedari tadi muncul dan hilang dari tangan Red.


"Kenapa seperti ini duniaku. Aku harap ini mimpi" kata Red.


 Belati itu benar benar muncul dan siap melukai kepala Ben.


 Dia menahan tangan kanannya agar tidak melakukan itu. 


 Disisi lain bangunan itu, Jun baru terbangun setelah darah keluar terlalu banyak dari mulutnya akibat usaha yang ia lakukan tadi untuk melindungi mereka berdua. Red dan dirinya.

__ADS_1


"Rkrkrkrkrkrkkrkrkkrk!"


"Rkrkrkkrkrkkrkrkrkrkrkrk!"


 Suara yang sama ia dengar disaat ia bertarung dengan Red tadi sore.


 Kekuatan mata energi putihnya merasakan getaran dari tangan Red yang sedang bertahan tidak menggunakan senjata tajam beracun yang tadi juga melukainya.


 Dia bangun dari roof top rumah seseorang yang ia kenal tak berpenghuni berdiri dia berbalik dari balkon rumah yang digunakan untuknya bersandar.


 Jun langsung pindah dengan cepat untuk menangkap Red yang hampir menancapkan belati dari tangannya kepada Ben.


 "Darrrrrrrrrrr!" 


 Suara tembakan itu muncul melewati Jun dari arah belakang berubah seperti alat penjaring mengamankan Red disana dengan kuat peluru itu terbagi menjadi empat bagian mengikat kuat di tembok rumah itu.


"Red biar aku yang tangani" kata Sniper itu.


 Dia berpakaian serba hitam lengkap dengan senjata miliknya.


 Red dibawa oleh Sniper tersebut, dia langsung tidak sadarkan diri dibawa di roof top tempat Jun tadi berhasil melakukan teleportasi.


 Ben, dia dibantu oleh Jun untuk diselamatkan menariknya naik masuk kedalam kamarnya dari bawah jendela kamarnya sendiri.


"Thank you, brother" kata Ben.


"Your welcome" kata Ben.


 Tak ada waktu untuk Jun untuk tetap diam saja melihat keadaan ini.


"Kau siap!" kata Jun.


 Dia membawa Ben berpindah menemui Red yang sudah bersama sniper itu dibaringkan diatas lantai roof top rumah disebelah rumah Ben.


 Dia sedang bereksperimen lagi dengan orang yang sudah ia bawa bersama ada diatas sana.


"Aku penasaran kenapa orang itu meminta mu sebagai mata mata" kata Jun.


 Ben mendapat pesan lagi sebuah notifikasi bahwa dia bertugas lagi mulai malam ini.


"Berhenti menatapku seperti itu!" kata Ben.


"Lakukan saja!" kata Sniper disebelah mereka yang sedang membantu Red untuk memulihkan tubuhnya.


 Ben berdiri disebelah Jun yang juga sedang duduk dengan kekuatan yang makin pulih membuka telapak tangannya.


 Dia membuka telapak tangan kanannya mengarah ke raga Red.


 Semua seperti terlihat seperti sebuah air mengalir jernih mengalir dari telapak tangan tapi bukan air yang ia keluarkan, itu tak terbentuk seperti udara biasa yang ada di sekeliling mereka.


 Dia melihat waktu di ponsel layar sentuh putih dari saku celananya.


"Dua puluh detik" kata Ben.


 Dia benar benar menghitung tindakan ini pada Red.


 Benar Sniper disebelah kanan Red juga menghitung dari jam tangan di tangan kanannya benar butuh dua puluh detik untuk memulihkan segala luka yang di miliki oleh Red.


 Dia membuka mata.


"Ini bukan mimpi kan?" tanya Red.


"Aku malaikat maut" kata Ben.


 Sniper itu langsung menghilang dari hadapan mereka.


"Tidak" kata Jun dan Red. 


  Jun melihat ke arah Ben.


"Apa aku berbuat salah lagi?" tanya Ben.


"Ok. Aku akan membantu mu juga" kata Ben.


"Kau sudah ... " kata Jun.


 Red segera menghilang juga dengan teleportasi setelah baru saja pulih dari luka luka itu.


 Ben melakukan penyembuhan kepada Jun melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan kepada Red tadi untuk memulihkan raga dan energi milik Red.


 Dia menghitung detik demi detik.


"Sembilan belas dua puluh" kata Ben.


"Sudah" kata Ben.


 Jun melihat ponselnya yang masih berlumuran darah dari dalam saku celananya.


 Membuka banyak pesan masuk yang ia terima dan kebanyakan itu dari Kakak dan Pamannya.


 


 Jun tanpa berbicara kepada Ben langsung berpindah di kamar Ben dari roof top rumah Ran.


 Lima menit berlalu setelah Red pergi.


 


"Baterai ku habis jadi baru menghubungi Paman. Sorry, Ok" kata Jun.


"Dimana Red?" tanya Bob.


 Ben menunjukkan pesan yang baru saja ia terima dari Red bahwa dia sudah berada didalam rumahnya sekarang.


"Dia sudah pulang kerumah. Aku akan berikan buktinya" kata Jun.


 Jun memfoto pesan dari Red di ponsel Ben kemudian mengirimkannya kepada Bob.


 Jun memberi keterangan dibawah foto yang merupakan pesan singkat itu dengan kalimat "Sudah percaya?".


"Aku segera menghubungi gadis itu" kata Bob.


 


 Red sudah mengganti pakaiannya dengan baju piyama setelah selesai mandi barusan.


 Mengeringkan kepalanya yang belum kering dengan handuk putih.


 Bob namanya ada di layar ponsel Red memanggilnya.


"Saya sudah dirumah dengan selamat" kata Red.


"Ok. Syukurlah" kata Bob.


 Obrolan mereka tidak lama hanya berkisar satu menit lebih empat puluh detik.

__ADS_1


 Ben melempar baju dan celana santai miliknya kepada Jun.


"Aku pinjam kamar mandi mu sekalian" kata Jun.


"Ya" kata Ben.


 Jun pergi ke kamar mandi sedangkan untuk Ben melanjutkan menonton film.


 Sepuluh menit berlalu dan Jun keluar dari dalam kamar mandi.


 Mengeringkan kepalanya dengan handuk putih milik Ben.


 Didalam keduanya duduk  bersebelahan menonton film horor.


 Suara ketukan pintu ada diluar kamar Ben.


 Dia pergi untuk membuka pintu.


 Tercengang tapi sudah terbiasa dengan kondisi ini.


"Ayahmu menyuruh ku mengizinkan aku kemari" kata Marid.


"Dia juga pasti" kata Ben.


"Good night" kata Good.


 Good dia membawa banyak makanan begitu juga Marid.


"Masuk" kata Ben.


 Kedua sahabatnya masuk ke kamar Ben dan dia ada disana. Jun.


"Terimakasih. Aku sedang lapar" kata Jun.


"Aku juga minta makanan mu" kata Marid.


"Bagi juga milik mu" kata Marid mengambil makanan Good.


"Kau bawa makanan kesukaan ku" kata Good.


 Semua akan memulai makan.


"Stop. Kita belum cuci tangan!" kata Good.


"Ok" kata Marid.


  Ben dan Marid serta Good pergi ke kamar mandi  untuk mencuci tangan.


  Marid melihat baju yang sedang di rendam milik Jun terlihat penuh darah. 


 Dia diam sesaat lalu melanjutkan mencuci kedua tangannya lalu pergi lebih dahulu keluar dari depan wastafel kamar mandi Ben.


 Bukan hanya Marid yang juga melihat baju itu tapi juga Good. Dalam hal ini juga Good tidak langsung menanyakan hal ini kepada Ben.


  Dia keluar dari kamar mandi Ben setelah Marid.


  Mereka semua berkumpul disana dengan lampu yang terang memakan makanan yang dibawa oleh kedua sahabat mereka.


 Sepuluh menit berlalu dan Jun merasakan bahwa kedua temannya sedang menyimpan sebuah pertanyaan.


"Kalian melihat bajuku?" tanya Jun.


"Dia tersesat dan terjatuh disaat pulang syuting tadi" kata Ben.


"Kenapa kau tidak menghubungi kami berdua?" tanya Marid.


"Aku tidak mau menambah merepotkan orang lain lagi" kata Jun.


 Dia makan salad sayur lagi.


"Aku tidak merasa direpotkan" kata Ben.


"Kita juga. Iya kan Good" kata Marid.


 Good mengangguk sedang menggigit  paha ayam goreng.


"Apa kita seperti sedang menginterogasi dia?" tanya Good.


"Tunggu sebentar!" kata Ben.


 Ben mengangkat panggilan telepon dari Bee.


"Iya. Aku akan mengembalikan laptop mu" kata Ben.


"Bagaimana dengan tugas kita?" tanya Bee.


 Suaranya cukup keras berteriak kepada Ben.


"Bisakah kau tidak harus berteriak" kata Ben.


 Dia berbicara lebih lembut pada Bee.


 Ben melirik kepada Good yang menjadi pacarnya.


 Good tetap tenang menghabiskan ayam goreng ditangan.


"Ben. Ben, dengar!" kata Bee berteriak lagi.


 Dia, Ben menjauhkan ponselnya dari telinga kanannya.


"Iya. Nona, aku mendengar mu" kata Ben.


 Ben lalu menutup panggilan dari Bee secara sepihak menghentikan obrolan mereka berdua.


 Remaja itu duduk kembali mengambil roti bakar yang dibawa oleh Marid.


 Good melihat ke arah Ben.


"Sorry untuk pacarku" kata Good.


"Sebelum kau mengenalnya. Aku telah terbiasa diperlakukan seperti ini" kata Ben.


"Makan ayam goreng ini" kata Good.


"Kau juga harus makan sayur" kata Jun.


 Marid juga memberikan makanan untuk Ben.


"Ini bola bola ikan makan yang banyak" kata Marid.


 Didalam rumah, Red melupakan sesuatu yang seharusnya ia lakukan.


 Dia langsung mengambil pakaian dari dalam lemari pergi kedalam kamar mandi.


 Satu menit yang dibutuhkan untuk berganti pakaian.

__ADS_1


 Keluar dari kamar mandi cepat mengambil sepatu sport putih tanpa tali dia pergi menggunakan teleportasi pergi ke rumah sakit menemui Sima.


__ADS_2