Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 18: Sinyal Pernyataan Cinta


__ADS_3

Chapter 18: Sinyal Pernyataan Cinta.


 Pasir putih serpihan batu karang kecil berwarna-warni cangkang cangkang kerang  menyebar di sepanjang pantai. Ombak-ombak datang lalu pergi kemudian kembali ke tepi. Berbaring disana seseorang masih dengan seragam sekolah menengah atas yang ia kenakan.


 Menatap langit.


 Memejamkan mata.


 Merasakan udara dingin.


 Mengedipkan mata.


 Menatap langit lagi lebih lama.


 Pukul setengah tujuh malam Jun sejenak ingin bernafas lagi.


"Sangat indah"


"Sangat cantik langit malam ini"


 Berbicara Jun. Kagum.


 Orang orang datang di pantai ini tak begitu ramai namun tidak sepi suara orang orang yang datang terdengar sayup sayup ombak menyamarkan.


"Kau datang lebih awal?" kata seorang wanita.


"Kau menyuruhku datang. Ada apa?" Jun duduk melihat wanita berambut lurus sebahu dengan celana jeans biru gelap panjang setumit dan kaos hitam oversize dan necklace gold melingkar di leher menyentuh kerah leher kaos.


 Dia ikut duduk disebelah kanan Jun. Sepatu hitam berhak tingginya tidak ia lepas.


"Kafe milikku butuh seorang penyanyi. Kau punya waktu luang untuk kesana?" berbicara pada Jun, Wanita itu kemudian menatapnya.


"Sekarang?" tanya Jun.


"Kapan lagi?" Wanita ini bertanya lalu berdiri dari sebelah Jun.


"Ok!" Jun terlihat sangat senang.


"Nanti bayarannya yang banyak?" pertanyaan Jun muncul saat mengikuti wanita yang ia anggap sebagai kakak senior saat bekerja bersama di tempat kerja Jun dulu.


"Kau kerja dulu" kata Wanita itu.


"Iya. Iya" jawab Jun mengikuti kemana wanita itu pergi. Pergi ke tempat usaha miliknya.


"Oh ya. Aku mau bertanya, kenapa kakak selalu terlihat awet muda?" tanya Jun.


"Aku sudah punya pacar. Jangan merayuku" wanita itu menjauhkan rayuan Jun agar tidak berlanjut.


"Aku hanya bercanda. Dimana kafe Kakak?" tanya Jun.


"Disana kau lihat papan besar yang menyala itu?" tanya wanita ini menunjuk.


"Disana. Oh ya, aku melihatnya" Jun berhasil menebak.


"Nanti kalau kau lapar. Pesan saja makanan disana, aku akan bilang karyawan ku bahwa kau temanku" kata wanita itu.


"Makanku banyak. Bagaimana?" tanya Jun.


 Jun menyanyikan sebuah lagu di kafe bertema musim panas suaranya memberi ruang ruang kosong disana. Kafe yang dibuat untuk para wisatawan untuk berlibur dibuka untuk umum. Memakai jaket hitam yang diberikan teman Jun tadi sebelum ia mulai menyanyi dan memetik gitar listrik yang ada di tangan.


 Lagu baru satu menit dinyanyikan oleh Jun semua pengunjung kafe menikmati lagu yang dibawakan oleh remaja ini. Mengikuti lirik lagu yang dinyanyikan oleh Jun dengan semangat senyum mereka menguatkan hati Jun saat ini.


"Kau suka lagu ini?" tanya Jun pada Bay.


"Aku suka" Bay menjawab.


"Kalau aku?" tanya Jun pada Bay.


"Hentikan itu. Kau membuat ku malu" kata Bay.


 Ingatan ini belum bisa Bling lupakan. Lagu ini dinyanyikan bersama saat ia masih di kelas sibuk latihan untuk pertunjukan perpisahan sekolah menengah pertama mereka.


"Kau menangis?" Hera menghapus air mata pipi Bling.


"Tidak" Jemari tangannya mencoba menutupi ekspresinya kali ini.


"Kau menangis karena apa atau dia?" tanya Hera mulai curiga.


"Ayo kita makan salad buah ini" Bling mengambil satu suap salad dalam mangkuk merah muda di tangan Hera.


"Kau makan yang banyak" Hera juga ikut makan.


 Mereka ada disana ditempat yang sama Jun sedang perform dengan menampilkan keahliannya bernyanyi dan bermain musik.


 Jun belum selesai bernyanyi dia menyanyikan beberapa lagu lagi disana. Pengunjung bertambah berdatangan ke usaha milik temannya tersebut.


"Dia belum mengangkat panggilan dari mu?" Ran menyilangkan tangan ke dadanya.


"Belum" Red menjawab dengan bersedih terlihat dari nada suaranya.


"Pakai nomor ku untuk menghubungi anak itu?" Ran menawarkan ponselnya pada Red.


"Ayo kita makan malam" Red memakan salad dengan bumbu kacang buatan sendiri.


 Ran memandang Red.


"Ayo makan kau juga butuh energi" kata Red lagi pada Ran.


 Jun sedang istirahat setelah pertunjukannya barusan. Dia baru membuka ponselnya kembali. Dia melihat banyak pesan dari Red dan dari jumlah berapa kali ia menghubunginya dia belum membalas satupun pesan dari Red.


"Apa aku terlihat lemah dimata Jun?" Red membuat pertanyaan ini pada Ran.


"Jika iya. Tindakan Jun kali ini aku menyetujuinya. Setidaknya, dia mencegahmu bertindak gegabah" Ran menjawab dengan sangat santai.

__ADS_1


"Kau benar-benar tak sibuk. Kau bahkan sudah berjam jam membantuku bekerja?" Red bertanya ini lagi.


"Aku sedang ingin disini. Content baru ku sudah ku rilis jadi kau tak perlu cemas" Ran kemudian memakan pie buah di depannya di meja yang sama dengan Red.


"Terimakasih kawan" kata Red.


 Ran menjawab, "Sama sama kawan".


 Di pukul sembilan malam di mini market di dekat pantai. Jun ada di dalam sana untuk membeli sesuatu.


 Dia selesai dengan apa yang akan ia beli berjalan ke kasir untuk membayar makanan yang ia akan makan.


 Pintu depan mini market di dorong oleh Jun. Dia membeli beberapa kudapan dan cemilan serta satu susu kotak yang berisi seratus gram susu. Makan malam di depan minimarket di kursi hijau yang berjejer disana beserta meja plastik berbahan plastik berwarna putih ia memilih salah satu kursi dan duduk disana.


 Bling dan Hera tak mengikuti Jun saat ini pergi.


 Jalan menuju arah pantai saat Jun menuju tempat perhentian bus macet akibat sebuah bangunan tua yang roboh yang mengenai jalan hingga menyisakan seperempat jalan untuk kendaraan lewat itupun sepertinya sulit hanya bisa dilalui oleh kendaraan beroda dua.


 Ponselnya tidak menyala baterai habis. Power bank yang ia bawa ada di tas sekolah yang dibawa oleh Good.


"Berjalan kaki adalah pilihan terakhir ku" Jun berbicara setelah membaca berita sebelum sampai di tempat perhentian bus tentang berita kondisi kota terkini melalui ponsel.


 Api api menyala di atas kepala Jun kemudian padam. Dia masih sempat berimajinasi di situasi ini.


 Sekalian mencari kedai atau restoran yang masih buka di sekitar jalan yang akan Jun lewati untuk mengisi ulang baterai ponsel.


 Kakinya melangkah berjalan terus dijalan yang sepi. Lampu lampu di pinggir jalan masih menyala. Tak terdengar suara suara yang menimbulkan rasa takut. Dedaunan jatuh seperti biasa. Binatang binatang kecil malam memang terdengar di sepanjang jalan.


 Langkahnya berhenti.


 Jun merasa ada seseorang sedang mengikuti.


 Dia berbalik ke arah belakang.


"Tapi, tak ada siapapun disana" Jun mencari dengan sesuatu yang ia duga.


"Apa aku penakut. Jika iya hantu, aku akan lari" Jun melanjutkan perjalanan.


 Seseorang mengikutinya lagi  kali ini lampu lampu mulai padam. Suasana menjadi gelap.


"Bukan hanya di film film horor, sekarang aku sedang mengalaminya sendiri" kata Jun.


"Apa yang kupikirkan masih untung bukan begal yang datang" Jun masih berjuang.


 Hantu itu sedang iseng dengan Jun.


"Apa aku harus menahan manusia itu agar tidak bisa pulang?" Si Hantu mulai lebih tertarik pada Jun.


"Ku rasa tidak perlu. Nanti Ibunya mencarinya" Si Hantu membuat rencana.


"Tapi aku ingin terus mengikuti anak manusia itu" kata Si Hantu.


 Ran ingin mengantar Red pulang tapi dia mengatakan, "Sepertinya aku ingin pergi ke suatu tempat".


 Ran sudah pergi dengan kendaraan roda empatnya.


"Sweater yang berwarna orange lagi. Dia manis juga, dia memang menyukai warna itu"  Red tersenyum saat Ran sudah jauh dari pandangan.


 Red terpaksa harus berbohong.


"Dan sekarang, ponselnya tak bisa dihubungi" Red kembali menghubungi Jun.


"Ini bukan Jun yang kukenal. Semoga dia baik baik saja dimanapun dia berada" Red khawatir.


 Toko sudah ditutup pukul sepuluh malam. Di perhentian bus dengan orang orang disana menunggu bus seperti biasa.


 Red sudah mendapatkan bus sepuluh menit kemudian.


 Jun sudah mendapatkan tempat mengisi ulang baterai ponsel. Dia sekarang di sebuah kedai pinggir jalan.


 Jun memesan sup ikan hangat.


"Dia pasti mengkhawatirkan ku sejak tadi" Jun menyalakan ponsel yang setengah jam ia charger di kedai.


 Benar. Banyak pesan ia terima dari teman temannya terutama Red.


"Kau sudah pulang?" Jun mengirim pesan.


"Aku sedang naik bus pulang" Red membalas.


"Sendirian lagi?" tanya Jun.


Balas Red, "Ya. Kau baik baik saja kan?".


"Baik baik saja. Maaf baru mengabari sekarang?" Jun mengirim pesan lagi kepada Red.


"Syukurlah. Kau sudah makan?" tanya Red.


"Ini yang kedua kalinya" jawab Jun.


"Kau masih diluar?" tanya Red.


 Jun mengetik.


 Dan membalas pertanyaan dari Red, "Ya. Sebentar lagi aku pulang. Jangan khawatir".


"Aku sudah akan turun dari bus" balas Red.


"Oh ya. Jangan lupa belajar" Jun mengirim pesan kepada Red lagi.


 Red berjalan dengan sangat cepat saat akan keluar turun dari bus.


 Sammy pulang lebih awal dari Red lima belas menit yang lalu. Flow sudah ada di kamarnya. Tidur.

__ADS_1


"Kau sudah pulang?" Sapa Sammy membukakan pintu depan rumah dengan suara pelan.


"Ya. Kak Flow sudah tidur?" tanya Red.


"Iya" jawab Sammy.


 Red menaruh tasnya dan mengambil baju ganti berganti pakaian didalam kamar mandi sekaligus mandi air hangat.


 Berbisik.


"Ada apa, ada yang ingin kau tanyakan padaku?"  Red membuka obrolan dengan Sammy.


"Kemari!" Sammy juga berbisik memanggil Red.


 Red mendekat.


"Ada apa?" tanya Red.


 Sammy berbicara membisikkan ke telinga kanan Red.


"Kau sudah dapat kabar dari Jun?" tanya Sammy.


"Kabar apa?" tanya Red.


"Dia sudah diberhentikan dari pekerjaannya" kata Sammy.


 Red terkejut, lalu berkata "Benarkah. Dia tidak cerita apa-apa padaku"


"Dia tak mungkin cerita kau tahu dia orangnya  seperti itu" Sammy semangat bercerita.


 Good sedang ada di restoran milik ibunya. Hampir ketiduran di salah satu meja disana. Kedua orangtuanya masih liburan dan ia bertugas menjaga restoran pada saat beroperasi malam ini.


 Bunyi pesan masuk kedalam ponsel Good yang ada di saku celana kanan hitamnya.


"Sorry. Titip tasku" Pesan dari Jun.


"Ok" balas Good.


 Good mengirim pesan kepada Jun.


"Kau dimana. Jika butuh bantuan, aku datang sekarang?"


 Jun membalas, "Masih diatas bumi. Tenang saja, lanjutkan pekerjaanmu"


 Jun selesai mengisi ulang baterai ponsel kemudian mengucapkan terima kasih kepada pemilik kedai karena telah menolongnya.


 Jalanan sudah kembali lancar, Jun pergi dari kedai untuk mencari bus.


 Di dalam bus yang mulai sepi di hampir jam sebelas malam. Hantu bergaun putih panjang dan berambut panjang ikal duduk disebelah kanan Jun persis. Dia terus menatap wajah Jun dengan senyum ceria yang ia miliki. Sudah pasti hantu ini sangat cantik, dia juga memiliki tinggi seratus enam puluh lima sentimeter wajah imut nan menggemaskan sebagai hantu.


"Dia sangat tampan. Tidak salah jika aku mengikutinya" kata Si Hantu.


 Jun disana disampingnya yang sedang melanjutkan membaca buku yang ia baca tadi ebook yang membahas tentang pengantar kriminologi.


 Hantu itu terus menatap Jun dengan terus berusaha mencoba menyentuh wajah Jun. Saat hantu itu akan menyentuh wajah Jun secara sungguh-sungguh apa yang terjadi.


"Blakkk"


 Jun mengusir hantu itu dengan jaket yang tadi dipinjamkan oleh temannya saat bekerja di kafe melempar ke belakang kursi tempat hantu itu bersandar dengan sangat cepat. Tepat mengenai wajah hantu itu.


 Hantu itu merasakan kesakitan meski pada akhirnya jaket itu menembus tubuhnya yang ada di sebelah Jun saat ini.


"Aku takkan menyerah, ok!" kata Si Hantu.


 Hantu itu berusaha mengulangi tindakannya dan Jun mengambil jaketnya kembali.


"Buggggg!"


 Tangan Jun mengenai hidung Si Hantu dengan pukulan keras.


"Hidungku!" Teriak Si Hantu.


 Orang orang didalam bus merasa merinding ketika hantu ini berteriak begitu juga dengan Jun.


 Hantu itu jadi hantu penurut disana duduk masih disamping Jun.


 Hidungnya tidak mengeluarkan darah tapi hantu itu masih bisa merasakan rasa sakit.


 Perjalanan pulang kerumah sepuluh menit lagi. Jun bersandar di kursi penumpang bus sekarang melihat ke arah luar jendela lampu lampu gedung berwarna-warni menerangi kota di malam ini. Jun memfokuskan kembali membaca ebook di dalam ponsel.


 Jimmy ada di rumah dan dia dengan segala urusannya dengan Bee. Bee mengirimkan banyak hadiah yang memenuhi segala kamarnya yang ia terima melalui bodyguardnya yang menaruh semua hadiah itu di kamarnya tanpa sepengetahuan dan perintah Jimmy. Dari permen permen warna-warni, kue kue kering, dan hadiah lainnya bahkan buket buket bunga mawar dan lainnya sampai bunga lily ada di kamarnya.


"Aku kan pria. Dia mengirim bunga juga" kata  Jimmy.


 Bee sinyal perang cinta kepada Jimmy mulai dimulai hari ini. Jimmy tidak menginginkan Bee,tapi dia tetap menginginkan Red.


 Ben yang ada di rumah sakit menjaga Nenek Bee menemukan sebuah kertas berisi daftar bunga yang Bee beli dengan jumlah nominal yang tidak masuk akal untuk seorang pelajar untuk membayarnya. Sebelumnya, Bee menjenguk Neneknya bersama Ben.


"Untuk apa bunga sebanyak ini. Keluarganya tak ada yang menikah?" tanya Ben setelah membaca kertas putih panjang milik Bee.


"Apa dia sedang menyukai seseorang. Jangan jangan itu Jimmy. Tak boleh dibiarkan" Ben menggenggam erat kertas itu.


 Istirahat pertama dengan lunch box yang Red bawa . Wortel berwarna-warni ia makan perlahan satu demi satu mendengar segala kata kata Bee yang membahas tentang Jimmy. Red dengan sabar mendengar segala apa yang dibicarakan tentang Jimmy. Sedikit banyak bicara jika ia bertanya.


"Apa dia sedang tergila-gila dengan Jimmy. Ya ampun, semoga Jimmy bisa berubah. Jika iya, itu baik untuknya" Red mengambil wortel berwarna ungu dari lunch box.


 Ben juga tak bisa tak mengawasi gerak-gerik Bee setelah tadi malam menemukan sebuah sinyal yang diberikan oleh Bee melalui penemuan kertas lebih tepatnya struk belanja miliknya.


 Good datang dengan lunch box untuk Red.


"Sedang apa Bee disini?" Good memulai kisah mereka lagi.


"Aku tidak memiliki urusan denganmu" kata Bee.

__ADS_1


__ADS_2