Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 123: No Alone.


__ADS_3

Chapter 123: No Alone.


 Jemari tangan masih dengan es es yang menekan energi biru dari atas kulitnya yang juga terluka sama seperti Ben yang terbungkus energi air yang ia bagi juga untuk Marid yang mendapat dampak lebih parah dari kedua remaja laki laki ini. 


 Jimmy sedang mencoba lagi meraba pintu yang Marid maksud ada di depannya lagi. 


"Aku benar benar tak melihat pintu disini" kata Jimmy.


"Tunggu!" kata Jimmy.


 Mendengar dari suara samar samar di udara.


"Grugruggruhhh"


 Jimmy melihat ke arah Ben.


 Ben mulai mengubah tanah yang ia pijaki menjadi air jernih.


 Jimmy membuat energi pelindung lagi.


 Dalam satu detik.


 Lava panas datang mengarah dari balik pintu itu.


"Brubbrubrburbbrubbrub"


 Ben membawa Marid dengan menarik pundak kirinya naik ke atas dengan tanah yang telah diubah menjadi air jernih tinggi menghindar lava yang ada di bawah ketiga remaja ini.


 Jimmy bertahan terbang diatas mereka.


 Jimmy dengan energi pelindung memutar seluruh raganya berdiri diatas mereka.


  Pintu itu tidak hancur dan tetap disana.


 Awan biru menghitam hadir mulai di langit didepan Ran gemuruh suara terdengar.


 Membawa tanda, tanda kedatangan lava lava yang tadi melewati ketiga remaja itu. 


"Grughhgruhhgrugghuugruhhhh"


 Belum terlihat lava lava itu tapi suara suaranya makin terdengar semakin dekat.


"Suara apa itu?" tanya Ran.


 Ran melihat kondisi  langit yang semakin berubah menjadi bertambah gelap.


  Hening tanpa suara.


 Mata Ran melihat ke arah kanan kemudian melihat ke arah kiri.


 Belum ada sesuatu yang muncul.


 Dia belum bisa tenang dengan kondisi yang terasa damai ini.


 Makin gelap di setiap mata melihat makin dingin. Ran menyilangkan kedua tangan ke arah bawah dada.


  Ran menyalakan mata biru.


 Dia berlari sangat cepat melihat itu sambil mengaktifkan tiga kali lipat energi pelindung dari dalam diri. 


 Red ada disana berdiri sendirian menatap Ran dengan tatapan kosong dibelakang lava yang siap melahap raga. 


 Ran berdiri dibelakang Red tepat dengan energi pelindung yang menahan rasa panas. Kemudian, langsung membawa Red pergi dari bawah sana.


"Buuuugggggggggggg!" 


 Ran terpental jauh sejauh enam meter ke bawah jatuh di atas lava yang mengalir cepat itu. 


 Satu tendangan melayang mengarah tepat di dada remaja itu.


 Energi pelindung Ran mulai retak kemudian kembali memperbaiki energi miliknya sendiri seperti semula dia bangkit lagi dengan darah keluar terlihat di ujung bibir kanan mulutnya. 


 Ran berdiri dan mengusap darah dari mulut. Dia tersenyum kepada Red tapi gadis itu belum memberi respon positif kepada pemuda ini.


 Tangan Red mulai memperparah luka yang telah terinfeksi oleh racun Ran tadi merayap menggigit racun racun itu dengan lava api yang sudah menjalar lebih terlihat ingin menghabisi raga Red semakin perlahan sedangkan racun milik Ran menjadi racun di awal dan menjadi pemancing kekuatan energi negatif yang ada didalam raga Red agar mau muncul memperlihatkan diri lalu kemudian racun dari raga Ran tadi menjadi zat yang berperan melawan energi negatif yang saat ini ingin memakan raga Red tanpa di rasa dan diketahui oleh pemilik raganya sendiri.


 Energi berwarna hijau terus menekan lagi kekuatan energi jahat seperti lava yang terus memakan energi racun penawar dari Ran.


 Red masih di atas lava yang masih mengalir dan tetap tidak terlihat dalam kondisi kesakitan dari tangan sampai lengan kanannya itu padahal jelas jelas darah keluar beserta lava lava dari energi jahat yang terus bekerja merusak sistem kerja di dalam tubuh.


"Kenapa kamu suka pergi menghilang pergi menghilang?" tanya Ran.


 Red tidak menjawab pertanyaan dari Ran lagi ini membuatnya sulit mengajaknya untuk berkomunikasi dan membawanya keluar dari dimensi ini.


"Aku jauh jauh sampai datang kemari. Ayo pulang bersamaku" ajak Ran.


"Setidaknya katakan sesuatu padaku" kata Ran.


"Oh aku lupa dia sedang dalam pengaruh energi  jahat" kata Ran.


"Lihat aku!" kata Ran.


"Baiklah. Aku menyerah, sekarang apa yang kau inginkan aku akan lakukan" kata Ran.


 Ran menunggu jawaban keinginan dari Red.


 Tatapan dingin datang lagi di kedua bola mata gadis ini.


"Nyawamu" kata Red.


 Ran langsung mundur dua meter dari hadapan gadis ini.


 Menggerakkan telunjuk tangan kanan pada rambut kepala kemudian melihat menatap lagi mata gadis ini.

__ADS_1


"Sungguh tidak harus nyawa juga. Kamu bisa minta selain itu" kata Ran.


"Aku ingin itu" kata Red.


 Ran mendekat ke arah gadis ini lagi dan dia melihat situasi sudah mulai tenang tentang kondisi gadis di depan remaja laki laki ini untuk mengajaknya bicara.


 Dia memberanikan diri melunakkan hati gadis yang sedang menjadi korban kondisi dan situasi di luar kehendak alam bawah sadar.


 Ran maju perlahan mendekati Red yang masih diam di sana dengan energi pelindung yang sama yang dikeluarkan oleh Ran menjadi pelindung panas lava dibawah.


 Energi biru miliknya kian menguap pergi dari raga Ran.


 Ran tidak ingin pergi meninggalkan Red disaat seperti ini dan cuaca mulai semakin panas.


 Tubuh Ran juga mulai melemah dengan level kekuatan delapan puluh lima persen setelah sebagian energinya diambil oleh gadis ini.


  Ran mendekat.


"krek krrek kkkreekk"


 Retakan demi retakan muncul dari pori pori kulit remaja ini yang terus mendekat ke arah Red. 


 Rembesan darah keluar tipis mengalir dan mengalir menimbulkan rasa perih yang luar biasa di kulit.


  Arah tangan mengatur kembali gerak Ran.


 Dia mulai kesulitan bernapas paru parunya sesak. 


 Red belum berhenti untuk mengendalikan diri menghentikan upaya mengambil nyawa remaja di depannya ini mata merah kemudian menghitam terlihat lebih dominan menguasai energi positif di dalam tubuh terpancar mengubah energi biru menyatu dengan kedua energi jahat tersebut.


 Energi dari Red makin menguasai Ran ia menggerakkan tangan lagi dengan mengepal jemari tangan kanan dengan erat berjatuhan darah dengan lava dari lengan yang terbakar. 


"Itu pasti sangat sakit. Kau benar benar tidak merasakan rasa sakit itu" kata Ran.


 Red nampak baik baik saja dengan kondisinya saat ini tanpa keluhan terlihat untuk kali ini. Dia menunjukkan ekspresi senyum ketika melakukan ini kepada Ran dan belum berpikir untuk mengakhiri ini akan tetapi dia memilih menggerakkan lagi jemari jemari tangan membuka kembali tangan yang mengepal erat tadi menggerakkan lagi melempar raga Ran menjatuhkan ke arah kanan sebelah  gadis ini melihat.


"Bugggg!"


 Ran menahan energi dari Red dengan sisa energi pelindung yang ada di dalam raga.


 Ran terlempar jauh dengan kuat energi tekanan dari gadis ini baru saja melempar ke batang besar pohon di sisi jalan.


 Jatuh tersungkur hampir saja wajahnya menyentuh lava panas di bawah akar batang yang tadi terkena hempasan tubuhnya sendiri.


 Red kembali datang di hadapan remaja ini lalu menjambak rambut kepala Ran mendorong kepala Ran agar masuk ke dalam lava panas yang terus mengalir tepat di hadapannya dengan posisi tubuh tengkurap di atas tanah menghadap lava yang mengalir.


"Apa kau sungguh akan melakukan ini?" tanya Ran.


 Dia sedang menahan aksi Red yang ingin melenyapkan orang lain. 


 Mulutnya kembali mengeluarkan darah.


 Tangan kanan Red juga mulai membakar rambut Ran rasa panas membakar kulit kepala.


 Red dihempas ke atas langit oleh Red dengan energi kilatan biru.


  Gadis itu terhempas pergi jauh dari raga Ran. 


 Jarak jauh sekitar tiga puluh meter Ran sudah perkirakan energi yang ia gunakan untuk menjauhkannya dari gadis itu. 


  Ran segera bangkit.


  Dari arah yang sama Red bergerak sangat cepat menuju ke arah Ran.


 Mulutnya juga mengeluarkan darah akibat serangan dari Ran barusan tapi lagi lagi gadis itu terlihat tidak apa apa dengan perlawanan yang Ran berikan.


 Dia makin dekat makin dekat berpindah tempat dengan arah tujuan yang sama yaitu tetap mengincar Ran.


 Belati beracun milik Red datang kilatan cahaya biru yang sama saling bertabrakan dengan energi biru milik Ran.


 Level energi pelindung milik Ran naik menjadi empat level aktif kembali.


 Energi mereka saling berbenturan melawan arus energi saling melawan satu sama lain mempertahankan diri.


 Energi Red mulai meretakkan masuk kedalam energi pelindung milik Ran lagi lagi dia menyerap energi yang dikeluarkan oleh Ran.


 Belati itu makin kedalam masuk mengarah ke arah leher tengah remaja ini terus mendekat mencapai titik target bagian daerah tubuh remaja laki laki ini.


 Belati itu berhasil menembus dinding pelindung energi lawan.


 Segera pergelangan tangan Red digenggam oleh tangan Ran menahan belati milik Red menggores lagi bagian lehernya.


 Ran menaikkan lagi level energi pelindung kemudian mendorong senjata tajam itu agar menjauh dari lehernya lagi. 


"Darrrrrrrrr!"


 Ran meledakkan energi pelindungnya lalu gadis itu terhempas jauh.


 Senjata milik Red terlepas dari tangannya tanpa suara kembali mengincar raga Ran.


"Krreekkk!"


 Belati itu patah berhenti menyerang Ran dan jatuh ke bawah aliran lava. 


 Ran menghentikan sekaligus mematahkan belati itu menjadi empat bagian. 


 Ran menghela nafas lalu pergi dengan cepat mencari Red yang terdorong olehnya.


 Red terlempar jauh sejauh lima puluh meter menjauh dari tempat semula ia bertarung dengan Ran.


 Jemari tangan kiri Red terlihat darah ada mengalir di tengah jari manis tangan bergerak berusaha menyingkirkan kayu kayu dari cabang pohon yang patah terbawa jatuh menindih bagian tubuhnya yang lain juga mulai mengangkat dan melempar batang batang pohon dari tangan kemudian bagian bahu lalu mengangkat batang pohon yang lumayan besar menindih bagian depan tubuhnya. 


 Separuh bagian tubuhnya mulai bisa terbangun kemudian tangan kirinya menyingkirkan batang yang cukup besar yang menindih tangan dan lengan. Dia duduk dengan tegap.

__ADS_1


 Dia mendapatkan luka baru di bagian lengan tangan kirinya bahu serta perut bagian kirinya mengeluarkan darah.


 Red mencabut batang pohon yang tidak terlalu besar dari bagian perut bagian kirinya itu.


  Darah mengalir deras dari bekas cabang pohon.


 Batang pohon menggores meninggalkan luka seragam putihnya darah mengalir mengenai rok tulle abu abu yang ia kenakan. 


 Dia masih saja dengan seperti biasa tatapan dingin mendorong lagi batang batang kayu yang juga ada diatas kaki kaki luka luka lain juga ia dapat kaus kaki putih terlihat robek dibagian atas sebelah kiri dan robek di beberapa bagian tengah samping kanan kaos kaki bagian kanan.


 Ranting ranting dan dedaunan berjatuhan dari raga Red. Gadis ini berdiri dari dalam hutan yang gelap. 


  Melihat sekitar dengan mata biru.


 Sosok lain terlihat disana yang bukan termasuk makhluk hidup seperti dirinya.


 Mereka mulai mendekat mata kuning terang datang dari segala arah.


"Pushhhhhhhhhhhhh!"


 Suara itu sebagai tanda bahwa mereka telah musnah secara bersama dalam waktu yang sama energi energi itu masuk kemudian seperti pasokan energi baru ke dalam raga gadis ini.


 Dari balik pepohonan lain Ran baru saja melihat kejadian ini berlangsung dengan singkat tanpa rasa sakit dan perlawanan dari roh roh jahat itu. 


  Mata Red tepat melirik ke arah mata Ran.


  Ran langsung berpindah tempat loncat ke atas langit meninggalkan hutan bagian dalam tersebut. 


  Red terbang di atas pepohonan hutan.


  Langit sangat gelap dari atas pepohonan hutan.


  Ran tak terlihat oleh gadis ini.


 


  Udara dingin jauh terasa diatas sini angin datang mengarah ke berbagai arah menggerakkan rambut kepala dan seragam sekolah gadis ini. 


"Semakin dia bertambah kuat semakin dia tidak memperdulikan dampak buruk yang menyakiti raganya sendiri" kata Ran.


 Darah jelas masih keluar dari dalam perutnya yang baru saja terluka ikut terbang terbawa angin dan dia tak menghiraukan hal ini. Sedangkan untuk Ran sedang menimbang ulang apakah pertarungan ini akan terus mereka melanjutkan mengingat dampak buruk yang sudah Red dapatkan.


  Ran berpindah tempat lagi di hadapan Red. 


 Angin kencang menerpa keduanya. 


 Marid mengedipkan mata lagi.


 Raga Red berubah menjadi seperti cermin kemudian retak menjadi beberapa bagian.


 Air mata itu terlihat dari wajah Red yang mulai retak bertambah lagi semakin dekat jarak retak yang terlihat di depan mata Ran.


  Ran tak kuasa matanya berkaca kaca.


 Setelah dalam waktu yang sama mengalami hal yang sama berhenti dalam sebuah waktu di luar kendali  kembali bisa menggerakkan raga mereka.


"Sepertinya kita telah melewatkan sesuatu" kata Jimmy.


 Jimmy merasakan sesuatu yang  tidak bisa ia utarakan. 


"Kau menangis?" tanya Ben.


 Jimmy mengusap air matanya dengan telapak tangan kanan.


"Apa terjadi sesuatu dengan seseorang?" tanya Jimmy.


  Marid sedang mengamati sekelilingnya setelah ia berkedip lagi. 


  Semua nampak damai damai saja. 


  Dia berkedip lagi. 


 Raga gadis itu makin retak parah seperti kaca dan tersisa sedikit bayangan dari raganya itupun terlihat sebagian atas kepala dan kaki kaki yang juga mulai tak terlihat.


"Red!" kata Ran.


"Ran" kata Red.


 Marid tidak menemukan hal aneh.


 


 Ben membawa serta Marid berpindah tempat dan duduk di tebing pepohonan dekat jalan yang masih di aliri dengan lava panas.


 Jimmy juga ada di sebelah kiri Marid yang sedang jongkok melihat keadaan sekitar.


 Udara sejuk datang dengan angin kecil mengisi keheningan sekitar.


  Mata Marid berkedip lagi.


 Raga Red mulai pecah bagian demi bagian  kemudian jatuh seperti remahan kaca yang pecah ke bawah dan sebagian mulai terbawa oleh datangnya angin. 


"Red" kata Ran. 


 


"Prakkkkkkk!"


 Angin datang menyapu Red.


 Bagian raga yang telah berubah menjadi kaca itu hancur berkeping keping.


"Kau dengar suara itu?" tanya Marid.

__ADS_1


 


__ADS_2