
Chapter 56: Apakah Ini Sebuah Kemungkinan?.
"Kau sedang menunggu seseorang?" tanya Red.
"Ya. Aku sedang menunggumu" kata Jun.
"Bagaimana dengan Sima?" tanya Red.
"Dia akan baik baik saja tanpaku" kata Jun.
"Ayo kita pergi" kata Jun.
Pulang sekolah Jun sedang menunggu seseorang di area parkir di dekat aula sekolah yang juga dekat dengan pintu gerbang sekolah.
Mereka berdua pulang bersama.
"Hantu itu masih terus mengikutinya" kata Red berbicara tentang hantu bergaun hitam.
Tugas untuk mengusir roh jahat itu kini diserahkan kepada Red dan Sew. Karena Ran sudah berhenti sementara dari pekerjaan ini untuk pergi menyelesaikan pendidikannya diluar negeri yang juga sangat diperbolehkan oleh atasan mereka.
Sima melihat Jun sedang menunggu seseorang dan itu adalah Red.
"Kenapa tubuhku sulit bergerak?" tanya Sima pada diri sendiri.
Siswa dan siswi lain melihatnya sedang bertingkah aneh. Lalu, untuk mengurangi kecurigaan orang orang disekitarnya dia berpura pura bermain ponsel yang juga sulit tangannya ia gerakan seperti posisi seseorang yang sedang menyentuh layar ponsel.
Gadis ini tidak bisa mengejar Red dan Jun yang sudah sedikit jauh dari jaraknya ia berdiri sekarang masih di area dalam sekolah di dekat tempat parkiran sekolah.
"Hari ini, aku satu kali kalah dengan Red" kata Sima.
Sima hanya bisa melihat Jun pergi jauh dari kejauhan. Ia belum bisa menggerakkan langkahnya untuk mengejar Jun sampai orang yang akan ia kejar sudah pergi melewati pintu gerbang sekolah.
"Sial. Ini benar benar sial" kata Sima.
Di tempat perhentian bus, kedua remaja itu ada disana.
Red berbicara kepada Bling.
"Kenapa aku terseret dalam urusan kalian?" tanya Red.
Bling berbicara dalam hati kepada Red yang raganya saat ini sedang dikendalikan oleh hantu ini.
"Aku hanya ingin menyelamatkan dia dari gadis itu" kata Bling.
"Tapi, aku sedang tidak ingin bicara dengan Jun" kata Red.
"Tolong aku lagi. Ok" kata Bling.
"Jika dia memilih Sima daripada aku. Ya sudahlah" kata Red.
"Gadis ini tidak gigih sama sekali" kata Bling.
Jun melihat kearah seseorang yang ia anggap Red.
"Red. Kau terlihat sedang tidak fokus" kata Jun.
"Oh ya. Aku rasa, aku baik baik saja" kata Bling.
Jun menatap jalan lagi.
"Dia tidak marah. Dia juga lebih lembut berbicara padaku. Aneh bukan?" tanya Jun pada diri sendiri didalam diam tapi tetep berpikir.
"Bus sudah datang. Kau masuk lebih dulu" kata Jun.
Bling berjalan masuk kedalam bus didepan Jun.
Jun duduk disebelah kiri Bling.
Bling belum berhenti menatap wajah orang yang ia sayangi itu.
"Ada apa denganmu biasanya kau bersikap itu hanya kepada Ran?" tanya Jun dalam nada suara datar tapi malu malu.
Bling masih menatap wajah Jun dengan wajah senyum menawan milik Red.
"Kapan kau berhenti menatap wajahnya?" tanya Red berteriak kepada Bling.
"Aku akan menikmati ini" kata Bling pada Red.
Jun merasa malu malu saat Bling belum berhenti menatap wajahnya.
Jun batuk.
"Aku sudah lama tak mendengar kabar mu" kata Jun.
"Aku selalu baik" kata Bling.
Dia berkata dengan nada lebih manis.
"Bagaimana dengan mu?" tanya Bling.
"Aku juga baik" kata Jun.
Situasi menjadi lebih fleksibel.
"Apa kau butuh pekerjaan. Aku bisa mencarinya untuk mu?" tanya Jun.
"Dia belum berubah rupanya" kata Red berbisik pada Bling.
"Aku sudah mendapatkan pekerjaan baru. Jadi, maaf. Terimakasih atas perhatian mu" kata Bling.
Kali ini dia menjawab pertanyaan dari Jun lebih sinkron dengan jalan pikir sahabatnya itu.
Red tak bisa mencegah Bling bersikap manis dan lembut kepada Jun.
"Apa dia sangat merindukan Jun. Terserah kau saja, tapi yang jelas aku juga menyayangi mu" kata Red pada Bling.
__ADS_1
"Ya. Aku tahu kamu sedang mengkhawatirkan ku" kata Bling.
Jun tidak marah saat dia masih di tatap oleh Red.
"Siapa yang baru saja terlintas di pikiran ku?" tanya Jun.
Ekspresi wajah yang menyembunyikan sebuah kesedihan datang kembali. Dia mengingat memorinya bersama Bling.
"Kau terlihat pucat" kata Bling.
"Mungkin aku kurang minum" kata Jun dia tersenyum kepada Bling.
Red tiba tiba lagi berbicara kepada Bling.
"Hentikan itu. Suasana hatinya sedang berubah" kata Red pada Bling.
Bling berbisik kepada Red.
"Aku tahu. Tapi, dia tidak marah padamu" kata Bling.
"Darimana kau tahu?" tanya Red.
"Aku tahu saja karena dia seperti itu" kata Bling.
"Cinta membutakan segalanya" kata Red.
"Berbeda dengan Jun. Jika itu memang cinta buta" kata Bling.
"Iya kawan. Aku tahu kau menyukai Kak Ran" kata Bling.
Bling bersikap tidak seheboh di detik detik sebelumnya.
Pertanyaan pertanyaan interview tentang hal hal yang mengarah ke percintaan ala remaja remaja di jeda sejenak oleh kedua remaja ini.
"Sampai kapan kalian akan bertengkar. Aku sedang bekerja sekarang" kata seorang hantu dia adalah Hera.
Hera ada di kursi di depan Red beranjak membalikkan badan kepada Bling dan Red.
Percakapan dalam diam Bling didepan Jun saat Hera berbicara dengan Bling dan Red.
"Dia harus bekerja di lain tempat. Kau bisa bertemu dengan Jun di waktu lain" kata Hera.
"Aku kira dia sedang bekerja menjaga Jun" kata Bling.
"Tidak. Ini giliran ku menjaganya. Jadi, kalian harus berpisah disini" kata Hera.
Dua menit kemudian Bling dan Red berpisah dengan Jun yang masih harus melanjutkan perjalanan menuju tempat kerjanya di kafe Kak Rose.
Di area pemakaman umum di pukul setengah empat sore ramai dengan pelayat yang datang di pemakaman Ge sahabat Jimmy.
Jimmy sudah keempat kalinya datang di pemakaman ke empat sahabatnya dan Ge yang keempat kalinya. Suasana sedih hadir disini, disana juga terdapat teman teman Ge selain Jimmy yang baru saja datang dari luar kota untuk melihat Ge dimakamkan disana.
"Kau terlihat sangat sibuk" kata sahabat Jimmy, Qawe.
"Aku sangat sibuk. Dia tak mengabarimu kan?" tanya Jimmy.
"Maaf Ge. Aku terlalu sibuk bekerja hingga lupa berbagi kabar dengan mu" kata Timb.
Pacar pacar Ge juga datang di pemakamannya sore ini. Mereka tidak terlalu memikirkan bahwa Ge adalah orang seperti apa cukup sedih untuk menerima kenyataan bahwa Ge sudah mulai dimakamkan sore ini juga.
Jimmy melihat ke arah pacar pacar Ge yang ada disekitar tempat Ge sedang dimakamkan.
"Pacarnya lebih banyak dariku" kata Jimmy.
Qawe dan Timb sedang dalam suasana sedih tiba tiba menahan tawa saat mendengar kalimat ini di ucapkan oleh Jimmy.
"Kenapa aku ingin tertawa?" tanya Timb kepada diri sendiri.
"Tahan tawa mu sampai semua ini selesai" kata Qawe.
"Aku berkata jujur pacarnya lebih banyak dariku" kata Jimmy.
Suasana pemakaman masih dengan isak tangis keluarga kerabat dan orang orang terdekat Ge.
"Jika kau ingin menyelamatkan Jun dari hantu yang ada disana. Turuti saja apapun perkataan ku" kata Red.
Bling juga ada di pemakaman Ge berada agak jauh dari Jimmy dan orang orang yang ada disana namun tetap bisa mengawasi apa yang harus diawasi.
"Tapi, kemana hantu itu sekarang pergi?" tanya Bling.
"Itulah pertanyaan ku. Dia sudah beberapa hari tidak terlihat disekitar ku" kata Red.
"Tak ada jejak jejak yang tertinggal dari hantu itu" kata Bling.
Kedua telapak tangan Red mengeluarkan uap berwarna biru kini lebih tebal. Darah keluar lagi dari dalam mulutnya.
Dia mengusapnya dengan tisu yang ia bawa dalam tas.
"Kau juga melihatnya bahwa tak ada tanda tanda kematian Ge karena akibat dari ulah hantu?" tanya Bling.
Red mengaktifkan kekuatannya dengan mata membiru memeriksa menyeluruh dalam satu kedipan mata.
"Dari apa yang ku lihat sekarang dia memang meninggal karena penyakitnya sendiri" kata Red.
"Meski kita tahu bahwa hantu itu sering menyerang Ge. Tapi, Ini bukan salah hantu itu dia meninggal" kata Bling.
"Apa ini yang dinamakan dengan takdir?" tanya Red.
"Ku rasa begitu" kata Bling.
"Kau percaya takdir?" tanya Red.
"Percaya" kata Bling.
"Yang ku tahu bahwa ada takdir yang bisa kita ubah. Ada yang tidak" kata Red.
__ADS_1
Udara dingin di cuaca yang masih sedikit gerimis kaca mobil depan tersapu Sew sedang menyetir mobil yang diberikan oleh atasan mereka dalam misi yang terus misterius dari kasus ini yang hampir setahun lebih belum terselesaikan bukan karena sumber daya manusia yang kurang mumpuni atau cerdas tapi hantu yang sedang mereka tangani memang cukup unik. Tugas ini secara spesial diberikan kepada mereka tanpa ada petunjuk alasan makna dari semua kejadian yang telah terjadi menjadi sebuah transenden bagi manusia biasa.
Sew sedang berdiam diri fokus menyetir tenang dalam imajinasi memikirkan masalah ini.
"Aku selalu harus siap dengan segala kejutan apapun yang akan ia keluarkan disepanjang misi hari ini seperti hari hari sebelumnya" kata Red berbicara dalam diam.
"Mulai sekarang kau harus jauhi Jun apalagi Jimmy" kata Sew.
Kalimat itu tiba tiba saja muncul begitu saja kepada Red.
Red tak bisa tak menghiraukan seorang wanita yang ada di sebelahnya itu.
"Bagaimana dengan Sima?" tanya Sew.
"Dia ku rasa sudah memakai ramuan itu tadi pagi" kata Red.
"Meski efeknya belum terlihat untuk saat ini. Namun, dia akan mulai tersiksa dari proses pengobatan ini" kata Sew.
"Berapa hari Hera bertugas menjaga Jun?" tanya Red.
"Masih sangat lama karena Ran tidak ada disini" kata Sew.
"Kenapa dengan sifatmu. Meski kau karyawan baru, tapi bersikaplah lebih santai" kata Sew.
"Ya" kata Red.
"Apa kau sedang memikirkan kondisi Sima?" tanya Sew.
"Obat itu apakah tidak memberikan efek negatif?" tanya Red.
"Ku rasa tidak. Tapi, dia akan terbiasa menjadi orang baik" kata Sew.
"Kau masih ragu. Aku rasa ide mu ini cukup bagus untuk teman mu" kata Sew.
Bling sedang tidak mengendalikan raga Red.
"Kau juga harus tetap hati hati dengan hantu yang ada didalam tubuh mu saat ini" kata Sew.
"Ok" kata Red.
Jalanan masih macet di waktu pulang kerja ini.
Hantu bergaun hitam itu terus berkeliaran di antara mereka menganggu dan secara perlahan orang orang yang didatangi oleh hantu itu sudah dipastikan akan meninggal tanpa sebuah bukti lagi beberapa kali hantu itu selalu lolos sebagai tersangka atas kematian mereka semua karena tak ada bukti.
"Seakan apapun yang dilakukan oleh kami hanyalah sia sia" kata Red didalam hati.
"Tapi, aku yakin bahwa didunia ini tak ada yang sia sia" kata Red.
Sew menyadarkan Red dari lamunan.
"Baca ini agar kau tidak melamun" kata See memberikan satu buku dari tasnya yang terbuka.
"Teknik Lobi dan Negosiasi" kata Red.
"Ya. Setidaknya itu membuat mu tidak melamun" kata Sew.
Red membaca buku yang diberikan oleh Sew itu. Dia menjadi lebih tenang dari sebelumnya.
Sepulang sekolah Ben lari dari tugasnya untuk membantu pekerjaan Ayahnya di tempat gym seperti hari hari sebelumnya tanpa pesan yang tidak ia kirimkan dimana keberadaannya kepada Ayahnya.
Apa yang dilakukan oleh remaja ini tak jauh dari apa yang dilihatnya di hari hari sebelumnya. Dia sedang mengikuti seseorang secara diam diam. Ia sudah melakukan hal ini selama hampir satu tahun bukan menjadi seorang penguntit yang tidak memiliki alasan jelas dengan apa yang ia lakukan ini. Dia sedang tidak dalam sepenuhnya penasaran tapi lebih kepada rasa khawatir.
Dia sedang hadir di acara pemakaman seseorang yang bahkan ia tidak mengenalnya hanya karena orang yang ia kenal ada di tempat itu karena yang ia tahu orang yang sedang ia ikuti itu adalah tidak begitu akrab dengan orang yang sedang dimakamkan.
"Kurasa tidak salah jika ia datang di pemakaman ini" kata Ben.
Kunci motor Ben terjatuh ke tanah. Kemudian, ia mengambilnya.
"Kau disini?" tanya Jun.
Ben terkaget saat ada Jun menyapa dengan menepuk pundak sebelah kirinya dari arah belakang.
"Aku tadi tak sengaja lewat sini dan berhenti untuk memeriksa kendaraan ku" kata Ben.
"Oh" kata Jun.
"Kenapa kau ada disini?" tanya Ben.
"Aku sedang berziarah di makam pacarku" kata Jun.
"Begitu. Kau butuh tumpangan?" tanya Ben.
"Ada apa dengan mu. Kau agak sedikit berbeda?" tanya Jun.
"Tidak ada apa apa" kata Ben.
Ben masih di dekat motornya di samping pagar makam dengan tinggi dua meter ia melihat proses pemakaman dari sela sela pagar berbahan semen dan bahan pendukung lain yang membuat pagar itu kuat dan kokoh.
Jun mengambil helm dan kunci motor sahabatnya itu lalu ia memakai helm.
"Biar aku saja yang menyetir" kata Jun.
Ben berada di belakang Jun naik motor akal pikirannya belum selesai memikirkan hal hal itu.
"Dengan otakku yang tidak secerdas dengan orang didepanku ini. Aku harap aku jangan sampai keliru dengan hasil analisa ku" kata Ben.
"Dan lagi, kenapa orang itu cepat sekali pergi?" tanya Ben.
Ben sedang memasang puzzle puzzle yang ia temukan sejak lama mencoba merangkai satu bagian demi bagian.
"Disisi lain aku juga melihat hantu yang sama mendatangi Jimmy di waktu lain hantu itu juga ada disisi Jun" kata Ben.
"Dan bukan hanya mereka yang didatangi hantu itu bahkan Bee juga serta Sammy" kata Ben.
"Good juga ikut ikutan di ikuti oleh hantu itu" kata Ben.
__ADS_1
"Dan hanya aku dan Marid yang tidak diikuti oleh hantu itu" kata Ben.
Ben menjadi lebih serius dalam diamnya kali ini.