Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 126: Mengikuti Arah.


__ADS_3

Chapter 126: Mengikuti Arah.


"Kau lihat kabut hitam tadi. Jangan sampai kau terlihat olehnya" kata Flow.


"Jika terlihat?" tanya Bob.


"Tunggu sampai dia mengambil nyawamu" kata Flow. 


 Hujan berhenti Flow meninggalkan mulut gua itu pergi dari sana tetesan air hujan dari atas gua mengenai pipi kanan Flow.


 Bob benar benar melihat seseorang yang ia cari keluar dari mulut gua.


  Dalam sekejap dia menghilang lagi. 


"Flow" kata Bob. 


 Langsung saja dia mengejar Flow dan menebak dimana arah tangan Flow.


"Arggghhhh!" 


 Bob berteriak setelah memegang pergelangan tangan Flow wanita ini meraskan bahwa pergelangan tangannya dipegang oleh seseorang. 


"Kau siapa?" tanya Flow.  


 Telapak tangan Bob terbakar dan dia tidak ingin melepas tangannya dari pergelangan tangan Flow meski rasa terbakar semakin kuat membakar kulit tangannya. 


"Darah" kata Flow.


 Darah Bob terlihat bercucuran kemudian menguap di udara. Gelang tangan berwarna silver bertuluskan namanya dan Flow terlihat dalam beberapa bagian yang terkena darah.


 Dalam hati berkata, dan dia berkata "Bob".


"Lepaskan tangan mu!" kata Flow.


"Tidak" kata Bob.


"Kau akan terbakar jadi lepaskan tanganmu!" kata Flow.


 Flow memaksa agar Bob melepaskan pergelangan tangannya dengan menarik tangannya lagi.


 Tangan Bob melepas pergelangan tangan Flow luka terbakar mengelupas telapak tangan ia dapat. 


"Jangan ikuti aku!" kata Flow.


"Aku akan mengikuti mu" kata Bob.


 Bob langsung melepas kemejanya itu dan memberikannya kepada Flow.


 Flow bisa melihat kemeja yang Bob pakai tapi tidak bisa melihat pria ini.


"Untuk apa?" tanya Flow.


"Bajumu robek dibagian samping kanan mu" kata Bob.


 Flow melihat ke arah sisi kanan bajunya dibawah lengan.


"Ini tidak terlalu menggangguku" kata Flow.


"Tapi itu akan robek semakin lebar jika dibiarkan" kata Bob.


 Flow masih ragu dengan kebaikan ini.


"Pakai saja!" kata Bob.


 Baju itu ia lempar ke arah Flow.


 Flow memeriksa kembali bajunya yang terlihat robek sedikit dibagian kanan dibawah lengan apakah benar dengan apa yang dikatakan oleh Bob.


 Baju itu akan sobek sendiri bertambah melebar menunggu waktu jika di hitung jika terjadi kejar mengejar lagi.


 Flow akhirnya memakai kemeja putih milik Bob itu tetap masih tidak bisa terlihat yang terlihat adalah kemeja itu yang sudah di pakai oleh Flow yang mulai mengering setelah terkena hujan tadi dan juga sudah mulai hilang tak terlihat dari indera penglihatan.


 Mode hilang langsung aktif setelah dalam waktu satu detik baju itu dipakai.


 Flow memutuskan untuk pergi meninggalkan Bob.


"Jika aku bersama dengannya nyawanya dalam bahaya" kata Flow. 


 Bob melihat jejak kaki darah diatas pasir yang telah berubah warna menjadi merah setelah terguyur hujan tadi.


 Sahabatnya  ini mengikuti kemana arah pemilik  jejak kaki itu pergi.


"Tunggu!" kata Bob.


"Jangan ikuti aku!" kata Flow teriak.


"Aku tetap mengikuti mu" kata Bob.


"Terserah. Jika kau tidak sayang nyawamu" kata Flow.


"Aku tidak peduli" kata Bob.


 Flow berjalan di depan Bob.


 Bob mempercepat langkah lagi agar bisa berjalan beriringan dengan Flow.


"Srak srak srak" 


 Terdengar suara sepatu Bob yang sedang digunakan tanpa meninggalkan jejak.


"Sorry" kata Bob.


"Untuk?" tanya Flow.


"Terlalu banyak kekuranganku" kata Bob.


 Untuk waktu yang cukup lama akhirnya Flow bisa tersenyum lagi.


 Bob ingin bertanya banyak hal tapi ia tahu waktu bahwa itu akan merusak suasana ini.


 Berjalan di sepanjang pantai di malam hari yang gelap dengan samar cahaya bulan sudah tiga menit terlihat dari bawah pantai.


 Di sekitar awan awan yang mulai menyingkir disana terdapat dua remaja yang sedang mendorong awan awan gelap agar menjauh dari datangnya sinar bulan yang mengenai mereka. 


"Apa ini akan membawa dampak positif untuk kita?" tanya Jimmy agak ragu.


"Kau lihat cahaya bulan ini" kata Ran.


 Cahaya bulan sedang melawan energi negatif yang hampir menyeluruh menguasai wilayah hutan yang luas ini dengan kabut asap hitam menutupi juga mengganggu jarak pandang siapapun disini.


"Ok. Aku setuju melanjutkan ide ini" kata Jimmy.


 Energi kilatan petir mereka keluarkan mendorong awan awan di antara mereka masih berlangsung. 


 Jimmy berhenti sejenak.

__ADS_1


"Kenapa kau bisa tahu kalau cahaya bulan bisa menghancurkan mantra mantra itu?" tanya Jimmy.


 Jimmy melanjutkan mendorong awan awan lagi.


"Aku hanya coba coba" kata Ran.


  Mengambil nafas panjang karena merasa sedang dijadikan objek percobaan.


"Coba coba!" kata Jimmy.


"Kita dianggap apa oleh mu" kata Jimmy.


"Memang sebagian hidupmu digunakan untuk apa?" tanya Ran.


"Aku tidak ingin menjadi temanmu" kata Jimmy.


"Lalu untuk apa kau disini?" tanya Ran.


"Membantumu" kata Jimmy.


 Jimmy bergerak menjauh dari Ran sambil terus mendorong awan awan di sekitarnya. 


 Jimmy juga masih memantau level energi yang ada di tubuh mereka. 


 Ran masih juga menyembuhkan diri sendiri dari mantra Red yang berasal dari rambut kepalanya yang terbakar di sengaja oleh gadis ini sebagai penekan energi milik Ran dan detik ini masih berjalan sesuai dengan rencana gadis ini yang masih dalam pencarian.


 Kedua sahabat ini saling tidak melihat namun tetap berjalan beriringan melakukan perjalanan ini. 


"Kenapa kakimu terluka?" tanya Bob.


"Dimana sepatumu?" tanya Bob.


"Pakai saja sepatuku" kata Bob.


 Flow berhenti sejenak, Bob juga setelah melihat jejak kaki Flow sedang berhenti.


"Kaki ku terbakar sendiri dan akhirnya sepatuku kulepas" kata Flow.


"Aku kira tidak begitu padahal aku ingin memberikan sepatu ini untuk mu" kata Bob.


 Sebuah pertanyaan yang sedari tadi ingin ia tanyakan akhirnya ia memberanikan diri untuk membahas hal ini.


"Terima kasih" kata Flow.


"Kenapa harus berterima kasih. Aku senang bisa melihatmu lagi" kata Bob.


"Aku bukan Flow" kata Flow.


"Kamu Flow tadi aku melihatmu" kata Bob.


 Flow kembali menyusuri bibir pantai.


 Bob juga mengikuti kemana Flow pergi.


"Aku sangat lapar" kata Flow.


 Flow memegang perutnya yang sakit.


"Berapa lama kamu tidak makan. Jangan bilang sejak pertama kamu menghilang" kata Flow. 


"Iya" kata Flow.


"Dimana kita mendapatkan makanan ditempat ini?" tanya Bob.


 Menelusuri bibir pantai dan melihat ke segala arah mencari pertolongan dan mencari sesuatu yang bisa dimakan.


 Jarak keduanya masih dalam jarak lima meter berjalan di arah yang sama.


 Udara bertambah terang dengan kabut asap yang makin menjauh dari sekitar mereka gugusan bintang perlahan mulai terlihat di langit bersama dengan bulan yang makin terlihat jelas. 


 Bob sedang mencari sesuatu yang bisa ia makan di antara bebatuan dan pasir. 


 Cahaya merah seperti api menerpa di udara yang menjadi lebih panas lagi.


  Bob terjatuh saat itu juga.


 Dia bergerak mundur makin mundur dengan perubahan yang terjadi pada Flow.


 Separuh tubuhnya sekali lagi berubah menjadi api berkobar di depan Bob dan kini terlihat jelas baru pertama kali ia melihat sahabatnya telah berubah.


 Kedua bola matanya berubah memerah menghitam berputar seperti gambaran arus air menatap mata Bob dengan tatapan mata kosong. 


"Argggghhhhhhhh!"


 Bob berteriak keras rasa sakit timbul di kepala suara bising yang sama didengar oleh Jun bisa didengar oleh pamannya ini. 


 Semua yang ia lihat menjadi berbayang kedua telinganya mengeluarkan darah. Bob berusaha untuk bangkit dengan bantuan tumpuan tangan kanan.


 Flow belum berhenti menatap Bob.


"Arrrrgggggghhhhhhh!"


 Kini dadanya terasa sangat nyeri seakan ada sesuatu yang telah mencengkeramnya dia bergerak mundur menjauh dari Flow.


 Flow mendekat ke arah Bob.


 Wajah pucat berkeringat pria ini tentu sangat panik. 


 Tatapan kosong mata wanita itu masih bertahan mendekat dan mendekat ke arah Bob.


 Bob bergerak mundur dengan kedua tangan dan  duduk di atas pasir dengan  bebatuan kecil pantai.  


"Tolong!" 


"Tolong!" 


"Tolong!"


 Suara teriakan tolong dari Bob terdengar keras menggema.


 Marid terperanjat kaget dan membuka mata. Dia sedang bersandar di salah satu pohon besar di pepohonan besar di sekitar pohon itu.


 Di tempat lain Ben dan Marid sedang menunggu kedua temannya yang sedang bereksperimen dengan dimensi ini menggunakan energi kekuatan mereka dilangit.


"Aku mendengar suara minta tolong" kata Marid.


"Kau yakin?" tanya Ben.


"Yakin" kata Marid.


 Ben mengirim pesan urgent ke langit seperti air menuju langit.


"Booommmmm!"


 Ran dan Jimmy melihat energi milik Ben..

__ADS_1


"Tiga persen lagi kan?" tanya Ran.


"Ok. Satu dua tiga!" kata Jimmy.


 Eksperimen mereka telah berhasil dilakukan dan udara udara yang terkena mantra jahat makhluk misterius itu mulai lenyap.


 Keduanya kembali ke tempat dimana Ben dan Marid ada disana saat ini. 


 Bob ada di atas pasir leher dicekik amat kuat oleh tangan kiri Flow. 


 Isi pikiran dan hatinya campur aduk dan tidak bisa dijelaskan dengan logika apakah dia sedang bersama dengan Flow atau orang lain.


 Bob masih berusaha untuk menjauh ke arah belakang dari Flow lalu wanita ini kian kuat mencekik leher pria ini.


  Bob terdiam kemudian Flow terdiam.


 Bob bergerak lagi kemudian Flow mencekik lagi leher Bob lebih menyakitkan lagi naik dua level rasa sakit sebelumnya.


"Ini aku. Flow sadarlah" kata Bob. 


 Kini jemari tangan kanan Flow berubah keluar sangat tajam berwarna sangat hitam panjang dengan bau sangat busuk dan juga beracun.


 Darah mulai keluar dari leher Bob mengalir melalui kuku kuku tajam miliknya. Jemari tangan di sebelah kiri milik Flow yang terbakar juga mengubah jemari jemarinya menjadi senjata yang mulai menggores dada Bob.


 


"Bruuuppp"


 Darah keluar dari mulut Flow juga mengenai bahu kanan Bob.


 Darah itu membakar kulit Bob.


 Flow berbalik arah dan ya.


 Bob masih disana melihat.


  Makhluk misterius itu ada tepat di belakang wanita ini.


  Flow  meninju makhluk misterius itu..


"Bug!"


  Tangan Flow menembus kabut asap tebal itu.


 Bob berlari dari kedua makhluk yang membuatnya tidak yakin bahwa salah satu dari mereka berpihak padanya.


 Dia bersembunyi di balik sebuah karang besar dekat bibir pantai.


 Dalam jarak enam meter keduanya sedang siap saling menyerang.


 Api di sebelah kiri tangan Flow makin menyala memerah dan menghitam pekat berkobar.


 Mata yang sangat tajam seperti serigala yang ingin memakan mangsa di depannya.


 Dalam sebuah bayangan sebuah  memori datang mengingat kembali kenangan tentang sebagian masa lalu yang pernah dialami oleh Flow.


"Lebih baik kamu mati saja" 


 Dia mendengar suara itu lagi.


 Dia menangis lagi.


 Menangis darah kali ini di kedua matanya.


"Mati saja"


"Mati saja"


 Semakin terbakar dan terbakar mantra didalam raga Flow mulai menguasai lebih menguasai raga wanita berambut lurus sebahu ini. 


"Kau belum pergi?"


 Sebuah pertanyaan di ruang hampa dengan background serba putih semua serba putih tidak ada apapun disana selain dirinya.


 


 "Blub blub bbbbb"


 Suara air datang disana muncul dari lantai serba putih.


 Lantai seperti kaca nyatanya adalah sebuah air yang terdapat bayangan wajahnya air mata darah ia hapus wajah pucatnya memerah akibat air matanya sendiri.


 Luka bakar di separuh tubuhnya jelas terlihat di dalam bayangan api mulai membara lagi menyusup tiap pori pori.


 Dia datang di bayangannya sendiri darah yang bercucuran dari separuh raganya tertinggal lebih banyak dari jejak kaki sebelum ini. Air disana mulai masuk penuh mengisi ruangan hampa itu makin penuh berteman dengan darahnya sendiri. Dia disana terdiam tidak ingin bergerak dari ruang hampa yang makin penuh terisi air makin tinggi tinggi naik merendam separuh tubuhnya dengan air bercampur darah tatapan kosong itu tetap tatapan kosong itu.


 Air di ruangan itu makin meninggi hingga terlihat bibir ke atas kepala Flow.


"Flow!" kata Bob berteriak.


"Flow!" kata Bob berteriak lagi.


 Bob sedang mengejar Flow yang terus berjalan menuju laut dari bibir pantai semakin jauh jauh dan Bob hanya bisa melihat bagian leher ke atas Flow itu juga dia harus menahan air laut yang sangat perih ketika masuk kedalam mata.


 Flow makin tidak terlihat oleh Bob.


 Bob masih terus mengejar Flow yang sedang berupaya menenggelamkan diri ke laut.


 Bob sudah pasti menelan air laut yang hitam pekat di pantai itu rasa menusuk pencernaan di satu tegukkan pertama.


 Berenang terus mengejar Flow mencari dan mencari hingga dia orang yang ia cari sudah tidak ada disana.


"Sungguh tak berguna!" kata Bob.


 Bob memecah air laut dengan kedua tangannya merasa tak berguna tidak bisa menyelamatkan nyawa orang lain yang sedang sangat membutuhkan pertolongan.


"Arrrgggggghhhhh!"


 Bob menangis sedih disaat itu juga.


 Selanjutnya, sesuatu terasa aneh jika dijelaskan air yang ia masuki makin memanas ia rasakan segera ia berenang cepat menuju bibir pantai dengan cepat.


 Tanpa diperkirakan bahwa air di sana akan berubah suhu dan mendidih perlahan bahkan disaat Bob sedang berenang dengan cepat cepatnya.


 Ketakutan sudah pasti akan jadi apa jika ia mati di sana karena mendidih bersama mungkin makhluk lain yang masih ada disana.


 


 Dari depan bibir pantai yang tidak terkena air laut terlihat oleh Bob berdiri disana dalam gelap malam ini samar samar menggunakan setelan gaun merahnya dan kemeja putih menyala lagi separuh raganya terlihat api terang menunjukkan senyum kebencian kepada Bob.


 Dia disana Flow membiarkan pria sahabatnya sendiri sedang mati matian memperjuangkan hidupnya sendiri.


 Dia bersama dengan Makhluk misterius itu yang ada bersama memutari raga Flow dengan tenang.


 Tangan kiri Flow digerakan ke atas mengarah ia usahakan bisa mengikuti arah Makhluk misterius itu.

__ADS_1


__ADS_2