
Chapter 39: Padahal Aku Orangnya Ramah.
"Pergi!" kata Bee.
"Ok" kata Good.
"Tapi, aku mau memeriksa mereka. Apakah sudah pergi dari sini?" tanya Good.
"Kau tinggal panggil driver pribadi mu untuk datang kemari" kata Bee.
"Apakah semudah itu?" tanya Good.
"Ya. Sudah, jangan tanya aku lagi" kata Bee.
Good masih didalam pos security sedangkan Bee masuk kedalam gedung untuk mengambil barang pribadi miliknya.
"Dia beneran mau pergi?" tanya Good.
Bee pergi dari gedung seni tanpa bercerita pada Good.
Malam pukul sepuluh malam tepat Good ada didepan gedung menunggu Jun yang akan menjemputnya.
Sejak tadi rombongan yang mengejar Good datang dan pergi baru sekitar jam sembilan mereka tidak datang dan pergi mencari Good dan berkeliling di daerah tersebut.
Banyak gadis gadis yang baru saja selesai berlatih menari.
Good ada diantara mereka semua perasaan grogi ia terlihat tanpa bisa disembunyikan.
Jun sudah disana lima belas menit menuju pukul sepuluh malam melihat Good yang menunggunya didepan gedung seni.
Jimmy dan Ge juga ada Beck melewati Good. Good bersembunyi dibelakang gadis gadis yang ada disana.
"Brugggggggg!"
Suara motor motor jatuh terdengar amat keras.
Cahaya lampu lampu motor masih menyala kendaraan kendaraan berhenti akibat kecelakaan ini.
Ketiga pemuda yang melewati Good sedang mengalami sebuah kecelakaan terjatuh bersamaan.
Kaki kiri Jimmy tertindih roda belakang motornya sendiri.
Untuk Ge kedua kakinya tertindih motor roda depan sedangkan untuk Beck tak sadarkan diri disamping motornya.
Untungnya mereka mengendarai motor dalam kecepatan rendah dan jalanan sedang dalam keadaan sepi.
Orang orang disana membantu memberi tanda untuk berhenti sebentar menghentikan kendaraan mereka karena telah terjadi kecelakaan.
"Bangun!" kata Jun kepada Beck.
Beck ditarik Jun ke samping jalan tempat mereka mengalami kecelakaan, di pinggir jalan untuk pejalan kaki.
Jimmy dibantu oleh Good dan Ge dibantu security yang datang membantu mereka dibawa ke pinggir jalan sama seperti Jun menyelamatkan Beck.
Beberapa security gedung seni tempat Good bersembunyi tadi keluar dan menolong mereka.
Satu persatu mereka diberi pertolongan dan motor motor mereka dibawa juga di pinggir jalan untuk pejalan kaki.
Orang orang belum banyak yang pergi dari tempat itu.
Good menghubungi rumah sakit untuk datang mengirimkan ambulance dan juga driver pribadinya untuk cepat datang.
Lima menit kemudian lalulintas berjalan kembali seperti semula.
Beck dibawa bersama dengan Good dengan mobilnya bersama Jun karena dia belum sadarkan diri.
Orang orang yang membantu melakukan pertolongan tadi belum pergi dari sana menunggu ambulance datang untuk membawa korban korban kecelakaan.
Kaki Jimmy dan Ge mengalami luka disana.
Satu menit kemudian ambulance datang dan membawa Jimmy dan Ge menyusul Beck yang sudah dibawa pergi kerumah sakit didepan mereka.
Ada seorang gadis bergaun hitam disana melihat mereka saat mengalami kecelakaan tadi.
Dia sedang penuh gembira melihat ini.
Dia ada sebuah tempat gelap di dekat mereka diantara kerumunan itu menyelinap berhasil disana. Senyum bahagia sekaligus ketidakberhasilan kemarahan.
"Kenapa kalian tidak mati saja?" tanya hati hantu gadis bergaun hitam.
"Kenapa kalian selalu beruntung?" tanya Hantu gadis itu lagi.
Dia berjalan berbalik meninggalkan orang orang yang ada disana.
"Besok, aku akan datang lagi" kata Hantu itu.
Wajah pucat berubah menjadi seperti menghitam mengikuti garis garis kulit lebih menghitam lagi dibagian nadinya.
Menghilang bagai asap hitam dan putih menyatu lalu benar benar menghilang dari sana.
Matanya penuh kebencian dan dendam didalam wajah gadis itu. Dia ada di rumah sakit tempat ketiga korban kecelakaan tadi dibawa disana mendapatkan pertolongan.
"Aku belum bisa mengambil nyawa kalian. Kenapa, kali ini juga aku tidak bisa menyentuh menghabisi kalian?" tanya Hantu gadis yang bergaun hitam.
Hantu itu masuk kedalam alam mimpi Beck yang belum terbangun setelah mendapatkan pertolongan pertama dan masih dengan selang infus di tangannya.
Jimmy dan Ge ada diruangan lain dengan kaki kaki mereka yang terikat menggantung ke atas.
Mereka belum tidur mereka saling duduk berdiam diri menahan rasa sakit.
"Terimakasih" kata Jimmy.
Suatu kalimat yang jarang keluar dari mulutnya itu.
"Jika kau ingin berterimakasih. Katakan, pada anak buah mu agar tidak mencari kami lagi" kata Jun.
"Itu berbeda" kata Jimmy.
Good akan menghajar Jimmy namun dicegah oleh Jun.
Jun datang pada Jimmy dan apa yang ia lakukan adalah mencengkeram leher Jimmy dengan kuat.
"Lepaskan. Kau sudah gila!" kata Ge.
"Jangan ikut campur!" kata Jun lebih horor dari Good tadi.
Ge didorong oleh Jun sampai terpental ke ranjang dan hampir jatuh kebawah lantai.
"Kalian apa apaan?" tanya seorang perawat datang.
Perkelahian tidak jadi terjadi Jun dan Good duduk kembali di kursi semula menghadap wajah mereka berdua yang juga mengalami luka luka gores akibat terjatuh di aspal tadi.
Beck ada di ruang gelap disana hanya ada dia disana.
Dinding tak bercat kasar ia bersandar berdiri disana.
"Dimana aku?" tanya Beck.
Cahaya belum datang.
"Kalian masih ingat aku?"
Sebuah suara datang menggema datang cahaya redup dari atas Beck ada berdiri sekarang.
Asap asap putih datang dan berkumpul mendekat kearah Beck dengan cepat.
__ADS_1
Dia mendorong tubuh Beck dengan keras terus dan terus. Sosok seorang gadis yang ia kenal datang kembali.
Beck berusaha melepaskan tangan hantu itu yang mendorong tubuhnya ke dinding.
Dada Beck terasa amat sakit akibat tindakan hantu gadis bergaun hitam itu.
"Kau sudah mati" kata Beck.
"Bagus kau mengingat ku" kata si hantu.
Hantu itu kian bersemangat menekan dada pemuda yang belum sadar setelah akibat kecelakaan tadi.
"Kau ingin balas dendam dengan ku. Silahkan, aku tidak takut" kata Beck.
"Aku tidak akan membuat kalian langsung mati. Aku akan menyiksa kalian" kata Si Hantu itu.
Beck kemudian terbangun dari tidur panjangnya selama hampir tiga hari ia berada dirumah sakit.
"Aku hanya mimpi?" tanya Beck.
Tak ada orang disana yang pertama Beck lihat saat pertama kali sadar setelah mengalami koma.
Ia menunggu sepuluh menit dan akhirnya ibunya datang membawa air hangat dan makan malam kedalam ruangannya.
"Kau sudah sadar syukurlah. Tunggu, Ibu akan memanggil dokter" kata ibunya Beck.
Ibunya Beck memencet tombol dibelakang ranjang Beck untuk memanggil dokter dan perawat datang kesana mengecek kesehatan Beck setelah koma beberapa hari.
"Bu. Beck sudah sadar?" tanya Ayahnya Beck.
"Iya. Pak" kata Ibunya Beck.
Ibunya Beck menggenggam tangan Ayahnya Beck berdiri tidak jauh dengan Beck yang sedang diperiksa tentang kondisi perkembangan kesehatannya saat ini.
Dokter telah selesai memeriksa kondisi kesehatan Beck.
"Bagaimana Dok, kondisi kesehatan anak saya?" tanya Ayahnya Beck.
"Ibu tenang saja. Kondisi anak ibu sudah jauh lebih membaik dan juga tubuhnya mengalami proses penyembuhan dengan cepat. Jadi, seminggu lagi bisa langsung pulang" kata Dokter menangani Beck.
Setelah Dokter menyampaikan ini kepada kedua orang tua Beck. Dokter ini pergi dari ruangan tersebut.
Dua perawat ada disana yang satu mengganti kantung infus dan yang satunya lagi mengganti perban di dada Beck.
"Sebulan ini motor Ayah sita!" kata Ayahnya Beck.
"Pah!" kata Beck.
"Nurut sama orang tua. Balapan terus, jadi begini kan" kata Ibunya Beck.
Beck kena marah oleh kedua orangtuanya.
Menunggu kedua orangtuanya berhenti memarahinya selama setengah jam.
"Bagaimana dengan Jimmy dan Ge?" tanya Beck.
"Mereka ada di ruang sebelah" kata Ayahnya Beck.
Tak ada percakapan lagi untuk saat ini karena memang Beck sedang membutuhkan istirahat.
"Rasanya aku ingin memukul anak ini!" kata Ayahnya Beck akan memukul anaknya dan dicegah oleh Ibunya.
Seorang remaja laki laki yang berusia sama dengan Red ada diantara kolam ikan koi dengan luas satu hektar dan satu hektar lain adalah ikan ikan air tawar yang sedang dibudidayakan.
Satu alat pembersih kolam panjang sekitar dua meter dengan gagang kayu berwarna kuning.
Seakan akan bertarung dengan pedang mereka masing masing belum sampai disitu, remaja laki laki itu belum berhenti menatap Red wajah penolakan penuh tergambarkan olehnya. Red juga tak mau berhenti menatap remaja laki laki tersebut.
"Kau yakin?" tanya Ben.
"Kau akan bekerja disini?" tanya Ben.
"Aku ingin makan. Jangan macam macam padaku" kata Red.
"Aku diancam oleh seorang gadis" kata Ben.
"Jika kau berulah. Aku akan menyiksa mu" kata Red.
"Aku bos disini" kata Ben.
"Kau hanya anaknya bos" kata Red.
"Tidak takut sama sekali?" tanya Ben.
"Untuk apa?" tanya Red.
"Pemberani" kata Ben.
"Ben. Kerja cepat!" kata Ayahnya Ben berteriak padanya yang terus mengawasi bersama ibunya.
"Aku akan mulai menyiksa mu" kata Red.
"Hahahahahaha!" kata Ben.
"Dasar kau ini. Tunggu aku" kata Red.
Mereka adalah teman satu kelas dan tanpa diduga Red mendaftar pekerjaan di peternakan ikan milik kedua orangtua Ben.
"Kenapa kau tidak bilang di sekolah kau akan bekerja disini?" tanya Ben.
"Aku takut kamu menyeretku ikut dengan mu naik motor" kata Red.
"Padahal kan aku orangnya ramah" kata Ben.
"Ramah. Baik" kata Red.
"Kau lihat orang orang disana" kata Ben.
"Mereka?" tanya Red.
"Iya. Mereka sedang makan ikan bakar bersama Ayah dan Ibuku dengan senang" kata Ben.
"Mereka sudah membantu mu sejak tadi" kata Red.
"Aku juga tak ada bela lagi" kata Ben.
"Kapan kita kerja?" tanya Red.
"Ini aku sedang kerja" kata Ben.
Ayah, ibu, dan Good serta Jun ada disana sedang membakar banyak ikan.
Angin datang datang dan sejuk sore hari tanpa ada awan mendung langit biru.
Bayangan hantu gadis bergaun hitam ada di sebelah Red sedang membersihkan kolam.
Red sedang membersihkan kolam selangkah demi selangkah.
Mereka berdua membersihkan kolam sejak pukul tiga lebih dua puluh menit sampai lima lebih dua puluh menit sore.
Gerimis.
Angin datang.
Yang ada disana hanya ada Red dan Ben. Kedua orang tua Ben sudah kembali ke rumah sedangkan Good sedang bersama Jun pergi untuk mengambil minuman hangat di rumah Ben.
__ADS_1
"Red. Aku boleh minta saran?" tanya Ben.
"Jangan yang sulit sulit ya" kata Red.
"Aku lagi suka sama cewek" kata Ben.
"Terus?" tanya Red.
"Gimana caranya biar aku diterima oleh cewek itu?" tanya Ben.
"Kita masih remaja, aku bingung jawabnya" kata Red.
"Aku kayak bicara sama kakak sendiri" kata Ben.
"Beda nggak sama" kata Red.
"Ya. Kalau kakakku, aku langsung di omelin" kata Ben.
Red ketawa apalagi Good yang sudah datang dibelakang mereka sedang bermain game teka teki dari dalam ponsel.
"Aku dengar loh" kata Good.
"Udah tahu. Tapi, menurut kamu gimana?" tanya Ben.
"Menurutku, cinta itu butuh bukti. Kamu kenapa bahas percintaan" kata Good.
Good agak sebel kalau ditanya masalah percintaan seperti saat ini.
"Kemana Jun pergi, tadi sama kamu kan?" tanya Red.
"Nggak. Dia nggak sama aku" kata Good.
"Tasnya masih disini. Dimana orangnya?" tanya Ben.
"Coba aku cari" kata Red.
"Kau mau cari dia di kolam?" tanya Good.
"Barangkali dia ada di salah satu kolam" kata Red.
"Tapi, dia pintar berenang" kata Ben.
"Kalian mau cari tidak?" tanya Red.
Ketiga remaja ini mencari Jun dengan cara terpisah masih di area peternakan ikan milik Ben.
"Aku seperti kenal tas ini" kata Red.
Di atas tas yang baru saja ia temukan sebuah ponsel. Red mencoba menyalakan layar ponsel yang ditemukannya dengan maksud mengetahui siapa pemiliknya.
"Foto ku dijadikan wallpaper" kata Red.
Ponsel dan tas itu adalah milik Ran.
"Lalu, dimana dia sekarang?" tanya Red.
Red mencari Ran dan Jun kedua matanya berubah menjadi biru memancar keseluruh arah ia memandang.
"Dia disana" kata Red.
Red dengan hati hati memilih jalan agar tidak terjatuh kedalam kolam ikan.
Red berjalan cepat menuju Ran yang ada didalam salah satu kolam yang tidak terisi ikan.
Ran muncul dari dalam air kolam menarik Jun yang menenggelamkan diri kedalam kolam.
"Dia Baik baik saja kan?" tanya Red.
Ran memeriksa denyut nadi dan napas Jun.
"Bagaimana?" tanya Red.
"Aku akan berusaha menyadarkan Jun" kata Red.
Red menyentuh nadi Jun dengan telapak tangannya.
"Kau baca mantra apa?" tanya Ran.
"Kau bercanda. Aku hanya mencoba menyadarkan teman kita" kata Red.
"Aku hanya bercanda" kata Ran.
"Terimakasih Kakak Ran" kata Red.
"Sama sama adik" kata Ran.
Setelah menyentuh nadi tangan Jun dalam tiga puluh detik. Air kolam yang ada didalam tubuh Jun keluar.
Good datang.
"Hey. Bro, bangun!" kata Good.
"Sebut nama Bay. Pasti dia bangun" kata Ben.
"Bay?" tanya Red.
"Sudah coba dulu" kata Good.
Semua teman teman Jun memanggil nama Bay secara bersamaan.
"Bay!"
Jun langsung bangun saat mereka semua memanggil nama Bay.
"Ampuh" kata Ran.
Jun membuka mata perlahan lahan.
"Siapa kalian?" tanya Jun.
"Dia sehat kan?" tanya Ben.
"Sepertinya dia bukan Jun" kata Good.
"Aku bisa gila lama lama disini" kata Red.
"Siapa gadis cantik didepanku?" tanya Jun.
"Dia pacarku" kata Ran.
"Sudah sadar?" tanya Ben.
Jun berkedip kedua matanya.
"Aku sadar" kata Jun.
"Cepat bangun!" kata Good.
Semua teman temannya pergi setelah melihat Jun sudah sadar.
"Ini tasmu" kata Red.
"Makasih sayang ku" kata Ran.
"Kamu juga sehat kan?" tanya Red.
__ADS_1
Good menunggu Red dibelakang Ben yang sudah jalan lebih dulu dari mereka.