
Chapter 118: Stay.
Luka yang Jimmy dapat bertambah jelas darah menembus baju pasien rumah sakit yang ia kenakan dari balik perban putih menyebar terlihat.
Dia mulai pucat racun dari luka itu mulai menyebar dan dia menyadari hal ini sedang ia alami.
Luka ini menjadi awal dari seorang makhluk lain yang juga berada disana untuk mengambil kelemahan yang di miliki oleh Jimmy sebagai sesuatu yang menarik untuk didekati.
Mereka bertiga berjalan menelusuri hutan yang tidak tahu dimana mereka akan sampai ditempat yang mereka anggap lebih aman dari tempat mereka berada saat ini.
Sesuatu menabrak Marid lagi dan kali ini menabrak lengan kirinya.
Tidak melanjutkan langkah kaki. Terdiam didepan Jimmy.
"Kenapa?" tanya Jimmy.
"Tidak apa apa" kata-Marid.
Luka di pundak kanan Jimmy mengeluarkan asap putih seperti uap menguap ke udara.
"Brugggggggg!"
Makhluk misterius itu juga menabrak Jimmy.
Darah keluar dari luka di bahunya.
Telapak tangannya menyentuh luka yang ada di bahunya.
"Bruggggggg!"
Bahunya tertabrak lagi.
Mata biru ia aktifkan dia nampak lebih waspada darah mengalir dari atas bahunya jatuh ke tanah melewati tangan berjalan lagi berada di tengah diantara dua temannya yang juga memasang mode waspada dengan lingkungan disekitarnya.
"Kenapa kita bisa ada disini?" tanya Jimmy.
"Kenapa kau bisa menemukan kami?" tanya Marid.
"Tenang!" kata Ben.
Ben memberi tanda bahwa mereka harus berhenti sejenak dengan tangannya mencegah kedua temannya untuk bergerak lagi.
Jimmy menghitung sisa energi yang ada di tubuhnya dan menyadari sisa energi yang tersisa tinggal delapan puluh persen.
"Ayo kita jalan lagi" kata Ben.
Mereka bertiga melanjutkan perjalanan untuk mencari jalan keluar.
Jimmy menghitung energi kedua remaja laki laki temannya.
Menghitung energi.
Melihat energi yang dimiliki oleh Ben tinggal sembilan puluh lima persen. Menghitung lagi meskipun sudah ini yang ketiga kalinya dan tetap sama untuk energi yang dimiliki oleh Marid tetap sembilan puluh sembilan persen.
Jimmy mendekat ke arah Marid.
"Jangan mengambil energinya" kata Ben.
"Aku hanya penasaran" kata Ben.
Disini Marid dibuat bingung lagi dengan bahan bahasan kedua orang yang ia anggap sebagai teman satu sekolah. Apapun itu yang terpenting adalah bagaimana cara ke Luar dari tempat itu.
"Kau bukan Jimmy kan. Kau mau apa?!" kata Marid kepada Jimmy.
"Kau saja disini" kata Jimmy.
Jimmy berpindah arah ditempat Ben berjalan barusan.
Ben melihat luka yang dimiliki oleh Jimmy dan dia belum mengambil keputusan untuk menyembuhkan luka yang ada dalam pundak Jimmy.
Kembali melihat arah jalan pulang yang mereka pilih.
"Bruggggg!"
Lagi dan lagi Marid merasakan seseorang telah menabraknya.
Berpikir mengumpulkan puzzle puzzle kejadian sebelumnya tentang seseorang yang telah menabraknya tanpa tahu wujud siapa orang dibalik ini.
Sambil berjalan lagi didalam hutan melihat langit sedikit waktu dalam dua detik lalu kembali menatap kedepan. Berpikir lagi mencari tahu siapa orang yang ia cari.
"Dia seperti memiliki ciri ciri yang berbeda dari manusia" kata Marid.
"Lalu apa. Ayo Marid cepat katakan apa tadi" kata Marid.
Isi kepalanya berputar berpikir berharap mendapatkan sebuah jawaban dari pertanyaan ini.
Marid sedang berpikir.
"Kenapa disaat aku tertabrak disaat itulah bahu Jimmy mengeluarkan banyak darah?" tanya Marid.
"Dan hanya aku yang ditabrak" kata Marid.
"Aku yang tertabrak Jimmy yang terluka" kata Marid.
"Jimmy yang tertabrak apalagi lukanya tambah parah terlihat dari darah yang langsung keluar dari bahunya" kata Marid.
Marid ke arah Ben.
"Dia tak terluka sama sekali" kata Marid.
Marid menutup kembali matanya dan mereka kali ini sudah berpindah tempat lagi bisa ditebak mereka ada disebuah jalanan beraspal masih basah seperti baru saja terkena jatuhnya hujan.
Kabut asap tebal masih ada disana jalanan terhalang kabut diatas jalan aspal yang juga menyatu dengan pepohonan disana.
Bisa ditebak bagaimana ini bisa terjadi dalam satu kedipan mata. Marid dibuat bingung lagi oleh situasi ini.
"Apa aku masih manusia?" tanya Marid.
"Kenapa kita ada disini?" tanya Jimmy.
"Kau tidak melakukan teleportasi kan?" tanya Ben.
__ADS_1
"Aku masih sakit belum bisa" kata Jimmy.
"Pertanyaan ku kenapa tidak dijawab?" tanya Marid.
"Pertanyaan ku kenapa diabaikan?" tanya Marid.
"Manusia bertanya apakah dia benar benar manusia?" tanya Jimmy.
"Kita semua masih manusia" kata Ben.
Dingin lembab disana terasa sangat dingin setiap kata yang keluar dari lisan mereka selalu terlihat mengeluarkan uap.
Perhatikan apa yang sedikit terlihat lalu bersembunyi lagi berhenti dalam keheningan malam.
Mencoba lebih waspada di malam ini.
Seseorang datang dengan senapan dan burung kakak tua di bahu sebelah kiri berpakaian seperti koboi disana didepan mereka berjarak dua puluhan meter.
Melihat ke arah mereka.
Diam ketiganya.
Menatap saling menatap ketiga remaja laki laki ini dengan apa yang ada disana datang datang mendekat seperti berpindah cepat dalam tiap detik tanpa jeda selama sepuluh detik.
"Berhentilah bermain disini!" kata orang dengan cerutu yang masih menyala di tangan asap dari mulut.
Menghilang.
Berkedip ketiga remaja ini.
Ratusan kunang kunang muncul di depan mereka menyebar terbang memberi sinar dalam suasana masih mendung setelah hujan.
"Boooooooommmmmmm!"
Kunang kunang berwarna kuning didepan mereka meledak menjadi kabut berwarna warni dengan kabut menyambar mereka.
Wajah mereka dan seluruh tubuh mereka berwarna warni.
"Apa kita sedang syuting MV musik?" tanya Jimmy.
"Kita mungkin ingin pulang" kata Marid.
"Apakah kita harus mengikuti mu lagi?" tanya Ben.
Jimmy merasa Ben menunjukan siapa dirinya lagi. Dia bertanya ini tapi dia tetap mengikuti kemana Marid pergi.
Jimmy tersenyum sinis dalam situasi ini.
"Cepatlah!" kata Ben.
Ben berbalik melihat ke arah Jimmy.
Dari arah belakang seperti kertas yang terbakar disana terlihat semakin cepat mengejar ke arah mereka membakar seperti berada dalam sebuah ilusi dan Ben sedang memberikan petunjuk kepada temannya yang masih belum mau mengikuti kemana dia dan temannya yang sudah pergi lebih awal.
Marid berjalan mempercepat langkah dan lebih cepat lagi.
Mata birunya melihat gambar yang tergambar di bola mata Ben dan dia tak sempat untuk menoleh ke arah belakang dia ikut berlari kemana Marid dan Ben pergi.
Ledakan petasan terdengar di belakang mereka mengejar dan mengejar belum berhenti.
"Bangun!" kata Jimmy.
"Jangan tinggalkan dia!" kata Jimmy.
Ben berlari lebih jauh lima langkah dari mereka berbalik ke arah Jimmy dan Marid.
Matanya memerah menakutkan dan dia seperti bukan Ben yang dikenal oleh Marid.
"Energi itu muncul lagi" kata Jimmy.
Jimmy terdiam dan tak meminta pertolongan kepada Ben karena dia tahu jika ia berbicara dengan Ben di situasi ini maka nyawanya dan Marid bisa jadi taruhannya. Suka tidak suka dia dan Marid untuk sementara waktu tidak berkomunikasi lebih banyak dengan Ben.
Marid bangun dan keduanya berlari lagi dari kejaran api yang terus membakar atmosfer dibelakang mereka.
"Mata Ben kenapa?" tanya Marid.
"Lama jika dijelaskan" kata Jimmy.
Dalam kabut ada seseorang disana didepan mereka berlari berlawanan arah dengan ketiga remaja laki laki ini.
Marid melihat itu.
"Kau melihat wanita itu?" tanya Marid.
Dia menunjukkan wanita yang berjalan sangat cepat ke arah mereka.
"Tidak ada apapun" kata Jimmy.
"Ada orang berlari ke arah kita!" kata Marid.
Berbicara penuh emosi.
Jantung Marid berdegup kencang disetiap ketika di setiap jarak yang semakin bertambah dengan wanita yang ia maksud.
Dalam kondisi energi yang terasa tertekan dengan energi yang ia rasakan dia tak bisa membiarkan orang lain dalam bahaya.
Dia membuat dirinya berbalik arah dari kedua temannya yang masih berlari jauh dari semuanya semua api dari belakang mereka mengejar wanita itu.
Jimmy berhenti kakinya masih belum memutuskan untuk melangkah.
"Apa yang dia lakukan" kata Jimmy.
Tak ada satupun orang lagi selain mereka bertiga disana sedang menyelamatkan diri. Itu yang dilihat oleh Jimmy berbeda dengan apa yang dilihat oleh Marid.
Wanita itu dikejar kembali oleh Marid.
Separuh tubuhnya yang awalnya terlihat otot wajah menghitam memerah terlihat oleh Marid dalam kulit pucat kini terkelupas terlihat api mulai muncul seperti percikan separuh tubuhnya menyerap api yang berjarak dua meter dengan Marid menyerap semua api itu kedalam raga wanita yang Marid akan tolong.
"Dunia apa ini bawa aku pergi dari sini" kata Marid.
Angin besar datang seakan menyerap ikut terbawa bersama api besar yang ada didepan wanita itu dalam waktu sepuluh detik saja. Padam.
__ADS_1
Jimmy dan Ben tak melihat bahwa ada seseorang yang melahap api itu yang terlihat bahwa api tadi hilang masuk dalam sebuah dimensi yang ada didepan Marid.
"Kalian lihat wanita itu. Lihatlah!" kata Marid.
Keduanya menggelengkan kepalanya tetap dengan jawaban bahwa mereka tidak melihat apapun.
"Sungguh ada orang disana tidak ada!" kata Marid.
Setelah berdebat meyakinkan dengan apa yang ia lihat kini wajah remaja ini berubah melihat bahwa wanita itu datang dengan tatapan penuh amarah.
Melangkah tanpa alas kaki dengan luka sayatan di kedua lengan dan lutut kanan yang terluka masih mengeluarkan darah terus datang menatap ke arah Jimmy.
Kaki kanan Marid mundur satu langkah lagi. Dia juga melihat bahwa keadaan makin terlihat kacau.
"Aku ingin remaja itu" kata Uri.
Dia melihat energi yang dimiliki oleh Jimmy sama dengan energi yang dimiliki oleh Sima membiru dan memerah terlihat keluar dari bahunya yang terluka terus dengan darah dari luka yang kembali terbuka membuat hantu didalam raga Jimmy semakin tertarik dengan apa yang dia miliki.
Wajahnya hampir semua dikuasai oleh wajah Uri hampir menghilang samar wajah pemilik asli raga ini yang terus tidak menginginkan hal buruk yang ia lakukan tanpa kehendak dirinya sendiri.
Marid melihat tatapan wanita yang semakin mendekat padanya bukan sedang mengincar dirinya tapi sedang mengincar Jimmy.
"Lari!" kata Marid.
Uri sedang mengendalikan raga Flow berlari dengan sangat cepat dalam arah melawan mereka sedang berlari.
"Stop!" kata Marid.
Dia dengan mata sangat merah menatap mereka semua kondisi lebih menegangkan uap api yang ada di separuh wanita yang ia lihat terus menguap berkobar. Senyum menyeringai langsung menatap mata Marid cepat berpindah target.
Marid menarik napas detik ini siap dengan kaki kuda kuda tangan siapa untuk memukul kedua telapak tangan mengepal.
Mata wanita itu kembali dengan target semula yaitu Jimmy.
"Apa yang kau lihat?" tanya Ben.
"Dia sedang menargetkan anak orang kaya ini" kata Marid.
"Dia bisa menjaga dirinya sendiri" kata Ben.
"Terimakasih sudah mengkhawatirkan ku" kata Jimmy.
Mata biru ia menghitung lagi sisa energi miliknya sendiri masih tersisa delapan puluh persen.
Dia sedang mencari di sekeliling mereka siapa yang Marid ceritakan tetap saja dia juga tak melihat seseorang yang Marid maksud.
Flow dan Uri menghilang menjadi asap.
Marid lebih lagi memperhatikan setiap arah mata di depannya dan beberapa kali mengikuti sebuah asap yang muncul dari atas aspal.
Itu adalah langkah kaki Flow yang sedang dalam mode tak terlihat oleh siapapun bahkan Marid.
Kali ini tak ada asap muncul dari atas aspal jalanan tersebut.
Sudah memang benar wanita itu sejak tadi sudah mulai mengambil energi milik Jimmy meski dalam jarak tiga meter tanpa sepengetahuan dari Jimmy tubuhnya seperti keluar sebuah uap biru dan makin menguap menghilang.
"Apa hanya aku yang bisa melihatnya lalu kenapa bukan aku yang ia incar" kata Marid.
Flow dan Uri datang berlari dengan kuku tangan yang makin runcing tajam siap menghabisi Jimmy.
Mata Marid berkedip tanpa ia sadari ia bisa sendirinya bisa melihat wanita itu.
Tangannya langsung mencegah tangan Flow melukai dada Jimmy.
Pergelangan tangan Flow ditahan oleh Marid dengan sekuat tenaga Flow melirik ke arah Marid.
Marah.
Marah diluar kendali dari Flow dan melainkan dikendalikan oleh Uri yang semakin berubah sikap dan tindakannya.
Tangan Marid mulai terasa terbakar setelah menyentuh pergelangan tangan kanan Flow.
Flow mencegah tindakan Marid.
"Pergi" kata Flow.
Sekali lagi kata yang sama yang juga ia katakan pada Radan kala itu ia katakan lagi dalam kata tanpa suara yang bisa didengar oleh siapapun dan kali ini terjadi lagi.
Jimmy dengan cepat telapak tangan mengeluarkan cahaya seperti kilatan petir.
"Lepaskan tangan mu!" kata Jimmy.
"Tidak!" kata Marid.
Mata sebelah kanan Flow terlihat menangis disaat ia akan melakukan hal ini kepada Jimmy dan Marid tidak bisa membiarkan Jimmy melukai wanita yang ada didepan mereka.
"Minggir!" kata Jimmy.
"Pergilah!" kata Marid dia berkata kepada Flow.
Marid rela menahan tangannya yang terbakar.
"Kau mendengar ku cepat pergi!" kata Marid.
Flow berpindah tempat lagi dalam mode tidak terlihat oleh siapapun.
Tangan Marid jelas mengalami luka bakar darah keluar dari telapak tangan.
Sebuah kaus putih dari dalam tas selempang yang masih ia pakai ia robek lalu ikat ke tangan.
"Siapa yang kau lihat itu?" tanya Jimmy.
"Aku tidak mengenalnya" kata Marid.
Jimmy melihat kembali ke arah Ben dan dia kembali lagi dalam kondisi tidak boleh diajak bicara dengan mata memerah.
"Siapa dia sebenarnya?" tanya Marid.
Menunjuk kepada Ben.
"Ya teman kita, Ben. Siapa lagi" kata Jimmy.
__ADS_1