
Chapter 93: I am so sorry but I love you.
Di tempat latihan olahraga bela diri di sekolah.
Jun sedang istirahat setelah latihan bela diri duduk bersebelahan dengan Red.
"Kau sedang apa?" tanya Red.
"Dia tak mempan dengan ini" kata Jun.
Dia mencoba menghapus ingatan bahwa Ben pernah melihat hantu didalam raga kedua remaja ini.
"Apa kita terlalu awal menyimpulkan?" tanya Red.
"Coba kita pastikan bahwa dia bisa melihat kita" kata Bling.
"Lalu apa rencana kita jika dia benar benar melihat kami berdua?" tanya Doe.
Red sedang menunggu Ben dan Jun latihan bela diri yang akan di perlombakan beberapa hari lagi.
"Aku tidak menyangka kau sangat serius" kata Jun kepada Doe.
"Kau pikir ini lelucon!" kata Doe.
"Dia hobi sekali marah marah" kata Bling.
"Bela terus pacar kamu!" kata Doe.
Good merasa ada sesuatu yang aneh pada kedua sahabatnya itu. Dia sudah ada dibelakang Red dan Jun ketika remaja laki laki itu istirahat setelah latihan tadi.
Mendengar arah pembicaraan yang tak jelas apa yang sedang mereka bicarakan.
"Apa aku terlalu sibuk bersama pacarku sehingga aku tidak memantau pertumbuhan mereka?" tanya Good.
"Kata kataku membuat orang salah paham" kata Good.
Good melangkah pergi dua langkah menghampiri kedua remaja sahabatnya itu.
"Untuk kalian" kata Good.
"Kau datang" kata Jun.
"Bagaimana kabar kalian?" tanya Good.
"Bagaimana kabar mu?" tanya Jun.
"Kau tidak mau duduk. Kemari?" tanya Red.
Good mengambil tempat duduk di tengah tengah mereka ada duduk disana.
"Terimakasih minumannya" kata Red.
"Sama sama kakak" kata Good
Dua botol air mineral mereka berdua terima dari Good.
Good duduk diam melihat Ben yang sedang latihan bersama Wren.
Melihat di sisi kanan dan kiri.
Melihat Red kemudian beralih melihat Jun.
"Kenapa kepalaku penuh pertanyaan tidak masuk akal?" tanya Good.
"Sudahlah. Mungkin aku sedang banyak pikiran saja" kata Good.
"Tapi, tunggu. Aku tidak sedang banyak pikiran" kata Good.
Suasana latihan cukup serius tapi tetap santai.
Ada Sammy disana tapi dia bergabung dengan para atlet lain yang sedang istirahat bersama.
Dia juga akan mengikuti lomba kali ini.
"Disini tidak ada pacar mu" kata Jun.
"Aku tahu" kata Good.
"Lalu kenapa sedari tadi melihat dia dan aku?" tanya Jun.
Dia menunjuk ke arah Red dan dirinya sendiri.
"Dia datang tidak ingin bertengkar dengan kita" kata Red.
"Sorry. Kakak terlalu galak padamu" kata Jun.
"Sudah terbiasa" kata Good.
Jun tak bisa marah dengan ucapan Good yang barusan ia dengar itu.
Hamparan bunga daisy terlihat indah bermekaran harum datang bersama angin angin menenangkan.
Dia disana sedang memejamkan kedua mata menghirup udara segar sedang berlibur sendirian setelah tak pernah mengambil cuti selama setahun lebih.
Liburan yang menyenangkan bukan.
"Suaranya sangat jelas ditelinga ku" kata Hera.
"Mereka memang suka memanggil ku" kata Hera.
Dia sudah membuka mata dan dia berada di depan Red dan Jun.
Hantu bergaun putih satin menjuntai panjang dengan kaki tak menapak di tanah.
"Padahal tidak ada angin tapi jubahnya bisa terbang" kata Bling.
"Kau benar" kata Jun.
"Kau bicara denganku?" tanya Good.
"Tidak. Barusan aku bicara apa?" tanya Jun.
"Terserah kau saja. Aku pergi" kata Good.
Remaja ini berencana pergi ke ruang kelas.
Hera mengambil tempat duduk yang tadi ditempati oleh Good.
"Ada perlu apa kalian memanggil ku?" tanya Hera.
"Katanya kau sedang berlibur?" tanya Red.
"Kau barusan memanggil ku" kata Hera.
"Aku seakan terlupakan" kata Bling.
__ADS_1
"Aku pergi latihan dulu" kata Jun.
"Ayo kita pergi ke kelas!" kata Red.
Hera ikut bersama dengan Red pergi ke kelas.
Melewati Jimmy yang sedang istirahat bersama yang lain setelah latihan tenis lapangan. Dia disana tidak ada di sebuah sudut tapi seakan jatuh disana tak ada pilihan lain itu yang ia alami saat ini.
Matanya yang tertunduk kembali terangkat dengan bersama kedatangan Red yang melintas bersama dengan Hera. Dia menatap dari arah sana dengan tatapan penuh derita yang tersembunyi dari sikap anehnya selama ini.
Wajahnya memelas disaat melihat gadis yang ia sayangi melintas di depannya.
Gadis itu berjalan tanpa tahu bahwa remaja laki laki ini sedang memperhatikannya sekali lagi.
"Kau merasa terabaikan?" tanya Hera.
Hera dalam detik waktu disaat bersamaan waktu melihat ke arah Jimmy tanpa banyak ekspresi ia tunjukkan.
"Mengapa aku merasa iba terhadap mu?" tanya Hera.
Hantu mantan penjaga danau indah ini tersenyum dengan aura teduhnya kemudian pergi ikut bersama Red.
"Apa yang dia lakukan?" tanya Hera.
Dia melihat Jimmy sedang amat kesakitan dengan dirinya sendiri.
Tak bisa dijelaskan energi yang ia miliki terus keluar membiru pergi dari dalam raganya. Dia tidak bisa mencegah hal itu terjadi padanya.
"Aku menunggu mu" kata Jimmy.
Jimmy sedang menunggu Sima dan gadis itu tak kunjung datang.
Hera terus memperhatikan dari dalam tempat persembunyian menghindar dari Jimmy yang juga memiliki kekuatan yang hampir sama dengan Red dan Ran.
"Dia menangis tidak mungkin" kata Hera.
Hantu ini belum percaya dengan Jimmy.
Jimmy menghilangkan air matanya dengan menyerapnya dengan energi biru yang ia miliki.
Air matanya mengering tak terlihat lagi di wajah.
Sima tidak kunjung datang.
"Dia sudah menunggu dua jam lebih disini" kata Hera.
Dia sudah ada di sebuah tempat bermain bowling di salah satu pusat perbelanjaan kota.
Jimmy sedang bersandar di kursi yang berjajar disana di dekat tempat bermain bowling disana.
Hera melihat bodyguard Jimmy.
"Dia tidak berbuat apa apa" kata Hera.
Bodyguard Jimmy sedang asyik membaca bukunya sendiri di kursi di baris berbeda dari baris kursi saat ini Jimmy duduk disana dalam kesakitan sendirian ia biarkan begitu saja
"Kau hanya perlu bertahan sebentar" kata Bodyguard Jimmy, Radan.
Setelah hampir dua jam lebih akhirnya pacarnya datang.
Jimmy memasang wajah baik baik saja tidak seperti sebelumnya.
"Sulit dipercaya kau mau menunggu ku" kata Sima.
Hera terkejut dengan perubahan yang terjadi kepada Jimmy dari arah ia melihatnya secara langsung.
"Apa yang ku lihat sama dengan hasil laporan dari Ran" kata Hera.
Energi yang dimiliki oleh Jimmy datang kembali mendatangi raga Jimmy setelah Sima datang duduk bersebelahan dengan Jimmy.
Detik demi detik ia datang energi itu menyatu kedalam raganya.
Rasa penasaran dengan salah satu laporan dari hasil penyelidikan Ran telah terjawab.
Dia pulang. Hera.
"Mengapa hal itu terjadi?" tanya Hera.
"Kau bisa jelaskan itu?" tanya Hera lagi.
Dia orang yang Hera ajak bicara rupanya enggan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Jimmy.
Tidak mudah mendapatkan keterangan dari Radan sebagai bodyguard Jimmy selama ini.
Dia tidak menjawab pertanyaan dari Hera.
"Kau pasti tahu apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Hera.
Radan tetap belum mau menjawab pertanyaan ini.
Dia tidak mungkin bertanya kepada Presdir Ma karena dia tidak bertugas untuk menjalankan misi menyelidiki Jimmy saat itu.
Dan kini tiba tiba saja misi ini ia dapatkan dari Presdir Ma secara langsung.
Red hari itu masih dalam keadaan koma setelah menolong nyawa Jimmy sahabatnya sejak kecil.
Jimmy ada di luar ruang rawat inap Red bersama dengan Ran.
Situasi saat ini masih dalam keadaan panik yang terkendali semua sedang berusaha untuk itu termasuk untuk Ran.
Rasa marah tentu ia tunjukkan kepada Jimmy yang baru saja selamat dari paparan racun dari ledakan markas utama "Orang itu" yang di hancurkan oleh Radan waktu itu.
Jimmy masih sangat ingat kejadian dia yang sangat sekarat dan Red datang mempertaruhkan nyawanya hingga ia menjalani koma.
"Kau harus mencari orang orang yang mendapat paparan racun itu" kata Ran.
Jimmy masih mendengarkan saran dari Ran.
"Kau mendengar ku?" tanya Ran.
"Dengar" kata Jimmy.
Tiba tiba menjadi patuh dengan penjelasan dari sahabatnya itu.
"Kau akan kesakitan akibat dari pertolongan ini" kata Ran.
"Dan kau harus dekat dengan orang orang yang terpapar racun itu yang sudah diberi obat penawar oleh Presdir Ma" kata Ran.
Maksud Ran adalah benda seperti botol kaca yang berisi cairan merah menyala yang telah di minum seperti yang diminum oleh Sima kala itu.
"Kau akan menjadi lebih baik" kata Ran.
"Apa itu akan menyembuhkan total penyakit ku?" tanya Jimmy.
"Tidak. Itu akan membuat mu ketergantungan sampai obat penyembuh telah ditemukan" kata Ran.
__ADS_1
"Setidaknya aku bisa bertahan" kata Jimmy.
"Sorry. Aku hanya bisa menjelaskan sampai disini" kata Ran.
"Mulai hari ini aku akan menjauh dari Red" kata Jimmy.
Jimmy melihat Red semakin jauh pergi dari pandangannya. Dia terdiam dengan bibir pucat dan wajah berkeringat akibat latihan tenis lapangan tadi.
Dia melihat gadis itu benar benar tak melihat keberadaannya sama sekali berlalu pergi.
Mata mengharap ada di kedua tatapan matanya yang sedih terbentuk sejak Red datang melintas di depannya bersama dengan Hera.
"Dia tidak melihat ku. Dia selalu melihat gadis itu" kata Sima.
Pacarnya baru saja keluar dari kantin sekolah dengan membawa air mineral dalam botol dan beberapa kudapan yang terbuat dari olahan buah dan sayur segar terbungkus dalam box makanan merah.
Melihat sendiri dengan sangat jelas.
"Tatapan itu hanya untuk Red bukan untukku" kata Sima.
Alasan gadis ini mengatakan ini karena dia sering melihatnya sendiri ketika secara sembunyi sembunyi Jimmy melakukan hal itu sejak pertama mereka berdua jadian hingga sekarang.
"Bahkan jika aku marah tentang ini. Dia tidak akan peduli" kata Sima.
"Dan secara tidak langsung mengancam untuk putus" kata Sima.
Gadis ini tidak jadi menghampiri pacarnya yang sedang butuh air minum setelah latihan olahraga.
Dia pergi ke kelas dan tak mau datang kepada Jimmy.
"Dia pacar mu kan" kata teman latihan Jimmy disebelah kanannya.
Sima dari arah kantin sekolah melewati Jimmy tanpa rasa apapun ia dan keberadaannya saat itu juga.
Jimmy tidak menyangkal atau mengiyakan dia tetap diam saja. Fokusnya masih dengan Red yang makin jauh dan akan naik tangga sekolah menuju kelasnya.
Red sedang menaiki tangga.
"Hatiku sangat sakit" kata Red.
"Hati hati" kata Hera.
Red hampir jatuh dari tangga namun akhirnya ia bisa selamat setelah ia memegang dinding pegangan tangga yang ada disisi kirinya.
Sima berjalan dengan cepat menaiki anak tangga mendahului Red yang sedang ada berdiri di anak tangga bersembunyi dari rasa sakitnya.
Menembus raga Hera. Sima.
Energi merah muncul di tubuh gadis itu terlihat seperti bara api berjalan melewati Red disana bersama dengan Hera.
"Dia bahkan tidak melihat ke arah mu" kata Hera.
"Aku tidak tahu sejak dulu ia membenci ku" kata Red didalam hati tanpa Bling bisa mendengarnya berbicara hal ini.
"Ramuan obat itu bekerja lagi" kata Red.
Red perlahan menguatkan dirinya agar bisa sampai ke tempat ia tuju.
Dia seperti biasanya masuk kedalam kelas. Melihat kearah Sima yang juga melihat ke arah Red.
Itu tidak bertahan lama. Dia mengalihkan matanya lagi ke arah lain selain Red.
Red semakin dekat dengan kursinya dan kemudian dia duduk disana.
Diam merasakan atmosfer kelas.
Dia juga melihat ke arah Sima dengan makanan dan makanan diatas mejanya.
Sima tak menghiraukan teman teman satu kelasnya mengajak bicara. Dia disana dengan dirinya sendiri itulah yang ia inginkan.
"Red!" kata Jamie.
Teriakan gadis itu langsung terdengar seisi kelas.
"Opss!" kata Jamie.
Dia suka berteriak tapi ketika semua orang memperhatikan dia akan kabur.
Sekarang ia melakukan hal itu kabur dari kelas Red setelah memanggil teman satu asrama dengannya.
Sima terlihat sedikit terusik dengan apa yang diterima oleh Red mendapat teman yang asik seperti Jamie. Dia memang terkenal dengan sifatnya seperti itu oleh seluruh anak seangkatan mereka.
"Jamie sedang menjaga perasaan Sami" kata Bling.
"Kau benar" kata Red.
Red tak melihat ke arah gadis di kursi disebelah kanan ia duduk sekarang. Dia bisa merasakan energi yang Sima rasakan tubuhnya terlihat mengeluarkan energi merah menyala.
"Aku melihatnya lagi" kata Hera.
"Ku rasa aku terlalu sombong kepada temanku" kata Red.
"Maksudmu?" tanya Bling.
"Kita juga tahu siapa dia sebenarnya. Bisakah kita lebih adil padanya?" tanya Red.
Sima sedang berbicara tentang dirinya sendiri didalam hati.
"Kenapa aku bisa menyukai laki laki seperti Jimmy?" tanya Sima.
Jun sedang menerima panggilan dari Pamannya lagi di belakang ruang latihan olahraga tadi.
"Kenapa kau terus memaksa ku?" tanya Jun.
"Susah sekali membujuk mu" kata Bob.
"Aku bukan karyawan mu" kata Jun.
"Kau keponakanku. Kata kata mu seakan akan aku sangat jahat saja" kata Bob.
"Makanya jangan menyuruhku untuk melakukan itu" kata Jun.
"Kau hanya diajak sukses saja susahnya minta ampun" kata Bob.
Ternyata disaat Jun sedang menerima telepon dari Pamannya ada Jimmy disana ditempat yang sama namun dia tidak melihat Jun juga ada disana.
Jun tak menghiraukan segala ucapan dari Pamannya itu yang terus menasehati keponakannya itu.
"Iya sayang kita ketemu di sana" kata Jimmy.
Jun mendengar dari nada suara itu bukanlah dari suara Sima. Itu jauh berbeda.
"Bagaimana kau mau ikut sore ini?" tanya Bob.
"Iya" kata Jun.
__ADS_1
Tanpa sadar dia mengatakan itu.
Pembicaraan berakhir secara sepihak oleh Bob.