Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 90: Cinta Butuh Ilmu.


__ADS_3

Chapter 90: Cinta Butuh Ilmu.


"Ini apa?" tanya Red.


"Ini album yang kau suka" kata Wren.


"Sungguh. Kau membuatku ingin menangis" kata Red.


Remaja perempuan ini terlihat dengan mata berkaca kaca didepan Wren.


"Aku juga punya souvenir ini" kata Wren.


Wren juga memberikan souvenir couple yang di peruntukan untuk para penggemar dari idola mereka yang sama.


Ketika dewa langit datang bahkan Sang Panglima Perang dan Pangeran dari timur tidak bisa menggoyahkan posisi Wren saat ini.


Red dan Wren sedang ada di koridor sekolah.


"Lihat aku langsung memakainya" kata Red.


Sebuah gelang tipe affirmation berwarna rose diberikan oleh Wren kepada Red dihadapan Jun juga Jimmy.


Sima menggenggam tangan pacarnya yang terlihat marah tapi semua telah terhenti ketika melihat siapa yang ada bersama dengan Red. Dia adalah Wren.


Wajah putih lembut dan senyum tulus tanpa niat apapun Wren berikan kepada Red.


"Terimakasih" kata Red.


Red amat suka dengan gelang pemberian dari temannya.


"Oh ya dimana gelang yang satunya?" tanya Red.


Wren memeriksa tasnya lalu ia mengeluarkan gelang yang Red maksud itu.


"Ini" kata Wren.


Red mengambil gelang yang ada di tangan Wren lalu memakainnya di tangan Wren.


Sebuah gelang tipe identification berwarna silver.


"Aku kira ini tidak cocok untukku" kata Wren.


Good melihat pacarnya Bee terlihat antusias dengan pemandangan perjalanan pulang yang ada didepan mereka.


"Kau punya waktu setelah pulang sekolah?" tanya Good.


"Ada apa setelah pulang sekolah?" tanya Bee.


"Arah pembicaraan mu sedikit agak mencurigakan?" tanya Good.


"Jangan bertengkar di momen ini" kata Bee.


Good menarik pergelangan tangan pacarnya.


"Sebentar kita harus bicara" kata Good.


Good membiarkan teman temannya pergi lebih awal dari mereka berdua.


"Berhenti disini!" kata Good.


"Kau menakuti ku" kata Bee.


"Tidak. Aku tidak akan berbuat jahat" kata Good.


"Lalu apa?" tanya Bee.


"Tunggu sebentar. Aku punya kejutan untuk mu" kata Good.


Good melihat ke arah teman temannya yang semakin menjauh dari jarak mereka berdua saling berhadapan satu sama lain.


"Minggir!" kata Jamie lewat menerobos mereka.


Tanpa minta maaf dia pergi begitu saja meninggalkan Bee dan Good.


"Sudah jangan dipedulikan" kata Good.


"Lalu apa?" tanya Bee.


"Kamu mau bicara apa?" tanya Bee.


Mereka berdua telah tertinggal jauh dari teman temannya.


Good berbicara didepan Bee.


"Aku tidak punya hadiah apapun" kata Good.


"Terserah kamu saja . Aku mau pulang sekarang" kata Bee.


Good mengejar Bee yang berjalan lebih awal.


"Setidaknya aku bisa mencegah dia selalu mengkritik hal apapun tanpa ia pikir itu benar atau salah" kata Good.


"Good cepat!" kata Bee.


"Siap!" kata Good.


Untuk Red dan Wren.


"Aku pulang dulu" kata Red.


Red pergi dengan Jamie lebih tepatnya dia ditarik paksa oleh teman satu asrama tanpa memberikan celah siapapun akan mengantarnya pulang.


Ben berencana akan memberikan banyak pertanyaan untuk dewa langit.


Di area parkir sekolah.


"Berapa kali kamu ikut kursus?" tanya Ben.


Dewa langit dengan tatapan karismatik kepada Ben.


"Iya. Aku sangat sibuk. Aku tidak akan mengganggunya. Tapi, ... " kata Red.


"Tapi?" tanya Ben.


"Bukankah tidak terjadi apa apa. Aku hanya memberikan album yang ku beli kepadanya" kata Wren.


"Hari ini. Besok?" tanya Ben.


"Aku masih sadar dan aku bukan sedang buang buang waktu" kata Wren.


Jawaban yang Wren berikan dari pertanyaan yang Ben ajukan membuat orang orang di area parkir sekolah menjadi terdiam.


"Sudahlah. Apakah kita akan berkelahi gara gara wanita?" tanya Wren.


"Benar. Karena aku tak ingin sahabat ku sedih" kata Ben.


Ben pergi lebih dulu meninggalkan mereka di area parkir.


"Cepat pergi. Kau akan terlambat pergi ke les tambahan mu" kata Jun.


Jimmy menggandeng tangan pacarnya yang terlihat seperti pacar tapi hanya sebagai kenalan korban dari sebuah keisengan keduanya.

__ADS_1


"Kau tidak ingin pulang?" tanya Jimmy.


"Baiklah. Aku akan pulang" kata Jimmy.


Sima pergi keluar dari mobil Jimmy tidak ikut pulang bersama dengan pacarnya itu.


Jimmy pergi dijemput oleh Radan.


Jika menghitung tingkat kemesraan diantara mereka berdua maka kesimpulannya adalah tidak ada tidak pernah terjadi dari awal jadian sampai sekarang.


Sima lebih memilih tidak masuk kedalam mobil dan pulang bersama dengan pacarnya karena dia tahu bahwa Jimmy sedang sangat marah akibat kejadian tadi kejadian disaat Wren menjadi akrab secara tidak diduga meski dari awal dia pernah melihat keduanya pulang bersama di suatu waktu. Ia tidak menganggap akan lebih signifikan dalam pergerakan yang Wren ambil untuk lebih dekat dengan Red.


"Sial!" kata Jimmy.


Dia menaruh tasnya didalam mobil dengan agak jengkel.


Radan melihat ke arah Jimmy dengan sebuah senyum kepuasan.


"Kita pergi kemana sore ini?" tanya Radan.


"Kita pergi ke pusat les siswa sekolah menengah atas" kata Jimmy.


"Ok" kata Radan.


Radan mengantar Jimmy ke tempat untuk siswa dan siswi sma bisa mendapatkan les tambahan demi menunjang nilai akademis mereka.


"Kau bisa pulang setelah mengantarku" kata Jimmy.


Jimmy tak mendengar dari bodyguard pribadinya memberikan jawaban kepada Jimmy.


Jimmy memperhatikan bodyguard pribadinya sedang terlihat bahagia meski ekspresi tak menunjukkan hal itu.


"Kau sedang jatuh cinta?" tanya Jimmy.


"Apa peduli mu?" tanya Radan.


Jimmy mengumpat didalam hati kepada Radan.


"$#&%#!!!!!" kata Jimmy.


"Tempat yang kau maksud adalah tempat les yang sama dengan Wren kan?" tanya Radan.


"Kau memang tahu segalanya" kata Jimmy.


"Kita akan pergi kesana" kata Radan.


Radan melajukan mobil dengan cepat menuju tempat les yang Jimmy ingin pergi mendaftar disana.


Jun mengendarai motor sendiri.


Sepulang sekolah melanjutkan pekerjaannya yang tidak ingin ia tinggalkan.


Jun disana sendirian menuju kafe Kak Rose yang ada di dekat pantai.


"Kau tidak ikut les sama seperti Jimmy?" tanya Doe.


"Aku. Aku sudah pintar" kata Jun.


"Aku tahu kau pernah juara nasional matematika tapi cinta butuh ilmu" kata Doe.


"Iya. Iya aku akan lebih giat belajar" kata Jun.


"Tapi sekarang, aku akan giat bekerja dulu" kata Jun.


Jun melanjutkan perjalanan menuju tempat kerjanya.


Banyak pesan muncul di ponsel milik Jun yang ia simpan didalam saku jaket jeans biru miliknya.


Ben mendapatkan pesan begitu juga dengan Red.


"Apa ini?" tanya Red.


"Apa aku dapat awan emas lagi?" tanya Red.


Beda lagi dengan tanggapan yang diberikan oleh Ben mengenai kabar baik yang ia dapat ketika sedang memakan steam fish buatan ibunya.


"Ini bukan penipuan kan?" tanya Ben.


"Apa mungkin talent mereka salah memasukkan nama?" tanya Ben lagi.


"Aku hanya coba coba tapi memang ini termasuk harapanku" kata Ben.


Ibu Ben datang memberikan nasi lagi.


"Di dapur masih banyak makanan. Kenapa kau tidak makan lagi?" tanya Ibunya Ben.


"Mah" kata Ben memanggil.


Ibunya Ben duduk di kursi bagian kiri anaknya.


"Kenapa sih Mama selalu baik sama aku?" tanya Ben.


"Kata siapa setiap hari Mamah selalu mengomel. Kamu tidak ingat?" tanya Ibunya Ben.


"Iya sih" kata Ben.


"Kau ingin memuji atau ngajak bertengkar" kata Ayahnya Ben.


Ayahnya Ben sedang menonton televisi setelah selesai mengecek semua usaha tempat gym yang ia dirikan sejak masih muda.


"Jika aku sayang Ayah. Apa semua tempat gym itu untuk ku?" tanya Ben.


"Apa kau ingin mengajak berkelahi Ayah mu sendiri?" tanya Ayahnya Ben.


Dia sedang makan buah apel.


"Aku hanya tanya tidak boleh" kata Ben.


"Sudah. Habiskan makanan mu" kata Ibunya Ben.


Jun telah mendapatkan pesan yang sama seperti yang diterima oleh Red dan Ben di jauh jauh hari tapi dia tidak membalas ataupun mengangkat panggilan telepon dari orang yang sering berbuat usil kepada saudaranya itu.


"Kenapa susah sekali menghubungi mu?" tanya seseorang itu.


"Kenapa kau selalu mengganggu ku?" tanya Jun.


"Kau tidak mau. Aku akan memaksa" kata seseorang itu.


Pembicaraan mereka berdua berakhir.


"Ada apa dengan orang ini?" tanya Jun.


Jun juga sedikit mengeluarkan kata lebih keras disaat orang orang juga ada disana di tempat istirahat para karyawan.


Jun sedang membuat satu gelas susu hangat.


"Kalian marah karena dia dekat dengan orang lain. Mengapa harus Wren?" tanya Hera.


Hera dengan gaun kuning dan sepatu hitam berdiri di sisi kiri pintu dapur.


"Tidak bisa jawab. Berarti dia bisa di katakan perfect untuk seorang gadis" kata Hera.

__ADS_1


"Karena dia memang terlahir sempurna bukan hanya wajah dan harta serta baik saja. Dia sudah memiliki lebih dari itu" kata Jun.


"Dia seperti langit biru yang damai bukan?" tanya Hera.


"Dan dia sedikit akan membuat luka bagi wanita atau bahkan tidak" kata Jun.


"Dia ada di level seperti itu" kata Hera.


"Berarti dia satu level dengan Ran?" tanya Hera.


"Benar" kata Jun.


"Dia sudah dapat kunci emas rupanya" kata Hera.


"Aku sedih tak ada yang memihak ku" kata Jun.


"Menangislah maka aku akan pergi" kata Hera.


"Jadilah seperti Ben. Dia tidak mengharap apapun, dia hanya ingin menjadi teman yang selalu ingin melindungi temannya sendiri" kata Hera.


Hari ini di pukul setengah delapan pagi di luar sekitar stadion umum.


Flow yang berlari ke titik awal ia berlari bertemu dengan orang yang sudah berteriak kepadanya dengan setelan navy dan sepatu sport putih. Dia menghampiri Flow.


"Aku belum terlambat kan?" tanya Radan.


Flow tetap menghindar dari pria yang ada di hadapannya sekarang.


Gerimis datang.


Hatinya terdiam dan penuh banyak pertanyaan untuk Radan.


"Dia bahkan tidak pergi" kata Flow.


Gerimis masih terjadi.


Hati Flow berbicara.


"Sudah berapa lama. Aku menjauh dari mu?" tanya Flow.


"Apa kita perlu sakit agar bisa saling bertemu?" tanya Flow.


Radan dengan senyum hangat masih ada tergambar di bola matanya.


"Ini hujan" kata Flow.


Dia pergi berlari bersama dengan Radan mencari tempat berteduh.


"Kepala mu basah" kata Radan.


"Biar aku sendiri" kata Flow.


Flow mengambil tisu dari tangan Radan yang digunakan untuk mengusap rambut Flow yang basah terkena hujan.


Hujan turun deras.


Berteduh.


Berteduh diantara banyak orang disana juga di pagi yang mendung hari ini. Awan bertambah berkumpul menghitam diatas langit mereka tak bisa terhindarkan memang sedang hujan lebat.


"Bagaimana cara agar dibenci oleh pria?" tanya Flow.


"Kau ingin siapa yang akan membencimu?" tanya Radan.


"Kau" kata Flow.


Suara hening terdengar hanya hujan yang jatuh ke tanah dari langit.


Orang orang yang ada disana mulai melipir menjauh dari sisi kanan dan kiri mereka perlahan dengan langkah kaki mereka yang tak berpura pura saat itu juga.


Radan tertawa kecil dengan senyum yang tertinggal.


"Kamu menginginkan itu padahal kau tidak ingin melakukannya?" tanya Radan.


"Aku menyukai mu" kata Flow.


Radan kembali terdiam dengan ungkapan perasaan yang Flow katakan pada laki laki yang ada di sebelah kanan dirinya yang sedang berteduh.


"Bagaimana jika aku juga menyukai mu?" tanya Radan.


"Maka bencilah aku" kata Flow.


"Kau pasti bisa?" tanya Flow.


"Jika kita bisa bersama. Kenapa harus saling membenci?" tanya Ran.


"Jangan kejar aku" kata Flow.


Hujan masih sangat deras dan Flow berjalan pergi dari dekat Radan tak peduli hujan sangat deras.


Flow terlihat basah kuyup terkena hujan.


Dia ingin segera pergi menjauh dari Radan karena dia tak ingin semua yang ia lakukan hanya untuk kepuasan dirinya sendiri.


"Raga ini bukan milik ku" kata Flow.


"Aku bukan Uri tapi aku Flow" kata Uri.


"Kenapa kau tidak bisa diajak bicara lagi. Flow kau mendengar ku?" tanya Uri.


Radan yang telah ditinggalkan oleh orang yang sama untuk yang kedua kalinya. Sedih.


Itu yang dirasakan olehnya.


Bagaimana perasaan yang harus ia tunjukan untuk orang itu. Dia sedang berusaha agar dia tidak membuat perasaan baru kepada orang lain yang menjadi tempat tinggal arwah pacarnya yang terjebak di raga Flow.


Radan melihat Flow yang semakin jauh pergi dari sisinya.


"Dia terlihat sangat menderita" kata Radan.


"Dia bahkan tak ingin dekat dengan diriku lagi" kata Radan.


"Uri. Aku merindukan mu" kata Radan.


"Ketika aku tersadar itu bukan kamu. Di waktu itu aku membuat batas agar kita tak bisa bersama" kata Radan.


Ekspresi wajah tidak beremosi dingin sekali ia tunjukan tak ada rasa belas kasih ataupun sedih.


Dia memang seorang Radan yang banyak orang kenal gambaran yang ia ciptakan sebagai karakter sifat yang ia miliki dan orang menganggap ini benar benar karakter yang ia miliki.


Hujan belum benar benar berhenti. Namun, bertambah deras.


Flow sudah tiba dirumah dia sedang duduk di meja studi kamarnya melihat sebuah nama muncul kembali di buku catatan miliknya sendiri.


"Kenapa harus namaku lagi muncul kali ini?" tanya Flow.


Dia melihat raga Flow yang kembali sedikit demi sedikit menghilang. Ya benar, dia bisa melihat itu lagi setelah sekian lama tak ia alami lagi.


Raga Flow kembali muncul lagi setelah beberapa detik berlalu hilang tak terlihat oleh panca indera.


Air mata mengalir dari mata kiri Flow disaat Uri menatap wajah Flow di cermin kamar.

__ADS_1


"Apakah akan berakhir seperti ini?" tanya Uri.


"Aku tahu langit sedang melihat dan mendengar mu" kata Uri.


__ADS_2