
Chapter 144: Menghilang dan tidak pergi.
"Jun kau mendengarku?" tanya Ran.
Ran memiliki firasat buruk dengan diamnya Jun.
"Jangan diam jawab, Bro!" kata Ran.
Jun tak merespon panggilan dari Ran benar benar kilauan kristal memantul ke bawah menuju energi yang menjadi perisai Ran saat ini.
Ran melihat ke atas langit.
"Sedang apa dia disana?" tanya Ran.
Dia melihat Jun sedang mengaktifkan energi kristal memecah raganya menyebar ke segala arah.
"Dia ingin lenyap di tempat ini" kata Ran.
Di langit yang gelap muncul sebuah cahaya seperti menuliskan sebuah nama dan disana terdapat nama mereka berdua terbentuk kristal kristal milik Jun kemudian menyatu kembali dan dia bergerak datang dengan tangan lebih awal terbentuk.
Kriatal kriatal itu terlihat sekuat tenaga untuk menyatu kembali menjadi raga Jun dengan tarikan berbagai arah mencegah Jun bisa kembali ke bentuk aslinya.
Mata Jun sudah mulai terlihat.
Dia mengambil semua energi Ran dengan kedua matanya yang menatap Ran detik itu juga dimensi itu mulai runtuh. Ran juga makin menghilang dengan serpihan serpihan energi yang menghilang perlahan dengan raganya disana.
Jun dengan setengah sadar dengan apa yang sedang ia perbuat akan mengakibatkan hal fatal yang bisa menghabisi nyawa mereka berdua.
Jun menarik segala energi milik Ran lalu menarik tangan Ran untuk ikut bersama pergi dari dimensi itu yang semakin runtuh.
Suara suara itu mereka dengar lagi diatas sana dalam hening malam dengan bangunan bangunan tinggi reruntuhan itu ikut mengikuti mereka berdua.
Jun belum terbentuk masih menjadi kristal kristal yang menyebar diatas langit sedangkan Ran juga menjadi angin biru di antara kristal kristal yang berada menyebar bersama menyatu dengan udara.
Suara klakson klakson mobil mobil dan kendaraan lain terdengar dari atas langit tidak bisa menyatu lagi atau mereka bisa kembali atau bahkan itu memang takdir mereka.
Hech yang sedang ada disebelah Jimmy telah menuliskan nama mereka dengan pulpen yang tadi ia gunakan untuk bermain menggores dengan ujung tajam melukis nama mereka dengan sayatan pisau tajam berbentuk pulpen.
Jimmy membuka mata setelah bermeditasi barusan.
"Ini alasan kenapa kakak menghilang selama satu tahun ini" kata Jimmy.
"Aku juga bisa menuliskan namamu di telapak tanganku" kata Hech.
"Aku lanjut bermeditasi lagi" kata Jimmy.
Buku yang ada didalam tas Sima menyala biru dengan tulisan nama Jun dan Ran yang semakin menghilang.
Hech hanya bertugas menyelamatakan mereka di dunia misterius itu selebihnya mereka berdua harus mencari cara agar bisa pulih dengan sendirinya.
Belum ada agen agen lain yang datang semua dilarang mendekat kepada mereka jika mereka lakukan hal yang dilarang ini maka mereka akan lenyap baik itu seorang hantu atau manusia yang berkecimpung dalam bidang ini.
Seorang remaja dengan air soda dalam kaleng yang sedang ia minum sendirian dibelakang rumah.
Duduk disana dengan satu kaki diatas bangku.
"Kenapa hari ini banyak sekali bintang dilangit?" tanya remaja itu.
Dia terlihat dengan baju tanpa lengan dan celana jeans pendek dan sandal karet putih bagian untuk telapak kaki dan hijau sebagai tali.
Marid yang belum tidur melihat ke atas langit.
"Kenapa aku tiba tiba nangis?" tanya Marid.
Menghapus air mata.
"Tidur. Begadang terus!" kata ibunya Marid.
Pintu belakang rumah terbuka dam Marid lebih asik di pekarangan belakang rumah yang dibuat sengaja seperti lapangan futsal.
Dia bermain futsal sendirian.
"Kapan aku harus putus dengannya?" tanya Marid pada dirinya sendiri.
Marid menendang bolanya ke gawang.
"Kenapa harus putus?" tanya Marid pada dirinya lagi.
"Dia sangat menyukaiku" kata Marid.
"Lalu, apa yang salah" kata Marid.
Marid menendang bola kesana kemari.
Dia bersemangat sekali bermain bola.
"Kurasa aku bukan orang yang dia cari" kata Marid
Marid menendang lagi bola ke gawang.
"Yes. Berhasil!" kata Marid.
Marid mengambil bola dari gawang lalu bola itu di taruh di sebelah kanannya.
Duduk disebelah kiri bola dengan kedua tangan di atas lutut bertumpu melihat ke arah langit lagi.
"Dia akan dapat lebih dari aku" kata Marid.
"Bocah ini bergaya sok dewasa" kata Marid pada diri sendiri.
"Kamu masih anak anak cuma bisa main" kata Marid.
Marid tiba tiba saja menjadi diam.
Lebih fokus dengan apa yang jatuh dari atas langit.
Dia memeriksa apa yang baru saja jatuh dari atas langit.
Dia menyentuh gumpalan benda terlihat seperti gumpalan yang biasa ia lihat ketika ia sedang mendonorkan darah.
"Darah" kata Marid.
Kedua kalinya ia menyentuh darah itu.
Darah itu pecah.
Dia menyusup dan menyerap darah Marid seketika dia melepaskan darah itu yang kembali menjadi bentuk semula dari ujung jari Marid.
Marid diam lagi.
Memperhatikan sekitar.
"Tidak mungkin" kata Marid.
"Ini bukan dimensi itu" kata Marid.
Jatuh lagi potongan potongan daging yang jatuh hancur seketika diatas tanah.
__ADS_1
Marid mulai merasa cemas melihat kearah langit perlahan.
Dia menghindar.
Satu raga utuh seorang hantu jatuh dari batas langit benar benar dalam kondisi yang hampir hancur.
"Tidak" kata Marid.
"Tidak" kata Marid.
Hening lagi.
"Sungguh aku mencemaskan kalian berdua" kata Marid.
Marid berkedip lagi.
Marid lebih hening lagi.
"Jangan bercanda!" teriak Marid.
Suaranya keras terdengar di malam yang sudah tengah malam ini.
Semua tampak seperti semula tak ada apapun disana di lapangan futsal belakang rumah.
"Halusinasi lagi. Ok" kata Marid.
"Tapi, tunggu!" kata Marid.
Mengalir darah tepat mengenai dahi remaja ini.
Seakan akan hidup mulai mengikis kulit di dahi remaja ini.
"Aaaaaaaaaa!"
Teriak Marid.
Dia melepas kaosnya lalu darah.
Mengunggu dua detik segera setelah detik selanjutnya kaosnya langsung terbakar akibat terkena darah dari dahinya.
Benar benar semua terlihat baik baik saja tak ada suara apapun selain nafas Marid dan detak jantungnya yang tidak stabil berdetak.
"Jika ini nyata aku tidak mungkin masuk ke rumah bisa bahaya satu keluarga" kata Marid.
Suara gerimis.
"Ini beneran gerimis" kata Marid.
Marid sedang merasakan sesuatu.
Sesuatu yang perih menyusup di dahinya kemudian angin datang memberikan rasa dingin di luka yang ada di dahinya.
Dia tidak tahu bahwa air hujan ini bercampur dengan kekuatan Jun yang dominan hujan sedangkan untuk Ran yang dominan angin biru seperti yang sedang menyembuhkan dahi Marid terluka akibat terkena jatuhnya darah yang tepat mengenai Marid.
Berkedip lagi.
"Samima!" kata Marid.
Dia melihat pacarnya bersama dua asisten pribadinya datang menyapa.
Dia dengan jaket tebal hitam dan rok hitam semi kulit panjang dengan belahan samping kanan dari diatas lutut kebawah.
"Jangan peluk aku!" kata Marid.
Marid masih dalam syok.
Dia tidak yakin bahwa orang yang ada didepannya sekarang adalah benar benar pacarnya.
"Why?" tanya Samima.
"Aku Samima pacar Marid" kata Samima.
Marid melihat dengan lebih teliti.
"Kenapa kau cantik sekali. Aku sampai tidak bisa mengenalimu" kata Marid.
Pacarnya maju satu langkah.
Marid mundur satu langkah.
"Ada apa lagi?" tanya Samima.
"Sedang apa malam malam datang?" tanya Marid.
"Justru kamu sedang apa malam malam begini sendirian disini?" tanya Samima balik.
"Kau stalking aku?" tanya Marid.
Samima menunjuk ke arah rumah disebelah rumah Marid.
"Tidak. Lokasi syuting film tepat disebelah rumahmu" kata Samima.
"Kamu artis?" tanya Marid.
"Aku memang artis. Gimana kamu" kata Samima.
Pacarnya sudah berhasil Marid ledek berhasil sedari tadi sejak awal datang. Marid menengokke arah kedua asisten Samima yang melihat mereka berdua sedang mengobrol.
"Pacarku artis rupanya" kata Marid.
Dari arah belakang Samima entah siapa yang sedang bergerak cepat mengejar gadis ini menjadikan sebagai target seseorang selanjutnya.
Sesuatu terjadi meleset dari arahnya menargetkan Samima sebagai target acak mereka. Dia bergeser ke kiri tiba tiba mengikuti arah Marid geser ke samping kanan menatap Marid.
"Sayang pakai ini" kata Samima.
Samima melepas jaket tebal yang ia pakai untuk Marid.
Kedua asisten pribadi Samima tertawa keras melihatnya.
"Sayang" kata Marid.
"Bukankah ini kebalik. Seharusnya aku yang memberikan jaket untuk mu buka kamu" kata Marid.
"Tapi, kamu nggak pakai baju" kata Samima.
Samima terlihat akan menangis.
"Sudah. Jangan nangis" kata Marid.
Marid jadi tidak tega bilang kalau dia ingin putus saja dengan pacarnya ini.
"Kamu sedang break syuting" kata Marid.
"Iya. Tadi, mau cari makanan. Tapi, pas keluar ada kamu jadi nggak jadi" kata Samima.
Mata Marid berkedip lagi.
Tempat masih sama di belakang rumah Marid tapi dimana kedua asisten pribadi pacarnya itu. Mobil juga masih ada dan Samima juga masih dengan ponsel memesan makanan untuk makan malam.
"Sayang. Kamu mau makan apa?" tanya Samima.
__ADS_1
"Jangan bicara sebentar" kata Marid.
Ketukan layar ponsel Samima terdengar di hening malam.
Jatuh ke tanah menjadi dua bagian didepan mata kedua remaja ini. Ada darah di batas ponsel itu terbagi dengan bau daging busuk yang amat menyengat.
Samima akan berteriak lalu Marid langsung menutup mulut pacarnya.
Lima detik kemudian gadis ini mulai tenang.
Samima menggenggam erat tangan Marid jantungnya mulai bedetak cepat. Ketakuatan.
Hujan datang dengan sangat deras.
Marid melepas jaket yang ia pakai dari pacarnya mengenakannya kepada Samima lagi.
"Sayang kulitmu berdarah" kata Samima.
Air hujan itu datang membeku dan jatuh menusuk pori pori kulit Marid.
Marid berpikir mengapa ia tidak menyadari hal ini tapi berpikir lagi ini tidak mungkin tidak terasa sakit dengan pengalaman sebelumnya ia mendapatkan luka yang hampir sama dengan luka luka yang ia dapat saat ini.
"Apa mereka ada disekitar tempat ini?" tanya Marid.
Mulai menyadari bahwa kedua sahabatnya ada disekitarnya.
"Bagaimana caranya aku bisa menolong mereka?" tanya Marid.
Mengedipkan mata lagi.
Marid menunggu perubahan selanjutnya yang akan terlihat.
Kulit Marid terlihat lebih banyak lagi sayatan darinya akibat terkena air hujan yang jatuh kepadanya.
"Izinkan aku menolong kedua anak itu" kata Jimmy.
"Mereka akan baik baik saja" kata Hech.
"Kau akan hilang langsung menjadi debu" kata Hech.
"Ran sudah tahu bahwa akan menjadi seperti ini" kata Jimmy.
"Benar. Dia temannya juga sama" kata Hech.
"Tujuan mereka datang kesana untuk menghancurkan dimensi itu" kata Jimmy.
"Kau memang tahu kapan bisa terlihat cerdas" kata Hech.
"Bagaimana dengan Sima?" tanya Jimmy.
"Bagaimana dengan mu?" tanya Hech.
"Kenapa arah pembicaraan kita jadi sedih begini?" tanya Jimmy.
"Siapa yang mulai?" tanya Hech.
Seperti bekas sebuah gigitan dari binatang pengerat itu yang terjadi oleh kedua remaja ini darimana mereka berasal dan siapa mereka yang sedang bersembunyi memgambil bagian dari raga Samima dan Marid.
Suara binatang pengerat datang lagi.
Hilang.
Hujan berhenti.
Hening lagi.
Mata Marid berkedip lagi melihat di sekitarnya sudah penuh dengan hantu hantu dengan mulut rusak.
Hantu yang sama ketika menyerang Jun dan Ran.
"Sayang. Aku tidak ingin mati sekarang" kata Marid.
Dia ketakutan bukan sebuah akting tapi dia benar benar sedang ketakutan.
Berkedip lagi mata Marid.
"Kemana mereka pergi?" tanya Samima.
"Entahlah. Aku harap mereka musnah dari bumi ini" kata Marid.
"Bukan temanmu kan?"
"Ya" kata Good.
Mereka diam saja dalam satu kali tatapan mata disetiap mata mereka melihat mata target mereka tanpa disadari oleh target mereka sudah itu berarti seperti yang terjadi kepada Samima dan Marid saat ini.
Tangan Samima yang sudah mengalami robek ada dibeberapa bagian memegang tangan Marid seperti rasa nyeri luar biasa yang hampir menyeluruh di bagian tangan kakinya juga sulit untuk berjalan dengan luka seperti itu.
Beberapa bagian tangan dan kaki Samima sudah menjadi korban mereka darah masih terus mengalir sedangkan untuk Marid jauh lebih parah karena sejak tadi melihat ke segala arah berbeda dengan Samima lebih banyak melihat Marid.
Darah keluar dari kepala Marid mengenai pipi pacarnya sebelah kanan dan menyusl lagi bagian telinga Samima yang terluka berdarah.
Dia datang lagi tanpa wujud dengan meninggalkan luka baru di wajah Marid dan kepala lagi bagian belakang.
Mereka akan terjatuh ketika kedua tumit mereka juga mengalami luka yang hampir sama.
Marid melangkah lagi berjalan ke kanan bersama dengan Samima.
Tiga luka lagi ia dapat di bagain punggung dan perut mereka.
Melangkah lagi ke bagian kiri.
Sudah pasti ditambah lagi lima luka menyobek wajah dan leher mereka.
"Sayang. Bertahanlah" kata Marid.
Suasana makin horor dengan darah mereka sendiri sampai menyentuh tanah menetes masih terlihat lebih parahnya lagi tanpa mereka duga luka luka itu membusuk dengan sendirinya.
Marid berharap dalam kedipan kali ini semua bisa kembali seperti semula.
Marid berkedip lagi.
Benar semua berubah seperti semula.
Marid tidak ingin kehilangan kesempatan ini segera dia menarik Samima untuk berlari masuk kedalam mobil.
"Sayang. Ini apa?" tanya Samima.
"Ayo kita lari akan aku ceritakan nanti" kata Marid.
Berlari cepat mereka berusaha mendekati mobil dengan pintu mobil yang belum terbuka.
Jaraknya sekitar dua puluh meter dari mulai mereka berlari.
Marid membuka pintu mobil bagian belakang kemudi lalu Samima masuk kedalam mobil.
Marid mengedipkan mata lagi.
Dia langsung menutup pintu mobil.
Semua kembali dengan luka yang mereka dapat dan mereka datang kembali dengan sikap serta wajah yang sama mendekat menyerang Marid.
__ADS_1