
Chapter 101: Mulai curiga.
"Kenapa?" tanya Bling.
"Kenapa aku tak merasakan apa yang orang lain rasakan?" tanya Bling.
Tubuh pengganti milik Red sudah kembali ke raga Red.
Dia melihat foto kakaknya di ponsel milik Red.
Memandang dan mencari sesuatu yang ia anggap telah hilang.
Terus menebak.
Mencari jawaban dari segala pertanyaan ini.
Dia bercermin memandang wajah Red memandang kedua bola mata yang terlihat seperti mata bulan yang tak menunjukkan rasa itu.
"Pernahkah kau bertanya tentang ini?" tanya Bling.
"Tentang apa?" tanya Red.
"Entahlah. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan" kata Bling.
"Orang orang akan mengatakan bahwa aku bodoh dengan hal ini" kata Red.
"Apa ini salah satu yang kau sembunyikan dariku?" tanya Bling.
Red tidak mau menjawab pertanyaan dari hantu ini.
Pemilik raga itu tetap tak berekspresi apapun dengan situasi ini.
Dia kembali duduk di tempat tidur asrama dengan selimut hitam miliknya.
Tempat tidur milik Jamie masih disana pemiliknya belum juga datang hingga waktu sudah masuk malam.
Lampu kamar dinyalakan oleh Red.
Suasana kamar itu sama dengan apa yang dirasakan oleh gadis yang ada disana dengan ponsel yang terus berdering dan dia enggan mengangkat panggilan dari orang orang itu. Dia hanya memandang sesekali dan dia mengacuhkan kembali orang orang itu.
"Mereka siapa sejak tadi menghubungi nomor ponsel mu?" tanya Bling.
"Seseorang siapanya siapa" kata Red.
Dari luar kamar asrama.
Asrama itu tidak terlihat oleh siapapun yang ada disana baik itu Jamie dia tak bisa melihat bahwa ada sebuah kamar disana tak ada yang ia temukan.
"Aku akan kembali ke rumah dan tinggal disana" kata Jamie.
Jamie pergi dengan tas sekolah ransel hitamnya pergi dari lingkungan asrama.
Jamie berusaha menghubungi ponsel Red tapi tidak ia angkat.
Dia mencoba menghubungi seseorang lagi.
"Red ada bersama dengan mu?" tanya Jamie.
"Tidak. Aku kira dia bersama denganmu" kata Ben.
Obrolan dengan Ben gadis itu langsung memutusnya secara sepihak.
"Jamie" kata Ben.
"Jamie" kata Ben.
Ben melihat layar ponselnya.
"Ternyata dia masih menyimpan nomor ponsel ku" kata Ben.
Jun datang duduk minum sebentar setelah latihan bela diri bersama dengan Wren.
"Kau tidak mendapatkan kabar apapun tentang Red?" tanya Ben.
"Tidak" kata Jun.
Jun mengambil ponselnya yang ada didalam tas sekolahnya.
Dia memeriksa ponsel.
Wren datang duduk mengambil air mineral hangat yang ada di dispenser milik Ben.
"Tak ada pesan atau panggilan dari Red" kata Jun.
Jun mencoba untuk menghubungi nomor ponsel Red.
"Nomor yang Anda panggil sedang di luar jangkauan ... "
Itu yang terdengar dari dalam ponsel Jun.
Wren sedang mengecek akun sosial media milik Red.
Dia agak terkejut dengan ekspresi tetap cool disaat membaca sesuatu yang ia lihat dari dalam ponselnya.
"Lihat ini!" kata Wren.
Marid dari setelah latihan tinju datang melihat ini dan langsung mengambil ponsel milik Wren.
"Ini Red!" kata Marid.
"Bersama dengan Jimmy tidak mungkin!" kata Marid.
Ponsel itu diambil oleh Jun dan semua melihat apa yang dikatakan oleh Marid barusan.
"Kau mau apa?!" tanya Wren.
"Pergi kesana" kata Wren.
"Itu sudah menjadi pilihan gadis itu" kata Ben.
Ben menarik keluar Jun yang masih menggunakan seragam bela diri hitam.
Dia menarik keluar didepan tempat gym.
Ben menahan Jun untuk tidak tetap pergi.
"Kau mau apa?!" kata Ben.
"Mencegah gadis itu menghilang" kata Jun.
"Hatimu baik sekali" kata Ben.
"Kau?!" kata Jun.
"Yang terpenting dia tidak menghilang disaat bersama dengan Jimmy" kata Ben.
"Kau mata mata yang dikirim oleh orang yang gadis itu sayang?" tanya Jun.
"Ya. Benar, akulah orangnya" kata Ben.
"Lalu kau mau apa?" tanya Ben.
"Kau akan hancur. Asal kau tahu jika kau hancur, kau tidak bisa kembali!" kata Ben.
"Darimana kau tahu itu semua?" tanya Jun.
"Apa aku harus jelaskan?" tanya Ben kepada Jun.
Marid dan Wren datang akan memisahkan keduanya karena terlihat dari dalam ruang masuk tempat gym akan berkelahi.
"Kita pergi datangi mereka!" kata Wren.
Wren pergi lebih dulu diruang ganti mengganti pakaian seragam latihan bela diri hitam yang ia pakai saat ini.
__ADS_1
Pukul setengah tujuh malam di sebuah taman hiburan.
Di sebuah taman hiburan dekat kota mereka berdua Red dan Jimmy ada disana sedang menaiki roller coaster berteriak histeris dengan gembira menikmati wahana itu.
Dari bawah Sima baru saja datang ke tempat hiburan tersebut mencari seseorang yang telah membuat janji dengannya.
"Aku suka jika dia terus menunggu ku" kata Sima.
Wajah lucunya terlihat dia sudah mulai lebih lagi menyukai Jimmy.
Sima menunggu Jimmy yang belum juga terlihat.
"Dia pergi kemana dia bilang aku harus menunggu disini" kata Sima.
Dia menunggu disekitar wahana roller coaster dan dia belum juga datang.
Roller coaster masih sedang berjalan dibelakang gadis itu.
Sammy dengan gaun hitam dan sepatu sport hitam serta tas tali panjang merah.
Sima menghentikan langkah Sammy.
"Lagi. Sikapmu selalu begini!" kata Sammy.
Sammy menghempaskan tangan kanan Sima yang menggenggam sangat erat tangan teman satu kelasnya.
"Kau ... !" kata Sima.
"Kenapa. Kau tidak terima!" kata Sammy.
Sammy menghadap ke arah Sima yang ada didepan roller coaster yang sedang melaju didepan kedua gadis ini.
Sammy melihat Jimmy sedang bersama dengan Red.
Dia pasti terkejut tapi itu hanya sedikit.
Hatinya hening tanpa suara melihat hal ini dan nada suara itu datang.
"Akhirnya, dia bisa bersama gadis itu" kata Sammy.
Sammy menatap wajah temannya dengan mata memelas merasa kasihan padanya pada Sima.
"Berhenti mencintai seseorang yang tidak mencintaimu" kata Sammy.
Sammy pergi meninggalkan Sima.
Dua langkah ia pergi namun gadis yang dikatakan sebagai pacar Jimmy menarik lengannya lagi.
"Ada sesuatu yang aku tidak tahu?" tanya Sima.
"Dia selalu menyukai gadis itu" kata Sammy.
Sammy pergi dengan wajah tersenyum seperti seseorang yang sudah melepaskan dunia itu dunia disaat masih bersama dengan Jimmy mantan kekasihnya.
Sima melepas tangan kanan Sammy.
Dia pergi tanpa menoleh ke arah Sima lagi.
Dari arah belakang ada Red dan Jimmy diantara orang orang yang baru saja menaiki wahana roller coaster muncul.
Sima mendengar suara dari Jimmy yang ia dengar dari arah belakangnya.
Dia berbalik.
Mulutnya terkunci seketika itu melihat kedua orang yang tidak ia sangka akan bersama.
Mereka berdua melewati gadis ini dengan tawa ceria dan tak menghiraukan bahwa ada Sima disana.
"Ini maksud dari perkataan gadis itu" kata Sima.
Yang ia maksud adalah Sammy mantan kekasih dari Jimmy.
Dia tak berbalik melihat keduanya disana dia masih menatap roller coaster yang sedang bergerak cepat membawa para penumpang yang penuh keceriaan tertawa melintas didepan gadis ini.
Dia sedih dan ia pergi dengan langkah kaki pelan melewati orang orang yang ada disana.
Sesekali ia melihat ke arah lampu lampu yang menyala di biang lala yang berputar di sana yang berjarak sekitar dua ratus meter dari arah ia berjalan menuju pintu keluar yang juga pintu masuk wahana permainan.
"Itu alasan mereka putus" kata Sima.
"Dia masih seperti itu" kata Sima.
"Aku sangat bodoh padahal aku sudah tahu bahwa dia memang seperti itu" kata Sima.
"Dan aku masih berharap dia akan berubah" kata Sima.
"Nyatanya tidak. Tidak akan pernah" kata Sima.
Gadis ini memang sedang terlihat sedih tapi dia masih sadar bahwa detik ini ia harus bersembunyi dari orang orang yang terlihat tidak asing olehnya.
"Kau sudah melihat mereka?" tanya Ben.
"Belum" kata Jun.
Mereka melewati Sima yang sedang sembunyi dari mereka mencegah banyak pertanyaan yang mungkin saja diajukan untuk gadis ini.
Mereka terlihat mulai berpencar untuk mencari seseorang.
Terlihat serius oleh Sima melihat situasi ini.
Sima masih bersembunyi di tempat pembelian es krim otomatis diantara anak anak dan orang orang yang sedang mengantri untuk membeli es krim.
Merasa telah aman kemudian dia keluar dari tempat persembunyian saat ini.
"Kakak tidak ingin membeli es krim?" tanya seorang anak yang menjadi bagian dari persembunyian.
Sima pergi tanpa menjawab pertanyaan dari anak kecil itu.
Berjalan tenang menuju pintu keluar wahana permainan itu.
"Mungkin tidak mencari remaja itu tapi mereka bersahabat" kata Sima.
"Seharusnya aku tadi beli es krim itu" kata Sima.
"Nanti aku beli mesinnya sekalian yang sama persis dengan tadi" kata Sima.
Energi yang muncul dari dalam raga Sima semakin tinggi level yang terlihat oleh Wayne yang juga ada disana.
Dia dengan kamera antik yang ia bawa mengikuti gadis itu semakin langkahnya ia percepat mengejar gadis itu dari arah barat.
"Hampir saja!" kata Wayne.
Sima menatap wajah cute milik remaja ini.
Dia menangkap gadis itu setelah hampir saja jatuh dengan tubuh yang tiba tiba tanpa ia sadari membuatnya jatuh begitu saja.
"Sudahlah ini bukan adegan drama" kata Wayne.
Dia membantu Sima bisa berdiri lagi sebelum ia hampir jatuh barusan.
"Kau?" tanya Sima.
"Ya. Aku teman pacar mu" kata Wayne.
"Kenapa. Heran kenapa aku juga tampan" kata Wayne.
Dia kembali lagi dengan kamera antik berwarna silver dengan dominan hitam miliknya.
Sima berjalan beriringan dengan Wayne.
Dia belum membuka obrolan dengan Wayne.
"Mau ku antar pulang?" tanya Wayne.
__ADS_1
"Kau masih diam?" tanya Wayne.
"Maukah kau menjadi tempat kembali disaat aku sedih?" tanya Sima.
Wayne berhenti sejenak dari langkahnya.
Sima satu langkah ada didepan Wayne kemudian berhenti dan berbalik ke arah gadis ini.
"Tidak mau?" tanya Sima.
Wayne memandang wajah gadis yang ada di depannya.
"Sungguh?" tanya Wayne.
"Sungguh" kata Sima.
Wayne berjalan ke arah gadis ini lalu ia menatap wajah gadis ini lebih dekat.
Tatapan lembut dan senyum tanpa bumbu ia tunjukkan kepada Sima.
Sima sedikit canggung dengan situasi ini.
"Aku hanya ingin mengantar mu bukan menjadi pacar cadangan mu" kata Wayne.
Dia kembali menjauh dari menatap wajah Sima dan berjalan lagi mendahului gadis itu.
"Ternyata dia tidak bodoh" kata Sima.
"Aku dengar itu!" kata Wayne.
"Kau tidak mau pulang!" kata Wayne.
Sima mengejar Wayne.
Wayne melihat satu sisi lain dari pacar sahabatnya itu.
Dia menatap senyum itu senyum yang biasa ia tunjukkan kepada Jimmy.
"Jangan tersenyum seperti itu!" kata Wayne.
Sima langsung terhenti dari senyum yang ia perlihatkan.
Sudah di area parkir wahana permainan di dekat jalan raya.
"Kau mau diantar olehku?" tanya Wayne.
"Ya" kata Sima.
Wayne hanya mengambil helm dan bergerak pergi menuju Sima yang sedang menunggu didepan area parkir.
"Dimana motor mu?" tanya Sima.
"Masih disana" kata Wayne.
"Kita tidak pulang?" tanya Sima.
Wayne mengambil waktu untuk melihat Sima yang sedang melihatnya tanpa rasa curiga sama sekali.
"Apakah kita akan pulang bersama?" tanya Wayne.
"Tadi kau bilang seperti itu" kata Sima.
"Aku tahu kau gadis yang pintar. Jadi, kau bisa pulang sendiri kan?" tanya Wayne.
Sima seketika berubah suasana hatinya dalam waktu Wayne selesai mengatakan kalimat yang keluar dari mulutnya.
Senyum sinis ia berikan kepada remaja laki laki yang dikatakan sebagai sahabat pacarnya.
Sima pergi dari sana dan Wayne melihat pacar sahabatnya pergi meninggalkan dia dengan helm yang masih ia bawa ditangan kanan.
"Sorry" kata Wayne.
Gadis itu menumpuk segala amarahnya dalam segala isi raga serasa ingin meledak disaat itu juga.
Pergi ke depan jalan raya menunggu taksi.
"Aku lupa dia dan sahabatnya sudah pasti sama" kata Sima.
Dua menit menunggu taksi akhirnya dia mendapatkan sebuah taksi.
Wayne masih disana ditempat terakhir mereka berdua berpisah melihat Sima sampai mendapatkan sebuah taksi.
Sima pergi dengan taksi.
Wayne melihat itu.
"Aku harus cepat pergi jangan sampai aku menyukai gadis itu" kata Wayne.
Dia kembali ke area parkir wahana permainan untuk mengambil motornya.
Wayne pergi dari tempat wahana permainan tersebut.
Mereka berempat masih mencari dimana keberadaan kedua teman mereka.
Sebuah bayangan akibat sinar lampu terlihat dari arah lain sedang mengeluarkan senjata panjang bisa dikatakan sebagai sebuah pedang keluar dari lengan pemilik bayangan itu.
Dia bergerak pelan menuju Jimmy.
Terus melangkah tanpa ragu.
Suasana tidak jauh dari orang orang yang berkunjung di wahana permainan tersebut.
Dia mendekat ke arah Jimmy terlihat ia sedang fokus untuk mengarahkan senjata miliknya kepada Jimmy.
Leher Jimmy menjadi incaran bayangan itu.
Dia duduk di sebuah bangku panjang sedang menunggu Red.
Ben datang tiba tiba saja disana.
Bayangan itu langsung menghilang seperti asap putih.
"Kau sendirian disini?" tanya Ben.
Jimmy tidak menjawab pertanyaan dari temannya itu.
Dia akan meninggalkan Ben.
"Hey anak orang kaya!" kata Ben.
Jimmy berbalik menoleh ke arah Ben.
"Kau siapa?!" kata Jimmy.
Tiga puluh detik berlalu dan Jun juga datang.
"Kau siapa?!" kata Jun.
"Dimana gadis itu?" tanya Jun.
Pemilik bayangan itu sudah ada di tangga lantai kedua rumah toko dibelakang Jimmy sekarang berdiri.
Dia tertawa kecil melihat Jimmy.
Jimmy melihat ke arahnya lalu dia menghilang dengan cepat menjadi asap.
Jimmy mendapat panggilan telepon dari Red.
"Aku tadi bertemu dengan keluargaku jadi aku tiba tiba harus segera pulang. Sorry" kata Red.
"Kalian dengar" kata Jimmy.
Dia mengaktifkan speaker dari dalam ponsel ketika mendapatkan sebuah panggilan telepon dan itu adalah Red.
__ADS_1