
Chapter 52: Darling
"Kau tidak tahu apa yang ingin kukatakan padamu" kata hantu bergaun hitam.
Hantu ini menatap ke arah luar jendela bus di kursi belakang sebuah bus yang sama dengan Red naiki saat ini.
Red tak menanyakan tentang keberadaan hantu itu yang satu bus dengannya. Dia berpikir setidaknya hantu ada bersama di dekat gadis itu.
"Aku tidak bisa meminjam ragamu. Aku bisa hancur dan tidak bisa membalaskan dendamku" kata Si Hantu bergaun hitam.
Air hujan mengalir di kaca jendela bus udara berubah mendingin seseorang membuka tempat obat yang beberapa puluhan kapsul obat dari satu botol dari dalam tas cantiknya. Kemudian, dia mengambil lagi obat lain dari botol selanjutnya, begitu selanjutnya sampai empat jenis obat yang harus di konsumsi malam ini.
Dia sedang tersiksa karena gangguan halusinasi yang ia derita semakin parah.
Di rumah mewah besar ia sendiri dengan obat obatan yang ia miliki.
Hantu bergaun hitam itu belum datang lagi. Namun, ia merasa selalu merasa ia selalu diikuti oleh sosok gadis itu.
Ia mengalami rasa putus asa kepada siapa Sima meminta pertolongan atau bercerita kepada siapa. Ia mempunyai banyak teman. Namun, jika semua orang tahu tentang ini ia berpikir itu tak perlu karena hal ini memalukan dan orang orang menganggap dirinya gila kemudian akan menjauhi Sima. Dia tidak mau kehilangan circle pertemanannya saat ini, dia belum siap. Apalagi orangtuanya saat ini sudah mengetahui tentang penyakitnya ini mereka tahu dan masih tetap seperti biasa lebih memilih tetap sibuk dengan semua pekerjaan mereka.
Dia tersiksa disetiap detik menit ketika ia sendiri seperti pada saat ini.
Dia dengan obat obatan sebagai penenang dan pemulihan apa yang ia rasakan sebagai penolongnya setiap ia merasakan perasaan itu terutama ketika menjelang malam hari.
Sima tidak bisa tidur dia mendengar seseorang terus memanggil.
"Sima"
Sayup sayup terdengar terbawa oleh angin yang datang di jendela kamar yang belum ia tutup dan itu beberapa kali ia dengar seseorang memanggil namanya.
"Siapa?" tanya Sima.
Pertanyaan ini sering ia tanyakan kepada seseorang yang Sima anggap sedang mengawasinya didalam kamarnya sendiri.
Dan kali ini ada seseorang yang sedang berdiri di pojok kamarnya dengan visual semua serba hitam benar benar hitam.
Sima melihat ke arah pojok kamarnya tanpa bisa berkata apapun mulutnya terkunci. Keringat mulai bermunculan dia juga susah untuk bernapas hampir kehilangan nyawanya. Kemudian, kembali mulai bisa bernapas perlahan lahan kedua paru paru berfungsi dengan stabil.
Jantungnya berhenti sejenak.
Hantu itu muncul lagi kali ini mengambil jarak lebih dekat.
Visual tanpa wajah menghitam seluruh tubuh dan outfit yang ia pakai. Hantu itu lebih bersemangat untuk menganggu Sima kali ini.
Suasana kamar dalam keadaan lampu yang selalu labil menyala dan mati. Tak ada angin yang masuk menyusup kamar Sima, ruangan itu tampak tenang tanpa pergerakan disetiap kain kain tirai ataupun sesuatu yang menggantung didalam kamar Sima.
Lampu menyala lagi dan hantu itu menghilang dari hadapan Sima.
Sima melihat jam dinding di dalam kamarnya berwarna biru laut.
"Sudah jam sembilan malam" kata Sima belum tidur.
Beberapa detik kemudian, Sima mendengar suara teriakan seorang gadis yang mengejutkannya.
"Suara siapa itu?" tanya Sima sambil melihat ke seluruh arah kamar.
"Tidak ada gadis muda disini, selain aku" kata Sima.
Hantu itu datang kembali di hadapan Sima saat itu juga setelah ia berkata seperti itu.
Dan kali ini dia bisa berbicara dengan hantu itu.
Dengan terbata bata namun bisa didengar.
"Kau Dree?" tanya Sima.
"Kau memang pantas mati" kata Sima.
Hantu di depan Sima tidak membalas perkataannya dia tetap disana makin mendekat kepada Sima yang sedang ketakutan tak menerima kehadiran hantu tersebut.
Kemudian, hantu itu menghilang kembali.
Hantu itu benar benar pergi dari kamar Sima yang penuh rasa ketakutan yang belum hilang.
Di atas rumah Sima, hantu tadi yang telah menakuti gadis itu ada disana bergelantungan diatas atap rumah.
Sendiri sedang merenung dan berpikir sendirian.
"Siapa yang dia maksud?" tanya Hantu itu.
"Dree. Dia itu siapa?" tanya Hantu itu lagi.
Hera telah kembali dalam wujud tidak seperti tadi saat menakuti Sima. Dia berganti outfit serba putih blouse dan celana panjang dalam satu setelan serta jaket jeans hitam sebagai pelindung dari datangnya angin di malam hari ini.
Bay datang.
"Aku dari tadi mencarimu ternyata kau disini" kata Bay.
__ADS_1
"Good night, Bay" kata Hera.
"Good night, sister" kata Bay membalas sapaan Hera.
"Ini tempat bermainmu yang baru?" tanya Bay.
"Tidak. Aku hanya numpang istirahat saja" kata Hera.
Good sedang jogging di pagi hari minggu sendirian di sekitar rumahnya.
Dia berhenti setelah satu putaran belum ia selesaikan. Dia melaporkan apa yang ia lihat di depannya kepada pihak kepolisian di sekitar rumah dan dia juga menghubungi rumah sakit agar datang menolong binatang binatang yang ada didepan Good dan Bee.
Ada orang lain yang juga lewat disana dan ia sangat mengenal gadis remaja yang sedang ada dibelakangnya itu.
"Kenapa kau heboh sekali?" tanya Good.
"Apa kau tidak lihat anjing anjing itu" kata Bee.
"Aku ingin berbuat banyak tapi aku bukan dokter hewan. Bagaimana?" tanya Good.
Bee masih histeris menarik kerah Good dari belakang.
"Lepaskan tangan mu. Aku sulit bernapas" kata Good.
Bee tidak melepas tangannya dari kerah baju Good.
"Kau pergi saja dari sini. Kelar kan, biarkan saja aku disini" kata Good.
"Kau benar" kata Bee.
Bee melepas kerah baju Good dengan mudah kemudian pergi begitu saja seperti tak terjadi apapun.
Good terpaku dengan apa yang dilakukan oleh teman satu kelasnya itu yang pergi tanpa ada rasa emosi.
Pemandangan apa ini banyak anjing anjing liar sedang sekarat di jalanan di pagi hari minggu.
Beberapa menit kemudian para petugas dari rumah sakit datang berbarengan dengan pihak kepolisian yang juga datang menolong anjing anjing yang sedang sekarat.
Dinding kamar berwarna peach dengan tempat tidur bergaya minimalis serta seprei dan selimut putih. Lantai keramik putih nampak terang ruangan itu di pagi hari saat tirai mulai dibuka pukul tujuh pagi.
Dia mendapatkan banyak pesan sejak kemarin dari Ben tentang dirinya mengapa dia tidak bekerja lagi ditempat usaha milik Ayahnya dan dia jarang bicara saat di sekolah dan juga kenapa dia sulit diajak untuk bermain lagi. Kenapa dia juga tak lagi terlihat lagi bekerja di restoran seperti hari sebelumnya. Dia tak menjawab pertanyaan itu kepada Ben ataupun yang lain dan ini sudah satu minggu dia seperti ini.
Ran sering datang dirumah Red begitu dengan yang lain. Namun, dia tidak keluar rumah menyambut mereka dengan alasan yang tidak ingin ia jelaskan kepada mereka.
Red seperti ada tapi dia berusaha agar tidak terlalu mencolok.
Nampak manis yang terlihat mungkin yang terlihat dari kejauhan tapi kalau di lihat dari dekat tidak tahu karena keduanya memang saling menutupi perasaan mereka.
Jimmy menitipkan ponselnya kepada Sammy saat ia akan pergi ke toilet sebentar.
"Lihat apa tidak ya?" tanya Sammy.
Dia berpikir dan berpikir ulang untuk tidak membuka isi pesan yang ada di ponsel pacarnya itu.
Akhirnya, dia memutuskan untuk tidak membuka layar ponsel Jimmy. Padahal dari balik toilet pria, Jimmy sedang menunggu reaksi dari Sammy setelah melihat pesan pesan yang ia kirimkan kepada Red beberapa hari yang lalu.
"Ayo cepat buka ponselku" kata Jimmy.
Dan dia menunggu hingga lima menit didalam toilet, Sammy masih belum bereaksi sebagaimana yang direncanakan oleh Jimmy.
Akhirnya, dia menyerah lalu keluar dari toilet umum tersebut setelah tujuh menit didalam sana.
Menjelajahi area wahana taman bermain.
Jimmy menatap wajah manis Sammy yang sedang makan buah stroberi.
"Padahal jika dia membuka ponsel ku. Aku bisa langsung minta putus" kata Jimmy yang ada didepan Sammy sedang makan.
Berpindah tempat cerita.
Di sebuah rumah klasik tempat tinggal dari salah satu teman Jimmy tentunya kisah ini bagian dari cerita pemeran utama.
"Kau lihat Jimmy" kata Ge.
"Ya. Aku kemarin melihatnya dia sedang sedih" kata Beck.
"Sedih. Anak itu bisa sedih juga" kata Neo yang juga ada disana.
"Dengarkan cerita ini" kata Ge serius.
Semua menyimak mendengarkan Ge penuh antusias.
"Selama seminggu ini. Jimmy tidak pernah mendapatkan balasan pesan atau panggilan dari Red. Kalian tahu dia kan" kata Ge.
Neo diam mendengar sepenggal cerita tentang Jimmy dari Ge.
"Apanya yang lucu?" tanya Neo.
__ADS_1
"Meskipun itu tidak lucu bagimu. Tapi, bagiku lucu" kata Ge kepada Neo.
"Bocah ini bisa marah kalau gebetan baru diambil Jimmy" kata Beck kepada Neo.
"Bagaimana kalau kita taruhan. Apakah Jimmy akan mendapatkan Red atau tidak?" tanya Neo.
"Ok" kata Beck.
"Aku percaya Jimmy ditolak" kata Neo.
"Jimmy pasti diterima oleh Red" kata Ge.
"Aku juga ikut Ge. Dia bakalan diterima cewek itu" kata Beck.
"Kali ini pasti aku yang menang" kata Neo percaya diri first-class.
Yang dikatakan oleh Ge benar bahwa dia melihat dan mendengarnya sendiri ketika Jimmy menjadi gila menunggu kabar dari gadis yang ia taksir dalam beberapa hari.
Masih terlalu awal untuk memutuskan untuk pulang sedangkan mereka baru beberapa menit bertemu di wahana permainan kota.
Jimmy sibuk dengan ponselnya.
Sammy ada di sebelahnya duduk didepan salah satu wahana permainan di tempat itu.
Jimmy mau pergi berkencan tapi di datang hanya untuk menyenangkan hati Sammy dan tak banyak bicara seperti dia ada disini tapi pikirannya sendiri ada di tempat lain.
Sammy melihat ke arah Jimmy sambil makan permen lolipop.
Jimmy diam aja main handphone.
Mau bicara jika diajak bicara oleh Sammy itupun jawabnya terlihat jelas dia malas ngobrol sama pacarnya itu.
Gara gara Jimmy bersikap seperti ini, Sammy jadi sadar diri bahwa dia merasa tidak diperlukan sama sekali oleh Jimmy pacarnya.
"Setidaknya ada waktu untukku pergi dari sini menyelamatkan wajahku" kata Sammy.
Sammy pergi meninggalkan Jimmy yang sedang fokus bermain ponsel tanpa pamit.
Udah pergi begitu saja dan Si Jimmy tidak merasa bersalah sama sekali sama pacarnya itu.
Lalu beberapa menit kemudian, dia juga pergi dari tempat itu dengan sikap santai sambil meminum ice coffee dalam cup yang berwarna hitam.
Jimmy mau putus saja pakai buat rencana kalau dia harus terkesan nggak salah sama sekali. Malahan dia cari alasan gimana dia supaya tidak menjadi pihak yang paling jahat dalam setiap hubungan percintaan yang ia jalani bersama para pacarnya itu dan tentu dia selalu ingin menjadi korban dengan melempar masalah kepada orang lain.
Beberapa hari yang lalu sore hari pukul lima sore.
Di pusat perbelanjaan salah satu dalam kota.
"Kau membeli banyak cokelat dan daging" kata Jun kepada Sima.
Sima meminta tolong Jun untuk menemaninya berbelanja dan Jun mengiyakan tanpa rasa curiga apapun pada gadis ini.
"Ya" kata Sima.
"Kau hanya dirumah sendiri dan kamu mau menghabiskan ini semua?" tanya Jun.
"Tidak. Aku akan membaginya dengan para pekerja dirumahku" kata Sima.
Jun berpikir dan berkata, "Dia tidak begitu buruk seperti orang orang ceritakan".
Jun membantu memilih daging daging dan keperluan Sima yang lain.
Selesai berbelanja tak ada sesuatu yang janggal kemudian mereka pergi ke kafe untuk ngopi cantik bareng di dekat pusat perbelanjaan yang tadi didatangi mereka berdua untuk berbelanja.
Dua puluh menit disana dan keduanya akhirnya berpisah.
Jun dengan motornya sedangkan untuk Sima dengan driver pribadinya menjemput Sima untuk langsung pulang kerumah.
Sesampainya dirumah Sima langsung membongkar barang barang belanjaan di dapur mengambil daging daging yang ia beli dan cokelat.
Entah apa yang sedang ia buat dengan kedua bahan mentah itu. Terlihat lezat dan di juga beberapa kali mencicipi hasil masakannya.
Waktu berpindah di malam hari sebelum sorenya Sima berbelanja banyak daging dan cokelat serta mengolahnya menjadi menu makanan siap dimakan.
Sima tak bisa tidur dengan banyak lolongan anjing yang ia dengar didepan rumahnya itu. Meski ia sudah menutup telinganya dengan banyak bantal namun tetap saja dia tidak bisa tertidur di malam hari yang sudah pukul hampir satu pagi.
Kemudian muncul saja sebuah ide didalam pikiran seorang gadis cantik ini.
Dengan wajah berseri meski dalam kondisi hari yang sudah malam. Dia tersenyum dengan ide yang ia temukan itu.
Keberuntungan entah kenapa selalu ada didalam hidupnya dengan segala hal yang ia lakukan setelah ia berhasil memberikan hasil masakannya itu kepada para anjing anjing yang datang didepan rumahnya di pukul dua belas malam memakan hasil olahan masakan Sima menaruhnya didepan pintu dipukul dua belas malam dengan kamera CCTV didepan rumahnya sengaja ia matikan.
Anjing anjing itu datang diwaktu yang sudah Sima kira jam berapa mereka biasanya datang didepan rumahnya.
Dan benar saja mereka datang dan mengambil makanan yang sudah Sima taruh didepan pintu rumah.
Ia tahu bahwa tak ada CCTV didepan rumahnya karena disana hanya ada pekarangan luas milik tetangganya yang belum dibangun sebuah bangunan serta jarak antara tetangga yang lain lumayan cukup jauh. Dia juga sudah menghitung berapa kemampuan jarak yang bisa CCTV yang mereka pasang bisa menjadi celah untuk Sima melakukan perbuatan ini.
__ADS_1