Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 81: Tomorrow?


__ADS_3

Chapter 81: Tomorrow?.


"Kakak tidak bisa jemput. Kakak harus menyelesaikan pekerjaan Kakak" kata Radan.


 Didalam hati Red berbicara.


"Seharusnya aku yang berterimakasih sudah di carikan kamar di asrama sekolah" kata Red.


 Percakapan berlanjut.


"Lalu, kau naik apa ke asrama?" tanya Radan.


"Naik bus" kata Red.


"Kalau begitu hati hati. Kamu jangan tidur terlalu malam" kata Radan.


"Mmm" kata Red.


Percakapan berakhir.


 Red ada didalam bus membawa koper miliknya menuju asrama sekolah.


 Red melihat ke arah luar bus di pukul sembilan malam tampak  beberapa penumpang ada dalam bus datang dan pergi.


 Udara sangat dingin di jam ini.


 Hujan.


 Gadis ini memeluk tas ransel hitam di atas koper miliknya yang berwarna abu abu.


 Di rumah Jax.


"Kau mau pergi kemana?" tanya Jax.


"Aku. Aku akan bekerja" kata Jun.


"Kenapa uang dari kakak selalu kau kembalikan?" tanya Jax.


"Aku masih bisa bekerja. Jadi, jangan mengirimi ku uang terus" kata Jun.


"Bicara mu selalu terus terang" kata Jax.


"Dah!" kata Jun.


 Dia pergi dengan motor tipe dirt menuju ke rumah Ayahnya Ran salah satu tempat untuk ia bekerja sekaligus sebagai tempat ia pulang.


"Rumah kakak mu sangat nyaman. Ayo kita kembali" kata Doe.


"Itu bukan rumahku" kata Jun.


 Jun melaju dengan motornya dengan cepat namun tetap terkendali.


 Dia berpapasan dengan Red disaat sedang berada di lampu merah.


"Kau dimana?" tanya Wayne.


"Aku sedang naik bus. Ada apa?" tanya Red.


"Aku sudah ada didepan rumahmu" kata Wayne.


"Aku tidak disana. Cepat pulang!" kata Red.


 Rumah itu memang adalah rumah milik Red namun ia menyembunyikan hal itu kepada teman temannya selain Sew dan Wayne hingga Sew sekarang telah pergi.


 Wayne pergi dengan motor sport miliknya yang berwarna putih meninggalkan rumah Sew.


"Mengapa perasaanku ku tetap sama atau aku terlalu mendramatisir hidupku" kata Red.


"Oh kenapa aku jadi begini" kata Red.


 Red melihat ke luar jendela sebelah kanan tempat ia duduk di bus sekarang.


 Dia melihat seseorang yang ia tahu itu adalah Jun.


"Oh kenapa aku menangis?" tanya Red.


 Rupanya bukan Red yang menangis tapi Bay yang ada di hati Red.


 Red menghapus air mata yang mengalir di pipinya.


  Lampu penyeberangan berubah warna menjadi menguning. Kendaraan kendaraan mulai melanjutkan tujuan mereka.


 Bus yang di naiki oleh Red juga melakukan hal yang sama seperti alat transportasi lain disaat itu juga.


"Ada apa kau menelepon ku lagi?" tanya Red.


"Apa salahnya menelepon mu lagi" kata Wayne.


"Oh ya. Bagaimana luka di tubuh mu?" tanya Red.


"Aku tidak khawatir. Kau sudah menyembuhkan ku waktu itu" kata Wayne.


"Kau sedang bosan sehingga terus menelepon ku?" tanya Red.


"Aku sangat bosan" kata Wayne.


"Apa pekerjaan mu sangat melelahkan?" tanya Red.


"Tidak. Ini menantang" kata Wayne.


"Baiklah" kata Red.


"Baiklah?" tanya Wayne.


 Red menutup panggilan dari Wayne.


"Halo. Red?" tanya Wayne.


"Dia lelah berbicara denganku. Bukankah, sudah seharusnya" kata Wayne.


 Dia tertawa kecil setelah menerima perlakuan ini dari Red.


 Gadis yang dia ajak bicara didalam ponsel belum sampai di asrama sekolah yang memang memiliki jarak yang cukup jauh dari rumahnya menuju asrama sekolah.


 Red sedang mendengar siaran radio yang di putar oleh driver bus yang bertugas malam ini.


"Ini lagu kesukaan ku" kata Red.


 Sebuah lagu jazz sedang di putar menambah lagi nyawa bus itu.


"Paket" kata seseorang didepan pintu asrama sekolah.


 Datang menemui Good yang sedang mengantar paket makanan di asrama sekolah wanita sekolahnya sendiri.


 Dia memakai masker berwarna hitam dengan setelan hangat orange.


"Ini pesanan ku?" tanya seorang siswi satu sekolah dengan Good.


"Siapa yah, ku rasa aku mengenal mu?" tanya siswi itu.


 Dari kejauhan Red mendengar suara yang tidak asing untuknya.


 Dia bersembunyi sebentar di balik dinding asrama sekolah menghindar bertemu dengan Good.


"Terimakasih" kata Siswi itu.


"Sama sama" kata Good.


"Suaranya manly banget. Benar aku sepertinya kenal suara itu" kata Siswi itu.


 Good selesai menerima uang pembayaran dari salah satu temannya itu. Kemudian, pergi dari sana berjalan kakimelewati Red.


"Dia sudah pergi?" tanya Red.


 Rupanya belum pergi Si Pangeran itu.

__ADS_1


"Dor!" kata Good.


"Oh. Jantungku" kata Red.


"Kau akan tinggal disini?" tanya Good.


"Ya ampun ini sudah setengah sepuluh malam. Kau masih bekerja, luar biasa" kata Red.


"Bukankah kita sama" kata Good.


 Tak saling berbicara selama enam detik.


 Saling melihat satu sama lain.


"Ok. Aku pulang!" kata Good.


"Bye bye" kata Red.


 Good pergi menggunakan motor yang digunakan untuk para karyawan ibunya untuk mengirim pesanan makanan dari restoran milik Ibunya.


 Red datang di kamar asrama yang ia dapat dari rekomendasi Radan.


"Mau apa kau kemari?" tanya salah satu penghuni kamar itu.


 Tempat tidur Red di gunakan oleh siswi lain sebagai tempat penumpukan barang barang mereka.


 Hari sudah semakin malam dia perlu istirahat dan mengerjakan tugas sekolah yang belum selesai.


"Aku harus menemui pengurus asrama disini" kata Red.


 Setelah berdiskusi selama beberapa menit dengan ibu pengurus asrama akhirnya Red mendapatkan satu kamar yang benar benar tak di pakai oleh siswi didalam asrama.


"Ini kuncinya" kata ibu pengurus asrama.


"Terimakasih" kata Red.


 Red ada di depan kamar itu.


 Terdiam sejenak melihat situasi di sekitarnya.


 Pintu kamar ia buka.


"Kamu ternyata penghuni kamar ini" kata Red.


 Red membawa masuk kopernya kedalam kamar dan menutup dan mengunci kamar itu.


 Kamar sudah rapi dan lampu menyala sejak gadis ini masuk ke dalamnya. Namun, karena seorang hantu ada disana siswi siswi lain tak ada yang berani menjadi penghuni kamar itu.


"Kau terlalu tegas dengan hantu itu" kata Bling.


 Hantu berbaju putih lusuh sudah terikat dengan kekuatan empat anak panah milik Red yang tertancap disisi kanan dan kiri sudut dinding kamar diantara raga hantu itu tanpa menyakiti hantu.


"Lepaskan aku!" kata hantu itu.


 Red mengambil selimut abu abunya lalu melanjutkan tidur setelah selesai mengerjakan tugas sekolahnya barusan.


"Sorry sesama hantu" kata Bling. 


 Red tak bisa tidur sekali.


 Dia mendengar percakapan diantara para siswi lain yang ada di kamar lain yang masih di sekitar asrama tempat ia tinggal sekarang.


"Kamu bisa tahu jawaban ini dari mana. Bisa jelaskan?" tanya seorang siswi lain di berbeda kamar.


"Kamu kenal Good kan. Dia kakak kelas paling ganteng di sekolah tahu" kata Siswi lainnya lagi.


"Tapi lihat pacarnya galak banget" kata yang lainnya lagi.


"Bee memang cantik banget sih" kata yang lain juga.


"Lebih cantik Sima menurut aku" kata yang lain.


"Kamu kerjain sendiri tugas sekolah. Kenapa harus nyontek?" tanya siswi yang lain.


"Kenal dia nggak. Dia yang selalu nempel terus sama Jun, ternyata dia mencuri kalung temannya sendiri di kelas" kata Siswi lainnya.


"Mungkin saja. Dia kan miskin" kata yang lain.


"Heran sama Jun. Mau saja berteman dengan Red cantik pas pasan. Apa yang di banggakan?" tanya siswi yang lain.


 Red terbangun dari tidurnya. Dia duduk di tempat tidur.


"Apa kekuatan ku sedang terganggu?" tanya Red.


"Kau sudah tahu itu sejak kemarin" kata Bling.


"Mereka berisik sekali" kata Red.


 


 Hantu yang diikat oleh Red melirik ke arah Red.


"Kau yang bernama Red. Asal kau tahu saja, mereka selalu membicarakan mu setiap hari" kata hantu itu.


 Red melihat ke arah hantu tersebut.


"Bisakah aku mempercayai mu?" tanya Red.


"Ya sudah. Kalau tidak percaya, kau bisa mendengarnya sepanjang malam dan malam berikutnya" kata hantu itu. 


 Pukul dua pagi lebih sepuluh menit.


 Sebuah notifikasi muncul di ponsel Red.


 Red belum membaca pesan itu.


 Dia baru bisa tidur sepuluh menit yang lalu.


 Berdering.


 Benar ponselnya berdering.


"Bocah ini tak bangun juga!" kata si hantu berbaju putih.


 Dia masih dalam tawanan Red.


"Hey. Bangun!" kata Si Hantu.


 Datang seseorang dengan terus memanggil nomor ponsel Red.


"Dia tak mau bangun" kata seorang gadis di depannya sekarang.


 Gadis ini mengambil kotak makanan yang berisi banyak cookies cokelat buatan Flow tadi sore.


 Dia disana dengan bunyi cookies yang tergigit sedikit demi sedikit.


"Apa dia partner baru ku?" tanya gadis itu.


"Ya ampun!" kata Red.


 Dia terkejut dengan kedatangan gadis di depannya.


"Kau pernah melihat ku kan?" tanya gadis itu.


"Ya. Kau Jamie kan?"  tanya Red.


"Hallo senior" kata Jamie.


"Senior. Kita masih seumuran" kata Red.


"Aku akan tinggal disini. Jadi, kau tidak perlu sedih lagi" kata Jamie.


"Kau yang selalu meminta bekerja dengan ku" kata Red.


"Aku ingat itu" kata Jamie.

__ADS_1


"Ada apa jam segini sudah datang?" tanya Red.


 Jamie memberikan laporan tentang situasi tempat yang Red tugaskan kepada Jamie.


 Red melihat hasil laporan melalui ponsel Jamie.


"Aku baru saja melihat mu juga ada disana" kata Jamie.


"Kau melihatku. Sudah pasti, aku tahu kau siapa" kata Red.


"Perlukah kita menolong temanmu?" tanya Jamie.


"Tidak. Kau tidak tidur, ada lingkar hitam di bawah matamu" kata Red.


 Jamie mengambil cermin miliknya dari dalam tas selempang yang ia pakai saat ini.


"Kau benar tapi dia akan baik baik saja?" tanya Jamie.


"Cepat tidurlah" kata Red.


"Pakai selimut disebelah sana. Aku sudah menyiapkan itu untuk mu" kata Red.


"Terima kasih Senior" kata Jamie.


 Jun sedang ada di antara pepohonan tinggi dan rerumputan disekitarnya tak ada siapapun.


 Dia berusaha untuk terbang ke atas mencari jalan keluar dari situasi tersesat di hutan.


 Jun memegang kepalanya yang terasa sakit secara tiba tiba dan itu sering terjadi dalam beberapa menit yang sudah terlewat.


 Pedang yang ia miliki tak bisa ia keluarkan untuk waktu yang sudah pukul jam tiga pagi.


 Red didalam mata terpejam terus memikirkan keadaan Jun sekarang.


"Aku harus pergi" kata Red.


 Tapi kekuatan di dalam tubuhnya telah dikendalikan oleh anak buah Presdir Ma agar tetap didalam asrama sekolah.


 Red berusaha untuk pergi meski itu menggunakan tubuh pengganti tetap saja tidak diizinkan untuk menolong Jun yang sedang membutuhkan pertolongan.


 Ponselnya bergetar dan warna merah menyala terang muncul sebuah nama yang sudah dikirim untuk menolong ke tempat Jun yang sedang membutuhkan pertolongan.


 Tak bicara namun hati dan pikiran mereka berdua saling berbicara.


"Setidaknya aku bisa mati lebih tenang disini" kata Jun.


"Dasar bocah gila" kata Doe.


"Kenapa kekuatan mu tidak bisa muncul?" tanya Doe.


"Kau sudah meninggal. Apa yang kau cemaskan?" tanya Jun. 


"Dengar. Suara itu, mereka akan segera memakan mu" kata Doe.


"Biasanya mereka akan takut dengan hantu" kata Jun.


 Namun permintaan pengiriman agen pertolongan itu di batalkan oleh pihak Presdir Ma dalam beberapa detik.


"Kenapa kau harus takut. Seharusnya, itu aku?" tanya Jun.


 Suara suara binatang buas semakin banyak terdengar ditambah lagi turun gerimis di antara pepohonan.


"Mereka hanya suara tak ada yang datang kepada kita" kata Jun.


"Kau semakin membuat ku takut karena kebohongan mu" kata Doe.


"Besok. Jangan ikut, merepotkan saja" kata Jun.


"Susah bicara dengan remaja ini" kata Doe.


 Setelah sebelumnya Doe tidak mengendalikan tubuh Jun untuk sekarang ia bisa leluasa memanfaatkan kesempatan ini.


"Kau tidak akan membuat ku hilang selamanya kan?" tanya Jun.


 Doe memperhatikan satu kunang kunang yang muncul di hadapan mereka.


 Doe menyentuh kunang kunang itu lalu setelah itu Doe membawa raga Jun pergi dari hutan tadi.


 Didalam kamar asrama sekolah.


"Kau tidak harus melindungi semua orang. Kau juga harus melindungi dirimu sendiri" kata Jamie.


"Kau bicara dengan ku?" tanya Red.


"Ya. Hanya ada kau disini" kata Jamie.


"Kau sedang mengasihani ku?" tanya Red.


"Tidak. Itu berdasarkan dunia ini" kata Jamie.


"Sudahlah. Kita tidur saja" kata Jamie.


"Aku ingin menangis mendengar saran mu" kata Red.


"Boommmmmmmmm!"


 Terdengar ledakan di area asrama siswi sekolah.


 Ledakan itu berasal dari kamar Red dan Jamie yang sampai terdengar sangat keras menyeluruh ke semua area asrama sekolah putri.


 Red dan Jamie cuma bisa terdiam disana melihat seseorang datang.


"Kau benar, kita tidak perlu cemas" kata Red.


"Dia yang bernama Jun kan?" tanya Jamie.


"Kau mau apa?" tanya Jun.


 Jun yang masih dikendalikan oleh Doe langsung pergi berpindah dari sana dalam sekejap.


 Orang orang mendatangi kamar dua remaja siswi ini.


 Pintu kamar di ketuk.


"Red?" tanya seseorang yang menjadi pengurus asrama sekolah wanita.


 Red membuka pintu kamar.


 Banyak siswi siswi ada didepan pintu kamar Red beserta para security datang.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya ibu penjaga asrama sekolah.


"Ibu bisa memeriksanya, silahkan" kata Red.


 Ibu penjaga asrama masuk kedalam kamar Red dan yang terlihat hanyalah barang barang milik Red serta penghuni asrama baru seperti Red dan Jamie yang sedang tidur.


 Dia terbangun.


"Kaget aku!" kata Jamie.


 Jamie turun dari tempat tidur.


"Apa ada sesuatu yang aku lewatkan?" tanya Jamie.


 Ibu asrama memeriksa menyeluruh seisi kamar sampai kedalam kamar mandi dan toilet.


 Ibu penjaga asrama menghampiri Red lagi.


"Maaf telah mengganggu istirahat kalian. Ibu hanya khawatir terjadi apa apa dengan kalian" kata ibu penjaga asrama sekolah.


"Terimakasih sudah perhatian kepada kami" kata Red.


"Oh ya nanti kalau ada apa apa bilang sama ibu. Ok" kata Ibu asrama.


"Siap!" kata Red.

__ADS_1


"Oh ya. Terimakasih kue nya enak" kata ibu asrama.


 Sebelumnya Red memberi sedikit cookies buatan Kak Flow untuk ibu penjaga asrama sebagai oleh oleh.


__ADS_2