Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 49: Apa Aku Boleh Marah?


__ADS_3

Chapter 49: Apa Aku Boleh Marah?.


Ini adalah waktu yang tepat untuk membuat cerita baru.


"Aku hanya mengambil sesuatu di bawah bibirnya. Apa yang salah dengan itu?" tanya Red.


Canggung, belum ada yang bicara.


Bee sibuk menghabiskan makan malam yang ia pesan tadi. Menyimak dalam diam.


"Apa kau menyukai Red?" tanya Sima.


Jun langsung menjawab pertanyaan dari Sima itu.


"Tidak" kata Jun.


Sima mengajukan pertanyaan lagi kepada Jun.


"Lalu, Apa kau menyukai ku?" tanya Sima.


Loading.


"Tidak" kata Jun.


Bee melihat ke arah Sima.


"Dia bukan tipe ku. Kalian jangan khawatir" kata Bee.


Bee masih sibuk dengan makanan yang ada di hadapannya.


Pikiran Ran mulai berkomentar.


"Tema kali ini tentang percintaan?" tanya Ran.


Hati Jun mulai terusik lagi dengan Sima.


"Dia sudah memulai permainan ini denganku" kata Jun.


Ran kembali mengambil garpu dan sendok untuk menghabiskan salad yang ia pesan tadi.


"Bisa kamu perjelas dari semua pertanyaanmu itu?" tanya Red.


Ran mulai memperlambat makannya.


"Dia ditakdirkan menjadi kekasih ku. Jika ada orang yang tidak setuju, itu terserah" kata Ran.


"Kenapa. Sudah jelaskan?" tanya Ran.


Jun mengambil garpu dan sendoknya.


"Ayo kita lanjutkan makan" kata Jun.


Jun tersenyum sedikit terlihat di sudut bibir kirinya kemudian melanjutkan makan malam mereka.


Sima juga melanjutkan makan, bersama yang lainnya juga.


Padahal sebenernya mereka berdua sama sekali belum jadian hanya sebagai sebatas sahabat.


Ben datang menjemput Bee yang sudah selesai makan.


"Aku harus pergi. Kakakku sudah menjemputku" kata Bee.


Ben memberi sapaan tangan kemudian pergi menjemput Bee.


Bee keluar dari restoran dengan Ben.


Ben memberikan helm kepada Bee, lalu ia memakainya.


Bee membonceng Ben untuk sampai dirumah.


Satu menit perjalanan pulang kerumah.


"Kau mau ku antar ke rumah atau kerumah sakit menemui Nenek?" tanya Ben.


"Di rumah sakit sudah ada asisten ku. Aku ingin pulang kerumah saja" kata Bee.


Ben mengambil arah jalan menuju tempat tinggal Bee.


Di restoran.


Mereka disana hampir dua jam untuk makan malam.


Ran masih terus mengawasi hantu bergaun hitam yang wara wiri didalam restoran itu sambil terus menargetkan Jun. Tak segan hantu itu juga ingin melukai orang orang yang berada di sekitar Ran namun akhirnya bisa ia cegah dengan kekuatan pelindung yang ia miliki yang sudah ia pasang sedari awal mereka makan malam disana sampai sekarang.


"Kau bisa antar aku pulang?" tanya Sima.


"Pulang. Bukankah, kau ada mobil?" tanya Jun.


Jun pura pura menjadi seorang malaikat.


"Dia sudah pergi. Driver ku sudah aku suruh pulang tadi, pokoknya kamu antar aku pulang" kata Sima.


Ran sedang meminum jus mentimun sedangkan Red minum air hangat.


"Kalian tidak pulang?" tanya Jun.


"Pulang. Kau mau aku antar ke rumah?" tanya Ran pada Red.


"Tidak. Aku masih ada urusan, kau pulang saja dulu" kata Red.


Red lupa kalau tadi Ran sudah mengaku kalau dia adalah pacarnya.


"Apa kau benar tak mau aku antar?" tanya Ran sekali lagi.


Red mulai sadar dia sedang berpura pura menjadi pacarnya.


"Aku akan pulang sebentar lagi. Kau boleh menunggu ku disini" kata Red pada Ran.

__ADS_1


"Kami akan disini. Kalian pulang saja dulu" kata Ran.


Jun mengambilkan tas milik Sima keduanya bangun dari kursi mereka dan meminta izin untuk pulang.


Mereka semua sudah membayar makan malam kali ini masing masing.


"Kau bisa mengejar Jun" kata Red.


"Maaf Red" kata Ran.


Jun sudah pergi dua satu menit yang lalu dan Ran menyusul Jun dengan hati hati agar tak diketahui oleh Jun ataupun Sima bahwa ia sedang mengikutinya.


Pemilik restoran datang yang juga sekaligus koki di tempat ini. Dia seorang wanita berusia lima puluhan masih memakai baju koki putih dan apron cokelat.


"Keduanya terlihat menyukaimu" kata koki restoran.


"Entahlah. Kami hanya berteman" kata Red.


"Mereka semua terlihat baik" kata koki restoran itu.


Koki itu datang membawa mangkuk berisi es krim stroberi.


"Ambil ini kau suka kan" kata koki restoran.


Red diam memandangnya.


"Lihat semua sedang makan es krim" kata koki restoran.


Restoran sudah hampir tutup dan semua pegawainya menerima es krim yang ia buat sendiri tadi pagi.


"Aku juga akan makan disini" kata koki itu juga.


Red berbicara lirih pada koki tersebut.


"Aku sudah menyelesaikan tugas ku. Besok, aku akan pergi mencari tempat tinggal baru" kata Red.


"Kenapa cepat cepat sekali ingin pergi?" tanya koki tersebut.


"Karena tugasku sudah selesai" kata Red.


"Kau boleh tinggal dirumah itu sampai dapat tempat tinggal baru" kata koki tersebut.


Koki restoran itu mengambil satu amplop berwarna cokelat muda dari sakunya dan memberikan kepada Red.


"Ini apa?" tanya Red.


"Bonus untuk mu. Ambil saja!" kata koki restoran itu.


Red berbisik lagi.


"Kemarin aku sudah mendapat uang ku dan ini apa?" tanya Red.


"Ambil saja. Terima kasih sudah menolong Bibi" kata koki tersebut.


Red tidak mengambil uang dari Bibi itu. Dia menyerahkan kembali uang darinya itu.


"Anak ini memang. Hari sudah malam, kau menginap saja disini" kata koki itu.


"Dan lebih banyak penjahat karena sudah malam" kata koki tersebut.


Koki itu sudah menyediakan sebuah kamar berukuran cukup besar untuk semua para pegawainya yang akan menginap di restorannya setiap hari.


"Gunakan saja rumah itu sampai anakku nanti menikah sebulan lagi" kata koki itu.


"Mengapa begitu banyak malaikat disekitar ku" kata Red.


"Kalau kau begitu tidak jadi ya" kata bibi itu, tertawa kecil.


"Iya. Iya, Bibi baik" kata Red.


Diruang tidur untuk karyawan.


Yang satu dengan bantal dolphin merah muda satunya lagi dengan boneka tiger juga yang satu lagi super besar boneka beruang berwarna cokelat sudah ada di pelukan asisten koki restoran itu dan sudah tertidur lelap disana tak peduli dengan yang lain masih mengobrol meributkan tempat mereka untuk tidur.


Di ruang tempat tidur beberapa karyawan memang sudah siap dengan selimut yang disediakan disana juga dengan yang lain membawa bantal dan selimut sendiri dengan berbagai bentuk.


Apa mereka tak memperdulikan Red atau mempersulit penghuni baru seperti Red, jelas tidak mereka sedang memperdebatkan dimana Red tidur.


"Teman" kata Red.


Mereka masih memperdebatkan hal itu. Tak menghiraukan saat Red mengajak mereka berdamai.


Sudah berakhir, belum.


Akhirnya, Red membawa selimut hitam dari Pemilik restoran yang ia berikan tadi kepadanya, ia berbaring di sebelah wanita asisten koki restoran yang sudah tertidur sejak tadi tanpa sedikitpun terusik oleh mereka semua.


Tujuh karyawan wanita tidur dalam satu kamar yang cukup besar dan herannya mereka tak suka tidur di tempat tidur yang bertingkat disamping mereka semua dan lebih memilih memasang tikar dan memindahkan kasur mereka ke bawah lantai tidak hanya satu atau dua tapi semuanya dan tempat tempat tidur itu digunakan untuk barang barang mereka seperti koper koper besar dan segala keperluan wanita.


"Masa aku tidur diatas tempat tidur sendiri. Sedangkan mereka dibawah" kata Red dalam hati yang tidak tersiksa.


Mereka dan segala macam bantal mereka bercampur dengan selimut dalam tidur yang saling berdampingan damai yang satu ada yang berbeda arah dan ada yang saling mengambil selimut atau bantal di sebelah mereka.


Red mengedipkan mata lagi dan lagi.


"Ternyata aku memiliki banyak teman baik" kata Red.


Asisten koki restoran mendengar apa yang dikatakan oleh Red.


"Cepat tidur. Kau bisa sakit" kata koki itu yang memang lumayan akrab dengan Red sejak awal Red mengenal bosnya.


Keluar dari ruang tidur Red bersama karyawan lain disana diatas restoran yang berada di jalan kota fokus di lihat dari atas. Hantu hantu dengan pakaian putih beterbangan diatas langit ke segala arah yang memang inilah waktu mereka untuk beraktivitas lebih banyak lagi berlalu lalang di langit di pukul sebelas hampir dua belas malam.


Red membuka mata birunya lalu cahaya biru memutih keluar dari restoran itu menembus segala dinding dan menghempaskan hantu hantu disekitar restoran itu yang sedang ditinggali oleh Red.


"Bocah itu sedang apa malam malam begini. Padahal kita tidak mengganggunya" kata salah satu hantu yang terhempas kuat ke tanah akibat kekuatan Red barusan.


"Mungkin lagi bete" kata teman hantu yang satunya lagi yang juga terjatuh ke tanah dengan keras.

__ADS_1


"Tapi lihat kapan dia tidurnya?" tanya Hantu pria pertama.


"Dia memang terkenal jarang tidur. Ayolah bangun!" kata hantu yang kedua.


Ran ada berada jauh dari Red sekarang ada disana di restoran, namun ia bisa merasakan bahwa kekuatan tadi adalah milik Red.


Dia melihat kilatan biru itu di langit di roof top rumahnya.


Dia juga melihat tiga orang yang sedang menonton film diatas rumah, mereka adalah Ben, Good dan Jun yang sudah tertidur di atas sofa panjang hitam dengan film yang masih di putar di malam yang cerah bertabur berbagai cahaya malam ini.


Sudah tersedia juga sofa berwarna hijau gelap ada di roof top rumah Ran. Dia juga tidur disana denga selimut berwarna hitam dan satu bantal krim di kepala dan satu lagi bantal yang dibelikan oleh Red yang berbentuk bintang berwarna biru.


"Uangnya banyak juga" kata Sima.


Dia berhasil mengambil buku tabungan dan ATM milik Red tadi saat masih makan bersama di restoran.


Semua isi rekening Red di sikat habis oleh Sima lalu buku tabungan serta ATM ia bakar di tungku pembakaran di halaman belakang rumahnya.


Semua hasil kerjanya selama beberapa bulan yang berjumlah lumayan cukup untuk biaya hidup selama setahun dengan fasilitas yang bisa ia dapatkan layaknya manusia normal yang lainnya.


Bertambah lagi jumlah nominal di rekening Sima kali ini.


Pagi yang cerah di hari rabu.


Red menyikat gigi setelah mandi tadi, dia bersebelahan dengan asisten koki restoran dan karyawan wanita lain melakukan hal yang sama seperti yang Red lakukan.


"Kau sedang menyikat gigi atau memakan permen. Pasta gigi mu bisa tertelan" kata karyawan lain disebelah kanan Red.


Red mendengar nasihat itu, tapi dia sedang memikirkan segala biaya yang harus ia bayarkan setahun kedepan.


Melihat kaca kamar mandi panjang dengan berbagai peralatan mandi milik karyawan yang bekerja disana.


Red tak tahu harus berkata apa dengan sesuatu hal yang sedang ia alami saat ini.


"Kau tidak tidur tadi malam. Ada lingkar hitam di bawah matamu" kata asisten koki.


Temannya menjawab, lalu bertanya "Aku tak memilikinya".


"Itu aku" kata Red.


Red selesai dengan menggosok giginya lalu pergi ke kamar mereka dan mengambil tas lalu ia pergi ke rumah sebentar untuk mengganti pakaiannya dengan seragam sekolah.


"Kau belum sarapan!" kata koki restoran teriak kepada Red.


Red hanya berkata, " Aku sudah sarapan Bibi".


Red pergi ke perhentian bus menunggu disana berdiri dengan memainkan kaki sebelah kanannya kedepan dan belakang perlahan bergantian.


Red mendapatkan bus lalu ia naik ke dalam bus setelah seorang wanita hamil lebih dulu naik bus di depannya.


Dia duduk di kursi baris kedua menuju rumah.


Bus mulai bergerak, Red ada disana masih terdiam dengan apa yang ia alami. Uang yang ia miliki hanya beberapa lembar yang ada didalam tas kecilnya itu.


Sekarang, Red sudah didepan rumah dia membuka lalu berjalan masuk kedalam halaman rumah.


Didepan pintu rumah ia mengambil kunci dari dalam tasnya lalu memasukan kunci kedalam lubang kunci pintu membukanya pintu ia buka dan mendorongnya ke dalam.


Setelah selesai masuk kedalam rumah dan berganti pakaian seragam sekolah ia langsung mengambil tas sekolahnya keluar rumah lalu mengunci kembali rumah dari pintu depan. Setelah itu ia melewati halaman rumah.


Jimmy ada didepan rumah menunggunya dengan satu helm yang belum ia pakai.


"Dia mau apa dariku?" tanya Red dalam hati saat melihat Jimmy.


Isi pikiran Red bercabang.


"Coba saja lihat Jimmy mau apa dulu" kata Red dalam pikiran.


Lesung pipinya yang manis membuat siapapun akan luluh dengan senyum Jimmy.


"Red" Sapa Jimmy.


"Hai" kata Red melambaikan tangan kepada Jimmy.


Sedikit senyum ramah ia berikan.


Jimmy memberikan helmnya itu pada Red.


Red masih diam disana saat Jimmy memberikan helm.


"Aku akan memakaikan sendiri" kata Jimmy.


Jimmy mengajak Red untuk mengantarnya berangkat ke sekolah.


"Kenapa diam saja?" tanya Jimmy dengan nada suara penuh perhatian.


"Ayo!" kata Jimmy meraih tangan Red.


Red ingin menolak tapi apa dia harus terus terang kepada orang di depannya sekarang.


Jimmy berhasil mengajak Red untuk diantarkan sampai ke sekolah.


Red tak bersikap seperti saat membonceng motor Ran seperti biasanya dia lebih menjaga jarak atau lebih mengarah kearah waspada.


Jimmy tersenyum saat mendapat perlakuan Red saat ini, saat perjalanan menuju sekolah Red.


Red sudah pergi dengan Jimmy sedangkan beberapa menit Ran datang untuk menjemputnya. Dia mulai menghubungi kontak Red.


"Dimana sekarang?" tanya Ran.


Motor melaju dengan kecepatan sedang.


Red mengangkat panggilan telpon dari Ran saat masih bersama dengan Jimmy dalam perjalanan menuju sekolah.


"Aku sedang perjalanan ke sekolah. Maaf membuat mu menunggu" kata Red.


"Tak apa. Pulang sekolah, aku jemput kamu" kata Ran.

__ADS_1


Red melihat wajah Jimmy dari spion motor dari belakang.


"Aku tidak marah kok" kata Jimmy.


__ADS_2