
Chapter 145: Faster and Easier.
Dia melihat momen itu dua boneka beruang saling bermain bersama merah dasi keduanya dengan setelan jas hitam satu boneka beruang laki laki dan gaun merah sebagai pemilik boneka beruang perempuan.
"Kamu harus menyimpan ini dan aku akan menyimpan apa yang menjadi miliku"
Kata kata itu terdengar lagi oleh Marid dalam kedipan mata yang baru saja ia lakukan tanpa kendali yang ia miliki orang yang ada disana juga perlahan menghilang seperti cahaya berbayang menembus terlihat seluruh sekitar tempat ia bersembunyi.
"Dia juga pergi" kata Marid.
Samima pergi dari hadapan Marid.
Hujan hujan itu leluasa jatuh jatuh melukai raga Marid menyayat lagi menyayat lagi dan kini luka itu sungguh benar benar membuatnya terluka lebih terluka.
Ran datang menyusup dari berbagai arah menyembuhkan luka Marid angin biru terlihat dan masuk ke tiap tiap sayatan sayatan luka berubah menghijau menyembuhkan.
Hantu hantu itu pergi lagi dalam kedipan matanya tadi.
"Kemana dia pergi?" tanya Marid.
Dari ruang serba berwarna merah muda disana terbangun seseorang akibat bermimpi buruk yang baru saja ia memimpikannya.
"Apa yang terjadi dengan diriku?" tanya Bee.
"Benarkah ini hanya mimpi?" tanya Bee.
"Aku harus memeriksa kebenaran ini?" tanya Bee.
Dia memakai slipper coklat berbentuk boneka kelinci segera membuka jendela kamarnya melihat ke arah luar.
Menggunakan teropong hitam ia melihat ke arah belakang rumah Marid yang memang mereka bertetangga.
"Sedang apa dia disana malam malam begini?" tanya Bee.
"Kenapa tubuhnya penuh darah?" tanya Bee lagi.
Bee menutup tirai kamar jendelanya lagi jantungnya tiba tiba saja berdetak begitu cepat dia gemetar ketakutan dengan apa yang ia lihat barusan.
"Tidak. Tidak mungkin, itu hanya mimpi" kata Bee masih meyakinkan dia menggunakan logika dalam berpikir.
Mulai ragu.
"Tapi … " kata Bee.
Dia memeriksa lagi dengan teropongnya.
Menutup tirai jendela lagi.
Berkeringat, dia makin gemetar dengan situasi ini.
"Kau mendengarku!" kata Bee.
Menghubungi nomor ponsel Marid.
Darah masih dengan jemari jemari tangan mengambil ponsel yang bergetar dari saku celananya.
"Dia akan jatuh dari atas langit" kata Bee.
"Halo. Kamu bicara apa aku tidak bisa dengar?" tanya Marid.
"Jangan pernah lihat kebelakang!" kata Bee.
Telefon mereka terputus.
Bee berusaha menghubungi Marid lagi.
Dia datang.
Datang di kamar Bee.
Sendiri tanpa siapapun. Dia tanpa ekspresi datang mendekat tanpa berpijak kaki diatas lantai kabut asap tebal dengan perwujudan seperti manusia yang dengan dominan visual kabut tebal.
Logikanya tidak bisa menjawab hal ini meski berusaha keras tetap saja makhluk misterius itu dengan makna dirinya sendiri.
Dia datang mendekat dengan cepat mencekik Bee dengan kejam.
Ponsel Marid sudah bisa terhubung lagi dengan Bee.
Kedua tangan Bee sedang berusaha melepas tangan makhluk misterius itu yang sedang berusaha melenyapkan nyawa Bee sesegera mungkin.
Makhluk misterius itu sedang menyebarkan mantra menggunakan kabut asap sebagai mantra yang sudah menyebar sejak awal ia ada di dalam rumah Bee.
"Prakkkkkkk!"
Bee dilempar keluar lewat jendela kamar yang terbuat dari kaca selebar dua meter dengan tinggi yang sama dia memecah terlempar dipaksa melewati kaca jendela darah muncul dari pecahan kaca yang mengenai bagian raga Bee.
Dia jatuh terlempar jauh keluar.
Melihat ke arah rumah Bee yang tidak jauh dari lapangan Marid sekarang berada.
Marid masih menggunakkan ponselnya menjawab panggilan telefon dari Bee.
Dia melihat seseorang dengan piyama putih mendekat ke arahnya kemudian Marid langsung menyadari sosok putih yang terlihat menuju ke arahnya itu lalu ia berlari dan berusaha menangkap Bee yang baru saja terlempar dari dalam kamarnya sendiri memecah kaca jendela.
Bee membuka mata.
"Marid" kata Bee.
Dia masih bisa tersenyum ketika hal ini terjadi padanya.
"Kau masih bisa mendengarku?" tanya Marid.
Tatapan suara lembut Bee terdengar seperti biasa ia dengar setiap hari.
"Ya" kata Bee.
Marid merasakan sesuatu dingin keluar dari beberapa bagian bagian belakang gadis yang berhasil ia tangkap setelah terlempar barusan.
"Kenapa aku belum mati?" tanya Bee.
"Kau bicara apa kita memang belum mati" kata marid.
Bee sedang berusaha untuk bangkit.
Marid membantunya kemudian dia merasakan rasa sakit dari beberapa bagian tubuhnya yang terasa terkena sesuatu yang tajam menusuk. Dia memeriksa beberapa bagian dari luka luka itu.
"Aaaaaaa!"
Bee berteriak setelah mencabut pecahan kaca yang menusuk punggung bagian kanan.
Marid melihat beberapa kaca yang terlihat jelas masih banyak menancap bagian belakang gadis di depannya itu.
"Aku ingin menolongmu tapi … " kata Marid.
"Tapi?" tanya Bee.
__ADS_1
"Aku takut melanggar undang undang pelecehan seksual" kata Marid.
Teriak Bee lagi.
"Aaaaaaaa!"
Mencabut kaca sepanjang sepuluh sentimeter di punggung bagian kiri.
Marid masih tidak menyangka dengan gadis yang terkenal anggun itu bisa dengan tidak takut sama sekali melakukan hal itu.
Bajunya terlihat banyak darah sudah keluar menyebar ke segala bagian ditambah lagi dengan hujan yang deras meski tidak sederas sebelumnya tapi masih dikatakan deras hujan hujan itu juga melakukan sayatan sayatan luka baru di raga Bee seperti apa yang dialami oleh Marid.
Marid melihat makhluk itu datang lagi akan menendang perut Bee.
Marid lalu menendang perut Makhluk Misterius itu kemudian dia terpental akibat tendangan Marid terpental sejauh sepuluh meter.
Di kembali dari tendangan yang ia dapat dari Marid.
Tangannya berubah membesar lalu memukul Marid dalam satu kali pukulan.
Dia datang menjadi tameng pelindung Marid energi biru itu muncul lagi memukul balik mendorong jauh makhluk misterius itu.
"Bruggggg!"
Dia terpental menabrak pohon pohon cemara di belakang lapangan futsal itu memecahkan diri mengudara.
Energi milik Ran juga ikut menghilang.
Marid terlentang menghadap langit dengan keringat dan darah yang belum berhenti dari segala bagian pori pori raga remaja ini.
Hening.
Bee pergi berlari ke arah Marid membantunya untuk bangun dari atas tanah.
"Kau mengeluarkan banyak darah" kata Bee.
"Aku mulai terbiasa" kata Marid.
"Kau juga mengeluarkan banyak darah" kata Marid.
Dia mengambil serpihan kaca di lengan dan pundak Bee.
"Pegang tanganku dengan erat" kata Marid.
Dia tidak ingin hal itu terjadi pada Bee seperti yang terjadi pada Samima yang entah kemana dia pergi sekarang.
"Kenapa aku harus melakukan hal itu?" tanya Bee.
"Pacarku belum kembali setelah aku berkedip tadi" kata Marid.
"Berkedip?" tanya Bee.
Dia berpikir lagi bahwa itu seperti apa yang barusan ia mimpikan.
"Dia hilang di dalam mobil itu?" tanya Bee menunjuk mobil milik Samima yang terparkir di tepi jalan.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Marid.
"Itu tidak penting yang terpenting dia bisa kembali" kata Bee.
"Kau ingin menjadi orang misterius di saat saat seperti ini" kata Marid.
Marid segera memegang tangan Bee setuju atau tidak dia harus menyutujui hal itu dan dengan sikap yang hanya orang orang terdekatnya yang tahu bahwa Bee menghempas tangan Marid dengan tegas.
Lagi sekali lagi gadis ini berpendapat sendiri tanpa menjelaskan secara detail bagaimana ia bisa mengatakan hal itu kepada Marid.
"Aku tidak mungkin mengatakan bahwa aku melihat ini dari alam mimpi" kata Bee.
Suara terdengar bergetar dari ponsel Marid dari saku celana.
Ben menelepon Marid.
Bee akan menjawab panggilan dari Ben lalu Marid mencegahnya agar Bee tak melakukan hal itu.
"Berikan padaku!" kata Bee.
Sifat keras kepalanya muncul.
"Kau ingin dia mati disini" kata Marid.
"Tidak" kata Bee.
"Ya sudah" kata Marid.
Menjadi alasan untuk orang orang disekitar mereka seperti saat ini menyelamatkan pemilik suara indah itu.
Jarak mereka hampir satu meter berjauhan.
Jejak langkah kaki terdengar.
Seseorang berlari sangat cepat mengarah mendekat ke arah mereka berdua jantung mereka berdetak sangat cepat dan mereka berusaha agar tidak saling menjauh.
Langkah kaki tak berwujud itu menerobos di antara kedua remaja ini.
Darah keluar dari setiap sisi lengan yang dilewati oleh makhluk tak kasat mata itu suara suara langkah kaki semakin samar terdengar jauh semakin itu pula dia kembali menunjukkan wujud aslinya.
Keduanya mengatur nafas.
Makhluk misterius itu dengan kabut seperti api yang berkobar di seluruh bagian tubuhnya berjatuhan cairan berwarna abu abu membakar setiap benda yang mendapat kobaran kobaran bagian tubuhnya hal ini jelas membuat beberapa bagian dari tubuh kedua remaja ini terbakar.
"Tubuhku terbakar tapi hanya sedikit rasa perih yang aku rasakan?" tanya Bee.
"Ini ulah mereka" kata Marid.
"Mereka?" tanya Bee.
"Orang yang kita kenal" kata Marid.
Energi milik Ran terlihat jelas mengelilingi mereka menyembuhkan luka dengan hanya beberapa detik.
Tangan Makhluk misterius itu kembali membesar dalam waktu kurang satu detik.
"Booommmm!"
Marid di hajar terpental jauh sejauh batas pagar besi lapangan futsal ini.
Makhluk itu menatap Bee.
Bee tentu gemetar ketakutan dengan mata tak mudah untuk bersikap tenang.
Berjalan mundur dengan kaki gemetar berbalik arah kemudian ia berlari sekuat tenaga lari dari kejaran makhluk itu yang tak segan mengejar Bee yang sedang benar benar ketakutan.
Dia melihat kendaraan lain yang lewat di depan jalan depan lapangan futsal.
__ADS_1
Berteriak dia keras.
"Tolong!"
"Tolong!"
"Tolong!"
Tak ada yang menengok atau bahkan mendengar teriakan minta tolong gadis ini.
Hujan tiba tiba berhenti.
Bee ditarik terseret oleh makhluk berkabut tebal yang sama dengan rambut panjang kepala yang ditarik di atas rumput lapangan.
"Buggggggg!"
Kemudian, dilempar ke arah berbeda membentur pagar besi lapangan tersebut.
Orang orang yang sedang istirahat setelah syuting film hanya mendengar suara pagar besi yang bergetar seperti biasa ketika terkena angin yang pada saat ini memang angin terasa cukup kencang datang diantara mereka.
Bee jatuh dari ketinggian tiga meter ke bawah tanah.
Mulut mengeluarkan darah dan luka baru terbentuk lagi di bagian tubuhnya yang lain.
Dia teramat kesakitan dengan ini mencoba bangun air mata itu hadir dalam situasi malam ini.
Marid juga masih mengeluarkan banyak darah dari dalam mulutnya sejak di lempar tadi oleh makhluk misterius.
Petir menyambar lapangan itu.
Disaat itulah Marid baru saja berkedip.
Energi milik Ran masih ada disana berada di sekeliling mereka menjalankan tugas.
Sebuah ide eksperimen ia ingin mencobanya lagi dari penemuan yang tidak sengaja barusan.
Energi milik Ran sedang berada tepat di depan matanya lalu ia segera berkedip.
Makhluk misterius itu datang menghampiri Marid dengan kepalan tangan yang makin membesar.
"Mungkin ini detik terakhirku" kata Marid.
Marid berkedip lagi.
Petir menyambar makhluk misterius itu memotong raga makhluk misterius itu dengan seketika.
"Booommm!"
Potongan tangan dari raga Makhluk Misterius itu meledak.
Wajah pasrah keduanya terlihat jelas.
Marid dan Bee menutup wajah mereka dengan lengan mereka.
Di hadapan Marid energi pelindung langsung dari Ran muncul menjadi perisai begitu juga dengan Bee yang berada sepuluh meter dari arah Marid saat ini mendapatkan energi yang sama.
Bercucuran cairan abu abu dari bagian tangan makhluk itu yang terpotong oleh kilatan petir biru barusan menyebar jatuh kebawah membakar rumput lapangan mendapatkan bagian dari makhluk tersebut.
"Dia tidak bisa mengembalikan bagian tubuhnya lagi" kata Marid.
Dia berhenti menyerang Marid lagi kemudian juga melirik ke arah Bee yang baru bisa bangun dari atas rumput lapangan itu juga dengan tertatih tatih ia berusaha bangkit dan dengan darah yang belum berhenti keluar dari dalam mulut.
Udara hening setelah hujan sisa air hujan yang mengalir ke bawah pagar lapangan di belakang Marid jatuh menimpa jemari jemari tangan Marid.
Cahaya biru energi menunjukkan kilatan kilatan petir menjadi perisai Marid.
Marid sedang menunggu hal ini.
Makhluk itu terlihat berjalan mengendap endap mendekat pada Bee.
Tanpa suara.
Rupanya tanpa sebuah tanda rasa sakit yang menjadi kode untuk raga Bee saat ini energi milik Bee terserap makin cepat sejak tadi ia kehilangan tangan kirinya akibat meledak didepan remaja remaja ini.
Sedangkan, kilatan kilatan energi biru milik Ran merasakan hal ini terjadi menimpa kepada Bee tanpa suatu jeda terus mengambil energi gadis itu melalui udara dingin malam ini setelah hujan.
"Darrrrrr!"
Tubuhnya terbelah menjadi dua bagian.
Baru saja Marid berkedip lagi.
Mata melotot bagian kanan melirik ke arah Marid mulut melebar tiba tiba muncul menunjukkan kemarahan dan bagian tubuhnya yang sebelah kiri jatuh tergeletak diatas tanah berumput hijau menyusul kemudian bagian tubuhnya yang sebelah kanan.
Makhluk misterius itu makin menghilang masuk terserap ke tanah berumput.
Bee duduk bersandar di bangku panjang kayu di pagar besi pembatas lapangan sambil memegang erat pagar besi mengambil nafas menstabilkan pernafasan.
Melihat ke arah Marid.
Marid tersenyum kepada Bee dengan darah yang juga belum berhenti dari mulut mereka.
Perisai pelindung milik Ran mulai menghilang lagi.
"Bugggggg!"
Darah keluar dari bagian depan tubuh Marid.
Menyebar ke sekitar pagar pembatas.
Satu pukulan makhluk itu menimpa Marid.
"Aaaaaaaaaaa!"
Teriak Bee.
Marid jatuh tersungkur ke bawah pagar itu dengan luka parah barunya lagi.
Kilatan kilatan energi biru milik Ran semakin jelas memberikan kode kepada Bee yang masih menjadi perisai energi pelindung untuk gadis ini.
Bee tidak melihat bahwa ada energi pelindung yang menjadi perisai untuk raganya saat ini.
Bee bergerak mundur menjauh dari Makhluk Misterius itu yang semakin mendekat.
__ADS_1