
Chapter 54: People And People.
"Selama ini kemana saja?" tanya Red.
Kedua temannya itu sedang memakan jajanan khas kedai di pinggir jalan.
"Kalian juga bisa mencoba ini" kata Ran pada Red dan Jimmy.
"Oh" kata Red.
Red ada diantara mereka berdua sedang melihat keduanya makan bola bola yang berbahan tofu yang di goreng kemudian diberi saus.
"Apa kalian tahu nama makanan ini?" tanya Red.
"Tidak" kata Ran dan Jimmy hampir bersamaan menjawab.
"Besok kita bisa wisata kuliner lagi" kata Red sambil memakan makanan di tangannya.
Jimmy juga menikmati makanan ini malahan anteng banget. Red disana mata berkedip kedip melihat keduanya akur.
"Pelan pelan itu masih panas" kata Red kepada Jimmy.
Ketiga remaja ini membawa satu bungkus berukuran besar di tangan mereka masing masing camilan tadi. Sudah pukul tujuh lebih lima menit setelah berjalan lumayan membuat kaki sejenak untuk olahraga.
Duduk ketiganya di depan jalan diantara kursi kursi yang tersedia untuk para pejalan kaki. Lampu lampu klasik berdiri diantara kursi kursi taman bergaya klasik.
Jalanan tak begitu macet masih aman untuk berkendara mengejar waktu.
"Kenapa mata mu berair?" tanya Jimmy.
"Tidak" kata Red.
"Pasti gara gara kamu" kata Ran.
"Bukan. Kenapa selalu aku?" tanya Jimmy balik kepada Ran.
"Tidak. Bukan karena dia terus" kata Red.
"Maaf gadis ku" kata Jimmy.
"Sudahlah jangan bertengkar" kata Red.
"Kau tidak datang di acara makan malam keluarga mu?" tanya Red kepada Jimmy.
"Lihat dia tahu tentang diriku" kata Jimmy menghadap kearah Ran yang sedang memakan camilan.
"Pamer" kata Ran.
"Kenapa kau tetap disini?" tanya Red.
"Aku sengaja ingin mengganggu kalian" kata Jimmy.
"Teman temanku kenapa menjadi seperti ini Tuhan?" tanya Red pada Tuhan.
"Jimmy jika kau tak ingin pergi. Kau boleh bergabung bersama kami" kata Ran.
"Sejak kapan kita berteman?" tanya Jimmy.
"Ayo kita pergi dari sini" kata Ran menarik tangan kanan Red.
Red akan berdiri terbawa oleh Ran.
Dia kemudian menarik balik tangan Ran yang mencoba membawanya pergi dari sisi Jimmy.
Red duduk kembali di tempat semula.
"Kau juga sama kan. Kenapa tadi menolak ajakan dari kakak mu untuk pergi ke makan malam keluarga mu?" tanya Red.
Jimmy diam lalu tertawa melihat ke arah Ran.
"Kau sama saja dengan ku, duduk saja dengan kami disini" kata Jimmy.
Ran menurut dengan ajakan kedua remaja itu disana diantara para pejalan kaki yang lain yang duduk di kursi kursi di dekat mereka yang berjajar di depan jalan menikmati pemandangan kota di malam hari.
"Besok aku sudah akan pergi ke luar negeri" kata Ran.
Red tertunduk sejenak lalu menaikan arah pandangannya kembali.
Red menghela napas.
"Pergilah" kata Red.
"Bukankah kau masih kelas tiga SMA?" tanya Jimmy.
"Oh ya. Aku dengar kau seorang yang jenius" kata Jimmy.
Ran mengambil kelas percepatan dan sekarang dia sudah mendapatkan beasiswa keluar negeri sesuai dengan fakultas yang ia impikan sejak lama.
"Kau jangan terlalu sedih. Masih ada Jimmy, dia sudah lebih jinak sekarang" kata Ran.
"Jinak?" tanya Jimmy.
"Disana kau akan mendapatkan banyak teman. Aku tidak janji bisa mengunjungi mu" kata Red.
"Dunia tidak akan runtuh hanya jika kalian tidak bertemu" kata Jimmy.
"Kau terlihat sangat senang di situasi ini" kata Ran.
"Ya. Itu benar, saingan ku berkurang satu" kata Jimmy.
"Aku tidak menitipkanmu kepada siapapun. Jagalah dirimu sendiri" kata Ran.
"Aku tahu dan selalu ingat nasihatmu ini" kata Red.
__ADS_1
"Oh ya. Aku tidak tahu selama ini bodyguard ku adalah Kakak mu" kata Jimmy.
"Dia sangat baik untung saja kau tidak dihajar olehnya" kata Ran.
"Itu hampir terjadi" kata Jimmy.
Ran sedang menahan telapak tangan Red yang sedang mengalami pendarahan secara tiba tiba saat itu dengan menyalurkan kekuatannya pada Red agar ia tidak jatuh pingsan saat itu juga.
Red sebenarnya merasa bahwa ada sesuatu yang aneh yang terjadi pada dirinya akhir akhir ini.
Red menatap mata Ran yang sedang menahan rasa sakit akibat menyentuh darah yang ada di telapak tangan Red. Dia menutupinya dengan senyum hangat yang biasa ia tunjukkan kepada sahabatnya itu.
"Benarkah. Aku akan segera datang" kata Jimmy.
Jimmy tiba tiba saja pergi tanpa berkata apapun kepada Red ataupun Ran. Dia pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua.
Jimmy pergi dengan taksi menuju rumah sakit.
Red memuntahkan banyak darah saat itu juga didepan Ran.
Ran kemudian menyeka darah yang keluar dari mulut Red.
"Bertahanlah" kata Ran.
Red kedua matanya berlinang air mata.
"Apa yang terjadi dengan diriku?" tanya Red.
Dia bersandar di pundak Ran sebelah kiri dan air matanya jatuh.
"Ini tak terasa sakit. Tapi, aku tak bisa bergerak" kata Red.
Ran menggendong Red masuk kedalam taksi.
Red kemudian dibawa oleh Ran untuk pergi ke rumah sakit dengan menggunakan taksi.
Ran masih menghapus darah yang ada di bagian mulut sampai dagunya disepanjang perjalanan menuju rumah sakit.
Garis silang biru di punggung Red terus menyala. Dia bertambah lemah dan masih menangis tanpa suara menatap wajah Ran yang juga menatap mata Red.
"Bertahanlah. Aku disini" kata Ran.
Air matanya belum berhenti keluar dari mata Red.
Ran juga tak bisa membohongi perasaannya saat itu juga menangis melihat Red yang sedang sekarat di sisinya.
"Aku melihat Ran saat ini dan aku mulai sedikit percaya bahwa kebahagiaan itu ada" kata Red didalam hati.
"Dengan tingkat keberanianku yang tak seberapa ini. Aku bertanya pada diriku sendiri sampai kapan ia akan bertahan?" tanya Red.
Pandangan mata yang mulai mengabur Red ada ditempat itu. Dia masih mendengar suara Ran yang masih menyemangati Red agar tetap bertahan dalam detik detik ini.
Mengedipkan kedua mata dan dia semakin tak bisa melihat apa yang ada di depannya.
Dia kembali bisa membuka matanya kesadarannya sudah kembali yang ia tahu tak ada rasa sakit apapun.
Tak ada siapapun disaat Red membuka mata selain dia sendiri.
Seorang suster datang menghampiri Red yang baru terbangun.
"Syukurlah. Nona, sudah bangun tadi anda pingsan" kata suster itu.
"Suster. Apa terjadi sesuatu dengan saya?" tanya Red.
"Anda sudah tidak apa apa. Tadi hanya pingsan, kami sudah mengecek kondisi anda sebelumnya" kata Suster tersebut.
"Kapan saya bisa pulang dari rumah sakit?" tanya Red.
"Besok juga anda bisa pulang" kata suster tersebut.
"Bagaimana dengan sekarang?" tanya Red.
"Ini masih pukul sepuluh malam" kata suster itu.
Red memutuskan untuk keluar dari rumah sakit saat itu juga.
Dia tidak bisa mengejar Ran lagi karena sejam yang lalu dia sudah pergi pesannya baru saja ia baca satu jam setelah ia tersadar.
Dia duduk bersandar di kursi lantai pertama rumah sakit di dekat pintu masuk rumah sakit menutup wajah berharap tidak mungkin yang harus ia lakukan adalah melanjutkan hidupnya sendiri dengan baik.
Red terlihat sedih dibalik perasaan yang ia sembunyikan ia harus bersiap jauh dari sahabatnya itu.
Berbagai pikiran rumit ada di benak Red semua belum tertata kembali entah kenapa ia terlalu emosional saat ini.
"Raga temanmu masuk kedalam gadis itu?" tanya Doe.
"Kau bisa melihatnya. Dia juga tak bisa bertahan lama menolong gadis itu" kata Hera.
"Seharusnya dia bisa cepat pulih atau bahkan sebuah kematian tanpa rasa sakit" kata Doe.
"Kita sudah tahu. Itu akibat ramuan berwarna biru itu yang jatuh di tubuh Red kala itu" kata Hera.
"Dia gadis yang dibicarakan banyak hantu itu. Malang sekali takdir hidupnya" kata Doe.
"Hal paling menakutkan di hidup ini adalah menunggu sebuah keajaiban" kata Hera.
"Dia belum tahu tentang hal ini?" tanya Doe.
"Sepertinya iya" kata Hera.
"Bay sudah tahu hal ini kan?" ta Doe.
"Dia bukan hantu tapi manusia. Kau sudah tahu dampaknya jika ia tahu itu" kata Hera.
__ADS_1
"Kalian mengasihani gadis itu" kata Doe.
Gadis itu menangis tertunduk disana sendirian menutup wajahnya.
Jimmy yang tak sengaja melihat Red di kursi yang berjejer disana didepan pintu masuk rumah sakit berjalan kearah Red duduk di kursi sebelah kanan Red.
Red tak bisa berkata apapun dia sedang sangat sedih.
Lalu, bagaimana dengan orang yang ada disebelah kanan Red dia juga terdiam disana harus tetap menerima bahwa sahabatnya telah pergi dan tak bisa seperti dulu lagi.
Ge telah pergi sejak awal waktu Jimmy datang kerumah sakit tadi dan hanya ada dia disana karena pihak keluarga dari Ge akan datang besok pagi untuk membawa jenazah anak mereka.
Satu persatu sahabatnya telah pergi meninggalkan Jimmy sendiri dan dia semakin merasakan kesepian kian perlahan akan memenjarakan dirinya.
Isak tangis Jimmy terdengar oleh Red.
Gadis ini sudah menyeka air mata yang belum berhenti mengalir dari kedua matanya.
"Aku tidak menyangka kau bisa nangis juga" kata Red.
Red dan Jimmy saling melempar tawa kecil.
Yang berbicara dengan Jimmy bukanlah Red melainkan dia adalah Bling atau juga bisa dipanggil Bay sebagai nama aslinya.
Pemilik raga yang asli sedang tidak bisa mengendalikan raganya. Dia hanya bisa melihat apa yang Bling lakukan dengan raga yang ia pinjam seperti waktu dulu pertama kali mengenal Red.
"Aku ingin sedikit lebih bersantai" kata Jimmy.
"Aku bahkan tidak tahu arti dari bersantai" kata Red.
"Aku tahu hidup ini selalu dengan tekanan. Jangan lupa kau juga berhak untuk menghirup udara yang sama dan juga melihat betapa indahnya dunia ini" kata Jimmy.
"Kata kata mu membuat ku tersentuh" kata Red.
"Kau masih sangat muda. Kau masih sangat muda" kata Jimmy.
"Dan aku sadar aku bukan tipe mu" kata Red.
"Itu tergantung dengan diriku saja. Bagaimana aku bisa menerima seseorang" kata Jimmy.
"Aku tidak menyangka bahwa hatimu selembut ini" kata Jimmy.
"Aku selalu merayu wanita dengan cara seperti ini. Itu karena aku melihat bagaimana gadis yang ku dekati atau mendekatiku bercerita tentang kisah mereka dan aku akan menjadi seseorang yang mereka inginkan" kata Jimmy.
"Lalu?" tanya Red.
"Mereka jadi pacarku atau dekat dengan ku" kata Jimmy.
"Ini misalnya, nanti ada seseorang yang benar benar cinta sama kamu. Terus bagaimana?" tanya Red.
"Aku masih muda. Sudah jelas itu semua tak kan bertahan lama" kata Jimmy.
Bling sedang menggunakan kekuatannya untuk membuat orang yang ada di depannya itu bisa berkata jujur.
Kali ini Bling sudah melakukan hal itu dengan berjalan lancar.
Suara pemilik raga yang asli berbicara pada Bling yang masih mengendalikan tubuhnya.
"Hentikan semua pertanyaan privasi mu selanjutnya!" kata Red.
Bling berbicara dalam hati kepada Red.
"Aku hanya ingin membantu mu" kata Bling.
"Apa kau sudah tak waras?" tanya Red berteriak pada Bling.
"Agar kau tidak buta saat bersama dengan Jimmy" kata Bling.
Nama ini sudah hadir kembali didunia Red menyatu bersama entah berapa lama dia bertahan disana tanpa batas waktu yang telah diketahui. Bling juga tak bisa keluar dengan mudah dari raga gadis itu.
Masih dalam ruang luas yang sama di lantai pertama rumah sakit Hera dan Doe belum berhenti mengawasi Red dan Jimmy.
Hera dan Doe berdiri di depan bagian informasi rumah sakit.
Waktu kembali saat Sima turun dari taksi sore pukul enam kurang sepuluh menit setelah pulang dari acara di pantai bersama Jun.
Sima berpapasan dengan seseorang yang tentu dia sangat mengenalnya yang dulu sangat mudah ia permainkan hanya satu kata saja.
Saling bertemu dengan kecepatan waktu per second detik mereka tak saling menyapa bukan karena tak saling mengenal lagi sudah tentu tak mungkin seakrab dulu jika mengetahui kisah mereka.
Siapa yang harus benar benar membenci dan dirugikan orang itu adalah seorang pria yang sekarang berprofesi seorang pialang saham. Dia adalah Kakak kandung Jun yang sudah tidak ada kabar dua tahun ini telah kembali.
Dia datang tanpa memberi tahu siapapun tujuannya kembali ke negaranya adalah hanya sekedar untuk urusan bisnis selama beberapa hari tanpa memberitahu siapapun bahkan Jun sekalipun.
Dia baru saja mengunjungi temannya yang berprofesi sebagai psikiater di rumah sakit tempat Sima akan memeriksa kembali kondisi kejiwaannya.
Reaksi seperti apa yang akan ditimbulkan oleh seseorang jika bertemu dengan orang yang pernah ia sayangi dan kisah mereka berakhir dengan tragis.
Kakak kandung Jun masuk kedalam mobil berada di kursi depan mobil.
Sima menemukan sesuatu telah ada didalam tasnya tanpa tahu siapa yang telah menaruhnya dan untuk apa benda itu.
Benda itu ada didalam tas sekolah Sima dia mulai melihatnya sejak jam pertama saat mengikuti pelajaran di sekolah.
Dia menunda untuk membuka isi botol kecil dengan berbahan kaca berisi cairan berwarna merah menyala yang ada di tas sekolah. Setelah ia selesai mengikuti mata pelajaran dan akan membukanya ketika jam istirahat empat jam lagi.
Satu jam dua jam terlewati dan kini tinggal tiga puluh menit lagi waktu istirahat akan tiba. Sima sudah tidak sabar untuk melihat benda yang baru saja ia temukan itu.
"Satu dua tiga" kata Sima.
Bel istirahat berbunyi terdengar ke seluruh isi sekolah.
"Dimana benda itu. Kenapa menghilang?" tanya Sima.
__ADS_1