Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 73: Pria Berjaket Hitam


__ADS_3

Chapter 73: Pria Berjaket Hitam.


"Kamu mau pergi kemana?" tanya Ayahnya Ben.


 Ben sambil tertunduk berdiri di sisi pintu memegang jemari jemarinya serta menggerakkan kedua kakinya secara bergantian maju ke belakang begitu selama beberapa menit.


 Dia dengan wajah penurut dan penuh rasa bersalah yang terlihat lucu bagi teman temannya yang ada di luar parkir tempat gym.


"Kapan aku boleh pergi?" tanya Ben.


"Kamu disuruh jaga tempat ini saja susahnya minta ampun. Main terus" kata Ayahnya Ben.


"Tapi kan, aku juga butuh refreshing Ayah. Jangan terus kerja terus dari pulang sekolah sampai malam" kata Ben.


"Apa salahnya membantu mengurusi usaha Ayah ujung ujungnya buat kamu semua" kata Ayahnya Ben.


"Tapi, aku bosan pengen hang out bareng teman temanku" kata Ben.


"Bosan. Teman teman mu selalu nurut kamu mau pergi kemana. Kamu nya yang pengen main terus" kata Ayahnya Ben.


"Tapi Ayah" kata Ben.


"Tidak ada tapi tapi lagi. Kamu disini jaga tempat gym ini. Ayah harus mengecek tempat gym yang lainnya" kata Ayahnya Ben.


 Ayahnya Ben mengambil kunci motor diatas meja. 


"Itu kunci motor ku" kata Ben.


"Jangan pakai ini selama seminggu" kata Ayahnya Ben.


"Paling besok dikasih lagi" kata Ben.


"Sudah jangan jawab terus. Jaga tempat ini" kata Ayahnya Ben.


 Beliau kemudian bergerak keluar dari ruang pertama pusat gym itu meninggalkan anak kesayangannya itu.


 Ben yang masih memakai seragam sekolah melepaskan tas selempangnya lalu duduk di sofa ruang depan masuk para pengunjung tempat gym bersandar di sofa hijau gelap.


"Selamat sore, Om" kata teman teman Ben.


"Sore. Oh ya, kalian kalau mau main, main saja" kata Ayahnya Ben.


"Iya, Om. Makasih" kata teman teman Ben kompak.


 Tingkah laku Ben mengatakan bahwa dia terbiasa namun rona wajahnya mengungkapkan sebaliknya.


"Kita pulang ya Ben" kata Marid.


"Baik baik disini" kata Wren.


"Kita harus berlatih untuk lomba bulan depan. Kalian mau pergi kemana?" tanya Ben.


 Mereka bertiga sedang berlatih bela diri disana di ruang yang berdekatan dengan ruang depan masuk tempat gym tersebut yang dirancang khusus oleh Ayahnya Ben untuk ia gunakan sebagai tempat ia dan anak buahnya berlatih bela diri disana.


 Sambil menjaga tempat gym, Ben menyempatkan waktunya untuk latihan persiapan lomba bela diri satu bulan yang akan datang.


"Kita ketemu di kafe dekat rumahku" kata Jimmy.


"Pukul setengah delapan malam ini" kata Sima.


"Aku datang sebelum itu?" tanya Jimmy.


"Ya" kata Sima.


 Hari itu adalah hari disaat Jimmy akan memberikan kalung yang sudah ia beli untuk mengganti kalung yang menurut Sima putus disebabkan oleh Jimmy.


 Sebelum pukul setengah delapan malam mereka berdua bertemu.


 Sima sudah ada di kafe tempat Jun bekerja. Dia mengambil satu meja yang tidak jauh saat remaja laki laki itu sedang menyanyi.


 Gadis ini memberi tepuk tangan kepada Jun disaat ia selesai menyanyikan sebuah lagu terakhir jam tujuh malam ini.


 Wajahnya yang memang cantik ditambah lagi dengan profesinya sekarang sebagai salah satu selebritis internet tak jarang mereka disana meminta foto bareng dan tanda tangan atau sekedar menyapa dan mengobrol dengan para pengunjung di tempat yang bergelut di bidang kuliner dan wisata itu.


 Jun melihat gadis itu yang lebih sibuk dari dirinya sekarang.


"Kau mau ikut denganku?" tanya Wren.


 Jun sedang fokus dengan gadis yang sibuk dengan para fansnya.


 Wren melihat ke arah dimana Jun sedang sangat fokus.


"Oh, dia. Baiklah, aku akan pulang lebih awal" kata Wren.


"Kau di panggil oleh Kak Rose" kata Jun.


"Aku?" tanya Wren.


"Ya. Cepatlah temui dia" kata Jun.


 Wren pergi ke ruang kerja Kak Rose sedangkan untuk Jun pergi menemui Sima.


"Hai" kata Sima.


"Kau sendirian, dimana pacar baru mu?" tanya Jun.


"Dia. Dia tidak ikut, aku disini untuk melihat pertunjukan mu" kata Sima.


"Kapan kau pulang?" tanya Jun.


 Dia mulai mengetuk pintu.


 Wren sudah datang di ruang kerja Kak Rose.


 Kak Rose melihat Wren datang.


"Tadi Jun bilang saya disuruh datang kemari" kata Wren.


"Dimana Jun?" tanya Kak Rose.


"Dia masih di luar bersama temannya" kata Wren.


"Ini uang gajian bulan ini untuk mu dan saya titip untuk Jun" kata Kak Rose.


 "Terimakasih Kak Rose" kata Wren.


"Iya. Sama sama" kata Kak Rose.


 Wren kembali dari ruang kerja Kak Rose menuju tempat Jun berada sekarang.


"Tunggu aku di ruang kerja karyawan" kata Jun.


 Wren mengganti arah langkahnya menuju ke ruang istirahat karyawan kafe tidak menuju tempat Jun dan Sima sedang berbicara sebentar.


 

__ADS_1


 Jun sedang berusaha agar gadis yang ada bersamanya saat ini berhenti mengikutinya.


"Dimana kalung mu?" tanya Jun.


"Kalung ku putus" kata Sima.


"Putus?" tanya Jun.


"Iya. Putus karena Jimmy" kata Sima.


 Jun agak merasa tak yakin tentang informasi Jimmy ini.


"Apakah dia berinisiatif untuk mengganti?" tanya Jun.


"Iya. Dia akan menggantinya dengan yang baru" kata Sima.


"Oh ya. Kau tidak ingin pulang bersama ku?" tanya Sima.


"Pulang. Bagaimana ini, aku sedang lembur. Sorry" kata Jun.


"Beneran lembur?" tanya Sima.


"Iya. Lembur" jawab Jun menegaskan.


"Baiklah. Aku pulang dulu. Bye bye" kata Sima.


 Sima akhirnya pulang tanpa bersama dengan remaja laki laki ini dengan mobil pribadinya bersama drivernya.


 Jun bisa bernapas lega sekarang lalu selanjutnya dia pergi ke ruang tunggu istirahat untuk para karyawan kafe.


"Sorry. Sudah membuat mu menunggu" kata Jun.


"Ini bagian mu" kata Wren.


 Dia memberikan amplop yang berisi uang hasil kerja mereka setelah bekerja di kafe tersebut.


"Ayo kita langsung pulang" kata Wren.


"Siap!" kata Jun.


 Di kafe tempat Sima dan Jimmy membuat janji untuk bertemu.


 Jimmy sudah datang lebih dulu dari pacar barunya. Dia sudah memesan satu gelas coktail tak beralkohol diatas mejanya dan satu potong vanila cake diatas piring putih kecil beserta garpu kecil di sebelahnya.


"Kau sudah datang. Coba ini" kata Jimmy.


 Sima datang duduk di kursi di depannya sekarang.


"Aku tidak suka cake" kata Sima.


 Jimmy terdiam menatap pacarnya itu dalam dua detik kemudian memberikan senyum kepada gadis bergaun hitam pacarnya.


 Jimmy mengeluarkan satu kotak persegi panjang yang jelas berisi sebuah kalung cantik.


 Jimmy membuka kotak kalung itu dan menunjukkan kepada Sima.


"Bagaimana kau suka?" tanya Jimmy.


 Sima menyentuh kalung itu yang masih berada di tangan Jimmy.


"Suka. Ini cantik sekali" kata Sima.


"Biar aku pakaikan di leher mu" kata Jimmy.


 Sebagai seorang wanita pada umumnya pasti merasa senang jika di berikan kalung cantik oleh orang yang ia sayangi begitu pula dengan Sima. Dia terlihat dengan senyum bahagianya.


 Pagi hari ketika Sima memamerkan kalung barunya didepan teman teman wanita satu kelasnya.


 Semuanya memuji kalung dan wajah cantik Sima yang menurut mereka sangat artistik disaat di pandang oleh mereka. Meski pasti tidak semuanya menilai itu benar.


 Jun juga melihat dan mendengar apa yang dikatakan oleh Sima.


 Dia dengan meja kelasnya membaringkan muka diatas meja menutup mata sejenak menunggu jam pelajaran kedua dimulai.


"Dia meminta kalung palsu dengan perhiasan asli. Dia yang terbaik" kata Jun.


"Aku tidak tahu. Apa yang ada di pikiran pacarnya itu?" tanya Jun.


 Dia berbicara tentang Jimmy.


 Di sebuah kedai makanan di dekat rumah Red dan Ran ketika mereka sering makan disana sewaktu masih sekolah menengah pertama dulu.


"Kamu sendiri, dimana Ran?" tanya Bibi pemilik kedai.


"Ran. Dia masih di sekolah belum pulang" kata Red.


"Sudah lama sekali Bibi baru melihat mu lagi. Ini Bibi tambahkan lebih banyak daging untuk mu" kata Bibi pemilik kedai.


"Sudah. Sudah Bibi, ini sudah cukup" kata Red.


"Makanlah. Tidak apa kalau untuk mu" kata Bibi itu.


 Setelah kejadian di sekolah tadi dia ingat salah satu tempat terbaik dimana ia harus menghibur diri. Red memilih tempat ini.


 Red sudah memesan salad sayur dengan saus kacang tidak pedas cenderung gurih dan potongan daging sapi yang di goreng tipis serta tidak lupa satu piring nasi putih hangat.


 Seseorang sedang mengendarai mobil dengan kecepatan sedikit lambat tak sengaja melihat Red yang sedang ada disebuah kedai yang baru saja ia lewati.


"Sepertinya itu Red" kata Jax.


 Kakaknya Jun akhirnya memutuskan untuk memarkirkan kendaraannya di samping kedai itu.


 Dia sudah mematikan mesin mobil dan kemudian keluar dari mobil lalu menutup pintu mobil dan mengunci mobil secara otomatis.


 Mobil sudah berbunyi tanda mobil sudah terkunci secara otomatis.


 Jax membuka pintu kedai lalu masuk kedalam kedai mengambil tempat duduk di meja yang sama dengan Red sekarang sedang makan siang setelah sekolah tadi.


 Red sedang memakan salad dengan nasi terkaget dengan kehadiran orang di depannya.


 Dia mengambil air minum di sisi kanan diatas meja ia sedang menyantap makanan.


"Kakak ambilkan air lagi?" tanya Jax.


 Red memberi kode dengan tangan kirinya bahwa ia belum membutuhkan bantuan dari Jax.


"Kenapa kakak ada disini?" tanya Red.


"Aku tadi melihat mu dari luar. Jadi, sekalian mampir" kata Jax.


"Oh ya. Aku juga lapar" kata Jax.


 Jax memanggil Bibi pemilik kedai untuk memesan beberapa makanan.


"Tunggu sebentar. Saya segera menyiapkan makanan anda" kata Bibi Pemilik Kedai.

__ADS_1


"Apa kakak baru pulang kerja?" tanya Red.


"Belum. Kakak masih harus lembur hari ini" kata Jax.


"Pekerja keras" kata Red.


"Tadi, kamu bicara apa?" tanya Jax.


"Tidak. Aku tidak bicara apa apa" kata Red.


 Red sedang menikmati makan siangnya itu. 


"Bagaimana dengan sekolah mu?" tanya Jax.


"Lancar" kata Red.


"Syukurlah" kata Jax.


 Beberapa menit kemudian makanan yang ia pesan datang di mejanya.


 Dia memesan apa yang Red pesan juga di kedai tersebut.


 Dia sudah kembali setelah selesai mencuci kedua tangannya dibelakang kedai yang tersedia tempat mencuci tangan untuk para pengunjung kedai oleh pemiliknya.


"Selamat makan" kata Jax.


 Red mengangguk.


 Jax mengambil satu suap makanan yang ia pesan tadi. Diam tenang merasakan akan makanan yang ia makan.


"Ini lezat sekali" kata Jax.


"Aku tidak tahu ada makanan seenak ini" kata Jax.


"Benarkah. Kakak bisa datang kemari kapan saja di waktu sore" kata Red.


"Ayo kita makan. Habiskan semua ini" kata Jax.


 Jax terlihat dengan lahap menyantap makanan makanan itu.


 Sambil makan sesekali kakak dari Jun ini mengajak Red untuk mengobrol.


"Setelah lulus nanti kamu kuliah  ambil jurusan apa?" tanya Jax.


"Saya masih kelas dua sekolah menengah atas belum terpikir sampai disitu" kata Red.


"Pikirkan dan persiapkan sekarang itu jauh lebih baik kan" kata Jax.


 Didalam hati Red berkata, "Dia tidak jauh berbeda dengan adiknya, Jun".


"Pendidikan itu penting selagi kamu masih sehat" kata Jax.


"Terimakasih Kakak sudah peduli dengan ku" kata Red.


 


 Red menatap wajah Jax dengan mata birunya disaat itu pula berbagai anak panah hitam datang kembali bukan untuk menyerang Red akan tetapi Jax.


 Red menangkis itu dengan mengaktifkan mata birunya. 


 Namun, sialnya dia lupa kekuatannya kian lama kian menghilang.


"Satu mata biru mu tak bisa berfungsi" kata Bling. 


"Pejam kan mata kakak" kata Red kepada Jax.


"Ada apa?" tanya Jax.


"Lakukan saja" kata Red.


 Red membuka mata dan sekarang dia sudah tidak bersama dengan Jax.


 Begitu juga yang membuka matanya tak mendapati Red yang sudah tidak ada di depan matanya.


 


 Red tertawa dengan apa yang terjadi dengan dirinya sendiri disaat ini dia sedang menarik anak panah di lengannya dengan tangannya sendiri.


"Gadis bodoh. Kau lebih memilih dirimu terluka" kata seseorang berjaket hoodie hitam.


 Red telah memindahkan dimensi pertarungan mereka di tempat lain menyelamatkan Jax dari orang di depannya sekarang.


"Dan aku berhasil membawa mu kemari" kata Red.


 Banyak darah keluar dari lawan Red sekarang.


 Satu anak panah berhasil ia cabut dan anak panah itu ia mengeluarkan senjata panah nya dari lengannya sendiri yang sudah lama tidak ia keluarkan.


"Kau pasti sudah bersiap dengan ini" kata Red.


 Red menarik busur dan akan mengembalikan anak panah di tangannya kepada pemiliknya.


 Anak panah itu terlepas dari busur emas dari tangan Red.


"Boommmmmmmm!" 


 Suara ledakan yang berasal dari anak panah itu mengenai pria berjaket hitam itu.


"Dia berhasil kabur" kata Bling.


"Dia berhasil kabur. Tapi, dia tidak bisa lepas dari luka yang ku beri tadi" kata Red.


 Red kembali di rumah Flow dengan menggunakan teleportasi yang ia miliki.


 Lawan Red kembali di tempat persembunyian dalam keadaan muntah darah tak berhenti. Dia sekarat disana sendirian tapi dia tidak akan mati.


"Jika dia tidak kabur tadi. Aku ingin menjadikannya terlahir kembali" kata Red.


"Orang itu tak menginginkan hal itu" kata Bling.


"Orang itu sekarang sedang sekarat karena peralihan dimensi yang ku perbuat padanya" kata Red.


"Apa dia akan tiada?" tanya Bling.


"Tidak" kata Red.


 Kekuatan yang di keluarkan tadi biasa ia gunakan untuk melawan para hantu di masa lalu dan kini ia gunakan untuk melawan manusia.


"Seharusnya dia akan baik baik saja" kata Red.


 Lawan Red sedang di tolong oleh teman temannya yang datang setelah setengah jam mereka pergi dan kini kembali datang di rumah terbengkalai itu.


"Siapa yang melakukan ini?" tanya temannya yang lain.


"Gadis itu lagi" kata pria berjaket hitam.

__ADS_1


__ADS_2