Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 35: Mengapa Kita Bisa Menjadi Kita?


__ADS_3

Chapter 35: Mengapa kita bisa menjadi kita?.


Sammy lewat sebuah ruang rawat rumah sakit berjalan santai, santai tidak juga cepat juga tidak dibilang juga iya. Pandangan lurus ia lakukan, pintu ruangan itu terbuka sekitar sepuluh sentimeter saat ia melewatinya.


Dua langkah setelah melewati pintu itu ia berhenti kedua tangannya menggenggam erat plastik yang berisi buah buahan yang tadi ia beli di mini market dekat rumah sakit. Dia menarik napas.


"Benar. Ku tidak salah lihat kan" kata Sammy.


"Anggap saja seperti itu. Iya, seperti itu" kata Sammy.


Lima belas langkah dari depan Sammy berdiri sekarang.


"Stop!" kata Sammy.


Sammy memberikan kode silang dengan tangannya.


Dia, si penerima kode berhenti dalam langkahnya.


"Why?" tanya si penerima pesan.


Si penerima kode pesan dari Sammy juga memberikan kode ini pada Sammy.


Sammy mengirim pesan pada Si penerima pesan dengan ponselnya.


"Aku akan masuk ke ruang rawat ibuku, Kakak kembali dan bertemu sepuluh menit lagi" kata Sammy.


"Ok" kata si penerima pesan dari Sammy.


Pukul sepuluh lebih empat puluh lima menit dirumah Flow.


Red dengan sendiri mengganti handuk kompres yang ada di dahinya. Ini yang ke empat kalinya ia lakukan sendiri.


"Dimana tempat airnya?" tanya Red.


"Oh disana" kata Red.


Red mengganti air yang digunakan untuk mengompres dirinya.


Suara air terdengar di kamar mandi suara air yang Red buang barusan.


Jarum jam berdetak samar karena hujan belum berhenti dan Red tidak bisa tidur sejak tadi.


Petir di luar seakan berlomba dengan hujan menyambar menggelapkan dan menerangkan langit di malam ini.


Red sudah selesai mengganti air hangat untuk mengompres lagi.


Ia berjalan kembali menuju kamar tidur. Air di dalam tempat yang ia bawa ia taruh diatas meja dekat tempat tidur. Ia beranjak berbaring lagi keatas tempat tidur. Handuk dari tempat air berwarna perak berbahan aluminium ia ambil lalu Red berbaring kembali diatas kasur dan menarik selimut, handuk itu ia taruh di dahinya lagi.


"Besok, kalau masih tidak enak badan. Aku akan pergi kerumah sakit untuk memeriksa kondisi kesehatan ku" kata Red.


Sepuluh menit berlalu, Sammy keluar dari ruang rawat ibunya bertemu dengan si penerima kode pesannya tadi.


Didepan ruang rawat ibunya Sammy.


"Kau masih menyukai Jimmy?" tanya Dan.


"Mungkin" jawab Sammy.


"Wajar saja, kalian baru putus" kata Dan.


"Ini memalukan, bukan?" tanya Sammy.


"Biasa saja" kata Dan.


"Kau pasti sedang diet?" tanya Dan.


"Tidak" kata Sammy.


"Yang ku tahu. Kamu sangat suka menjaga penampilan" kata Dan.


"Itu kan dulu, dulu sekali" kata Sammy.


"Tetaplah percaya diri. Jangan insecure" kata Dan.


"Ini untuk Kakak" kata Sammy memberikan satu kaleng susu.


"Terima saja" kata Sammy.


Dan menerima minuman dari Sammy, dipaksa.


"Dimana Flow?" tanya Dan.


"Dia sudah tidur sejak sejam tadi" kata Sammy.


Flow tidur di ruang rawat ibunya Sammy bersama Sammy.


"Oh ya. Untuk masalah ini, aku hanya ingin memberi nasihat kepadamu. Berhentilah menjalani hubungan dengan orang yang menabur kesedihan dan ingin dirinya sendiri yang merasakan kebahagiaan" kata Dan.


Beberapa detik Sammy termenung mendengar nasehat ini.


Di bangsal itu ada beberapa orang setelah sepuluh menit mereka Sammy dan Dan membuat janji ada beberapa orang datang duduk di kursi kursi didepan ruangan bangsal rumah sakit itu.


Semangat ceria ia ekspresikan dihadapan mantan pelatih bela dirinya itu.


"Ide bagus. Aku akan selalu ingat nasihat mu itu" kata Sammy.


"Oh ya. Kak Flow belum punya pacar, kau mau aku beritahukan apa saja kesukaannya?" tanya Sammy pada Dan.


Dan bersandar di kursi didepan ruang rawat ibunya Sammy pura pura tak mendengar apa yang dibicarakan oleh Sammy.


"Hey, bangun. Jangan pura pura tidak dengar!" kata Sammy.


Sammy mencoba menarik lengan kanan Dan yang masih menyilang di dadanya.


Sammy masih terus berjuang untuk melakukan itu.


"Jangan berisik banyak orang istirahat" kata Dan.


"Oh" kata Sammy.


Sammy berhenti melakukan itu, ia mulai tenang Dan mulai akan agak kesal pada Sammy.


Mengambil ponselnya kembali dari saku membaca pesannya yang ada di ponsel yang belum dibaca.


"Hanya ini yang akan membuatnya bisa tenang. Padahal aku tidak tega" kata Dan memejamkan mata lagi.


Seseorang sudah memesan makan malam sebegitu banyaknya. Ini gratis dan diberikan dengan kerelaan.


"Tapi, tidak begini juga" kata Ben.


Bee masuk kedalam ruang rawat Neneknya.


"Kau sudah kembali Bee. Nenek belikan itu semua untuk mu" kata Nenek Bee.


Bee sangat suka mie dengan berbagai rasa dan toping satu meja telah terisi penuh.


"Gawat gawat dia bakalan gagal diet" kata Ben.


Pesanan lobster dan olahan daging dan seafood juga baru saja tiba.


"Tidak bisa menolak kalian" kata Ben.


Bee ada disana kedua matanya tertuju pada Ben dan Good ada disana.


"Siapa yang membawa ini?" tanya Bee.

__ADS_1


"Aku" jawab Good.


Good mulai berburuk sangka.


"Seharusnya tadi aku tidak mengantarnya sendiri" kata Good dalam hati.


Makanan yang Neneknya Bee pesan berasal dari restoran milik Ibunya Good.


"Kamu tidak malu punya teman cewek yang suka makan?" tanya Bee pada Good.


Wajah Good belum berubah tetap ganteng dan menawan dan seperti bayi tidak tahu apa apa.


"Tidak. Why?" tanya Good.


Ben menatap tajam sahabatnya itu.


"Kalian kenapa terus memandangi ku?" tanya Good.


"Ayo kita makan" kata Ben.


Bee mengambil tempat duduk disebelah Good.


Ben sudah menduga ini akan terjadi.


"Ada apa dengan gadis ini?" tanya Good berbisik hatinya menyelinap tatapan mata Bee.


Sedang makan tenang sebuah pertanyaan terdengar dari seseorang.


"Good?" tanya Bee memanggil.


"Ya" kata Good.


"Apa aku tipe mu?" tanya Bee.


Good tersedak saat sedang makan mie.


"Sudah ku duga" kata Ben.


"Minum ini" kata Bee pada Good.


Good menerima air minum dari Bee.


Good melanjutkan makan lagi.


"Dia tidak tahu. Dia belum menyerah" kata Bee terdengar kata kata ini oleh Good.


"Apa aku harus lari, tidak kan?" tanya Good pada diri sendiri.


"Kenapa kau harus lari. Aku tidak berbahaya, lihat aku?" tanya Bee.


Good masih tenang menikmati makan malam bersama Bee dan Ben.


"Nenek tidak makan lagi?" tanya Good.


"Tadi Nenek sudah makan. Kalian makan saja" kata Neneknya Bee.


Neneknya Bee sedang membuka tablet milik Bee.


"Good. Lihat aku!" kata Bee.


Good malah melihat Ben.


"Kau dipanggil Bee" kata Ben.


Good menghadap Bee.


"Iya Bee. Mau bicara apa?" tanya Good.


"Tidak. Aku hanya ingin melihat mu disaat makan" kata Bee.


Good melihat ikan bakar yang ada di piring Bee.


Ben mengambil daging lobster lagi di piring ditengah tengah meja mereka bertiga makan malam.


"Aku memang ditakdirkan menjadi men second lead" kata Ben.


"Aku terdengar jahat sekali" kata Good.


"Apa apaan kalian, siapa yang men second lead?" tanya Bee.


"Aku" jawab Ben.


"Kita sedang makan malam, sudah" kata Good.


"Kau juga, tak jawab pertanyaan ku" kata Bee.


Good orang yang bertipe tak bisa melihat orang sedih.


"Ya. Kamu tipe ku" kata Good.


"Benarkah" kata Bee kembali ceria.


Good makan daging lobster yang ada di piring Ben.


"Dia memanjakan gadis itu" kata Ben.


"Apa salahnya tinggal bilang iya" kata Good.


Bee menarik lengan kiri Good.


"Jangan lihat Ben terus. Lihat aku!" kata Bee.


"Iya" jawab Good.


"Kau mau tahu cokelat yang tadi aku berikan padamu tadi sore?" tanya Ben.


"Iya cokelat itu sangat lezat. Lalu?" tanya Bee.


"Itu dari salah satu penggemar Good" Jawab Ben.


Bee langsung berubah lalu dia di detik itu kembali ceria.


"Mereka hanya penggemar Good. Iya kan, Good?" tanya Bee pada Good.


"Iya" jawab Good.


"Ada apa dengan mu. Sebelumnya, kalian selalu bertengkar dan sekarang menjadi dekat. Ini terlalu cepat" kata Ben.


"Aku mendukungmu balikkan dengan mantan mu. Sungguh!" kata Bee.


"Habiskan mie mu" kata Good pada Bee.


"Makasih. Aku hampir lupa" kata Bee.


Pulang kerja pukul sebelas malam kehujanan belum dapat kendaraan untuk pulang.


Jun sedang di perhentian bus menunggu bus yang belum datang untuknya dan bersama orang orang yang ada disana yang juga menunggu bus.


Jun mulai batuk dan pilek.


"Akhirnya aku dapat gajianku tiga bulan lalu" kata Jun dalam hati.


Jun mendapat bayaran setelah membantu proyek yang diadakan oleh salah satu perusahaan asing untuk siswa berprestasi dalam bidang desain interior dan Jun menjadi pemenangnya.


Sebenarnya ia mendaftarkan dirinya sendiri secara online bagi siapapun siswa atau siswi yang berminat mendaftar untuk berpartisipasi dalam proyek tersebut. Dan ia mengikutinya hanya untuk mencari keberuntungan barangkali saja juara. Ternyata, dia mendapat juara pertama.

__ADS_1


Hari minggu di sebuah museum.


Good sedang menonton pertunjukan Jun bersama Bee.


"Hey. Sejak kapan mereka akrab begitu?" tanya Sammy.


"Aku tidak tahu isi pikiran dan hati seseorang. Aku harus dipaksa menerima" kata Ben.


"Apa kau sepaham dengan maksudku?" tanya Sammy.


"Tidak mungkin" kata Ben.


"Mereka tidak mungkin bisa seakrab ini dengan mudah" kata Sammy.


"Aku tidak ingin menjadi mata mata untuk mereka" kata Ben.


"Dimana Red, dia tidak kelihatan?" tanya Ben.


"Dia sedang dirumah. Katanya ingin liburan dirumah saja" kata Sammy.


"Aku tidak tahu kenapa dia selalu mengikuti Jun" kata Ben.


"Siapa yang kau bicarakan?" tanya Sammy.


"Kita tahu siapa orang itu" kata Ben.


Ben ada bersama dengan Sammy di baris terakhir saat Jun sedang menyanyi di panggung. Ben sedang melihat kearah Sima duduk di panggung di kursi dekat anggota dari band yang Jun ikut bergabung sebagai salah satu vokalis.


Waktu kembali setahun lalu awal tahun Jun dan Red masuk sebagai siswa baru.


"Kau menyukai gadis yang bernama Red itu?" tanya Neo.


"Siapa Red?" tanya Jun.


"Dia gadis di kelasku yang aku taksir?" tanya Neo.


"Namanya Red" kata Jun.


"Kita hanya teman tapi aku telah menargetkan dia menjadi pacarku" kata Neo.


"Maksudmu, aku tak boleh bersaing dengan mu?" tanya Jun.


"Si Cerdas ini cepat sekali paham apa maksudku" kata Neo.


"Lalu, bagaimana kalau dia menyukai ku?" tanya Jun'


"Tidak mungkin. Dia sulit untuk didapatkan" kata Neo.


"Darimana kau tahu?" tanya Jun.


"Aku mengejarnya sejak sekolah menengah pertama dulu" kata Neo.


"Gadis itu terlihat baik" kata Jun.


"Aku suka gadis baik" kata Neo.


"Aku juga suka gadis baik" kata Jun.


"Kau ingin bertaruh dengan ku?" tanya Neo.


"Malas" kata Jun.


Jun tanpa sepengetahuan dari Neo telah memiliki foto dari Red. Dia melihat foto Red dan melihat foto Bay dari galeri ponsel.


"Kenapa dia bisa seperti Bay?" tanya Jun.


Lapangan sepakbola sedang diadakan permainan bola yang dilakukan oleh teman teman satu kelas Jun. Jun melihat ke arah Neo yang sedang menggiring bola.


Dia melihat Red yang ada di ujung koridor sekolah membawa buku menuju ruang guru.


"Siapa hantu yang ada dibelakang teman Neo?" tanya Red saat sekilas melihat Jun yang kepergok saat menatap Red tadi saat berjalan di koridor sekolah.


Red sudah mengumpulkan tugas di meja guru bahasa inggrisnya tadi.


Dia kembali berjalan ke kelasnya lewat jalan yang sama dengan sebelumnya.


"Hantu itu akan mendekat kearah Neo" kata Red.


Neo sedang menunggu Red yang berjalan ke arahnya.


"Red!" kata Neo menyapa dengan suara keras.


Jarak antara Red dengan Neo adalah tujuh meter. Cukup tidak mendengar Red saat berbicara tentang Neo.


"Apa dia tidak merasa itu berlebihan?" tanya Red.


Red berjalan cepat saat Neo memanggilnya seakan ia amat senang saat dipanggil oleh Neo.


Jun melihat Red menyambut Neo dengan sikap terlalu naif.


"Apa gadis itu gila, mau dengan Neo" kata Jun.


Red sedang berjalan lebih cepat dengan hantu yang sedang mengejar Neo dari arah samping kanan Neo berdiri dari arah Jun sebelumnya hantu itu ada disebelah Jun.


Hantu itu dengan gaun hitam dan rambut panjang dan rambut acak acakan akan menusuk perut Neo kuku panjang dan tajam tangannya.


Red menarik tangan Neo agar berpindah tempat makin dekat dengannya saat bicara.


"Katanya kau ingin mengajakku untuk nonton film?" tanya Red.


Jarak keduanya hanya berjarak satu jengkal.


"Kamu mau?" tanya Neo.


"Iya" jawab Red.


"Apakah karena Neo tampan, dia langsung mau?" tanya Jun melihat mereka dari arah koridor di sisi lain dekat lapangan sepakbola sekolah.


Berpikir masih ragu tentang gadis yang sedang bersama Neo.


Hantu tadi pergi saat melihat bola mata Red yang berubah menjadi biru ketika kedua mata Red dan hantu tersebut saling bertatapan.


Hantu itu menghilang perlahan terbawa angin.


Neo menggenggam jemari tangan Red.


"Kita akan pulang bersama, ok?" tanya Neo.


Neo dan Red bersama terlihat menuju kelas.


"Apa aku harus ikut campur" kata Jun.


"Ku rasa tidak perlu" kata Jun.


Pukul lima belas tepat bel pulang sekolah berbunyi.


Jun tidak langsung pulang kerumah tapi dia berencana pergi ke suatu tempat.


"Aku akan segera ketempat Kakak" kata Jun pada Rose.


"Iya. Aku sudah bawa desainnya" kata Jun.


Jun akan pergi ke kafe dekat supermarket di kota dekat pantai.


Motornya ia ambil dari parkiran sekolah.

__ADS_1


"Pakai helm ku" kata Neo pada Red.


Padahal helm dapat pinjam dari Jun saat tadi baru istirahat sekolah di jam istirahat pertama.


__ADS_2