Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 48: Itu Semua Karena Kamu


__ADS_3

Chapter 48: Itu Semua Karena Kamu.


"Apa maksudnya mengirim pesan ini kepadaku?" tanya Ran.


Ran sudah datang di tempat wahana menembak milik Bob sejak pukul enam lebih lima belas menit lalu dan sekarang sudah hampir jam tujuh malam kurang sepuluh menit.


Sedang mengintai Jun dari luar wahana menembak dari luar yang terlihat jelas dari sekarang ia ada di atas motor dengan helm jaket jeans hitam dan celana jeans hitam serta sepatu tali berwarna hitam serta bermasker.


Di sekitar wahana menembak.


Suara motor motor menyala keluar dari area parkir kemudian melewati Ran. Mereka tidak curiga bahwa ada salah satu orang yang berada di luar tempat itu adalah Ran karena bukan hanya ada Ran disana melainkan juga banyak yang juga sekedar makan atau minum di kedai kedai yang ada didepan tempat usaha itu.


"Kenapa mereka terburu buru sekali?" tanya Ran.


Ran memang tak berniat datang di undangan teman teman dari satu kelasnya yang mengajak di tempat itu. Dia sedang bekerja dan dia harus bekerja.


"Aku menemukan mu" kata seorang gadis hantu memeluk Ran dari belakang.


"Kau. Lepaskan tangan mu!" kata Ran.


Orang orang disana melihat tingkah aneh Ran yang berbicara sendiri.


Ran menjadi patuh, kemudian berbisik pada si hantu.


"Lepaskan aku. Jika tidak, kau sudah tahu akibatnya" kata Ran.


Hantu itu kemudian melepaskan pelukannya dari Ran.


"Kau sedang bekerja lagi?" tanya Si Hantu.


Seorang hantu yang memakai celana oversize berbahan semi kulit berwarna hitam dan kaus lengan pendek berkalung gold dan sepatu hitam bertali putih serta topi hitamnya yang ia pakai.


Ran melihat rambut Bay yang berubah dari merah menjadi hitam keunguan.


"Kau mengecat rambut mu lagi?" tanya Ran.


"Bagus tidak?" tanya Bay.


"Lumayan" kata Ran.


"Oh ya. Apa kau perlu bantuan ku?" tanya Bay.


"Tidak. Sudah kamu kapan perginya?" tanya Ran.


"Kata kata mu membuat ku tak ingin menyerah" kata Bay.


"Aku sedang kerja, kamu tahu kan" kata Ran.


"Tahu. Iya, tahu" kata Bay.


Jun terlihat keluar dari wahana tempat menembak didepan Ran.


"Kenapa kau diam. Awas aku akan menyalakan motor ku" kata Ran.


Bay masih belum mengingat siapa Jun bagi dirinya.


Jun sudah mengeluarkan motornya dari parkiran. Dia siap untuk pergi ke tempat Red sekarang bersama dengan Bee dan Ran.


Di pusat perbelanjaan Red bersama Bee.


Wajahnya seperti menahan tangis dia ingin cepat cepat lari dari tempat itu.


Bagaimana cara menggambarkannya itu membuat bingung. Tak ada yang ingin di jelaskan yang Red rasakan bahwa ia merasa ada sesuatu yang membuatnya tertekan, dia ingin bersembunyi.


"Apa aku perlu?" tanya Red.


Bee menarik tangan Red.


"Kau kenapa melamun?" tanya Bee.


"Tidak" kata Red.


Semua berjalan lancar tak ada pertikaian diantara kedua teman satu kelas ini.


"Kenapa aku ikut dia disini. Seharusnya aku menolak Bee untuk datang kemari" kata Red.


Waktu sebelum Ran datang di wahana menembak untuk mengintai Jun.


"Aku akan pergi mengawasi hantu itu lagi. Kau dimana?" tanya Ran.


"Kamu dimana?" tanya Red.


"Aku di wahana menembak" kata Ran.


"Aku di pusat perbelanjaan di dekat wahana menembak yang kau maksudkan" kata Red.


"Hubungi aku jika terjadi sesuatu?" tanya Ran.


"Ya" kata Red.


Red sedang menghadiri perkumpulan remaja yang berminat di bidang kecantikan. Dia tidak mengenal siapapun selain Bee.


Acara berlangsung cukup meriah dengan bakat bakat yang mereka miliki.


Red hanya penasaran dengan acara ini sehingga ia mau ikut padahal dia memiliki karakter yang tidak terlalu tertarik dengan dunia make up. Dia bisa ikut karena Bee memiliki kartu member dari perkumpulan ini dan boleh menggajak salah satu temannya setiap acara ini diadakan.


Dan kali ini dia akan menjadi bahan percobaan untuk temannya, Bee.


Dia akan merias wajah Red dengan tema kali ini yaitu wanita kantor.


"Aku harus kabur dari tempat ini" kata Red.


Acara merias tiga menit lagi akan segera dimulai, Red mencari waktu saat Bee lengah dan tak begitu memperhatikan Red yang ada disebelah kanannya itu.


"Dia sedang fokus dengan arahan beauty blogger di atas panggung itu. Saatnya aku kabur" kata Red dalam hati.


Ia kaitkan tas ransel kecil hitamnya dan ponsel ditangan.


Red dengan setelan baju hitam lengan pendek dengan kerah chelsea celana merah muda diatas lutut dan sepatu hitam metalik sport tak bertali berjalan pelan pergi dari sisi Bee.


"Pokoknya aku harus pergi dari tempat ini" kata Red.


Jun datang lebih awal dari Ran yang sedang di belakang Jun untuk mengawasinya malam ini.


Ran melihat Red yang keluar dari acara tersebut sedangkan untuk Jun masuk kedalam acara tersebut.


Red berpapasan dengan Jun tetapi keduanya tak saling melihat karena diantara mereka sedang banyak penonton yang menghadiri acara ini. Sedangkan untuk Ran melihat keduanya sedang berpapasan dari jarak mereka berdua kita kira tiga puluh meter dari Ran yang ada disebelah motornya didepan bangunan pusat perbelanjaan tersebut belum melepas helmnya.


"Dimana Red?" tanya Jun.


Bee terkaget saat Jun datang di acara ini.


"Astaga. Kau membuatku kaget saja!" kata Bee.


"Oh. Bee dimana dia pergi?" tanya Bee.

__ADS_1


Di luar gedung pusat perbelanjaan tersebut ada Ran yang mencoba mengejar Red yang melintas di sebelah kirinya ia disana.


Ran menarik lengan kiri Red.


"Kau siapa?" tanya Red.


"Aku Ran" kata Ran.


Jun menelepon nomor ponsel Ran sedangkan Bee menghubungi nomor ponsel Red.


Ran melepaskan lengan Red lalu mengangkat panggilan dari Jun.


"Red ada bersama kamu?" tanya Jun.


Ran menatap Red.


"Iya dia disini" kata Ran.


Jun mengakhiri obrolannya dengan Ran.


Red sedang menerima segala bad mood Bee dengan sekarung kesabaran untuk teman satu kelasnya ini.


"Ya sudah. Maaf, aku sudah memaksakan kehendak ku" kata Bee.


Red menatap wajah Ran saat remaja di depannya itu tersenyum saat mendengar Bee meminta maaf kepada Red dari obrolan mereka berdua di telepon saat ini.


"Iya. Aku maafkan" kata Red.


Red ikut menahan senyum saat Bee berbicara padanya di akhir obrolan ini.


Jun sudah mendengar Bee yang sudah mengakhiri obrolannya dengan Red barusan memastikan bahwa Ran dan Red sudah dalam keadaan aman.


"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Jun.


Bee menatap Jun yang duduk di sebelahnya itu.


Bee menahan lengan kiri Jun agar tidak pergi dari sana.


"Kau mau kan menggantikan Red disini?" tanya Bee.


Jun sedang membaca isi pikiran temannya itu.


"Lepaskan aku!" kata Jun.


"Tidak akan" kata Bee.


Jun merasa tidak enak hati, jadi dia mau saja mengikuti acara yang dihadiri oleh Bee dengan lapang hati.


"Kau dulu juga pernah mengikuti audisi modeling tingkat kota kan. Anggap saja seperti itu" kata Bee.


"Jangan merayu ku. Aku hanya ingin menolong saja" kata Jun.


"Siap. Tuan Muda" kata Bee.


"Tuan Muda apanya" kata Jun.


"Kau jangan cemberut. Aku akan mulai merias mu" kata Bee.


Red dan Ran ada diluar sedang mengawasi Jun.


Ran sudah melepas helm.


"Pakai jaket ku" kata Ran.


Ran memberikan jaketnya kepada Red.


"Ya. Kedengarannya itu tidak buruk" kata Ran.


Red dan Ran saling memberi senyuman ringan.


"Kenapa kau tidak mau ikut acara itu?" tanya Ran.


Red menunjuk ke arah bawah dagunya.


"Coba ku lihat" kata Ran.


Ran menyalakan senter handphone miliknya ke arah bawah dagu Red.


"Kau melihatnya kan?" tanya Red.


Ran mengangkat dagu Red sedikit keatas untuk melihat luka dibawah dagunya.


Ran memeriksa luka Red yang sudah tidak memakai perban dan kapas medis lagi seperti sebelumnya tapi menggantinya dengan memakai plester.


"Lukanya tidak serius. Seorang hantu telah menyerang mu lagi?" tanya Ran.


Ran mematikan senter handphone.


"Dia bisa kecewa jika aku tetap ikut dengan kondisi ku yang sekarang" kata Red.


"Maksudmu kau tidak cantik?" tanya Ran.


"Ya begitulah" kata Red.


"Apa yang terjadi dengan wajahku. Kenapa dengan tatapan mu itu?" tanya Ran.


Ran mulai salah tingkah saat Red menatapnya terus.


"Sudahlah. Hentikan itu, kita jangan bertengkar lagi" kata Ran.


"Anak baik" kata Red.


Red merapikan rambut Ran yang agak berantakan karena memakai helm tadi.


Mereka menunggu sampai acara yang diikuti oleh Bee dan Jun berakhir kira kira dua jam ada disana.


"Lihat orang orang sudah mulai keluar dari acara itu!" kata Red.


"Ayo kita bersikap seperti rencana kita" kata Ran.


Bee keluar menarik Jun dengan perasaan yang sangat gembira.


Kalau untuk Jun terlihat biasa biasa saja.


Bee membawa sebuah piala di tangannya.


"Setelah ini, kau ku antar pulang" kata Jun.


"Ok. Terima kasih" kata Bee.


Mereka berdua akhirnya melihat Red dan Ran ada diluar gedung itu.


"Kalian disini?" tanya Bee.


Red dan Ran belum menjawab pertanyaan dari Bee kemudian datang seorang gadis yang Bee kenal. Dia adalah beauty blogger yang memimpin acara tadi.

__ADS_1


"Jun. Kita bertemu lagi" kata gadis itu.


Jun terkaget dengan suara itu. Dia lalu meraih pergelangan tangan Jun sebelah kiri.


"Oh. Sima" kata Jun.


Suasana agak sedikit canggung disini.


Bee tak langsung merespon heboh dengan siapa ia akan bicara sekarang.


"Kamu tadi yang menjadi juara pertama ya. Selamat yah" kata Sima kepada Bee.


"Oh ya. Makasih" kata Bee.


"Kau juga hebat bisa menjadi salah satu juri di acara ini" kata Bee memuji.


Jun melirik ke arah Red dan Ran.


"Kenalkan ini Red dan Ran teman ku" kata Jun.


Red dan Ran bergantian saling berjabat tangan berkenalan dengan Sima.


Berbisik dalam hati, Bee.


"Kenapa hidup Jun selalu dikelilingi wanita cantik?" tanya Bee.


Jun juga memperkenalkan Bee kepada Sima.


"Kamu pasti sudah kenal dia kan. Dia Bee?" tanya Jun.


"Iya. Dia tadi yang memenangkan lomba kali ini" kata Sima.


Saling menatap satu sama lain.


"Bagaimana kalau kita pergi untuk makan malam sebentar?" tanya Sima mengajak mereka semua.


Diam sesaat.


"Ok. Baik kita akan pergi sekarang" kata Sima.


Red ikut membonceng motor Ran. Sedangkan untuk Bee ikut membonceng motor Jun.


"Tenang saja. Aku bersama driver ku" kata Sima.


Red lebih memilih bersama Ran ketimbang bersama dengan Sima ikut dengan mobilnya begitu juga dengan Bee yang diberi kode agar ia tetap ikut dengan Jun sampai di tempat makan malam yang akan mereka datangi sesuai yang di katakan oleh Sima.


Perjalanan menuju tempat makan.


"Kenapa kamu mau saja ikut dengan kami?" tanya Red pada Ran.


"Karena mereka teman kamu" kata Ran.


"Benar itu saja" kata Red.


"Benar" kata Ran.


Pulang sekolah tadi sore pukul tiga lebih dua menit.


Keluar dari kelas Ran langsung kedatangan tamu.


"Kau pernah melihat gadis ini?" tanya Hera.


Hera menunjukkan sebuah bayangan didepan Ran dengan kekuatan cahaya kuning yang ia perlihatkan kepada Ran.


"Orang orang bisa melihat kekuatan mu" kata Ran.


"Tidak. Ini hanya kau saja yang bisa melihatnya" kata Hera.


Sambil berjalan keluar kelas Hera menunjukkan bayangan wajah gadis yang ia sedang selidiki.


"Aku harus menyelidiki gadis itu. Apa ini tugas baru untuk ku?" tanya Ran.


"Tidak. Tapi, aku hanya penasaran saja dengan gadis ini" kata Hera.


"Kau datang kemari hanya untuk ini?" tanya Ran.


"Aku sudah bilang. Aku hanya penasaran saja" kata Hera.


"Sudahlah. Aku mau mengambil motor ku. Kakak bisa geser sebentar?" tanya Ran.


Hera berpindah ke arah kiri Ran menjauh darinya yang akan mengambil motor dari parkiran sekolah.


"Tunggu, aku kan hantu. Kenapa harus pindah, mereka bisa menembus tubuhku" kata Hera.


Hera yang sudah didepan parkiran sekolah melihat ke arah Ran yang sedang menahan tawa.


"Awas kau!" kata Hera.


Ran bergegas memakai helm dan menyalakan motornya.


"Ingat jangan lupa dengan kata kataku tadi!" kata Hera.


Ran dengan kode tangan yang ia berikan pada Hera yang mengartikan mengiyakan nasihat dari Hera.


"Mau apa lagi dia datang di kehidupan ku?" tanya Jun dalam hati.


Sima menuangkan lagi air soda di gelas Jun.


Sima juga tak segan untuk menyuapi Jun dengan beberapa ayam yang ada di piring milik Jun yang sudah ia potong potong beberapa bagian.


Red dan Ran saling tatap menatap.


Hati Bee memberikan sebuah komentar di situasi ini.


"Sepertinya aku tidak harus datang" kata Bee memakan ayam goreng di tangannya.


"Tapi, tidak mungkin aku pergi. Ini masih bisa aku handle" kata Bee lagi.


Setelah Red dan Ran saling bertatapan barusan mereka berdua memakan salad yang mereka pesan tadi.


"Kau juga harus memakan daging itu" kata Jun pada Red.


Ekspresi wajah Sima sedikit berbeda saat itu juga.


Red langsung berpikir, "Apa akan terjadi sesuatu?".


"Kau suka salad ini kan. Ayo makan" kata Ran mengambilkan beberapa potong sayuran di atas piring Red.


"Makasih" kata Red.


Red lalu melihat kearah Ran lalu mengambil sesuatu di bawah bibirnya.


"Ada sesuatu di bawah bibir mu" kata Red.


Dia mengambil satu remahan roti dari sandwich yang tadi Ran makan.

__ADS_1


Jun dan Bee nampak dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan melihat ini didepan mereka. Tapi, Ran biasa saja dengan perlakuan Red saat ini kepadanya.


"Kenapa?" tanya Red, melihat semua temannya yang memperhatikan mereka berdua.


__ADS_2