
Chapter 55: Sebuah Ilusi untuk Temanku.
Malam ketika Red dan Jimmy bertemu di rumah sakit.
Kali ini raga Red bisa ia kendalikan oleh dirinya sendiri.
"Aku akan mencoba bertanya. Jawab aku" kata Red.
"Ok" kata Jimmy.
Jimmy menunggu pertanyaan dari Red ajukan.
"Tadi kita bicara membahas topik apa?" tanya Red.
"Kita kan baru membuka obrolan. Kenapa?" tanya Jimmy.
"Sudahlah. Tidak jadi" kata Red.
Red sedang berpikir bahwa orang di depannya benar benar tidak tahu bahwa ia tadi dalam pengaruh mantra Bling.
Raga Red kembali di kendalikan oleh Bling seorang hantu yang masuk kedalam tubuhnya.
"Oh ya. Kau kemari sedang menjenguk seseorang?" tanya Bling pada Jimmy.
"Ya" kata Jimmy.
Keesokan harinya di sekolah saat bel istirahat pertama berbunyi.
"Kau sedang mencari sesuatu?" tanya Jun.
"Tidak" kata Sima menyembunyikan temuannya itu.
Red sedang bercanda dengan Ben di sisi kiri Sima yang sedang sibuk sendiri saat Jun datang menyapanya dari arah belakang tempat duduknya.
"Maaf" kata Red pada Sima.
Red terdorong oleh Ben menyenggol lengan Sima sebelah kiri saat ia masih duduk di kursinya.
"Tak apa" kata Sima.
Saat Red menyenggol lengannya dia masih sedang mencari benda yang ia cari didalam tas kemudian benda itu muncul kembali seketika itu dan hanya dia yang bisa melihatnya. Jun sama sekali tidak melihat benda yang baru saja ditemukan kembali oleh Sima.
Dia kemudian mengambil benda itu menggenggam erat botol berukuran sepuluh sentimeter itu dengan erat dan hati hati.
Dia tanpa mengajak siapapun untuk ikut bersamanya pergi untuk memeriksa benda itu sendirian.
Dia berlari dari dalam kelas mencari tempat yang cukup aman untuk memeriksa benda itu.
"Tak ada yang mengikuti ku" kata Sima.
Gadis ini membuka botol itu lalu mencoba untuk menuangkan beberapa tetes diatas telapak tangannya.
"Kenapa hanya satu tetes saja?" tanya Sima.
Ramuan itu hanya mau dikeluarkan dalam satu tetes saja meski dia berusaha mengeluarkan lebih dari itu.
"Kenapa kau disini?" tanya Jimmy yang baru saja datang.
Botol kaca yang berisi ramuan berwarna merah menyala bercahaya kembali menghilang dari genggaman tangan Sima saat ada orang lain yang datang menyapanya.
"Aku kira kau mencari ku" kata Sima.
"Pergilah. Jangan sampai ada yang melihat kita ada disini" kata Jimmy.
"Kenapa aku harus pergi kau saja lebih dulu pergi?" tanya Sima.
"Ok. Aku yang akan pergi" kata Jimmy.
Sima pergi dari belakang sekolah itu setelah Jimmy pergi.
Sambil pergi menuju kantin sekolah melewati siswa siswa yang sedang bermain basket, Sima berpikir mengingat kejadian tadi saat benda itu muncul kembali saat ia mendapatkan dirinya berada tidak jauh dari Red teman satu kelasnya.
"Hey. Awas!" kata salah satu siswa yang sedang bermain tenis di sisi lapangan basket.
Sima sedari tadi fokus dengan benda yang baru saja ia temukan itu.
Berjalan terus menuju kantin sekolah.
Ben dan Jun serta Good sedang bermain basket bersama teman temannya yang lain.
"Ada apa dengan Sima hari ini?" tanya Ben.
"Iya. Biasanya, dia selalu mengikuti mu" kata Good.
"Mungkin dia bosan" kata Jun.
"Syukurlah" kata Good.
Good melihat kearah teman temannya yang sedang menatapnya agak sinis setelah kata yang barusan ia katakan.
"Why?" tanya Good.
"Iya. Iya, aku salah. Aku tidak akan menjelekkan orang lain dibelakang" kata Good.
Good mendapatkan bola basket dari lemparan Ben.
Bling sedang makan soup jamur dan salad kesukaan Red.
Sima juga ada disana di kantin dalam satu meja panjang yang sama dengan Red. Memesan makanan yang sama dengan apa yang Red pesan yang sekarang ada di depannya.
Agak canggung.
Bukan hanya Red melainkan juga dengan Sammy dan Bee yang ada di sebelah Red sebelah kanan Bee dan sebelah kiri adalah Sammy yang juga makan di meja yang sama.
"Kau suka salad ini kan" kata Sima.
Sima memberikan satu mangkuk salad yang ia pesan tadi kepada Red.
"Bagaimana kalau kau juga mencobanya?" tanya Red.
"Ok" kata Sima.
Sima mencobanya lebih dulu beberapa potongan salad sayur yang akan diberikan oleh Sima kepada Red.
__ADS_1
"Aku baru tahu salad disini sangat lezat. Pantas saja kau suka" kata Sima.
Baru setelah Sima mencoba lebih awal salad yang akan diberikan kepada Red, gadis ini mau mencobanya.
"Boleh aku mencobanya?" tanya Bee.
"Ambil saja" kata Red.
Sammy juga mencicipi sedikit salad itu karena dia memang tidak terlalu menyukai sayuran.
"Kau juga harus lebih suka sayur" kata Sima pada Sammy.
"Terimakasih atas perhatian mu" kata Sammy.
Suasana kantin cukup ramai hari ini.
Mereka bertiga menikmati makanan mereka.
Sambil memakan satu sendok sup jamur lagi.
"Untuk apa, aku berteman dengan kalian" kata Sima didalam isi hatinya saat menatap ketiga teman kelasnya yang masih menyelesaikan makan mereka.
Jun datang bersama yang lain membawa makanan duduk disebelah kanan Sima.
Hal konyol yang Sima lakukan seperti biasa ia lakukan kepada orang orang yang pernah ia tindas sebelumnya sebelum Red.
"Kau menumpahkan sup ini di bajuku" kata Sima.
Sima tiba tiba saja menumpahkan sup yang ada di depannya sendiri saat Jun baru saja datang.
Siswa siswi yang ada di kantin sekolah melihat kearah Red.
"Korban baru Sima" kata Sammy dalam hati.
Untuk teman Red yang lain yaitu Bee masih tetap tenang menikmati makanan yang ada di depannya.
"Kau tak apa?" tanya Jun.
Jun berusaha memberikan tisu yang ia bawa dalam saku celana sebelah kanannya kepada Sima.
Jun melihat kearah Red.
Red menghela napas setelah sup dan makanannya sudah ia habiskan.
Suasana masih hening.
"Kau tak mau meminta maaf padaku?" tanya Sima.
Red atau Bling membawa piring dan mangkuk yang ia satukan dalam satu nampan ke tempat pencucian piring kantin sekolah yang tidak jauh dengan tempat duduknya yang tadi ia gunakan untuk makan di meja kantin.
"Kau mau pergi kemana?" tanya Sima pada Red.
Red tidak peduli dengan keberadaan dan semua kata kata yang dikeluarkan oleh teman satu kelasnya itu.
"Hey!" kata Sima kepada Red sekali lagi.
Kantin sekolah masih hening.
Red menuju lapangan sepakbola sekolah berteduh dibawah pohon rindang berdaun agak kemerahan.
Bergabung dengan siswa yang lain yang sudah lebih awal duduk disana dengan buku buku mereka.
Red mengambil buku kecil dari dalam saku rok abu abunya.
"Aku penasaran dengan buku ini" kata Red atau Bling.
Suasana kantin kembali berjalan normal setelah Bling pergi dari sana menyusul kemudian Bee pergi. Dia langsung pergi saja tanpa berbicara kepada Good yang ada di depannya memakan sup telur.
Kemudian, dua menit selanjutnya Sammy juga pergi dari sana bukan alasan karena adanya Sima tapi ada Jimmy yang tidak disangka akan makan di kantin sekolah bareng Sammy.
Sammy melewati Jimmy yang ada disebelah kiri gadis itu saat saling berpapasan tanpa sapa atau permisi. Sammy terlihat dengan wajah datar saat melewati Jimmy mantan pacarnya itu.
Ben menahan tawa saat hal itu terjadi tepat di depannya saat ia akan mengambil air mineral.
Kemudian, Ben kembali duduk disebelah kanan Jun.
"Ada yang mencurigakan?" tanya Marid.
Dia datang tiba tiba dengan membawa makanan disebelah Jun menerobos Jun dan Ben kini dia duduk diantara Jun dan Ben.
"Apa yang kau bicarakan?" tanya Jun.
Sima menyadari bahwa telapak tangannya mengeluarkan asap berwarna merah saat ia mengambil satu sendok makanan di depannya itu.
Sedikit panik kemudian dia pergi meninggalkan kantin tanpa menaruh kembali peralatan makan yang baru saja dipakai masih di atas meja di dekat Jun dan Good.
"Akhirnya, dia pergi" kata Marid.
"Kau terlalu baik padanya. Jadi dia bisa semena mena kepada Red" kata Marid.
"Bahkan seorang Bee yang manja itu lebih baik dari gadis itu" kata Marid.
"Dia orang yang kukenal" kata Jun.
Sudah tak ada pembicaraan lagi diantara mereka berempat yang kemudian menyelesaikan menghabiskan makanan mereka.
Kepanikan muncul kembali lagi kepada diri Sima karena saat ia masuk kedalam toilet wanita untuk memeriksa tangan sebelah kanan asap itu terus muncul dari balik telapak tangannya.
Tak berapa lama dia merasa mual dan apa yang keluar dari mulutnya itu bukanlah makanan yang ia makan tadi melainkan asap asap yang berwarna merah.
Sima bertambah panik dan cemas atas yang ia alami ini ia anggap suatu hal aneh.
"Apa aku akan berubah menjadi monster?" tanya Sima bercermin di kaca diatas wastafel toilet wanita sekolah.
"Gawat. Gawat. Jika hal ini terus terjadi padaku" kata Sima.
Gadis ini masih ada di toilet wanita sekolah sendirian sejak tadi didalam sana hingga bel masuk kelas sudah berbunyi tiga menit yang lalu.
"Kemana gadis ini?" tanya Bee yang satu kelompok diskusi di mata pelajaran membahas tentang politik dan sosial.
"Aku tahu aku sangat pintar tapi tidak harus aku semua yang menyelesaikan ini" kata Bee mulai marah kepada Sima yang belum datang juga kedalam kelas.
Sima baru bisa keluar dari dalam toilet wanita setelah tiga puluh menit ada disana.
__ADS_1
Wajahnya pucat tak bisa melanjutkan pergi ke kelas. Dia pergi ke ruang rawat sekolah untuk mendapatkan pertolongan dan istirahat sebentar.
Pukul sepuluh pagi di kantor tempat Flow bekerja. Wanita ini adalah kakak kandung dari Bling.
Dia fokus dengan pekerjaannya yang belum selesai di layar monitor komputer di meja tugas.
"Tok, tok, tok!"
Suara ketukan jemari seseorang diatas meja kerja Flow.
Flow benar benar masih sibuk dengan pekerjaan.
"Coba lihat aku sekali saja" kata seseorang itu.
Flow tak menghiraukan pria di depannya itu.
"Nanti siang kita makan di dekat kantor ini?" tanya pria itu.
"Tidak. Pekerjaanku menumpuk" kata Flow.
"Aku Jax. Sudah lupa?" tanya Jax.
Dia baru ngeh kalau yang mengajaknya bicara adalah Jax kakak kandung Jun.
"Oh Tuan Jax" kata Flow lalu langsung berdiri menghadap kearah Jax.
"Apaan itu. Kita sudah berteman sejak lama" kata Jax.
"Tadi kau bicara apa padaku?" tanya Flow.
"Kita pergi makan siang di kafe depan kantor ini" kata Jax.
"Siap!" kata Flow.
Jax kembali bekerja sebagai perwakilan perusahaan untuk datang ke perusahaan tempat kerja Flow.
Flow kembali bekerja lalu beberapa teman kantornya langsung datang menghampiri Flow yang sedang kembali bekerja didepan layar monitor komputer.
Teman kerja di sebelah kanan Flow bertanya, kemudian dia berkata "Darimana kau mengenalnya. Apa dia pacar mu?".
Flow sudah tidak kaget dengan pertanyaan yang ia dengar tentang hal ini sejak masa kuliah dulu saat ia sering bertemu untuk saling tukar pikiran sebagai teman.
"Kita hanyalah teman" kata Flow.
Pertanyaan pertanyaan baru muncul bukan hanya mereka bertanya banyak hal tentang kedekatan ia dengan Jax bahkan sampai meminta bantuan Flow agar bisa bekerja di perusahaan tempat Jax bekerja saat ini.
Pukul dua belas siang, Sima kembali ke kelas setelah istirahat di UKS saat bel berbunyi.
Sima duduk di kursinya sambil menunduk melihat wajahnya di atas meja dengan menyilangkan kedua tangan.
Belum ada yang bertanya keadaannya baik Jun yang sibuk mengerjakan tugas sekolah tadi pagi.
"Dia masih utuh tidak kurang apapun" kata Jun pada Sima.
Red mendekat kearah Sima dan berkata, "Ini milikmu, tadi aku temukan dibawah meja mu.
Benda itu tiba tiba ada muncul kembali dibawah meja dekat kursi Red sebelah kanan kaki meja.
Sima menerima benda itu dari tangan Red.
Saat berada ditangan Red benda itu terlihat olehnya tidak lebih hanya sebuah botol kaca biasa berisi benda cair berwarna merah tanpa ada keanehan lain yang bisa dilihat kecuali dalam pandangan mata Sima.
"Makasih" kata Sima.
Benda itu akhirnya bisa kembali ditangan Sima. Ia memasukkan benda itu kedalam tas sekolah di bawah meja.
Setelah ia masukkan kembali kedalam tas, Sammy kemudian membuka tasnya kembali dan benda itu menghilang lagi.
Pulang sekolah yang ia anggap adalah sebuah waktu untuk dia menghasilkan pendapatan.
"Kau mengajak Bee nonton bioskop?" tanya Marid.
Si Good mulai memberi sinyal warning ketika mendapat pertanyaan pertanyaan unik dari sahabatnya itu.
Good menjawab dengan hati baik, dan dia berkata "Aku sibuk bekerja".
"Kalau pergi makan bareng?" tanya Marid lagi.
"Tiap hari aku bawa makanan untuk dia" kata Good.
Masih sabar menghadapi serangan ini.
"Kamu sudah pernah main ke rumahnya?" tanya Marid.
"Untuk apa?" tanya Good.
"Ketemu Bapak Ibunya" kata Marid.
Bee yang ada disebelah kiri Good cuma senyum senyum sendiri mendengar keduanya sedang mengobrol namun lebih terlihat mau bertengkar.
"Kalian jadian sudah berapa lama?" tanya Marid lagi.
Good mulai kesal dengan pertanyaan Marid.
"Baru beberapa hari" kata Good.
"Nanti seratus hari jadian mau kasih hadiah apa?" tanya Marid.
Good memberi pertanyaan kepada Bee langsung saat menerima pertanyaan dari temannya itu.
"Kau mau hadiah apa nanti?" tanya Good pada Bee.
"Terserah kamu aja. Aku juga tidak mewajibkan" kata Bee menjawab santai.
"Oh" kata Marid.
Marid sengaja sedang menguji kesabaran Good seperti di hari hari biasa.
"Kapan kita jadian. Kita kan cuma sandiwara" kata Bee.
"Jangan keras keras ngomongnya" kata Good.
Mengapa Marid memberi pertanyaan itu kepada Good, itu karena ia tidak percaya bahwa mereka sudah jadian.
__ADS_1