Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 139: Soulmate.


__ADS_3

Chapter 139: Soulmate.


 Garis retak mulai muncul ditengah tengah dahi Jamie dan Flow mereka berdua sedang beradu kekuatan dalam diam menggunakan telepati.


 Kembali retak di bagian tubuh Jamie bagian lengan diikuti juga Red dia sedang mematahkan  lengan tangannya sendiri bagian kiri.


"Arggghhhhhhh"


 Jamie merasakan kesakitan karena tangannya retak.


 Red tampak baik baik saja tanpa rasa sakit dengan apa yang dia perbuat pada dirinya sendiri.


 Energi dari raga Red terlihat memerah lambat menguap rupanya arwah arwah hantu yang telah masuk kedalam tubuhnya sedang menyesuaikan diri lebih dengan raga baru mereka. 


 Jamie melihat air mata dari mata gadis teman satu kelasnya mengalir deras ikut terbawa angin.


"Kau masih dengan Red yang ku kenal?" tanya Jamie.


"Pergi" kata Red.


 Seperti kilatan cahaya dia datang datang lagi ke berbagai arah dalam waktu yang hampir bersamaan darah keluar dari bagian perut dengan empat kali tusukan dan dua kali tusukan ia dapat.


 Red memeluk dengan belati di perut Jamie masih tertusuk darah keluar sangat deras.


 Kondisi mencekam menakutkan makin malam disana tanpa siapapun diatas gedung itu selain mereka berdua.


 Sniper itu dilihat dari arah belakang dengan teropong melihat kedua gadis yang sedang bertarung.


 Dia sedang minum kopi hangat sambil terus memantau mereka.


"Ini semakin seru" kata Sniper itu menikmati kopinya lagi.


 Melihat dengan teropong lagi melihat mereka.


 Jamie juga menangis menangis dalam kejauhan melihat perubahan yang dialami oleh temannya itu.


 Dia melempar ke segala arah jaring jaring dari sepuluh kelopak bunga mawar merah muda. Bunga bunga itu terlihat mengikat kekuatan energi negatif dari dalam raga Red sedangkan Jamie yang sudah penuh darah bercucuran itu bukanlah Jamie sesungguhnya melainkan seorang hantu yang menyamar sebagai Jamie yang diperintah langsung oleh Jamie untuk menjalankan misi ini.


 Red mulai stabil dengan tindakan yang baru saja Jamie lakukan terhadap dirinya.


 Hantu itu lenyap perlahan bersama dengan darah yang keluar dari tusukan serangan dari Red.


 Kopi milik Sniper itu sudah hampir habis dan Sniper ini masih disana sedang menjalankan tugas dan tugas lainnya.


"Jangan ganggu aku!" kata Red berteriak.


 Penekan energi negatif milik Jamie hancur berhamburan di udara menerpa wajah Jamie yang tidak akan mempan dengan kekuatannya sendiri.


 "Boommmm!"


 Suara tetesan darah muncul dari arah yang tidak terduga oleh Jamie mereka semua anak buahnya ada diantara Jamie hancur seperti semudah itu darah ada dimana mana mereka  meledak tepat di antara mereka berdua.


"Aku tidak butuh orang lain mengasihaniku" kata Red.


 Para hantu yang berjaga diantara mereka di tarik semua menjadi satu dan mereka hancur secara bersamaan disaat itu juga.


 Memerlukan itu atau mungkin itu salah satu yang ia cari dari bawah terik matahari yang cerah bahkan panas melewati banyak jalan jalan sendiri atau mungkin bersama orang lain ide yang cukup bagus untuk bisa merasakan hal semacam itu  atau apa yang ia inginkan dalam satu kali seumur hidup mungkin sebuah keinginan sederhana lainnya yang sudah dianggap sebuah hal yang sangat istimewa.


 Menemani atau tidak ditemani hari ini sungguh indah untuk dirinya sekali lagi sekali dalam seumur hidup lebih mencintai diri sendiri meski terkadang terlihat lebih egois tak peduli dengan orang lain berbicara yang dia tahu adalah bahwa seseorang berhak dan memiliki kesempatan untuk dirinya memilih menyayangi dirinya sendiri.


 Ingin itu dan ingin itu hingga sadar bahwa apa yang sebenarnya yang ia inginkan yang ia inginkan adalah dirinya sendiri.


 Dia juga melihat kereta api yang lewat didepannya dengan kaca jendela tembus pandang dia ada disana dengan gerbong kereta berwarna biru langit kemudian melihat ke atas langit awan awan berkumpul indah di langit biru cerah. Lalu, semua berubah sangat cepat berpindah tempat lain dengan pemandangan menjadi waktu di sore hari yang sudah ramai dengan kendaraan orang orang yang pulang bekerja wajahnya entah mengapa dia sungguh terlambat jika di lihat itu sungguh sangat terlambat.


 Dia ada disana rupanya menunggu terlalu lama hingga mungkin dia akan lupa jika mereka bertemu lagi benarkah dunia ini juga mengizinkan mereka untuk bertemu lagi atau benar benar lupa dengan kesibukan keduanya. Disisi lain salah satu dari mereka masih berharap dalam waktu yang tersembunyi kapanpun dan dimanapun bahkan jika dia mendengar seseorang dengan nama yang sama maka gerak refleks yang dia lakukan adalah hanya bisa mengingatnya lagi mengingatnya lagi. 


 Seperti saat ini dia sedang diatas bukit dengan pemandangan kota yang indah kota yang sudah berganti waktu menjadi pagi.


"Kau tidak merindukanku walau hanya sekali saja" kata Seseorang.


"Kita bisa berbincang bersama saling bertanya  kabar" kata Seseorang itu.


"Sudah lama sekali bukan" kata Seseorang itu.


 Kisah itu seperti lagu indah yang diputar dari dalam ponsel dan didengar sendiri dalam suasana hening dan cerah seperti pagi hari ini.


 Dia pergi dengan tas tote bag hitam dan lagu yang diputar berjalan pergi dari jalan bukit yang sedang ia lewati.


 Berjalan santai untuk pergi bekerja berangkat lebih pagi dengan semangat awal hari ini.


 


"Hahhhhhh!"


 Uri terbangun dari tidurnya kali ini masih di antara pepohonan hutan melihat ke atas langit bulan yang cerah memberi penerang Flow dan Uri yang berbaring diatas tanah.


 "Siapa dia?" tanya Uri.


 Uri melihat tangan Flow mencoba meraih ke atas membayangkan sesuatu.


"Aku sudah kembali dan kembali benar benar disini" kata Uri.


"Rrrrruuuuugggghhhhhgk!"


 Makhluk misterius itu dengan kabut tebal tidak berbentuk datang lagi ada diatas langit yang berusaha Uri raih.


 Sudah rasa takut itu sewajarnya masih menakuti tapi ia dalam kondisi antara takut juga pasrah jika nyawanya benar benar diambil.


"Dia benar benar datang lagi" kata Uri.


 Kedua tangan mencengkram dedaunan di tanah tempat ia berbaring dan lari cepat kemudian dia dari makhluk misterius itu.


 Hentakan hentakan langkah langkah kaki bagai slow motion hasil karyanya sendiri berlari secepat mungkin itu yang ia inginkan.


 Angin datang mengikuti arah Uri berlari dari kejaran makhluk yang sama.

__ADS_1


"Apa salahnya mencoba" kata Uri.


 Dia berlari melawan arah dengan langkah kaki tanpa ragu meloncat kemudian meninju makhluk itu.


"Bugggg!"


 Cairan seperti semen keluar berbau busuk mengenai tangan dan lengan kanan tangan Flow. Cairan itu mengeras dan mengeraskan bagian kulit Flow membuat retak panas di bagian tangan sampai lengan ke atas.


 Uri segera berinisiatif melepas tangannya yang terjebak dalam wajah asli perlahan makhluk yang selalu mengincarnya


 Cairan yang mengeras di tangan dan lengannya itu ia hempaskan begitu saja terlempar jauh bahkan benda itu jatuh diatas tanah suara itu datang.


"Boooom!"


 Meledak keras dan membakar apa saja yang bertemu dengannya saat itu juga.


 


 Pasang badan mata waspada dia berteriak keras berteriak keras lagi semua yang ada didepan mata Uri meledak tanpa henti beruntun menyayat suara suara itu terdengar.


 Terdiam tanpa suara.


 Keringat menetes di pelipis kepala sebelah kiri dengan mata melirik ke arah kiri dan ke kanan.


"Dia sedang bermain petak umpet lagi denganku" kata Uri.


 Masih hening.


 Seseorang berlari melewati kaki kiri cepat dan pergi lagi.


"Aku yakin dia tadi ada disinii" kata Uri.


 Hening.


 Suara dedaunan jatuh.


 Ranting jatuh, terdengar.


 Malam cerah malam ini.


 Visual yang ia lihat saat ini berubah putih dan hitam terlihat oleh kedua mata.


 Berkedip lagi.


 Berkedip lagi.


 Tetap sama dengan kedua warna itu.


 Rasa nyeri luar biasa dalam keheningan gambar visual ini terdengar kemudian suara piano dimainkan dengan merdu lalu sangat cepat ketukan piano dan berhenti.


  Hening berlanjut.


  Uri masih menebak nebak dengan rasa sakit itu.


 


"Segggghh!"


 Satu kali pula luka sayatan datang.


 Hening.


 Banyak suara ketukan piano datang serentak waktu itu juga dan bisa ditebak apa yang akan terjadi.


  Benar.


  Dia menerima itu.


  Menerima tanpa ada waktu untuk membela segalanya segala yang tidak ia tahu apa alasan yang jelas yang membuatnya harus menerima hal itu.


 Dia dengan berbagai sayatan luka seperti pedang tajam telah berhasil menggores semua yang ia inginkan agar wanita itu terluka dan terluka berdarah darah jatuh diatas tanah yang tandus dengan dengan dedaunan ranting ranting juga rerumputan yang menjalar tumbuh di hutan disekitarnya.


 Disini sudah tak ada air mata yang berarti semua hanya cerita itu hanya sekadar remahan tak berharga yang yang dianggap benda yang tidak berguna tak bernilai.


 Dia jatuh tersungkur.


"Apa kau masih tidak mendengarku?" tanya Uri.


 Mulutnya berdarah dengan wajah yang terluka pula.


 Dia tidak ingin membuat pemilik dari raga itu sedih sehingga dia tetap mempertahankan diri agar tidak menutup mata lebih cepat.


  Makhluk itu mendekat tanpa suara dia memeriksa apakah Uri masih bernafas atau sebaliknya tapi sepertinya untuk saat ini dia belum memutuskan untuk mengambil nyawa dari wanita yang sudah terluka parah itu.


 Dia meraih wajah wanita itu dengan kasarnya dia menyentuh wajahnya.


 Uri menangis ketakutan dan kesakitan.


 Dia tidak peduli dan tetap melakukannya tetap semakin kuat mencengkram wajah wanita itu meski darah bertambah keluar dari wajahnya duri duri mulai tumbuh hitam tajam ada di telapak tangan makhluk misterius ini.


"Arrrgggggghhhhhh!"


 Uri berteriak keras karena duri duri itu makin tajam menusuk wajah dari cengkraman tangan makhluk itu tanpa belas kasihan ataupun mengakhiri nyawa wanita itu. Menyiksa itulah niatnya.


 Tangannya mengisap energi yang dimiliki oleh Flow dan Uri perlahan tapi sangat kejam rasa sakit itu.


"Tolong!" berteriak Uri.


 Meski tidak yakin bahwa ia akan ditolong oleh orang lain tapi ia mencoba berteriak meminta tolong.


 Tak ada yang datang diteriakan pertama.


 Sambil terisak menangis.


"Tolong!" kata Uri lagi.

__ADS_1


"Tolong!" kata Uri.


 Dia tidak putus asa.


 Berteriak lagi, dan berkata "Tolong!".


 Belum ada yang datang.


 Berteriak sekali lagi.


 "Aku mohon tolong aku!" kata Uri.


 Bayangan itu muncul lagi bayangan seseorang yang tidak ia kenal.


 Datang dalam sebuah cahaya terang.


 Rasa sakit berasal dari cengkraman tangan makhluk misterius itu semakin pergi. Dia mulai bisa bernafas lagi dadanya tidak begitu sesak lagi.


 Seperti jatuh diantara ruang putih tak ada hal lain selain dia dan Flow disana merasakan momen ini. 


 Pria itu yang Uri maksud sedang membawa tas tote bag miliknya berada di bukit yang sama di jalan yang sama dalam perjalanan pulang dia kembali memandang pusat kota dari atas sana sendirian diantara orang orang yang juga melewati jalan umum itu dan diantara mereka yang juga sedang menunggu matahari tenggelam hari ini.


 Dia dengan satu cup espresso hangat meminumnya disana duduk ditempat duduk yang telah disediakan untuk orang orang yang sejenak ingin beristirahat dan menikmati pemandangan pusat kota dari atas bukit itu.


"Kenapa akhir akhir ini aku teringat padanya?" tanya seseorang itu.


"Apa dia baik baik saja?" tanya seseorang itu.


"Kenapa aku sekhawatir ini?" kata seseorang itu.


 Matahari mulai tenggelam beberapa orang juga ada disana dan terlihat orang orang yang nampak akrab dengan pria itu datang menyapa dengan ramah dan mengajaknya mengobrol di suasana waktu sore ini.


"Flow bangunlah" kata Uri.


"Dengar. Aku memanggilmu, jadi bangunlah" kata Uri lagi.


 Dia terisak dengan tangis yang belum selesai dalam ruang serba putih hantu wanita ini terus memanggil nama wanita itu.


"Aku mohon bangun" kata Uri.


"Jangan pergi!" kata Uri.


 Isak tangis itu terdengar keras dengan rasa sedih yang menusuk kalbu terdengar nyata di telinga siapapun yang mendengarnya.


 Ruangan itu mengelupas mengelupas seperti kertas yang mengelupas menguning runtuh terlihat runtuh abu putih jatuh di raga Flow indera penglihatannya melihat ruangan itu runtuh. 


 Uri dan air matanya ada disana memanggil nama Flow.


"Flow" kata Uri.


 Lampu lampu didalam rumah itu mati dan nyala berulang kali.


 Mati.


 Menyala.


 Kemudian, mati.


 Menyala lagi.


 Tirai bergeser sedikit terbawa oleh datangnya angin dari ventilasi jendela  kamar seseorang. Rumah itu dengan aroma therapy musim panas tercium segar di setiap sudut kamar.


"Flow!" kata Uri.


 Kedua matanya terbuka.


 Menatap langit.


 Menatap langit kamar dengan cahaya lampu yang sama putih terang.


"Uri?" kata Flow memanggil nama seorang hantu.


 Dia dengan selimut putih yang melindungi tubuhnya ada diatas tempat tidur kamarnya sendiri.


 Terbangun.


 Turun dari tempat tidur.


 Melihat kalender memeriksa hari tanggal berapa sekarang.


"Apa aku bermimpi?" tanya Flow.


"Kurasa tidak, itu semua sangat nyata" kata Flow.


 Flow melihat arah jarum jam sudah pukul tujuh malam lebih sepuluh menit.


 Pergi melihat cermin.


 Bercermin.


 Memeriksa kedua lengan.


"Tak ada luka sama sekali" kata Flow.


"Wajahku sudah baik baik saja" kata Flow.


 Dia berteriak dan loncat kegirangan senang bisa kembali ke dimensi dunianya sendiri.


 Masih di dimensi misterius itu.


 Ada Ran dan Jun berada ditempat yang sama dengan tempat terakhir Flow terakhir terlihat ada di dalam hutan itu.


"Energi penyembuh milikmu terlihat terakhir kali disini" kata Ran.


 Kristal kristal itu kembali lagi kepada pemiliknya di tempat itu kepada Jun dilihat langsung oleh Ran.

__ADS_1


"Tujuanmu kemari untuk melindungi pemilik raga dan Hantu wanita itu kan" kata Jun.


 Energi dari berlian yang diberikan untuk Uri berhasil menyatu pada hantu itu yang dilakukan oleh Ran.


__ADS_2