
Chapter 36: Summer Beach
Flow diruang tamu rumah.
Ada Red yang juga sedang menonton variety show dengan subtitel bahasa asing di ponselnya.
Flow dengan alat botol spray dengan panjang lima belas sentimeter digenggamnya.
Flow sedang menyiram bunga di dibawah jendela luar rumah.
"Kau tidak pergi jalan-jalan?" tanya Flow.
"Nanti saja" kata Red.
Fokusnya masih di layar ponsel.
"Begitu yah" kata Flow.
"Emm" jawab Red.
Flow tiba tiba saja ada didepan Red.
"Ada apa?" tanya Red.
Flow menyentuh kedua pipi Red dengan jemari tangan Red.
"Kau tidak bertengkar dengan Jun kan?" tanya Flow.
"Bertengkar juga sudah biasa" kata Red.
"Tadi sudah sarapan?" tanya Flow.
"Sudah" kata Red.
"Jangan ganggu aku. Aku sedang sibuk" kata Red.
"Aku lupa, dia juga perlu ketenangan" kata Flow.
Alat spray tadi ia taruh disisi dalam jendela.
"Aku pergi dulu" kata Flow.
"Ok" kata Red.
Flow pergi menutup pintu gerbang rumah.
"Kerja terus padahal hari libur, dia malah minta lemburan" kata Red kepada Flow.
Flow pergi dengan pakaian classy warna merah tas hitam dan alas kaki court shoes hitam serta dokumen perusahaan.
Kembali di tahun awal masuk sekolah menengah atas oleh Red dan Jun.
"Kita tidak bisa nonton film. Tiket film kesukaan ku habis" kata Neo.
Di dalam hati Red riang gembira.
"Terimakasih Tuhan" kata Red.
"Bagaimana kalau kita nonton film kesukaan ku?" tanya Red.
"Bagaimana kalau kita pergi ke kafe dekat mall ini?" tanya Neo.
"Kafe?" tanya Red.
"Iya kafe. Aku dengar lagi viral sebuah kafe yang alamatnya dekat mall ini. Kita pergi?" tanya Neo.
Red diam marah mulai berapi-api.
"Padahal aku pengin banget nonton film superhero terbaru" kata Red.
"Ayo ikut aku!" kata Neo menarik tangan Red.
"Tapi. Tapi, ... " kata Red.
Red dan Neo keluar dari mall tadi menggunakan sepeda motor pergi menuju kafe tersebut.
Didalam kafe.
"Kita pesan minuman ini dan makanan ini" kata Neo pada seorang wanita karyawan kafe tersebut.
Sebuah kafe bertema serba kopi.
Beberapa menit menu yang dipesan oleh Neo tiba diatas meja.
"Padahal aku tidak ingin pesan menu udang ini. Tapi, dia malah nggak dengerin pendapat aku" kata Red.
"Lalu sekarang aku harus menghabiskan?" tanya Red.
Red merasa tidak aman tentang alerginya terhadap udang.
Jun ada disana sedang berdiskusi dengan Rose tentang desain baru kafe itu di beberapa tempat di bagian kafe tersebut.
Ada di salah meja kafe tersebut.
"Kak Rose. Aku boleh izin sebentar setelah meeting ini?" tanya Jun.
"Silakan. Kita juga selesai meeting kan" kata Rose.
Jun menghampiri kedua teman sekolahnya.
"Hello everybody!" kata Jun.
"Kau Red kan?" tanya Jun.
"Jangan ganggu dia" kata Neo pada Jun.
"Tidak" kata Jun.
Piring yang berisi pasta dengan topping udang ia geser ke depannya sekarang dari depan Red dari bagian meja sekarang mereka duduk bersama.
"Kau bisa pesan lagi, aku yang bayar" kata Jun memakan makanan Red.
Dari kejauhan saja Red sudah jelas tidak suka dengan pesanan makanan yang Neo suka.
"Tidak mau pesan. Aku saja yang pesankan" kata Jun.
Jun memanggil salah satu karyawan.
"Kau suka apa atau kamu seorang vegetarian?" tanya Jun.
"Ya" kata Red.
Mereka makan bertiga dalam satu meja.
Jun sudah tahu kalau Neo akan marah padanya karena ia mengganggu Neo yang sedang makan bersama dengan Red.
"Kau disini dengan siapa?" tanya Neo.
"Aku sedang bersama Kakak sepupuku" kata Jun.
"Di mana dia sekarang?" tanya Neo.
"Itu dia bersama pacarnya" kata Jun menunjuk kearah Rose bersama Leo.
Ada hantu disebelah Jun menatap wajah Red penuh amarah.
Mata Red berubah warna saat menatap wajah hantu tersebut.
Hantu itu masuk kedalam tubuh Jun.
Dia langsung melirik ke wajah Red kemudian kearah Neo dia memegang garpu dan akan menusukkan garpu itu pada dada Neo tanpa sepengetahuan Neo.
Red mengambil garpu yang dipegang oleh Jun dan hantu itu menahannya.
Terjadi saling rebut garpu diantara keduanya dihadapan orang orang yang ada disana yang sedang berkunjung ke kafe tersebut.
Neo terkaget dengan kedua temannya yang sedang berebut garpu.
"Lepaskan garpu ku!" kata Jun.
__ADS_1
"Tidak. Tidak akan" kata Red.
Seketika dan garpu itu terlepas dari tangan Jun dan Red lalu terlempar ke bawah lantai.
Suara garpu mengisi heningnya lantai.
Hantu itu keluar dari tubuh Jun.
Jun kembali dengan dirinya sendiri menatap ke sekeliling juga menatap Neo dan Red.
"Ada yang salah dengan ku. Kenapa orang orang melihat ku?" tanya Jun.
"Kalian cukup dekat rupanya" kata Neo.
Neo curiga bahwa mereka berdua memang sudah saling kenal sejak lama karena sikap mereka barusan.
"Tidak" kata Jun.
"Lalu tadi apa, kalian berebut sebuah garpu" kata Neo.
"Tidak. Garpu apa?" tanya Jun.
Beberapa menit kemudian kondisi kembali seperti semula tak membahas tentang kejadian tadi.
"Red. Aku punya ide" kata Neo.
"Apa?" tanya Jun.
"Aku tidak berbicara dengan mu" kata Neo.
"Iya. Kamu bilang apa?" tanya Red.
"Bagaimana kalau aku belikan kamu ponsel baru?" tanya Neo.
"Kenapa harus?" tanya Red.
Agak ada api api strata sosial diantara mereka.
"Tidak apa apa. Tapi, ponsel kamu sudah usang sekali" kata Neo.
Red marah banget dan malu sekali Neo bicara kayak gitu pada Red didepan Jun lagi.
"Otaknya terbuat dari kaleng apa sih. Apa dia nggak tahu apa itu phone-shaming?" tanya Jun dalam kepalanya. Jun berpikir.
"Aku merasa tak ada masalah dengan ponsel ku" kata Red.
Red berbicara dalam hati.
"Yang bermasalah adalah otak kamu" kata Red kepada Neo.
"Jangan dengarkan anak ini" kata Jun kepada Red.
"Kita pergi nonton film gimana?" tanya Jun.
"Kita nonton film superhero terbaru bagaimana?" tanya Red.
"Superhero. Ayo!" kata Red penuh semangat.
Dia lupa ada Neo disana.
Rencana menonton film di bioskop mereka pergi bertiga.
Neo merasa malas menonton bersama.
"Aku mau pulang!" kata Neo.
Neo pergi gitu saja tanpa ingat Red untuk mengantarnya pulang.
Jun dan Red melihat Neo dari dalam kafe.
Menunggu sampai Neo benar-benar pergi dari kafe.
"Kita takkan pergi ke bioskop. Aku akan pulang" kata Red.
Red mengambil tasnya, lalu dia pergi setelah Neo pergi.
Red pergi dari kafe dan membayar semua menu yang mereka makan tadi.
Sambil ketawa bareng pacarnya.
"Kasian banget itu teman kamu. Malah dia yang harus bayar" kata Rose.
"Dia juga bayar makanan ku. Aku pria macam apa coba" kata Jun.
"Kamu juga suka ngetes ngetes cewek baik apa nggak" kata Leo.
"Padahal kalau tadi kamu bilang dia teman kamu. Kalian nggak usah bayar" kata Rose.
"Aku tidak mau Kakak terlalu baik" kata Jun.
"Besok. Besok, bilang saja dia teman kamu, kelihatannya dia juga gadis baik" kata Rose.
Red pergi ke bioskop sendirian.
Dia memesan tiket nonton film terbaru yang ia sangat ingin tonton.
"Aku mau dengerin musik sambil nunggu Ran datang" kata Red.
Red mendengar musik bergenre R&B dari rapper terkenal luar negeri berdarah oriental.
"Kau akan langsung pulang?" tanya Rose.
"Tidak. Aku akan pergi ke suatu tempat lagi" kata Jun.
"Iya. Tapi, jangan lupa istirahat" kata Rose.
Jun pergi dengan sepeda motor.
"Dia pasti cari uang lagi" kata Rose.
"Ya sudahlah. Dia seorang pria, selagi masih sehat bagus jika ia rajin bekerja" kata Leo.
"Tapi kan sayang, dia butuh istirahat. Kalau sakit gimana?" tanya Rose.
Leo diam melihat pacarnya terus ngomel.
"Tuh kan, aku tidak di gubris" kata Rose.
"Aku baru tahu. Aku tidak salah pilih pacar" kata Leo.
"Merayu lagi" kata Rose.
"Tidak" kata Leo.
"Sudahlah. Aku mau beres beres dapur lagi" kata Rose.
"Aku ikut dengan mu" kata Leo.
"Kalau begitu kamu harus membantu ku?" tanya Rose.
"Siap" kata Leo.
Di bioskop.
"Red. Aku sudah membeli popcorn ayo kita masuk ke dalam bioskop" kata Ran.
Red dan Ran akan masuk lalu didepan mereka juga ada seseorang dengan satu wadah popcorn rasa stroberi dan dua cup minuman soda. Itu adalah Jun.
Jun mengedipkan mata pada Red.
Red dan Ran diam sesaat saling menatap kemudian masuk ke ruang bioskop karena film akan segera dimulai. Begitu juga dengan Jun yang ada didepan mereka saat ini.
"Ini untuk mu. Terima saja, aku sengaja membelinya untuk mu" kata Jun memberikan satu cup soda kepada Red.
"Makasih" kata Red.
Ran duduk disisi kanan Red dan Jun ada sisi kiri Red.
Film diputar.
__ADS_1
Red akan memakan satu popcorn dari popcorn milik Ran.
Kemudian, tangan Jun menarik tangan Red lalu memakan popcorn yang ada di tangan Red.
"Apa apaan kau?" tanya Red satu pukulan teman melayang di pundak Jun.
Ran tertawa dan Jun juga tertawa.
"Kalian berisik sekali!" kata seseorang dibelakang mereka.
Ketiga remaja ini langsung terdiam.
Film masih berlanjut.
Di saat adegan yang terasa horor di film itu sungguh menakutkan apa yang dilakukan oleh Red kepada kedua remaja di sebelahnya.
"Lepaskan rambutku!" kata Jun.
Red menjambak rambut kepala Jun dan Ran.
Sedangkan untuk Ran sudah terbiasa mendapatkan perlakuan ini disaat menonton film di bioskop bersama Red.
Ran melepaskan tangan kanan Red dengan perasaan biasa dan datar saat Jun melihat ke arahnya.
"Maaf" kata Red kepada Jun.
Red melakukan itu tidak hanya satu kali tapi beberapa kali saat film berlangsung diputar.
Satu jam lebih empat puluh lima menit film selesai diputar. Mereka semua yang di ruangan bioskop mulai keluar meninggalkan tempat tersebut.
Di luar ruang bioskop Jun dan Ran bercermin di jendela kaca didalam gedung di bagian dekat kafe disebelah ruang bioskop.
Red sedang membuka ponsel.
Ran membetulkan style rambutnya yang acak-acakan dengan gel rambut.
"Pakai ini. Kau juga membutuhkannya kan?" tanya Ran membagi gel itu kepada Jun.
Satu kotak kecil gel melewati Red yang masih membuka ponsel menuju ke tangan Jun.
"Makasih bro" kata Jun.
"Sama sama" kata Ran.
Jun melihat tas milik Red dibawa oleh Ran.
"Dimana lip gloss ku?" tanya Red.
Ran mengambilkan lip gloss milik Red.
"Ini" kata Ran.
Red memakai lip gloss didepan Ran.
"Bagaimana?" tanya Red pada Ran.
"Kemari!" kata Ran.
Red mendekat pada Ran dan Ran membetulkan lip gloss yang tidak merata sedikit dibagian bawah bibir Red dengan jemari manis tangannya.
"Sudah?" tanya Red pada Ran.
"Sudah" kata Ran.
Jun belum bisa berkomentar melihat keakraban mereka.
"Apa kau teman sekolah Red?" tanya Ran pada Jun.
Jun kembali dalam mode santai.
"Oh. Iya bisa dikatakan seperti itu" kata Jun.
"Kenalkan aku sahabat Red, Ran" kata Ran.
Ran mengajak Jun untuk berjabat tangan.
"Aku Jun" kata Jun.
Awal persahabatan diantara mereka bertiga.
"Tunggu. Aku harus membetulkan rambut mu sedikit" kata Red merapikan rambut kepala Jun.
Ran tak ada rasa cemburu atau jealous kepada Jun.
"Oh ya kita akan pergi ke pantai. Kau juga akan ikut kami?" tanya Ran pada Jun.
"Apa boleh?" tanya Jun.
"Siapa yang tidak boleh?" tanya Red.
Red selesai membuka ponselnya.
Perjalanan menuju pantai dekat kota.
Sampai di pantai Red membantu Ran membuat konten baru untuk di upload di akun salah satu sosial medianya.
Selesai mengganti pakaian mereka menjadi pakaian bertema summer beach.
Red memakai celana merah muda dengan panjang diatas lutut dan atasan kaus hitam berlengan pendek dan sandal boho hitam. Jun dan Ran memakai celana pantai berwarna hitam dengan motif tropikal khas anak pantai berwarna warni dengan dominan orange dan kuning.
Ran dengan papan seluncur air yang ia sewa memulai membuat konten yang dibantu oleh Red dan Jun dalam proses dasar perekaman.
Jun berdiri di sebelah Red yang sedang melakukan proses perekaman tahap demi tahap cara berselancar di pantai untuk pemula.
Ran yang memang suka berselancar cukup lancar dalam menjelaskan step demi step berurutan dengan sistematis.
Ran mulai berseluncur di antara ombak sedangkan Red masih dengan tugasnya.
Satu papan selancar biru dibawa oleh seseorang dan dia ikut berselancar bersama Ran.
"Aku tidak harus ikut mereka berselancar. Aku dengan tugasku ini" kata Red.
Kedua remaja itu nampak menikmati kegiatan berselancar mereka.
Kembali ombak ombak disana saat mereka sampai di pasir pantai setelah diterjang ombak mengulang kembali berselancar.
"Kau tidak ikut berselancar?" tanya Jun pada Red.
"Aku cukup disini" kata Red.
Ran datang dengan tiga air mineral dingin dalam botol.
"Untuk mu dan untuk mu" kata Ran.
"Makasih Ran" kata Red.
"Aku juga makasih minumnya" kata Jun.
"Ok" kata Ran.
Ran mengawali membuka botol air mineral.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Ran.
"Tidak!" kata Red dan Jun kompak.
Ran kemudian berbaring di pasir pantai tidak jauh dengan air pantai yang datang terbawa dari ombak.
Jun juga melakukan hal yang sama dengan Ran.
"Kau mau kemana?" tanya Jun.
"Aku akan segera kembali" kata Red membawa kamera milik Ran.
Kedua remaja laki laki itu masih berbaring diatas pasir pantai.
Jun melihat kearah Red sekarang pergi.
"Dia menunggu matahari terbenam diatas sana" kata Ran menunjuk ke sebuah batu karang yang tinggi dan kokoh berdiri disana.
__ADS_1
Batu karang yang mengingatakan Jun akan Bay.