HEI JUN

HEI JUN
10


__ADS_3

Juna langsung membuang muka ketika melihat Andika masuk ke ruang guru. Hatinya masih panas mengingat saat Andika mencubit kedua pipi Lia dengan gemas.


"Huh.. dasar playboy!!! Andika benar-benar tidak bisa melihat cewek cantik. Sat set sat set, melesat dan di gaet" umpat Juna. Ia memendam kekesalannya pada Andika dalam hati.


Dika yang melihat Juna menoleh ke kiri, membatu tanpa pergerakan, tentu saja merasa heran. Ini masih pagi, tidak mungkin kan Juna sudah mengalami cedera sebelum mengajar olahraga?


"Pak Juna keseleo? kok dari tadi noleh ke kiri?" tanya Andika. Ia langsung saja berdiri di depan meja Juna, memperhatikan wajah Juna dengan seksama. Meskipun view yang terlihat nampak dari samping.


"Nggak" jawab Juna ketus.


"Duh... jutek amat sih? Apa PMSnya semakin menjadi?" ledek Dika lagi.


"Becandamu tidak lucu, Dika!!!" bentak Juna.


"Terus yang lucu seperti apa, Pak Juna?."


"Seperti Lia" teriak Juna dalam hati.


Juna tak menjawab pertanyaan Andika. Ia sedang malas berdebat sesuatu yang unfaedah dengan orang yang tidak penting. Juna memilih sibuk dengan ponselnya, membaca berita online yang sedang menjadi topik panas saat ini.


"Ahh... Pak Juna mulai nggak asyik nih" ucap Dika.


Dika yang sadar jika diabaikan oleh Juna memilih beranjak menuju tempat duduknya. Ia mengeluarkan kertas-kertas ulangan murid-muridnya dan mulai mengoreksi satu persatu.


"Sok rajin sekali dia, biasanya juga Dika tidak pernah mengoreksi"umpat Juna dalam hati.


Dika memang tidak pernah mengoreksi tugas maupun ulangan yang ia berikan. Nilai murid-murid saja adalah hasil mengarang bebas. Dika hanya mengajar seadanya, menerangkan seperlunya dan memberikan tugas sebanyak-banyaknya tanpa pernah ia koreksi. Tidak heran jika banyak murid yang protes ketika Dika memberi nilai rendah di rapor sedangkan murid itu merasa jika dirinya mampu dalam mata pelajaran yang pegang Dika.


Juna kembali fokus pada ponselnya, melanjutkan membaca berita olahraga dari negara tetangga. Issue bursa transfer pemain sepak bola sedang menjadi fokus bacaannya. Tapi seketika telinga Juna berdengung ketika mendengar Dika memanggil seseorang.


"Hai Hani.... baru nyampek nih?" tanya Dika.


Juna tersentak kaget. Ia langsung melirik ke arah Andiika. Betapa terkejutnya Juna ketika melihat sosok yang sedang berdiri di depan meja Andika. Lia, perempuan itu sedang berdiri sembari menyodorkan minuman kaleng kepada Andika.


"Nggak usah basa-basi deh, Dika. Gue udah keliatan disini. Sudah pastilah gue udah nyampek."


"Jutek amat sih. Nanti mau pulang bareng nggak?" tanya Dika lagi.


"Nggak deh. Gue bawa mobil. Lagian kalau lu niat mau bareng sama gue, lu jangan kesiangan dong. Buang-buang waktu gue aja" kata Lia kesal.


"Yah... gimana lagi, Hani. Gue emang nggak biasa bangun pagi. Makanya nggak pernah dapat ngajar jam pertama. Ini aja kalau nggak ada rapat, gue juga masih asyik di kamar mandi" kata Dika sembari tertawa cekikikan.


Juna menguatkan pendengarannya. Honey? Dika memanggil Lia dengan sebutan honey? Juna tidak salah dengar kan? Baru kemarin Juna emosi melihat Andika mencubit pipi Lia. Sekarang Juna kembali dibuat naik darah karena Andika memanggil Lia dengan honey.


Juna ingin sekali mengamuk. Tapi dia berfikir ulang. Jika Juna mengamuk sekarang, ia takut Lia tidak akan bersimpati lagi padanya. Bagaimanapun Juna harus tetap menjaga image di depan Lia sebagai laki-laki baik dan sabar.


Juna berkali-kali menarik nafas panjang. Mencoba meredam emosinya yang sempat naik ke ubun-ubun. Perlahan emosi Juna turun. Ia kembali melirik dan mendengarkan percakapan antara Andika dan Lia.


"Eh, nanti malem jadi kan?" tanya Dika.


"Iya... iya..." jawab Lia.


"Sip..!!! Lu jemput gue. Oke???."


"Iya..." teriak Lia. Ia kemudian berlalu dari hadapan Dika menuju tempat duduknya.

__ADS_1


"Sialan...!!! Dika sepertinya mengajak Lia untuk berkencan. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Bagaimana bisa aku belum melangkah, Dika sudah menikungku?" gumam Juna dalam hati.


Juna langsung lemas tak bersemangat. Pikirannya langsung membayangkan bagaimana nanti malam Andika dan Lia berkencan. Sakit. pastilah hatinya akan sakit kembali. Juna tidak menyangka jika Andika sudah bergerak secepat itu. Bagaimanapun jika dibandingkan dengan Dika, Juna sudah pasti kalah jauh. Meskipun sama-sama guru honor di SMA Cendekia, Andika masih mempunyai usaha sampingan yang bisa membuat dompernya tebal.


Seketika Juna berubah menjadi pendiam. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Juna tidak berkata sepatah kata pun sampai bel pulang sekolah berbunyi.


Juna yang biasanya berpamitan kepada temannya-temannya, kali ini memilih langsung berlari menuju parkiran. Pak Udin yang melihat tingkah Juna, juga dibuat heran. Pak Udin yang biasanya mendapat ucapan selamat siang dari Juna, kini diacuhkannya. Juna mengambil motornya dan langsung tancap gas keluar dari sekolah.


Patah hati. Ya, Juna sedang mengalami patah hati level 1. Moodnya seketika hancur. Juna memilih tidak langsung pulang ke rumah melainkan memacu motornya menuju kota.


Alun-alun, tempat di pusat kota yang memiliki tugu berbentuk celurit, menjadi tujuan Juna. Ia memilih duduk di bawah tugu celurit itu sembari memperhatikan orang-orang yang lalu lalang melintas di depannya.


Lelah duduk melamun, Juna memilih pergi menuju masjid yang berada di sebelah barat alun-alun itu. Masjid itu biasanya dijadikan tempat beristirahat oleh para musyafir yang sedang berkelana mengukur jalan.


Juna memarkirkan motornya dan bergegas masuk ke dalam masjid. Sebelumnya, marbot masjid menyuruhnya mengambil wudhu karena sudah saatnya menunaikan sholat ashar.


Juna menunaikan sholat ashar berjamaah dengan khusuk. Setelah itu ia memilih berdiam di masjid hingga ia tidak menyadari jika matahari sudah tenggelam. Kini Juna kembali menunaikan kewajibannya secara berjamaah.


Usai menunaikan sholat maghrib, Juna memutuskan pulang karena Bu Tias pasti sudah menunggunya.


"Sial...!!!" umpat Juna.


Kedua ban motor Juna kempes. Juna segera mengambil motornya dan menuntun menuju tukang tambal ban yang memang mangkal di samping masjid. Sambil menunggu ban motornya selesai di perbaiki, Juna memilih duduk di warung mie bakso karena perutnya sudah keroncongan minta diisi.


Juna duduk seorang diri menikmati semangkuk mie bakso yang rasanya benar-benar menggugah selera. Entah karena lapar atau memang rasanya yang enak, Junamelahapnya dalam waktu lima menit saja.


"Kelaparan ya, Pak? udah berapa hari nggak makan?" ledek penjual mie bakso kepada Juna.


Juna tersipu malu. Alih-alih menjawab, Juna malah memilih meneguk es teh yang sejak tadi menganggur.


Byurrrrr


Juna langsung tersedak ketika melihat sosok yang tiba-tiba berdiri di hadapannya.


"Eh... maaf! Gue ngagetin yah???" tanya Lia. Ia buru-buru mengambil gelas air mineral dan membukanya.


"Minum, Pak. Pelan-pelan!" Lia menyodorkan aor mineral itu kepada Juna.


"Maaf ya, Pak. Kalau bikin Pak Juna tersedak."


"Tidak apa - apa, Lia. Kamu kenapa di sini?" tanya Juna setelah acara batuk-batuk akibat tersedak usai.


"Oh... mau beli mie bakso, Pak. Mau bungkus buat orang rumah juga" jawabnya dan Lia kini sudah duduk di hadapan Juna sambil menunggu pesanannya selesai.


"Andika mana? bukannya tadi kamu janjian sama Andika?."


"Lho, kok Pak Juna tahu? Nguping ya?" Ledek Lia. Hal itu membuat Juna benar-benar merutuki mulutnya yang tidak bisa mengerem agar tidak bertanya.


"Ta... ta... tadi kan kalian ngobrolnya di ruang guru. Kebetulan saya disitu juga tadi" jawab Juna gugup.


"Pak Juna kenapa gugup? Biasa aja kali, Pak" Lia tertawa melihat Juna yang kini menunduk dengan wajah merah padam bak kepiting rebus.


"Eh, Pak Juna kok bisa ada di sini?."


"Eh, saya.. saya.. lagi jalan-jalan saja. Waktu saya mau pulang, kedua ban motor saya kempes. Jadi sambil menunggu diperbaiki, saya makan dulu di sini."

__ADS_1


"Oh... masih lama nggak motornya?" tanya Lia.


"Hah?"


"Masih lama nggak motornya diperbaiki?" Lia mengulang pertanyaannya.


"Eh.. saya tidak tahu."


"Kalau masih lama, Pak Juna ikut gue aja. Gue bawa mobil kok. Gue antarin Pak Juna sampai rumah."


Juna mematung mendengar ucapan Lia barusan. Apa??? Mau mengantarnya?? Apa tidak terbalik?? Juna menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal karena bingung mau menjawab apa pada Lia.


"Pak Juna kebanyakan mikir deh! Udah ikut gue aja. Motor Pak Juna titipin aja di sini. Bengkel ini punya Om gue kok. Yuk, kita come on. Pak Juna pasti udah kebelet pulang dari tadi kan?" kata Lia dan dia langsung menyeret Juna masuk ke dalam mobilnya.


Juna menurut. Lia mulai melajukan mobilnya dengan perlahan. Tak lupa Lia menanyakan di mana alamat rumah Juna. Lia meminta Juna sebagai penunjuk jalan karena Lia juga tidak begitu paham jalanan di kota ini.


"Bapak udah lama ngajar di sana?" tanya Lia membuka percakapan.


"Lama... kira-kira sudah tujuh tahun."


"Wah, betah banget di sana!!."


"Emang kamu nggak betah, Lia?."


"Betah nggak betah sih. Soalnya gue memang nggak minat buat ngajar" kata Lia membuat Juna langsung mengernyitkan dahi.


"Pasti bingung kan? Gue emang kuliah di keguruan. Tapi gue nggak minat buat ngajar. Gue lebih suka bisnis atau kerja kantoran. Tapi yaa ortu gue pengen banget anak ceweknya jadi guru. Jadi beginilah gue sekarang."


"Kamu nggak bahagia dengan pekerjaan ini?."


"Jujur iya. Kalau gue boleh milih. Gue mending tetap di Jakarta, kerja di WO punya temen gue."


"Loh? Kamu orang Jakarta, Lia?" tanya Juna kaget.


"Gue blaster Pak. Madura dan Sunda. Gue sejak kecil tinggal di Jakarta sampai SMA. Kuliah di Malang dan setelah itu gue kembali ke Jakarta. Gue baru tinggal di sini dua bulan yang lalu karena Bapak gue maksa banget biar gue tinggal di sini."


"Oh... Lalu kamu dekat dengan Andika?" tanya Juna. Entah mengapa mulutnya itu sudah gatal untuk bertanya perihal Dika.


"Dika? Dekat dong. Temen berantem gue di sini. Kenapa Pak kok tanya Dika mulu?" tanya Lia membuat Juna kembali gelagapan.


"Eh nggak.. saya hanya bertanya. Oh iya... kamu berhenti sebelum perempatan sana, rumah saya sudah dekat kok" kata Juna berusaha mengalihkan percakapan.


Lia mengangguk. Ia menyalakan lighting sebelah kiri dan mengambil ancang-ancang untuk menepi.


"Berhenti di depan gerbang merah itu yang menjadi banyak abang becak mangkal" kata Juna yang langsung dijawab dengan anggukan kepala Lia.


"Rumah Pak Juna yang mana?."


"Masih masuk ke dalam gang. Maaf Lia mobil tidak bisa masuk. Gangnya sempit. Terima kasih atas tumpangannya" kata Juna kemudian turun dari mobil Lia.


"Sama-sama, Pak. Gue langsung cabut ya, Pak" pamit Lia dan ia langsung melajukan lagi mobilnya.


Juna melambaikan tangan melepas kepergian Lia yang semakin lama semakin jauh dari pandangannya. Setelah mobil Lia benar-benar tak terlihat lagi, Juna melangkah masuk ke dalam gang menuju rumahnya.


Di sepanjang perjalanan Juna tersenyum simpul sambil bersiul-siul mengingat kebersamaannya dengan Lia. Walaupun hanya sebentar. Tapi itu sangat berkesan bagi Juna. Juna bahkan lupa jika tadi siang ia patah hati level 1 dan tidak minat untuk berbicara dengan siapapun.

__ADS_1


__ADS_2