
Plak....
Sebuah tamparan keras mendarat sempurna di pipi kanan Diandra. Seketika Juna langsung meringis seakan ikut merasakan seperti apa sakit yang diterima oleh Diandra akibat tamparan Arya.
Plak...
"Kau...."
Arya tak mampu meneruskan kata-katanya. Lidahnya kelu untuk sekedar berucap ataupun mengumpat. Ia menatap Diandra dengan kedua netra yang berkaca-kaca. Arya berkali-kali menarik nafas panjang. Ia mencoba menetralkan emosi yang sudah berada di ubun-ubun kepalanya agar tidak tumpah ruah sekarang.
"Kenapa? Kau mau apa?" tantang Diandra. Ia tidak merasa bersalah sedikitpun atas kelakuannya.
"Ini yang kamu bilang sedang ada urusan bisnis, Dian? Urusan bisnis asssssss..... suuuu!!!!" teriak Arya dengan nada suara meninggi dan bergetar.
Diandra bangkit. Ia berjalan menghampiri Arya yang sedang menahan emosinya mati-matian. Diandra menatap dua bodyguard yang berdiri dibelakang Arya. Mereka menunduk seakan mengerti kesalahan apa yang telah mereka lakukan.
Diandra menyuruh bodyguardnya untuk memborgol kembali kedua tangan Juna lalu memberi kode kepada mereka agar keluar setelah melakukan tugasnya. Kedua bodyguard itu paham. Mereka mundur perlahan dan keluar dari kamar itu secepat mungkin.
"Aku memberikan hotel ini agar kamu bisa mengelolanya dengan baik bukan untuk dijadikan tempat berselingkuh, Dian. Kamu sendiri yang mengatakan kepadaku jika kamu ingin belajar berbisnis. Dian, kamu tega membohongiku!" teriak Arya.
Diandra tersenyum sinis. Alih-alih berasa bersalah, Diandra malah tertawa terbahak-bahak di hadapan Arya.
"Suamiku yang baik tapi impoten. Aku tidak berbohong kepadamu. Aku disini belajar bisnis dengan konsultan pilihanmu. Aku juga mulai belajar mengelola hotel ini. Tapi....."
"Tapi apa, Dian?."
"Aku juga perlu melampiaskan hasratku. Kau tahu sendiri sejak kita menikah, kau tidak pernah sukses melakukan itu. Aku bahkan masih tersegel sampai semalam."
"Semalam?."
"Ya, semalam Juna kekasihku berhasil membukanya" kata Diandra, tertawa dengan bangga.
"Apa??? Kau???."
"Kenapa? Ada yang salah?."
"Otakmu yang salah! Bagaimana bisa kau setenang itu bertanya kepadaku, Dian? Sudah jelas kamu berselingkuh di belakangku. Kamu berhianat. Begitu kau masih bertanya ada yang salah?" teriak Arya.
"Aku tidak mungkin bermain dengan pria miskin ini jika kau bisa memuaskanku. Sayangnya kau hanya laki-laki impoten yang nampak sempurna karena tertolong dengan kekayaanmu."
Plak
Arya kembali mendaratkan sebuah tamparan di pipi Diandra.
__ADS_1
"Kau hanya bisa menamparku, laki-laki impoten? hahahahaha. Mari kita lihat bagaimana aku akan membalas tamparanmu" kata Diandra kembali tertawa sinis.
Diandra berjalan memutari Arya. Ia membuka bathrobnya dan seketika tubuh polos Diandra terpampang jelas di hadapan Juna dan Arya. Juna menelan ludahnya. Ia membuang muka, mencoba untuk menahan libidonya agar tidak naik lagi.
"Arya, suamiku. Coba cek apakah tiang listrikmu bereaksi ketika melihat aku sudah polos begini? Tapi sepertinya tidak usah karena dari luar sudah terlihat tidak ada tonjolan apapun dari sana" kata Diandra sembari menunjuk celana Arya.
Arya bungkam. Diandra kemudian berjalan ke arah Juna. Ia menyingkap bagian bawah bathrob Juna dan sialnya tiang listrik Juna langsung muncul mengarah tajam ke depan.
"Kau lihatkan, Arya? Tiang listrik Juna langsung bereaksi dengan cepat hanya dengan melihatku begini. Sedangkan tiang listrikmu mati seperti ayam yang sudah terpotong urat nadinya."
"Kau...." Arya kembali tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Apa? Kau mau menceraikanku? Silakan saja. Tapi aku ingatkan sekali lagi jika beberapa aset pentingmu sudah kau balik nama menjadi namaku. So, aku malah semakin bahagia jika kau melakukan itu" Diandra tertawa kencang.
Juna menarik nafas panjang. Ia benar-benar tidak menyangka jika Diandra bisa berbuat senekat itu. Sepertinya Diandra sudah lama merencanakan semua ini dengan matang.
"Kau benar-benar wanita iblis, Dian!" teriak Arya.
"Dan kau lelaki impoten" sahut Diandra dengan tenang.
"Oh iya, Arya. Sebaiknya kau segera pergi karena aku akan melanjutkan kegiatanku dengan Juna. Kau sudah lihat sendiri kan? tiang listrik Juna sudah tidak sabar untuk berperang denganku" kata Diandra kemudian mulai naik ke atas kasur.
Juna menahan nafas. Ia mulai panik melihat Diandra yang sudah berada di atas tubuhnya. Berbagai pikiran negatif mulai bermunculan di benaknya. Apakah mereka akan berperang di depan Arya? Apakah Diandra benar-benar akan mempermalukan Arya di hadapan Juna?.
Juna benar-benar takut. Melihat pandangan Diandra yang menatapnya seperti singa yang kelaparan. Kedua matanya mulai berkabut. Sudah dipastikan jika ia akan melakukan olahraga lagi sekarang.
Arya memilih pergi meninggalkan Diandra dan Juna. Ia membanting pintu kamar dengan kencang. Arya keluar dengan wajah merah padam. Ia segera memanggil kedua bodyguard suruhan Diandra yang bertugas berjaga di depan.
"Tuan..." kedua bodyguard itu menunduk.
"Terima kasih sudah memberitahuku perihal ini. Kalian memang bodyguard yang setia."
"Itu sudah tugas kami, Tuan" sahut mereka bersamaan.
"Apa kalian memasang kamera cctv di kamar itu?."
"Benar, Tuan. Semua sesuai perintah Tuan Arya."
"Bagus. Kalian sekarang boleh pergi. Biarkan mereka bergulat di dalam. Hubungi pengacaraku! Aku akan menceraikan wanita iblis itu secepatnya. Aku akan pastikan baik Juna maupun Diandra akan mendapatkan balasannya. Aku akan menghancurkan mereka tanpa ampun" kata Arya geram. Ia kemudian memilih pergi meninggalkan hotel tempat Diandra dan Juna sedang berolahraga.
Di dalam kamar, pergulatan Diandra dan Juna sudah di mulai. Diandra yang sudah diselimuti hawa panas langsung saja tancap gas tanpa memperdulikan Juna yang berteriak, memintanya untuk berhenti.
Diandra melakukannya seperti semalam, bertindak sebagai pemimpin yang bermain aktif dengan keadaan Juna yang tidak bisa bergerak bebas.
__ADS_1
Tidak puas dengan Juna yang pasif. Diandra turun dari tubuh Juna setelah ia mengalami pelepasan. Ia mengambil sesuatu dari paperbag yang dibawa oleh bodyguardnya tadi. Sebuah plastik kecil yang berisi beberapa kapsul obat.
Diandra mengambil obat itu, mencampurkannya ke dalam botol air mineral. Ia menyeringai membayangkan bagaimana reaksi Juna jika meneguk minuman itu. Diandra segera menghampiri Juna. Ia menyodorkan minuman tadi kepada Juna sambil tersenyum penuh arti.
"Minum...!!!" perintah Diandra.
Juna menggelengkan kepala.
"Minum, Jun!."
Juna kembali menggeleng. Ia menutup rapat kedua bibirnya agar Diandra tidak bisa memaksanya untuk meneguk minuman itu.
Diandra mencengkram rahang Juna dan membuka paksa mulutnya. Ia yang sepertinya sudah tidak sabar dengan tingkah Juna. Ia membuka paksa mulut Juna dan memasukkan minuman itu. Diandra terus memberikan minuman itu hingga Juna berhasil menghabiskannya.
"Diandra... "
"Ssstttt...... diam dan rasakan sensasi minuman yang aku berikan" kata Diandra ia kemudian duduk di samping Juna.
Juna kembali memalingkan wajah melihat penampakan Diandra yang seperti itu. Hening beberapa saat. Lalu tiba-tiba Juna merasakan panas di sekujur tubuhnya. Seperti ingin meledak dan harus segera dikeluarkan. Juna mulai bergeliat. Ia menatap Diandra dengan nyalang.
"Minuman apa yang kau berikan padaku, Di?" teriak Juna.
"Hanya air mineral."
"Kau pasti mencampurkan sesuatu."
"Tentu saja! Karena aku mau kau yang memimpin kegiatan kita selanjutnya. Hahahahahaha."
Juna terus berteriak, menahan sakit dan panas di sekujur badannya. Badannya kembali menegang. Berkali-kali Juna memaki Diandra tapi yang diumpat bukannya sakit hati malah semakin tertawa senang.
Libido Juna naik berkali-kali lipat. Ia menghentakkan kakinya ke ranjang, berharap hawa panas itu tidak semakin menyelimuti tubuhnya. Namun, justru yang sebaliknya terjadi. Hawa panas di tubuh Juna kian meningkat sehingga Juna semakin tidak bisa menahan hasratnya. Kini ia menatap lapar ke arah Diandra, seperti singa yang siap menerkam mangsanya.
Melihat Juna yang sudah siap beraktifitas kembali, Diandra segera mengambil kunci dan membuka borgol di tangan Juna.
Brukk...
Juna langsung menubruk tubuh Diandra dan mengungkungnya. Tanpa berbasa-basi, Juna membuat prakarya di tubuh Diandra, menikmati apa yang Diandra suguhkan.
Tindakan kasar Juna tidak membuat Diandra merasa kesakitan. Diandra sangat menikmati apapun tindakan Juna. Juna mengobrak-abrik gudang milik Diandra tanpa harus diperintah lagi oleh pemiliknya.
"Sudah ku duga senikmat ini" racau Diandra. Ia tidak menyangka jika efek satu kapsul obat yang ia campurkan bisa sedahsyat itu. Diandra benar-benar tidak kecewa meskipun sudah membayar mahal untuk obat itu.
Tidak ada rintihan yang keluar dari mulut Diandra. Ia hanya terus memanggil nama Juna, memintanya lebih keras dalam bertindak. Hingga akhirnya Juna sudah mencapai puncaknya dengan melepas ribuan sel-sel berharga dalam tubuhnya.
__ADS_1
Brukk..
Tubuh Juna langsung ambruk di sebelah Diandra. Juna merasa lemas. Namun, hanya sebentar karena libido Juna kembali naik. Mereka kembali melakukan aktifitas penting hingga tidak terhitung sudah berapa kali Juna melepaskan sel-sel berharga miliknya ke dalam kandang Diandra.