
Juna mematung tatkala melihat sosok perempuan di hadapannya. Perempuan itu mengambil alih balita laki-laki yang baru saja digendong oleh Juna. Juna sudah tidak amnesia. Ia mengingat dengan jelas siapakah sosok perempuan di hadapannya.
"Juna, kamu di sini? Mama mencarimu ke mana-mana" kata Diandra.
Duarrrr
Kepala Juna seperti terkena lemparan granat. Mendengar ucapan Diandra tadi membuat hatinya langsung porak poranda.
"Ma... Ma... Mama.... Itu Papa?" celoteh Juna diselingi tawa riang khas anak-anak.
Diandra menoleh ke arah Juna. Ia tersenyum, merasa sungkan dengan anaknya yang memanggil Juna dengan sebutan Papa.
"Maaf, Pak! Anak saya memanggil Anda dengan sebutan Papa" kata Diandra membuat hati Juna lamgsung mencelos.
"Ma....Ma....Ma..., itu Papa?" ulang Juna lagi.
"Tidak, sayang. Itu bukan Papa."
"Maaf, Ibu! Itu anak ibu?" Juna akhirnya membuka suara.
Mendengar suara Juna membuat dahi Diandra berkerut. Ia merasa tidak asing dengan suara itu. Namun, wajah Juna yang baru membuatnya tidak bisa mengenali Juna.
"Benar, Pak! Dia anak saya. Namanya Arjuna. Maaf, kalau Juna memanggil Anda dengan sebutan Papa."
Lagi, Juna hampir oleng mendengar perkataan Diandra.
"Papa nya ke mana ya, Bu?."
"Oh, Papanya sedang...."
"Mayjuna.....!!! Ngapain kamu di sana????" Dira berteriak dan berlari menghampiri Juna. Ia menjewer telinga Juna karena kesal dibuat menunggu oleh Juna.
"Papaaaaa......" Arjuna berteriak kencang, tangannya terjulur ke arah Dira seakan memberi kode agar Dira menggendongnya.
"Eh, Eh, anak siapa ini? Anak gueh masih di dalam perut. Belum lahir. Hish...hish..." Dira menjauh dari Arjuna. Balita itu terus merengek meminta agar Dira menggendongnya.
"Maaf, Pak! Juna sedang rewel" ucap Diandra tak enak hati kepada Dira.
"Jun, kamu rewel? Rewel kenapa?" Dira rupanya salah tangkap. Ia pikir Mayjuna lah yang rewel sehingga ia bertanya kepada Juna.
"Bukan saya, Tuan. Nama balita itu Arjuna. Mamanya memanggilnya Juna" kata Juna menjelaskan.
"Ooooo.... Ngomong dong, Bu! Kalau nama anaknya Juna. Saya pikir Juna yang ini yang rewel."
Diandra tersentak kaget. Juna yang ini? Maksudnya apa? Apakah laki-laki di sampingnya bernama Juna? Apakah laki-laki di sampingnya adalah Juna, mantan kekasihnya?
Diandra memindah wajah Juna, mencari kemiripan dengan mantan kekasihnya. Namun, sayang seribu sayang. Efek air Barcelona yang membuat wajah Juna berubah, mengakibatkan Diandra tetap tidak mengenalinya.
"Papaaa..... Hu...hu...hu...."
Lamunan Diandra buyar seketika. Arjuna menangis, meminta beradandi dalam gendongan Dira. Dira menghela nafas panjang. Sisi malaikatnya meminta Dira untuk mengambil alih balita yang sedang menangis itu.
__ADS_1
"Papa ganteng..." ucap Arjuna sembari menepuk-nepuk pipi Dira.
"Jelaslah! CEO paling tampan dan rupawan. Papa aslimu pasti kalah jauh sama saya" ucap Dira bangga.
"Papa...ayo, pulang!" ucapan Arjuna sukses membuat Dira bingung. Ia buru-buru menyerahkan Arjuna kepada Diandra dan langsung berlari secepat kilat.
Wusshhhhh...
Dira menghilang dari pandangan Juna dan Diandra. Arjuna kembali menangis kencang. Juna yang tega dengan tangis Arjuna, mengulurkan tangannya untuk menggendong Arjuna.
"Anak ganteng, anak Papa, tidak boleh nangis. Kalau suka nangis nggak cepet gede" bujuk Juna.
Tangis Arjuna perlahan mereda. Perlakuan Juna pada balita itu membuat Arjuna mengantuk. Juna memang menggendong Arjuna sembari menepuk-nepuk bokong balita itu dengan pelan.
"Pak... Arjuna...."
"Sssttt.... dia mengantuk. Saya akan tidurkan dulu" ucap Juna.
Juna terus menidurkan Arjuna dalan gendongannya. Ia tidak sadar jika Atha berdiri tak jauh dari tempat Juna.
Atha yang semula ingin menyusul Juna, langsung membeku ketika melihat penampakan di hadapannya. Baru tadi pagi ia dan Juna membahas tentang Diandra dan sekarang dengan mata kepalanya sendiri, Atha melihat mereka bertiga berkumpul.
Atha menangis dalam diam. Melihat mereka bertiga membuat hatinya sakit. Juna dan Diandra nampak seperti keluarga bahagia dan lengkap. Balita laki-laki itu tidur sangat pulas dipangkuan Juna. Hal itu membuat hati Athalia sedikit tercubit.
"Arjuna sudah tidur, Pak. Sini saya gendong" tawar Diandra. Ia segera mengambil Arjuna dengan perlahan.
Balita itu kembali merengek dengan kedua mata yang masih tertutup. Namun, Diandra langsung menepuk-nepuk bokong Arjuna agar ia kembali terlelap.
"Emh...emh....emh...." Juna bingung menjawab ucapan Diandra.
"Saya Diandra, kalau boleh tahu nama bapak siapa ya?" tanya Diandra penasaran. Ia hanya ingin memastikan jika dugaannya benar.
"Nama saya Mayjuna July Agustino. Orang-orang biasa memanggil saya dengan nama May."
***
Atha merebahkan tubuhnya di atas kasur. Sejak selesai pemotretan Atha memilih diam. Pikirannya kalut tak karuan. Ia benar-benar tidak menyangka jika Juna akan bertemu dengan Diandra secepat ini. Atha tidak menyangka jika Tuhan mempertemukan Juna dengan Diandra sekaligus anaknya.
Kalau sudah begini, Atha menjadi semakin takut. Harusnya ia membahas hal ini dengan Juna? Ataukah dia hanya diam saja menunggu Juna yang memulai pembicaraan.
"Arrgggghhh" Atha menutup wajah dengan bantal. Hal itu ia lakukan agar Juna tidak mendengar suara teriakannya.
"Aku harus bagaimana? Aku harus bagaimana?" teriak apa lagi.
Tanpa disadari Atha, Juna sudah berada di sampingnya. Ia yang sedari tadi berada di kamar mandi, tentu saja heran melihat tingkah istrinya. Sejak pulang dari bukit teletubbies, Atha memang diam seribu bahasa. Juna pikir Atha sedang sakit gigi sehingga malas untuk berbicara.
Teriakan Atha barusan, menepis dugaan Juna hang ngasal. Ia mengambil bantal yang menutupi wajah istrinya dan langsung mendaratkan kecupan bertubi-tubi di wajah istrinya.
"Jun...! Jun...! Berhenti! Aku mau nafas!."
Juna tidak mengindahkan teriakan Atha. Ia malah semakin gencar memberikan kecupan di sana-sini.
__ADS_1
Tangan Juna yang semula diam, mulai melakukan aksinya. Ia melucuti pakaian Atha satu-persatu.
"Eh...? Jun! Juna..! Kenapa...mmmmpphhttt...!!!"
Juna membungkam mulut Atha dengan bibirnya. Ia yang awalnya tidak ada niatan untuk mengasah keris, mulai melakukan pemanasan. Seperti biasa, sebelum keris Juna diasah, Juna harus menyiapkan pengasahnya terlebih dahulu. Ia harus membuat Athalia terbuai dengan sentuhannya.
"Sayang, tyrex mau main" bisik Juna sembari menjilat telinga Athalia.
Atha ingin menabok mulut Juna. Tapi belum sempat tangannya bergerak, Juna sudah terlebih dahulu mengunci kedua tangannya. Tyrex Juna masuk tanpa permisi dan itu membuat Athalia menjerit.
Juna memulai aksinya mengasah keris agar semakin tajam. Jika Juna merasakan kenjkmatan yang tiada duanya, berbeda dengan Atha. Ia merasakan nyeri di daerah intinya. Juna tidak pernah bermain sekasar ini. Meskipun ia sering meminta jatah. Namun, baru sekarang Juna bermain dengan penuh emosi.
Atha hanya bisa pasrah hingga Juna mencapai puncaknya. Ia sudah mengambil ancang-ancang untuk segera bangkit. Dirinya tidak akan memberi kesempatan kedua, ketiga dan seterusnya untuk Juna mengasah kerisnya.
Juna bukannya mengasah keris, tapi mengasah parang. Rasanya sakit sekali, hingga Atha tidak dapat menikmati permainan tyrex Juna.
Brukk
Juna langsung ambruk di samping Atha usai melepaskan ribuan cebong ke dalam kolamnya. Atha bisa mendengar dengkuran halus dari mulut Juna. Dasar Juna! Dia main tidur setelah puas mengobrak-abrik kandang milik Atha.
Atha menutupi tubuh Juna dengan selimut. Ia bangkit dan bergerak perlahan, turun dari atas ranjang. Atha memilih berendam di kamar mandi. Tubuh dan pikirannya perlu direlaksasi.
'Juna tidak biasanya bermain sekasar itu. Apakah ia melampiaskan emosinya kepadaku? Apakah ia kepikiran dengan Diandra dan anak itu?' gumam Atha ketika dirinya baru memulai acara berendam di kamar mandi.
'Ini tidak bisa dibiarkan. Juna tidak bisa begini terus. Ia harus menyelesaikan masa lalunya agar tidak merusak rumah tangga ini. Aku harus bicara kepada Juna. Aku harus memulai pembicaraan. Permasalahan Juna dengan Diandra harus segera selesai dan aku harus siap dengan apapun keputusan Juna'.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka. Juna masuk dengan kedua mata terpejam dan mulut yang menguap.
"Sayang, kamu mandi?" tanya Juna sembari mengucek-ngucek kedua matanya.
"Iya, Jun. Badanku gerah. Bukannya tadi kamu sudah tidur?" tanya Atha.
Juna tidak langsung menjawab pertanyaan Atha. Ia malah masuk ke dalam bath tub, ikut berendam bersama Atha.
"Saya belum puas, sayang. Biasanya juga lebih dari sekali" bisik Juna.
Buggg
Atha langsung memukul bahu Juna. Seperti niat awalnya, Atha tidak mau memberi jatah lebih kepada Juna karena permainannya yang kasar.
"Kenapa kau memukulku? Ini sakit sekali" kata Juna merajuk.
"Kau pikir aku tidak sakit, Jun? Kau bermain sangat kasar. Kau membuatku sakit" sungut Atha kesal.
Juna menggaruk tengkuknya. Ia tertawa cengengesan mendengar omelan istrinya.
"Terbawa suasana, sayang. Yuk, ah lagi! Belum afdol ngasah keris kalau cuma sekali" ucap Juna lalu mengedipkan sebelah matanya.
Atha memutar kedua bola matanya dengan malas. Suaminya itu tidak bisa dibantah untuk urusan mengasah keris. Atha membiarkan Juna berkreasi sekali lagi. Entah berapa kali jatah yang akan diminta Juna sekarang mengingat suaminya itu sedang berada dalam mode ganasnya.
__ADS_1