
Tengah malam, Juna baru tiba di rumah mertuanya. Pekerjaan Juna yang banyak serta tamu spesialnya yang tak mau pulang membuat Juna harus lembur di kantor.
Ketika mobil Juna memasuki halaman rumah mertuanya, rumah Pak Fajar nampak gelap. Juna yakin pastilah penghuni rumah sudah terlelap. Untung saja Juna membawa kunci cadangan sehingga ia bisa masuk tanpa membangunkan orang rumah. Tadi pagi mertuanya memberi kunci cadangan mengingat mereka akan menginap di sana sampai waktu yang tidak ditentukan.
Ceklek.
Juna membuka pintu dengan perlahan dan menutupnya kembali. Tak lupa Juna mengunci pintu itu agar tidak ada maling yang masuk.
Juna melangkah menuju kamar Athalia dengan perlahan. Andai saja ia bisa pulang cepat, tentulah Juna akan membahas perihal Arjuna dengan Atha.
Atha harus tahu perihal Arjuna yang menurut Arya adalah anak dari Juna. Juna harus berdiskusi dengan istrinya mengenai keinginan Arya yang memintanya untuk mengasuh Arjuna.
Jujur Juna sangat senang jika memang Arjuna diasuh olehnya. Namun, ia juga mempertimbangkan perasaan Athalia yang sedang mengandung. Ibu hamil pastilah sensitif dan gampang berubah-ubah. Juna harus berhati-hati berdiskusi dengan Atha karena ia tidak mau istrinya salah paham.
Ceklek.
Juna membuka pintu kamar istrinya secara perlahan. Ruangan yang gelap, hanya pencahayaan dari kamar tidur yang membantu Juna dalam melihat. Juna bisa melihat istrinya sedang tertidur pulas. Ada sebuah bantal yang menutupi wajah istrinya.
"Kenapa wajahnya? Mengapa ditutupi dengan bantal?" gumam Juna lirih.
Karena penasaran, Juna bergegas berjalan menuju tempat tidur. Ia mengambil bantal itu dengan perlahan agar tidak membangunkan Athalia.
"Basah? Atha menangis?" gumam Juna lagi. Ia lalu meletakkan bantal itu di samping tubuh istrinya kemudian menatap wajah istrinya dalam remang-remang cahaya kegelapan.
"Hemmm."
Juna berfikir sejenak, menduga-duga penyebab istrinya menangis. Mungkinkah Atha menangis karena Juna pulang malam? Ataukah Atha menangis karena ia sedang ngidam sesuatu tetapi tidak ada yang membelikan?
Ah, jika hal itu benar! Tentulah Juna akan merasa sangat bersalah. Ia memutuskan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dahulu sebelum bergabung dengan Atha di kasur yang kurang empuk itu.
Sepuluh menit kemudian, Juna keluar dari kamar mandi dalam keadaan segar. Gegas, Juna menyisir rambutnya. Setelah itu ia naik ke atas kasur, merebahkan tubuhnya di samping Athalia.
"Maaf, membuatmu menangis! Kamu mau apa? Ngidam apa? Besok, ceritakan padaku! Saya akan mencarikan apapun yang kamu mau" bisik Juna sembari memeluk tubuh istrinya dengan erat.
Tangan Juna yang panjang rupanya melewati kasur di kamar Atha. Tangan Juna bergoyang- goyang hingga tanpa sengaja Juna merasakan jika tangannya sedang bergesekan dengan sesuatu.
"Apa ya? Kenapa tajam seperti silet?" gumam Juna dalam hati.
Juna meraba-raba sisi kasur, mencoba mencari benda apa yang tadi bergesekan dengannya. Juna langsung menarik benda itu ketika jari-jarinya berhasil menyentuh sebagian dari benda itu.
"Amplop cokelat? Apa ini?" tanya Juna dalam hati.
Juna mengambil ponselnya, menyalakan torchlight untuk membantu penerangannya. Juna membuka amplop itu. Ia mengambil isi di dalam amplop itu dan membaca dengan seksama.
"Jadi Arjuna memang anakku? Ah, sungguh rezeki yang tidak terduga dari-Mu" seru Juna dan ia pun tertawa cekikikan. Terlihat jelas jika Juna benar-benar senang mengetahui akan hal itu.
Juna menoleh ke arah istrinya yang terlelap. Ia tersenyum sambil kembali tertawa cekikian.
"Dia dapat dari mana hasil tes ini? Istriku ternyata gerak cepat juga" gumam Juna lagi.
__ADS_1
Juna meletakkan amplop beserta isinya di atas nakas. Ia sudah mengantuk dan ingin segera bergabung dengan istrinya menuju alam mimpi. Biarlah besok Juna akan membahas tentang Arjuna. Sekarang waktunya matikan lampu dan tidur nyenyak sembari memeluk istrinya.
***
Pagi menjelang, Atha bangun terlebih dahulu dari pada Juna. Ia merasa sangat kesulitan untuk bergerak karena terhalang lengan kekar Juna yang memeluknya dengan erat.
Perlahan, Atha memindahkan lengan berotot itu. Ia kemudian duduk dan bersandar di kepala ranjang. Dilihatnya wajah Juna yang sedang terlelap. Ia baru tersadar jika semalam dirinya tidur terlebih dahulu sebelum Juna pulang.
"Loh?" Atha mengerutkan dahi ketika melihat amplop coklat dan selembar kertas putih tergeletak di atas nakas. Wajahnya langsung pias ketika membayangkan Juna sudah membaca hasil dari tes DNA itu.
"Apakah Juna membacanya?" gumam Atha lirih.
"Sudah, semalam aku membacanya" sahut Juna dengan kedua mata terpejam.
"Mas...!!!" teriak Atha. Ia kaget dengan sahutan Juna yang tiba-tiba. Atha pikir Juna masih terlelap karena tidak ada pergerakan apapun dari suaminya itu.
"Kenapa, sayang? Sini, peluk lagi! Papa kangen sama Mama" ucap Juna sembari menarik tangan Atha agar bisa dipeluknya.
Atha menurut. Ia membiarkan Juna memeluk dirinya karena sejatinya Atha sedang galau dan baper. Ingin dipeluk erat-erat seperti boneka teddy bear.
"Kamu kenapa menangis? Adek bayi mau apa?" tanya Juna lagi.
Atha menggeleng.
"Sini, ngomong sama Papa! Mama mau minta berlian pun nanti Papa belikan meski ngutang dulu sama Kiara" ucap Juna.
Atha merasa geli dengan sebutan Papa-Mama yang dilontarkan Juna. Rasanya indra pendengarannya tidak satu frekuensi menerima gelombang suara dari Juna.
"Karena kita akan menjadi calon Papa dan Mama. Kenapa? Mau diubah menjadi Ayah-Bunda? Bapak-Ibu? Mami-Papi? Atau Abi-Ummi?" tanya Juna.
"Tidak! Papa-Mama saja" jawab Atha.
"Kembali ke laptop, mengapa Mama menangis? Mama mau apa?" tanya Juna lagi. Ia ingin memastikan jika anaknya tidak ileran gara-gara Juna tidak menuruti kemauan ibunya.
"Papa sudah baca isi dari amplop itu?" tanya Atha.
"Sudah."
"Lalu?."
"Lalu? Apanya yang lalu?" Juna balik bertanya.
"Apakah Papa akan mengambil anak itu?" tanya Atha sedih.
Juna mengangguk.
"Sayang, kemarin Arya datang menemui Papa. Dia dan Diandra sudah rujuk."
"Arya itu siapa?" tanya Atha.
__ADS_1
"Mantan suami Diandra. Sekarang mereka sudah rujuk. Arya tidak ingin Arjuna dirawat oleh mereka karena Arya ingin tutup buku. Arya ingin hidup bahagian dengan Diandra dan anak-anak mereka tanpa ada bagian masa lalu yang ikut. Oleh sebab itu, Arya meminta Papa merawat Arjuna" jelas Juna.
Kedua netra Athalia langsung berkaca-kaca mendengar penuturan Juna.
"Kalau anak itu ikut kita, lalu bagaimana dengan nasib anak ini?" gumam Atha lirih.
"Heuh? Anak ini? Maksudnya?" tanya Juna tak paham.
"Kalau Papa akan merawat Arjuna, lalu bagaimana nasib anak ini? Apakah Papa akan menyayanginya?."
Juna menggelengkan kepala. Ia tidak habis pikir dengan ucapan istrinya. Juna memutar tubuh Atha agar berhadapan dengannya. Dikecupnya bibir istrinya sekilas. Tak lupa Juna mengelus perut Atha yang sudah sedikit lebih buncit.
"Arjuna anak Papa dan ini juga anak Papa. Papa pasti akan menyayangi kedua anak Papa. Sayang, mengapa kamu berkata seperti itu? Apa kamu pikir Papa akan melupakan kalian jika Arjuna tinggal dengan kita?" tanya Juna.
Atha terdiam.
"Tidak, Sayang! Dengan adanya Arjuna, keluarga kita akan semakin lengkap. Ada Papa, Mama, Kakak Arjuna dan Adek bayi. Apakah Mama tidak mau menganggap Arjuna sebagai anak kita?" tanya Juna sembari mengelus kepala istrinya.
"Aku takut kamu tidak akan sayang pada anak ini, Mas" jawab Atha.
"Tidak, sayang! Mama, Arjuna dan adek bayi adalah hal penting dalam hidup Papa. Papa sayang kalian semua. Mama mau kan menerima Arjuna sebagai anak kita?" tanya Juna lembut. Sungguh Othor dibuat baper dengan sikap Juna yang selembut softener itu.
Atha mengangguk.
"Terima kasih. Papa akan menjemput Arjuna sore nanti. Papa akan bertolak ke Bali bersama Arya" ucap Juna kemudian mengecup kening istrinya.
"Bali? Kenapa ke Bali?."
"Karena Arjuna berada di sana. Selama ini Diandra tinggal di Bali."
"Jadi sekarang Diandra dan Arjuna ada di Bali?" tanya Atha cemas. Ia khawatir Juna kembali bertemu dengan Diandra.
"Diandra sedang dikurung di Surabaya. Hanya Arjuna yang ada di Bali. Nanti setelah Papa berhasil membawa pulang Arjuna, Arya akan membawa Diandra ke Desa Papaten. Mereka akan tinggal di sana."
Atha mengangguk. Ia mulai paham dengan cerita dari suaminya.
"Mama tidak apa-apa kan ditinggal dulu? Papa tidak mengajak Mama karena khawatir dengan adek bayi."
"Tidak apa-apa. Mama akan di sini bersama Ibu. Papa berangkat jam berapa? Biar Mama bisa menyiapkan barang-barang yang akan Papa bawa."
"Jam tiga sore, Sayang. Tapi sebelum itu apa Mama mau menolong Papa?."
Dahi Atha berkerut mendengar ucapan Juna.
"Menolong apa?" tanya Atha.
Juna meraih tangan istrinya lalu membawanya ke bawah untuk menyentuh sesuatu yang sudah mengeras sejak tadi.
"Tyrex mau main. Lima ronde aja, nggak banyak-banyak" bisik Juna sembari tersenyum jahil.
__ADS_1
"Juna...!!!!" Atha mencengkram Tyrex Juna. Ia merasa kesal karena Juna sudah meminta jatah pagi-pagi.
"Sakit, sayang!!! Tapi tak apalah, artinya kamu sudah siap untuk berolah raga pagi denganku" ucap Juna kemudian ia segera melancarkan aksinya.