HEI JUN

HEI JUN
23


__ADS_3

Area 21 + lagi


Bocil diharap skip yak


Bulu kuduk Juna meremang ketika merasakan sentuhan seseorang di wajahnya. Ia yang semula tertidur setelah kelelahan berjibaku dengan borgol sialan itu, tentu saja mulai membuka kedua netranya secara perlahan.


"Diandra?" Juna langsung melotot melihat wajah Diandra hanya berjarak satu centimeter dari wajahnya.


Cup


Tanpa izin dan permisi, wanita gila itu langsung melibas bibir Juna dengan ganas. Gila...! Diandra benar-benar sudah gila. Entah apa yang merasukinya hingga ia bisa sebrutal itu kepada Juna.


Juna yang masih memiliki pergerakan terbatas, tentu saja tidak mempunyai pilihan selain mengikuti permainan Diandra meskipun lebih banyak Diandra yang memegang kendali. Diandra baru berhenti, melepaskan tautan bibirnya ketika ia kehabisan nafas.


"Lumayan juga. Aku pikir kau tidak bisa bercumbu, Sayang" kata Diandra yang kini sudah duduk di atas kedua paha Juna.


Juna menelan ludah melihat Diandra yang hanya menggunakan bathrob. Wajahnya polos tanpa make up dengan rambut basah yang tergerai sempurna.


Juna menatap Diandra dengan sendu. Inilah kekasihnya dulu. Cantik dan manis tanpa make up tebal yang membuat wajahnya semakin mengerikan. Diandra menatap kedua mata Juna dengan tajam, menyunggingkan senyum manisnya yang selalu ia tampakkan ketika mereka bersama dulu.


"Di...."


"Kenapa?."


"Lepaskan aku! Kembalilah pada suamimu! Jangan kamu nodai pernikahanmu hanya karena nafsumu semata!."


Diandra diam. Namun, detik berikutnya ia menarik tengkuk Juna dan kembali melibas bibir Juna. Juna kaget. Ia pikir ucapannya membuat Diandra sadar. Dugaan Juna salah karena ternyata Diandra malah semakin brutal menyerangnya.


"Ssshh... Ahhhh....."


Juna merasakan sesuatu yang aneh saat Diandra menyentuh belalainya yang berdiri tegak. Sejak kepergian Diandra, belalai milik Juna memang belum masuk kembali ke dalam kandangnya. Jadi tak heran jika sedikit saja serangan dari Diandra sudah membuatnya bebas berdiri tegak.


"Diandra... hentikan...!!!."


Juna kembali mengeluarkan suara laknat ketika tangan mulus Diandra semakin cepat memainkan belalainya. Juna dibuat heran bagaimana Diandra bisa selihai itu ?.


"Bagaimana, Sayang? Enak kan?" tanya Diandra di sela-sela permainannya.


Juna tidak menjawab. Saat ini ia lebih memilih menggigit bibir bawahnya agar tidak semakin keras mengeluarkan suara-suara laknat yang sejak tadi ia tahan.


"Jangan ditahan, Sayang! Keluarkan saja. Malam ini aku milikmu" bisik Diandra.


Suara serak Diandra semakin membuat libido Juna naik berkali-kali lipat. Nafasnya kian memburu seiring dengan semakin cepatnya tangan Diandra memainkan belalai milik Juna.


"I want you now, Jun...." bisik Diandra dan Juna bisa melihat jika pandangan mata Diandra mulai berkabut.


"Tidak....!!! Jangan...!!! Jangan....!!!!" teriak Juna.

__ADS_1


"Ah... ah... Awww... awww..." Diandra memekik kencang ketika ia berhasil menduduki belalai kecil milik Juna


"Tidak...!."


Diandra memeluk Juna dengan erat. Ia berhenti bergerak tapi hanya beberapa saat. Diandra kembali menggerakkan bagian bawahnya yang mungkin terasa nyeri. Ia sepertinya sedang membiarkan belalai milik Juna agar bisa beradaptasi dengan kandang miliknya.


Kandang Diandra yang sempit benar-benar menjepit belalai kecil milik Juna. Diandra mengatur nafasnya yang naik turun tak beraturan sambil sesekali menekan kandangnya agar belalai milik Juna semakin masuk ke dalam.


"Diandra...."


"Diam, Jun!" Diandra memejamkan kedua matanya.


"Segelmu belum terbuka?" tanya Juna. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang ia rasakan.


Diandra mengangguk. Kedua matanya masih terpejam.


"Puaskan aku, Jun!" kata Diandra.


"Tidak...! Tidak, Di! Sadar, kau ini istri orang" teriak Juna. Ia semakin frustasi ketika Diandra mulai melakukan gerakan minimalis yang berefek luar biasa pada belalainya.


Andai saja kedua tangan Juna tidak diborgol, ia pasti bisa mendorong tubuh Diandra agar lepas dari tubuhnya.


Diandra membuka kancing kemeja Juna dengan kasar. Ia kemudian mulai mendusel-dusel wajahnya di dada bidang Juna. Melihat itu semua membuat Juna semakin mengerang dan mengumpat berkali-kali. Lagi-lagi Juna dibuat tidak percaya dengan Diandra yang semakin lihai saja dalam urusan olahraga kasur.


Diandra mulai beraksi lagi. Ia memainkan lidahnya dengan sesekali menggigit kulit dada Juna untuk meninggalkan jejak kepemilikannya. Tak ketinggalan Diandra juga menggerakkan sangkarnya meski dengan perlahan tapi cukup membuat Juna merasa melayang sekaligus tersiksa.


Diandra tidak menghiraukan ucapan Juna. Ia malah semakin menjadi-jadi. Diandra menggigit kulit Juna dengan keras sembari bergerak naik turun dengan semakin cepat pula.


"Aaah... ah... ah... Jun.......!."


Diandra berteriak bersamaan dengan pelepasan yang ia alami. Diandra memeluk tubuh Juna dengan nafas yang masih berderu kencang.


"Nikmat sekali, Sayang. Aku tidak menyangka rasanya bisa senikmat ini" kata Diandra sembari mendusel-duselkan wajahnya pada dada Juna lagi.


Juna yang masih berada di tahap pertengan jalan, tentu saja tidak menghiraukan ucapan Diandra. Ia berharap setelah ini Diandra akan melepaskan Juna sehingga dia bisa menidurkan belalai miliknya yang masih berkedut di dalam kandang milik Diandra.


"Jun, apa kau merasakan yang sama denganku? Apa kau mau mendapatkan pelepasan juga, Sayang?" bisik Diandra.


"Sudah, Di. Turun...!!! Turun dari tubuhku!."


"Turun? No, no, no ! Perjalananmu belum selesai, Sayang..."


"Tak perlu, Di... !!! Tak perlu...!!!" potong Juna cepat.


"Kamu berkata begitu karena tidak tahu senikmat apa rasanya, Jun. Diam dan ikuti permainanku! Aku tidak sejahat itu dengan membiarkanmu tersiksa sementara aku sudah merasakan surga dunia dari milikmu" kata Diandra menyeringai licik.


Diandra turun dari tubuh Juna dengan perlahan. Juna bisa melihat jika Diandra merasa kesulitan untuk bergerak. Diandea memanggil dua bodyguardnya dengan telephone. Selang lima menit dua bodyguard itu langsung datang menghampiri Diandra.

__ADS_1


"Ada apa Nyonya memanggil kami?."


"Aku mau kalian mengubah posisinya menjadi telentang!" perintah Diandra yang langsung diangguki oleh kedua bodyguard itu.


Kedua bodyguard itu langsung melaksanakan perintah Diandra. Posisi Juna yang semula duduk bersandar pada ranjang, kini berubah menjadi telentang. Juna sungguh tak punya muka saat ini. Kedua bodyguard Diandra bisa melihat belalainya yang masih tegak. Malu, Juna benar-benar malu.


Bagaimana bisa ia dibuat seperti boneka pemuas batin Diandra seperti itu? Juna seperti laki-laki yang sudah tidak mempunyai harga diri.


"Borgolnya mau dibuka, Nyonya?" tanya salah satu dari bodyguard Diandra.


"Tidak. Biarkan saja begitu. Nanti setelah pesananku datang, barulah kalian lepas borgolnya. Sekarang kalian keluar, kembali ke posisi semula! Ingat, usir siapapun yang ingin mengganggu aktifitas pentingku malam ini" kata Diandra yang langsung dituruti kedua bodyguard sialan itu.


Diandra menatap Juna dengan lapar. Rasanya ia masih ingin bermain lagi dengan Juna. Ini adalah pengalaman pertama Diandra berolahraga di atas kasur yang seharusnya ia lakukan bersama Arya.


"Kita mulai lagi, Sayang" kata Diandra sambil kembali menaiki tubuh Juna.


Juna menggelengkan kepalanya sebagai tanda jika ia menolak keinginan Diandra. Namun, bukan Diandra namanya jika ia menuruti keinginan Juna. Diandra membuka sedikit bathrobnya dan mengeluarkan salah satu aset menonjol di dadanya.


"Its time to your milk, honey" kata Diandra.


Tangan kiri Diandra membuka paksa mulut Juna dan dengan sekejap benda padat dan kenyal milik Diandra langsung membungkam mulut Juna.


"Bite it, honey! your tongue, your tooth, will make me crazy" ceracau Diandra yang membuat Juna semakin tidak mengerti dengan Diandra sekarang.


Diandra menekan-nekan benda kenyal itu pada mulut Juna sehingga mau tidak mau Juna memainkannya, menjilat bahkan sesekali menggigitnya. Diandra sepertinya sangat menikmati perlakuan Juna pada dirinya. Kedua matanya terpejam dan mulut mungilnya itu tidak berhenti mengeluarkan suara-suara laknat yang membuat belalai Juna kembali siap bertempur.


Jlebbb...


"Ahhhh...."


Diandra kembali berteriak ketika belalai Juna berhasil dibekapnya kembali. Ia sepertinya menginginkan pelepasan kedua sehingga Diandra kembali menggerakkan kandangnya sambil terus menekankan benda kenyal miliknya pada mulut Juna.


Juna yang sudah sedikit terbuai dengan kenikmatan yang diberikan Diandra akhirnya menyerah. Ia mengikuti arah permainan Diandra. Berolahraga bersama dengan sesekali bergerak bergantian sesuai perintah Diandra yang merasa lelah jika terus bergerak.


Diandra mengeluarkan benda kenyal yang satunya. Ia membenamkan kedua benda itu pada wajah Juna. Juna semakin tidak bisa menolak dengan perlakuan Diandra. Ia mulai kecanduan untuk memainkannya. Menjilat pucuknya, menghisap bahkan menggigitnya. Jika sudah begitu Diandra akan berteriak memanggil nama Juna.


Mereka terus saja berolahraga meski dengan pergerakan Juna yang terbatas hingga akhirnya baik Juna maupun Diandra berteriak bersamaan pelepasan yang mereka alami.


Diandra langsung ambruk di atas tubuh Juna. Ia menggigit bahu kanan Juna sembari menetralkan deru nafasnya yang cepat. Diandra terus memeluk Juna dengan erat tanpa mau melepaskan belalai milik Juna di dalam kandangnya.


Kegiatan malam yang benar-benar menguras tenaga. Juna mulai merasakan belalainya semakin melemas di dalam kandang milik Diandra.


"Di..." panggil Juna lirih.


"Hah?? Kenapa? Kurang? Sebenarnya aku mau lagi tapi aku sudah lelah dan mengantuk, Sayang" kata Diandra dan benar saja setelah itu ia tidur terlelap di atas tubuh Juna.


Juna menghela nafas. Ia tidak menyangka akan mengalami hal yang seperti ini. Ia kehilangan keperjakaannya, mengambil mahkota istri orang yang seharusnya tidak ia lakukan. Tubuh Juna yang lelah membuatnya juga ikut terlelap bersama Diandra meski dengan keadaan tangan terborgol.

__ADS_1


__ADS_2