HEI JUN

HEI JUN
08


__ADS_3


"Perkenalkan, nama saya Lia. Saya guru baru di sini. Saya mengajar mata pelajaran Matematika, menggantikan Bu Yatik yang pindah tugas ke Kalimantan. Salam kenal dan mohon bantuannya."


Juna langsung terpana ketika melihat gadis berpipi chubby itu sedang berdiri di tengah ruang guru. Kedua netranya ini tak mau berhenti menatap wajah cantik perempuan itu dengan bibir merah merekah yang selalu menampakkan senyum menawannya.


Hati seorang Ahmad Junaidi langsung berdesir. Ia sangat terpesona dengan kharisma Lia. Berkali-kali Juna membatin, mengucapkan terima kasih kepada Tuhan yang telah menciptakan makhluk seindah itu. Andai saja Juna boleh meminta. Juna ingin agar Lia menjadi jodohnya. Juna tidak keberatan jika mulai nanti malam akan bertirakat untuk memohon bantuan sang ilahi.


"Gemas" gumam Juna yang masih terdengar oleh rekan di sebelahnya.


Rekan Juna menyenggol lengan Juna, membuat Juna langsung tersentak dari lamunannya.


"Apa sih?" tanya Juna ketus.


"Pak Juna gemas ama siapa?" tanya rekan Juna. Ia berbisik karena tidak ingin menggangggu acara perkenalan Lia.


"Gemas? siapa yang bilang gemas?."


"Pak Juna lah. Barusan saya dengar kalau Pak Juna ngomong gemas. Ngaku, Pak. Pak Juna gemas ama Bu Lia ya?" goda rekan Juna.


"Apa sih?."


"Ngakulah Pak juna. Wajahnya sampai merah merona begitu."


Juna tak menyahut. Ia memilih bangkit dari tempat duduknya agar sesi goda-menggodanya tidak berlanjut. Namun, baru saja Juna hendak melangkah. Rekan Juna yang tadi menggodanya, mencekal tangan Juna sehingga ia urung melangkah.


"Apa sih?."


"Lah, Pak Juna mau kemana?."


"Mau ngajar! Sebentar lagi bel jam pertama berbunyi" jawab Juna ketus.


"Bukannya kita harus di ruang guru ya? murid-murid kan berdoa dan menyanyikan lagu kebangsaan dulu, Pak. Pak Juna lupa ya?" goda rekan Juna lagi.


Juna mengusap wajahnya dengan kasar. Bagaimana bisa ia melupakan peraturan itu? Juna benar-benar salah tingkah. Niat hati ingin buru-buru kabur agar tidak digoda terus oleh rekannya. Apa daya ada peraturan yang menghadangnya.


Juna kembali duduk. Ia melirik ke tengah. Rupanya Lia sudah selesai memperkenalkan diri. Juna mencoba mengedarkan pandangannya. Berpura-pura melihat jam dinding, padahal sebenarnya ia sedang mencari dimana Lia duduk.


"Jangan curi-curi pandang lah, Pak Juna. Itu lho orangnya di depan. Nggak bakal keliatan kok kalau Pak Juna liatin langsung. Jarak meja Bu Lia dan Pak Juna kan agak jauh" rekan Juna kembali menggodanya.


Plak


Juna memukul lengan rekan kerjanya itu dengan kesal. Sejak tadi Juna sudah menahan diri. Namun, rekan kerjanya itu tidak berhenti menggodanya.


Juna memilih bangkit, meninggalkan ruang guru menuju kamar mandi. Juna tidak peduli dengan aturan sekolah. Menurutnya lebih baik berada di kamar mandi daripada di ruang guru. Telinganya gatal mendengar ledekan rekan kerjanya itu.


Setelah pembacaan doa dan menyanyikan lagu kebangsaan selesai, Juna keluar dari kamar mandi. Ia langsung berlari menuju lapangan untuk mengajar.


Tak lama murid-murid mulai berhamburan ke lapangan. Seperti biasa mereka akan berbaris dan melakukan pemanasan tanpa intruksi dari Juna. Juna akan pergi ke gudang untuk mengambil bola voli selama murid-muridnya pemanasan. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Lia berjalan menuju kelas XII-IPS.


"Cantiknya...." Juna berucap tanpa sadar. Ia berdiri mematung, menatap Lia dari kejauhan.


Sadar Lia sudah masuk ke dalam kelas. Juna bergegas ke gudang untuk mengambil bola voli dan segera kembali ke lapangan.


Selama mengajar, Juna tak henti-hentinya mencuri-curi pandang ke kelas XII - IPS. Juna memperhatikan Lia mengajar. Sangat menggemaskan sehingga membuat Juna ingin sekali menggigit kedua pipi Lia.


"Pak...!!! Pak Juna...!!! Pak...!!!."


Juna tersentak kaget ketika ada seseorang menendang kaki kirinya. Ia mengaduh dan langsung menoleh hendak memaki pelaku penendang kaki kirinya.

__ADS_1


"Astaghfirullah, Pak Udin..!!! Ngagetin aja!!!" ucapku ketus. Juna urung memaki ketika melihat siapa pelaku penendang kakinya.


"Pak Juna sehat? Dari tadi anak-anak manggil lho. Bapak bukannya menjawab malah senyum- senyum. Bapak kesambet di mana?" tanya Pak Udin.


"Eh... sembarangan Pak Udin ini! Saya sehat-sehat saja, Pak" kata Juna kesal.


"Lalu kenapa Pak Juna dari tadi senyum-senyum terus? Ini sudah ganti jam pelajaran. Anak-anak dari tadi manggil. Sudah boleh ganti baju apa belum?" tanya Pak Udin.


"Bodoh!!!" maki Juna dalam hati.


Juna melihat ke arah murid-murid yang sejak tadi diabaikannya. Mereka bergerombol di tengah lapangan sembari minum es teh.


"Astaga...!!!" Juna menepuk dahinya. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia lakukan. Juna menelantarkan anak didiknya karena terlalu fokus memperhatikan Lia.


Pak Udin hanya bisa berdecak, melihat tingkah guru bujangan di hadapannya. Juna langsung berlari menghampiri murid-muridnya yang sejak tadi ia acuhkan.


"Maaf, saya tadi tidak mendengar panggilan kalian" kata Juna sembari menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


Juna segera membubarkan murid-muridnya dan kembali duduk di pinggir lapangan. Juna menghela nafas panjang. Sebegitu terpesonanya dirinya pada Lia hingga ia dibuat ling-lung seperti itu? Ini baru hari pertama Lia mengajar di sini. Bagaimana kalau seminggu, sebulan atau setahun? Juna pasti akan lebih parah dan lebih memalukan dari ini.


Juna kembali menghela nafas panjang. Ia lalu melangkahkan kakinya menuju warung Bu Udin. Gara-gara asyik memperhatikan Lia, Juna jadi melewatkan sarapannya. Juna tidak mungkin makan di pinggir lapangan lagi karena jam mengajarnya sudah habis.


Deg...


Juna langsung mematung ketika melihat Lia sedang duduk manis menyantap lontong pecel di warung Bu Udin. Ia menepuk-nepuk kedua pipinya untuk memastikan jika apa yang dilihatnya bukan halusinasi.


"Lia. Itu benar Lia" gumam Juna lirih.


Juna memberanikan diri duduk di bangku sebelah kiri sedangkan Lia duduk di bangku tengah. Juna memang sengaja tidak duduk di bangku yang sama dengan Lia karena ia khawatir Lia akan kaget dan menganggap Juna sok akrab dengannya.


Juna memberikan kode kepada Bu Udin untuk pesanannya. Bu Udin yang memang hatam dengan kebiasaan Juna, langsung mengangguk dan mulai menyiapkan pesanannya.


Selama Juna menunggu makanannya jadi, ia kembali menatap Lia yang sedang asyik menyantap makanannya. Lia sepertinya tidak menyadari keberadaan Juna yang sejak tadi terus menatapnya.


"Ennem ebuh, Nak" jawab Bu Udin.


Lia mengernyitkan dahi. Juna yakin jika Lia tidak bisa berbahasa daerah pulau garam.


"Berapa bu?" Lia bertanya lagi.


"Ennem ebuh, Nak" Bu Udin kembali menjawab dengan jawaban yang sama.


Lia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia kemudian mengambil dompet di dalam tasnya dan menyomot selembar uang lima puluh ribuan. Juna tersenyum melihat tingkah Lia. Bu Udin dibayar uang segitu pagi-pagi seperti ini? mana ada kembaliannya?, pikir Juna.


"Bu... segini cu..."


"Kebanyakan, Non. Bu Udin nggak ada kembalian kalau bayarnya pakai uang lima puluhan" teriak Juna dan itu membuat Lia menoleh ke arahnya.


"Hah? kebanyakan? Memang harga makanan dan minuman ini berapa?" tanya Lia heran.


"Enam ribu, Non. Pecelnya tiga ribu, es tehnya tiga ribu."


"APAAAAA???" Lia memekik tak percaya.


"Tidak usah berteriak, Non. Di sini warung bukan hutan" tegur Juna dan Lia langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Maaf, saya hanya kaget. Harga makanan dan minuman ini sangat murah. Emmm... apakah Ibu ini tidak rugi?."


"Entahlah! saya hanya pembeli. Tidak pernah tahu berapa modal dan keuntungan yang didapat Bu Udin. Jika Nona penasaran, tanyalah sendiri kepada orangnya" sahut Juna sok cool padahal jantungnya seakan mau copot saat mengatakan hal itu.

__ADS_1


"Oh... benar juga! Mengapa saya bertanya padamu ya?" Lia terkekeh geli menyadari kebodohannya.


"Apakah kamu guru di sini?."


"Ya, saya guru di sini. Apakah tadi saat kamu memperkenalkan diri tidak melihatku di ruang guru?" Juna balik bertanya.


"Maaf, aku tidak memperhatikan kalian satu-persatu."


"Kenapa? padahal kami semua memperhatikanmu."


"Mmm... terburu-buru. Bel jam pertama berbunyi. Jadi aku tidak sempat berkenalan lebih lama."


Lia diam sejenak lalu ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke tempat Juna.


"Lia, saya guru matematika. Kamu siapa?" Lia mengulurkan tangan kanannya ke arah Juna.


Deg


Juna langsung membeku. Ini mimpi atau kenyataan? Lia, gadis chubby itu mengajaknya berkenalan? Oh Tuhan... rasanya Juna ingin melompat saja dari atas genteng.


"Halooooo... Pak! Siapa namamu?" tanya Lia.


"Oh.. Maaf! Saya Juna, guru olahraga."


"Salam kenal Pak Juna. Semoga kita bisa menjadi rekan kerja yang baik" ucap Lia sambil tersenyum ke arah Juna.


Mendapat senyuman seperti itu membuat hati Juna meleleh. Juna yakin nanti malam ia tidak akan bisa tidur karena selalu terbayang - bayang senyum maut milik Lia. Entah sihir apa yang dimiliki guru baru itu sehingga Juna sangat terpikat olehnya.


"Halooo... Pak Juna!!! Anda melamun lagi?" tanya Lia membuat Juna tersadar dari lamunannya.


"Saya balik duluan ya, Pak. Ada jam ngajar. Bapak kalau mau melamun di sini, silakan saja. Tapi hati-hati, Pak takutnya kesambet penunggu pohon bambu sebelah."


Lia kemudian beranjak dan berjalan mendekati Bu Udin. Ia kembali menyerahkan uang lima puluh ribuan untuk membayar makanannya.


Bu Udin kembali berbicara dengan bahasa daerah sehingga Lia kembali dibuat kebingungan. Sepertinya Bu Udin tidak peka jika pembelinya kali ini bukan dari kalangan orang biasa.


"Nggak ada kembaliannya, Non. Bu Udin minta uang pas" teriak Juna menerjemahkan perkataan Bu Udin pada Lia.


"Bu Udin, ibu guru ini tidak bisa berbahasa madura. Jadi pakailah bahasa persatuan negara kita" tegur Juna pada Bu Udin.


"Maaf, Bu. Tapi saya hanya ada pecahan ini. Mmmhh... begini saja. Pak Juna, kira-kira kalau mentraktir semua guru di sekolah ini habis berapa duit?" tanya Lia.


"Hah?? traktir? semua guru? Jangan, Non! gurunya banyak."


"Nggak apa-apa kali, Pak. Anggap aja perkenalan. Lima ratus cukup?" tanya Lia lagi.


"Waduh... kebanyakan, Non!."


"Tiga ratus???."


"Kebanyakan. Seratus ribu aja udah cukup, Non. Eh udah lebih malah."


"Se... se.. seratus ribu??? Hah?? nggak salah??" tanya Lia memastikan ucapan Juna.


Juna mengangguk karena memang faktanya uang segitu sudah lebih dari cukup mentraktir semua guru yang berjumlah dua puluh lima orang.


"Nih...! Minta tolong ya, Pak Juna. Saya ada jam mengajar. Saya pasrahkan ke Pak Juna ya. Lagipula saya tidak paham kalau berbicara langsung dengan Bu Udin. Pak Juna bisa kan menghandle ini?" tanya Lia sembari menyodorkan dua lembar uang pecahan lima puluh ribuan kepada Juna.


"Tolong ya, Pak. Saya buru-buru mau ngajar. Kalau uangnya kurang, cash bon aja dulu. Biar nanti pas pulang sekolah saya ke sini lagi" ucap Lia kemudian dia pergi meninggalkan Juna dengan terburu-buru.

__ADS_1


Juna menatap uang pemberian Lia. Masih baru, wangi, persis seperti baju yang baru kelar disetrika. Juna semakin penasaran dengan Lia. Dia tidak mungkin orang dari kalangan menengah ke bawah seperti dirinya.


Juna menduga-duga. Apa mungkin Lia anak sultan yang menyamar menjadi guru honor di sana? atau Lia memang memiliki gaya hidup kelas atas padahal kehidupannya biasa saja? Entahlah, sepertinya Juna harus lebih rajin berinteraksi dengan Lia agar rasa penasarannya terobati.


__ADS_2