
"Mau kemana, Jun?" tanya Bu Tias yang tiba-tiba muncul di kamar Juna.
Juna menoleh sebentar kepada Bu Tias kemudian melanjutkan memasang kancing kemeja batiknya sembari berkaca, memastikan apakah dandannya hari ini sudah rapi apa belum.
"Mau kemana, Jun?" tanya Bu Tias lagi.
"Kondangan, Mak. Teman di SMA Cendekia menikah" jawab Juna sambil menyisir rambutnya.
"Janganlah pergi ke kondangan teman terus! Kapan teman-temanmu gantian kondangan ke sini?."
Juna menghela nafas. Andai Bu Tias tahu nasib anak bungsunya itu, pasti Bu Tias akan kembali menangis. Juna bukannya tidak mau. Tapi lihatlah cintanya belum tersampaikan, sang calon sudah direbut orang.
Juna kadang berfikir apa mungkin ia kena kutukan perjaka tua? Mungkin saja mitos yang dikatakan orang-orang jaman dulu itu benar jika kita suka duduk di tengah-tengah pintu maka kita akan dijauhkan jodohnya.
Juna akui ia memang sering duduk di tengah pintu. Meskipun Bu Tias sering memarahinya, Juna tak mau ambil pusing. Karena menurutnya itu semua hanya mitos belaka. Tapi entah mengapa dengan keadaan Juna yang seperti ini, ia sepertinya mulai percaya dengan ucapan orang-orang jaman dulu.
"Melamun lagi....!!! Melamun lagi...!!! Anak bujang Emak ini kenapa suka melamun?" kata Bu Tias membuyarkan lamunan Juna.
"Eh... maaf, Emak. Juna berangkat dulu. Sudah ditunggu teman-teman" kata Juna kemudian berlalu meninggalkan Bu Tias.
Juna menarik nafas berkali-kali, menyiapkan hati untuk menghadiri pernikahan Lia dan Noval. Sebenarnya langkah Juna sangat berat untuk pergi. Namun, ia juga merasa tak enak hati jika absen di pernikahan Lia mengingat Noval adalah adik ipar Pak Zaini, orang yang sudah menolongnya saat di penjara.
Acara pernikahan Lia diadakan di rumah Pak Zaini. Berdasarkan undangan yang Juna baca, akad nikah diadakan di rumah Lia di pagi hari. Kemudian berlanjut acara resepsi di rumah Pak Zaini di sore hari.
Juna mendapat undangan pada acara resepsi dan sudah jelas dapat dipastikan jika kini Lia sudah melepas masa lajangnya. Pupus sudah harapan Juna untuk mengejarnya dan menjadikan Lia sebagai istrinya. Andai saja waktu itu Juna tidak ikut pelatihan, pasti Lia tidak akan disambar Noval.
Juna segera menyalakan motornya dan mengendaraike rumah Pak Zaini. Di sepanjang perjalanan hati Juna berkecamuk. Bimbang antara harus datang atau pulang. Juna memilih mengendarai motor secara perlahan sembari memantapkan hati untuk menghadiri resepsi pernikahan Lia.
"Kamu harus datang, Jun. Bagaimanapun Hani adalah rekan kerjamu. Ia juga tidak tahu perasaanmu. Bersikaplah biasa aja."
Perkataan Andika tempo hari masih terngiang di telinga Juna. Andika mewanti-wanti agar Juna menghadiri undangan pernikahan Lia dan Noval. Huufffttt... ini sungguh berat, melebihi berat beban negara untuk memberikan subsidi upah pada pekerja. Andika tidak tahu seberapa berat beban Juna untuk hadir di resepsi pernikahan Lia.
Bagaimana bisa Juna bersikap biasa saja sedangkan hatinya sedang hancur berkeping- keping seperti itu? Juna adalah orang yang tidak pandai berpura-pura. Saat ini ia sedang terluka. Tidak mungkin kan Juna tertawa dan bahagia menghadiri undangan pernikahan Lia sedangkan hatinya menangis?
Juna kembali menghela nafas panjang ketika kedua netranya melihat penampakan janur kuning melengkung. Rumah Pak Zaini tinggal beberapa meter lagi. Juna menghentikan motornya dan memarkirkan di tempat yang tersedia.
"Parkirnya di sini??" tanya Juna heran karena letak parkiran yang cukup jauh dari rumah Pak Zaini.
__ADS_1
"Iya, Pak. Karena jalan ini nanti dilewati drumband. Pak Zaini kan ngundang macam-macam untuk memeriahkan resepsi pernikahan iparnya. Ada drumband, musik ul-daul dan atraksi macan juga. Jadi agar para pemain itu leluasa, makanya parkir dibuat agak jauh" kata tukang parkir menjelaskan.
"Maklum lah, Pak. Si Noval kan anak bungsu. Calonnya juga orang berada. Jadi Pak Zaini bikin hajatannya besar-besaran. Beruntung sekali si Noval dapat istri cantik begitu. Kayak artis" puji tukang parkir itu membuat Juna langsung panas mendengarnya.
Baru saja Juna hendak melangkahkah kaki, tukang parkir itu menarik lengannya.
"Pak, jangan berangkat dulu! Rombongan drumband mau datang" cegah si tukang parkir.
"Apa-apaan orang ini? Berani sekali dia menghalangiku? Apa ia tidak tahu kalau aku ingin segera ke tempat resepsi?" batin Juna sembari menampilkan wajah juteknya.
Juna mengacuhkan ucapan si tukang parkir dan berniat terus berjalan ke rumah Pak Zaini. Namun, baru saja kakinya melangkah sekali. Terdengar suara peluit kencang dan dentuman keras suara petasan.
Dorr...
Dorr...
Dorr..
Juna terkejut ketika melihat wajah-wajah familiar berjalan melintasinya. Mereka adalah siswa-siswi SMA Cendekia. Rupanya Pak Zaini membawa anak didiknya tampil di acara pernikahan Lia dan Noval. Pantas saja beberapa hari kemarin Juna melihat mereka berlatih setiap sore. Tidak setiap hari Rabu layaknya latihan biasa.
"Apa lagi, Pak?" tanya Juna kesal.
"Tunggu, Pak. Tuh macannya mau lewat" kata si tukang parkir menunjukkan rombongan berikutnya yang akan lewat.
Juna terpaksa kembali mengurungkan langkahnya. Rombongan macan ini sepertinya akan lama karena si macan akan melakukan atraksi. Entah dengan menakuti orang-orang, bergulung-gulung, atau membuka mulutnya untuk meminta saweran dari orang-orang yang sedang menonton di pinggir jalan.
Juna menekuk wajahnya. Ia semakin kesal karena datang di waktu yang tidak tepat. Andai saja ia datang lebih awal, pasti sekarang Juna sudah pulang dari acara ini.
"Jun, kenapa di sini?."
Andika tiba-tiba muncul dengan membawa baskom berisi uang receh dan kembang warna-warni. Dibelakangnya, berbaris beberapa anak-anak yang juga membawa baskom dengan isi yang sama.
"Hei, Dika. Ini kang parkir tidak mengizinkan untuk masuk soalnya ada drumband dan macan-macan mau atraksi" jawab Juna sedikit menyindir si tukang parkir.
__ADS_1
"Alah... kenapa nurutin kang parkir sih? Sudah sana masuk! Guru-guru yang lain sudah banyak yang datang. Lewat pinggir sana! Aku masih ada tugas buat nyawerin macan" kata Andika kemudian berlalu dari hadapan Juna.
Juna mengangkat jempolnya ke arah Andika. Ia segera melangkah menuju tempat resepsi yang masih berjarak beberapa meter lagi. Sungguh hatinya semakin gelisah.
Berbagai pertanyaan menyeruak di kepalanya. Apa mungkin Juna sanggup melihat Lia bersanding dengan Noval? Apa sanggup Juna masih berdiri tegak dan mengucapkan selamat menempuh hidup baru pada mereka? Bagaimana nanti kalau Juna pingsan?
Juna langsung menepis segala ketakutannya dan berjalan mantap menuju rumah Pak Zaini. Berkali-kali ia mensugesti dirinya sendiri agar kuat dan tidak tumbang saat di tempat resepsi. Namun, saat jarak rumah Pak Zaini tinggal lima langkah lagi...
Degg...
Juna langsung membatu melihat Lia mengenakan kebaya pengantin. Ia berjalan ke atas panggung bersama kedua orang tuanya. Di sisi lainnya, Noval juga berjalan ke atas panggung. Mereka kemudian di pertemukan, saling memandang dan tersenyum bahagia.
Hati Juna terasa sakit sekali. Melihat Lia dan Noval bersanding di pelaminan, melakukan sungkeman kepada orang tua masing-masing, makan saling menyuapi. Juna tidak terima. Mengapa bukan Juna yang menjadi mempelai laki-lakinya? Mengapa bukan Juna yang berdiri di sana?.
Juna sepertinya tidak akan sanggup jika masuk ke dalam. Melihat mereka dari kejauhan saja sudah sesakit itu. Apalagi jika Juna masuk, bersalaman dengan mereka dan mengucapkan selamat menempuh hidup baru, Lia. Ah... rasanya Juna tidak akan kuat.
Juna mengambil amplop di saku batiknya. Ia membalikkan badannya dengan cepat dan berjalan menjauhi rumah Pak Zaini. Juna memutuskan untuk tidak akan datang.Karena ia yakin jika Juna tidak kuat.
Untung saja ketika Juna baru melangkah pergi, ia berpapasan dengan seseorang yang sepertinya akan menghadiri pernikahan Lia juga. Juna segera menghentikannya karena ia membutuhkan bantuan orang itu untuk memasukkan amplop buwuhannya. Bagaimanapun Juna harus tetap buwuh meskipun ia tidak hadir secara langsung.
"Maaf, Bu. Apakah Ibu mau ke kondangan?" tanya Juna.
Ibu-ibu itu mengangguk.
"Maaf mengganggu. Saya boleh minta bantuan ibu?" tanya Juna lagi.
"Minta bantuan apa, ya, Mas?"
"Saya mau nitip amplop buwuhan. Saya sebenarnya mau masuk tadi. Tapi tiba-tiba saya mendapat telpon kalau harus segera ke tempat lain. Darurat, Bu. Jadi, bolehkah saya titip Ibu saja?" kata Juna berbohong.
Ibu itu nampak berfikir.
"Saya buru-buru,Bu. Tolong ya, saya titip amplop. Saya benar-benar ada urusan penting. Terima kasih sebelumnya" kata Juna kemudian segera berlari meninggalkan ibu-ibu tadi.
Juna berlari menuju tempat motornya di parkir. Ia langsung mengambil motornya tanpa menunggu tukang parkir yang bertugas mengambilkan motor para undangan agar tidak kerepotan.
__ADS_1
Juna segera melajukan motornya, meninggalkan kawasan rumah Pak Zaini. Bulir-bulir bening tiba-tiba saja jatuh membasahi pipi Juna. Untung saja Juna menggunakan helm full face berkaca gelap sehingga tidak akan nampak jika ia sedang menangis seperti itu.
Juna terus melajukan motornya tanpa arah yang jelas, tanpa tujuan yang jelas. Saat ini Juna hanya ingin pergi menyendiri, berteriak jika bisa untuk melampiaskan rasa sakit hatinya akibat ditinggal nikah dua kali.