HEI JUN

HEI JUN
45


__ADS_3

H-1 menjelang acara pertunangan Juna dan Lily.


Juna duduk menyendiri di sebuah taman bermain di pusat kota Barcelona. Ia sengaja datang ke tempat itu untuk menenangkan pikirannya yang sedang kalut. Kalut sehari sebelum acara pertunangan dirinya dan Lily besok.


Juna ruwet bukan karena Juna sibuk mempersiapkan gedung atau catering untuk acara besok. Ruwet bukan karena memikirkan biaya yang akan dikeluarkan Juna untuk acara besok. Namun, Juna ruwet untuk menghadiri acara pertunangannya besok.


Bagaimana Juna tidak gundah gulana seperti itu? Sehari setelah acara makan malam dengan keluarga Lily, Juna iseng-iseng berbincang dengan Edward. Ia rupanya tidak memiliki firasat buruk apapun tentang pembicaraan Carlos dan Dira semalam.


Niat Juna hanya ingin membujuk Edward agar bisa mengirimnya kembali ke Indonesia. Namun, betapa terkejutnya Juna ketika Edward mengatakan jika Juna akan menetap selamanya di Spanyol karena setelah Juna dan Lily menikah, ia akan memegang salah satu perusahaan milik Carlos.


Dari mulut Edward lah, Juna mengetahui jika hasil pertemuan semalam adalah tentang kesepakatan Carlos dan Dira untuk meresmikan hubungan Lily dan Juna. Edward memberi tahu jika acara pertunangan Lily dan Juna akan diadakan satu minggu lagi.


Brukkk...!


Juna langsung kejang-kejang dan pingsan.


Setelah ia mengetahui hal itu, esoknya Juna tidak muncul di kantor. Ia mengalami diare seharian sehingga ia harus mendekam di kamar mandi. Sungguh efek yang luar biasa di alami oleh Juna.


Setelah hilang balada mules yang melanda Juna, ia memilih tidak lagi datang ke kantor untuk training. Juna bersembunyi di apartemennya untuk menenangkan hati dan pikirannya. Setidaknya rentang waktu selama enam hari itu ia gunakan untuk berfikir apakah akan melanjutkan atau membatalkan acara pertunangan itu.


Juna bahkan mematikan ponselnya agar tidak ada yang bisa menghubunginya. Beruntung sekali Lily tidak tahu di mana Juna tinggal. Andai saja Lily tiba-tiba muncul di depan apartemennya, Juna sudah bertekad untuk tidak membukakan pintu.


Sekarang, ketika H-1. Juna bukannya semakin tenang dan memantapkan hati untuk melangkah, ia malah semakin kacau. Juna benar-benar bingung. Apakah yang harus ia lakukan besok? Perlukah Juna kabur sejauh mungkin? Atau berpura-pura sakit agar tidak datang di acara itu?


Juna bisa saja angkat kaki sekarang dari apartemennya. Kabur ke mana saja asal tidak di Barcelona. Tapi, ia khawatir karena dirinya tidak bisa berbahasa asing. Bagaimana nanti Juna akan berkomunikasi? Tidak mungkinkan Juna menggunakan bahasa isyarat.


Bingung. Juna benar-benar bingung. Ingin meminta bantuan Edward, sungguh tidak mungkin. Yang ada Juna akan diseret paksa ke hadapan Dira dan itu sama saja dengan cari mati.


Puk...


Seseorang menepuk bahu Juna. Ia langsung saja kaget dan mengangkat wajahnya. Juna was-was jika orang yang menepuk bahunya tadi adalah orang-orang suruhan Dira atau Lily yang sedang mencarinya. Karena sudah hampir seminggu ini Juna tidak menampakkan diri di hadapan mereka.


"Mas Juna, kenapa di sini?."


Juna dapat bernafas lega karena orang yang berdiri di hadapannya adalah Elang.


"Tuan Elang."


"Panggil Elang saja. Saya lebih muda dari Mas Juna. Mas Juna lagi ngapain di sini?" tanya Elang yang langsung mengambil tempat di sebelah Juna.


"Emmm...saya...saya..."


"Ada masalah?" tebak Elang yang langsung di jawab anggukan kepala oleh Juna.


"Mau bercerita dengan saya? Kalau Mas Juna mau, saya bisa kok jadi pendengar yang baik. Tapi saya hubungi Kiara dulu untuk memberi tahu kalau saya lagi ngobrol sama Mas Juna. Saya khawatir istriku yang menggemaskan itu berfikir kalau suaminya pulang telat karena terpikat janda bule" kata Elang terkekeh.


Juna mengangguk. Ia memberikan kesempatan kepada Elang untuk menelpon istrinya. Dengan begitu Juna bisa berfikir sejenak untuk menerima tawaran Elang.


Hmmm...Sepertinya tidak masalah jika dirinya bercerita pada Elang. Juna memang tidak terlalu mengenal Elang. Mengobrol pun hanya sekali. Tapi entah mengapa hatinya menyuruh Juna agar mau bercerita pada Elang. Mungkin hatinya sudah lelah menampung masalah Juna seorang diri. Hatinya butuh teman berbagi yang bisa memberikan solusi bukan caci maki.

__ADS_1


"Saya bingung" cicit Juna.


"Bingung?."


"Saya besok akan bertunangan dengan Lily."


"Ah, iya! Abang Dira sudah memberitahu kami kalau Mas Juna akan bertunangan dengan Lily besok. Selamat ya, Mas Juna. Semoga lancar sampai hari H" kata Elang. Ia langsung menjabat tangan Juna dengan senang.


Juna menunduk lesu.


"Loh? Kok nggak senang? Mas Juna kenapa? Nervous? Apa mikirin biaya? Tapi kalau nervous sih saya rasa nggak perlu, Mas. Nggak perlu ijab kabul kok. Kalau masalah biaya, Mas Juna bisa ngutang dulu sama Elang kalau memang butuh" ucapan Elang membuat Juna semakin menunduk lesu.


"Mas Elang bisa bantu saya?" tanya Juna. Ia memanggil Elang dengan sebutan Mas karena menurutnya kurang sopan jika hanya memanggil nama saja.


"Bisa kok. Mas Juna butuh berapa? Nanti saya transfer."


"Bukan masalah uang, Mas."


"Loh? Terus masalah apa?" tanya Elang heran.


"Bantu saya kabur dari sini. Saya mau pulang ke Jakarta, Mas" bisik Juna.


"APA?!!!!" Elang berteriak kencang sehingga membuat orang-orang yang berada di taman itu langsung menoleh ke arah mereka.


"Mas Juna besok kawin lari sama Lily? Loh? Memangnya Om Carlos tidak setuju dengan Mas Juna?" tanya Elang cemas.


"Bukan, Mas! Bukan! Saya yang tidak mau tunangan dengan Lily."


"Saya tidak cinta dengan Lily, Mas Elang. Saya tidak mau bertunangan dengan Lily" kata Juna lirih.


"Loh? Ini bagaimana ceritanya? Saya sampai bela-belain pulang lebih cepat dari Milan karena Lily menghubungi saya perihal pertunangan kalian."


Juna menarik nafas panjang. Ia kemudian menceritakan kejadian saat acara makan malam di restauran milik Lily. Elang yang menjadi pendengar setia hanya bisa menggelengkan kepala. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan peristiwa yang dialami oleh Juna. Mau ketawa, takut dosa juga.


"Mas Juna tidak bisa membatalkan acara pertunangan besok" kata Elang tegas.


"Tapi saya tidak mau, Mas."


"Mas Juna bisa mencoreng nama baik Om Carlos dan Abang Dira. Malu, Mas! Malu! Apalagi Abang Dira mengklaim dirinya sebagai CEO paling tampan dan rupawan. Mau ditaruk dimana tuh muka kalau Mas Juna tiba-tiba kabur?" omel Elang. Seumur-umur baru sekarang Elang mengomel panjang kali lebar seperti itu.


"Kenapa saya yang menjadi korban?" tanya Juna lirih.


"Bukan korban, Mas. Ini resiko yang Mas Juna tanggung karena Mas Juna tidak paham dengan apa yang mereka bicarakan."


"Bukan salah saya, Mas Elang. Mereka bertiga berbicara dengan bahasa asing. Saya kan tidak paham" kata Juna membela diri.


Elang kembali menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar tidak menyangka jika Juna bisa sepolos itu.


"Mas Juna sekarang berada di Spanyol. Jadi memang wajar jika Om Carlos dan Abang Dira menggunakan bahasa asing."

__ADS_1


"Tapi saya tidak paham" potong Juna cepat.


"Mas Juna bisa membeli translator bahasa otomatis. Harusnya Abang Dira memberikan itu pada Mas Juna."


"Mas Juna, lelaki sejati tidak akan mundur sebelum berperang. Harga diri Mas Juna sedang dipertaruhkan. Saran saya, Mas Juna maju terus. Ikuti saja alurnya! Jangan melawan takdir!" kata Elang menyemangati Juna.


Juna bungkam. Ia sedang memikirkan perkataan Elang barusan.


"Kalau saya melanjutkan pertunangan ini. Apakah Mas Elang bisa bantu saya kembali ke Indonesia?" tanya Juna.


"Mas Juna kenapa sih mau kembali terus ke Indonesia?" tanya Elang heran.


"Saya kangen nasi uduk, Mas" jawab Juna bohong.


Elang berdecak sebal.


"Mas Juna bisa bikin sendiri. Di kiutub sudah banyak tutorialnya."


"Sebenarnya bukan itu, Mas Elang" kata Juna dan itu membuat Elang merasa gemas kepadanya.


"Saya kangen dokter yang merawat istri Mas Elang" jawab Juna jujur.


"APA??!!!" Elang langsung menutup mulutnya. Pasalnya ia tidak ingin menarik perhatian orang-orang di sana lagi.


"Bantu saya, Mas Elang" pinta Juna memelas.


Elang menarik nafas panjang panjang. Sepertinya ia salah menjadi pendengar setia masalah Juna. Andai saja Elang tidak menghampiri Juna, ia pasti tidak akan menerima permintaan Juna itu.


"Mas Juna mau bersabar?" tanya Elang.


Juna mengangguk.


"Nanti jika Kiara sudah resmi menjadi pemimpin perusahaan Sanjaya di Indonesia, Elang akan bujuk Kiara untuk menarik Mas Juna ke sana" janji Elang.


"Apakah Tuan Dira tidak akan marah?" tanya Juna.


Elang menggeleng.


"Sebenarnya status Mas Juna di sini tidak jelas. Mas Juna tidak jelas bekerja untuk siapa. Abang Dira hanya memerintahkan Mas Juna untuk mengikuti training dengan tujuan mempersiapkan Mas Juna memimpin perusahaan di Spanyol" kata Elang yang di jawab Juna dengan anggukan kepala.


"Selama perusahaan Sanjaya di Indonesia masih dipimpin oleh Abang Dira, sudah dipastikan Mas Juna tidak bisa kembali kesana. Tapi lain cerita jika sudah berganti kepemimpinan. Kiara akan mudah menarik Mas Juna ke Indonesia karena Abang Dira tidak punya hak lagi di perusahaan itu."


"Lalu Tuan Dira kemana?."


"Abang Dira akan mengurus perusahaannya sendiri di New York. Dia tidak akan mencampuri urusan perusahaan di Indonesia dan Spanyol karena sebenarnya kedua perusahaan itu adalah milik Kiara."


Ting..!


Wajah Juna langsung bersinar ketika mendengar ucapan Elang. Secercah harapan muncul dalam benaknya. Juna ingin pulang! Juna ingin pulang!.

__ADS_1


"Tapi ini rahasia antara kita berdua. Jangan disebarkan dulu. Elang akan mencari cara untuk membujuk Kiara dengan syarat Mas Juna besok harus mau bertunangan dengan Lily" kata Elang yang langsung dibalas Juna dengan anggukan kepala.


__ADS_2