HEI JUN

HEI JUN
92


__ADS_3

"Atha....!!! Suamimu menghilang. Kamarnya kosong. Kamu di mana sekarang?" terdengar nada panik dari Ayesha.


Atha menepuk jidatnya. Ia lupa mengabari Yesha jika Juna sudah angkat kaki dari rumah sakit. Atha yang diseret begitu saja oleh Juna tentu saja panik.


"Juna sudah pulang. Maaf, Yesha, aku tidak mengabarimu."


"APA????!!! Juna sudah pulang? Kau membawanya pulang apa membawanya kabur?" teriak Yesha.


Atha lagi-lagi menepuk jidatnya. Ia lupa menyelesaikan administrasi di rumah sakit.


"Athaaa.... kembali ke rumah sakit sekarang! Kau harus tanda tangan beberapa berkas dulu, menyelesaikan biaya administrasi baru boleh pulang. Kau ini pernah bertugas di rumah sakit kan? Seharusnya kau tau prosedur pasien jika akan pulang" tegur Yesha.


"Maaf," hanya kalimat pendek itu yang keluar dari mulut Atha.


Mau bagaimana lagi dirinya dan Juna memang salah. Pulang terburu-buru tanpa mengurus administrasi.


Atha menutup teleponnya. Ia berjanji kepada Yesha untuk segera kembali ke rumah sakit. Saat ini Atha dan Juna sedang berada di rumah milik paman Atha. Mereka baru tiba setengah jam yang lalu.


Atha langsung menyuruh Juna mandi terlebih dahulu sedangkan dirinya akan memesan makanan. Namun, karena telepon dari Yesha barusan membuat Atha tidak jadi memesan makanan. Ia akan kembali ke rumah sakit terlebih dahulu, khawatir jika Yesha akan terkena masalah akibat hal ini.


"Juna...! Jun....! Juna...!" Atha mengetuk pintu kamar mandi. Ia akan pamit terlebih dahulu kepada suaminya.


"Hemmm??" Juna berteriak dari dalam. Rupanya Juna sedang keramas sehingga tidak memungkinkan untuk keluar sekarang. Nanggung, begitulah pikir Juna.


"Aku akan kembali ke rumah sakit untuk mengurus administrasi, Jun. Kamu di sini dulu ya, aku akan cepat kembali" teriak Atha juga.


Ceklek.


Pintu kamar mandi terbuka. Juna langsung menarik Atha dan membawanya masuk ke kamar mandi.


Byurrrrr


"Kebiasaan!!!" gerutu Atha.


Atha segera memandikan Juna yang penuh dengan sabun dan shampo. Atha tidak habis pikir dengan suaminya itu. Sudah tahu sedang menyampo dan menyabuni tubuhnya malah masih sempat menarik dirinya masuk ke kamar mandi.


Usai memandikan Juna dengan telaten. Atha memberikan jubah mandi kepada Juna. Juna tersenyum nakal. Ia menerima jubah mandi itu sambil bersiul.


Juna keluar dari kamar mandi. Ia duduk di depan meja rias. Di belakangnya Atha beejalan menghampiri Juna. Ia membawa handuk untuk mengeringkan rambut Juna yang basah.


"Tadi kamu bilang mau ke rumah sakit?" tanya Juna memastikan.


Atha mengangguk.


"Untuk apa?" tanya Juna lagi.


"Ada berkas yang harus aku tanda tangani. Biaya pengobatanmu juga belum di bayar. Kau tadi kabur dari rumah sakit. Aku takut Ayesha akan kena masalah gara-gara ini."


Juna mengangguk. Ia kemudian mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.


Atha yang masih mengeringkan rambut Juna tentu saja bisa mendengar isi pembicaraan Juna. Ia sedikit penasaran, siapakah yang sedang dihubungi Juna.


"Kamu tidak usah ke rumah sakit lagi."


"Tidak mau. Nanti Ayesha bisa kena masalah, Jun" tolak Atha.


"Aku sudah menyuruh Pak Danu untuk mengurus masalah administrasi. Aku sudah memberi kuasa padanya."


"Lalu biaya pengobatannya?" tanya Atha bingung


"Jangan pikirkan itu, Sayang! Suamimu ini bekerja di Sanjaya corp, memiliki saham di sana. Jadi semua biaya pengobatan sudah ditanggung pihak rumah sakit. Jangan khawatir!" ucap Juna.

__ADS_1


Juna bangkit dari tempat duduknya. Ia lalu melepas ikatan tali jubah mandinya. Dengan usilnya Juna membuka jubah mandi yang melekat di tubuhnya lalu dengan santai berjalan menuju lemari untuk mengambil bajunya.


"Juna...!!!!" teriak Atha.


Atha buru-buru menutup wajah dengan kedua tangannya. Suami polosnya ini benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya Juna tampil polos di hadapan Athalia. Atha buru-buru membalikkan tubuhnya. Ia menunggu Juna selesai berpakaian.


"Kenapa berteriak? Aku hanya ingin ganti baju" ucap Juna polos.


Atha memukul bahu Juna. Ia kesal sekali dengan tingkah suaminya itu.


"Lain kali ganti baju di kamar mandi. Kamu ini benar-benar tidak tahu malu. Di sini ada aku, Jun. Bisa-bisanya kau tampil polos di hadapanku seperti itu?" tanya Atha kesal.


"Kenapa kamu marah? Apa kamu malu melihat tubuh indahku? Hai, sayangku! Untuk apa kau malu seperti itu? Kau sudah menjelajah bahkan menikmati tubuhku. Sudahlah tak perlu malu-malu kucing" goda Juna.


Wajah Athalia berubah menjadi merah padam. Suaminya ini sejak kapan berubah menjadi frontal seperti itu? Atha mencubit kedua pipi Juna dengan gemas. Tak lupa ia sedikit mencakar bibir Juna agar tidak berbicara sembarangan.


"Sayang... Sakit...!!! Aduh..!!!" teriak Juna.


Atha menghentikan serangannya. Ia lalu teringat jika akan memesan makanan. Atha buru-buru mengambil ponselnya. Ia membuka aplikasi pesan antar makanan dan segera memesannya.


"Sini!" ajak Juna.


Atha sedikit kaget ketika mendapati Juna sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur. Gegas, Atha menghampiri Juna dan ikut merebahkan tubuhnya di samping Juna.


Cup.


Mmmpphhhfftt...


Juna menyerang bibir Atha secara mendadak. Atha tentu saja kaget setengah mati. Serangan Juna memang tidak ganas, tapi cukup membuat Atha kehabisan oksigen.


"Juna......" Atha mendorong tubuh Juna. Ia benar-benar kehabisan nafas akibat serangan Juna.


"Saya kangen kamu" bisik Juna, tangan kanannya sudah bergerak hendak mengangkat baju Athalia.


Plak!!!


Atha memukul tangan Juna dan menghempaskannya. Ia semakin kesal dengan tingkah Juna yang mesyum itu.


"Kebiasaan!!! Kangen, sih, kangen aja. Nggak usah pake buka baju aku" gerutu Atha.


"Aku mau jadi bayi" ucap Juna. Ia menampakkan wajah memelasnya.


"Nggak! Nggak! Nggak! Ini masih sore belum waktunya jadi bayi. Kamu memang kebiasaan, Jun" ucap Atha kemudian ia membalikkan tubuhnya sehingga membelakangi Juna.


Juna merengek. Ia menarik tubuh Atha agar kembali menghadap padanya. Atha yang memang tidak ingin memberikan mainan Juna, memilih bertindak tegas. Ia buru-buru bangkit dari kasur dengan alasan makanan yang ia pesan sudah datang.


Atha berlari keluar kamar. Ia lebih baik menunggu kang Ofood di teras depan saja. Atha tidak ingin kebablasan di sore hari. Kebiasaan Juna cosplay menjadi bayi pasti akan membangunkan Tyrex nya. Atha sudah lapar. Ia tidak mau semakin kelaparan jika menuruti kemauan Juna.


"Juna...! Ayo turun! Makanannya sudah datang" teriak Atha dari bawah.


Juna muncul dengan wajah cemberut. Ia menuruni anak tangga dengan gontai. Melihat Juna yang merengut seperti itu membuat Atha ingin melempari Juna dengan sandal.


Namun, Atha buru-buru menghilangkan niat jahat dalam otaknya. Bagaimanapun ia adalah istri Juna. Tidak sopan dan juga berdosa jika dirinya berlaku kurang ajar pada Juna.


"Sayangku... !!! Jangan cemberut gitu dong wajahnya! Sini makan! Aku pesankan ayam bakar untukmu."


Atha menarik kursi, mempersilakan Juna duduk. Wajah Juna yang semula ditekuk kini berganti ceria. Perutnya langsung berbunyi ketika melihat makanan yang tersaji di meja.


"Aku mau makan" ucap Juna.


Atha segera mengambilkan piring untuk Juna. Ia mengisi piring Juna dengan nasi dan mengambilkan sepotong paha ayam bakar.

__ADS_1


Juna makan dengan lahap. Seekor ayam bakar utuh mampu dihabiskan Juna. Ia sengaja tidak menambah nasi yang diambilkan Atha agar bisa menyantap ayam bakar itu sendiri.


"Suka?" tanya Atha.


Juna mengangguk. Ia melihat makanan di piring Atha. Rupanya Atha memesan mujaer bakar. Juna menatap mujaer itu dengan mata berkaca-kaca. Ia ingin menyantap makanan milik Atha Juga tapi dirinya dilema.


Satu ayam utuh sudah dihabiskan seorang diri. Masak iya jatah ikan mujaer milik istrinya mau diembat juga? Juna seperti suami yang tega kepada istrinya jika benar-benar melakukan hal itu.


"Kenapa, Jun?" tanya Atha heran.


"Emm...em.....em..."


"Kenapa? Ada apa ? Mengapa menatap piringku seperti itu?" tanya Atha.


Juna gelagapan. Ia malu sekaligus bingung untuk menjawab pertanyaan Atha.


"Kau mau ikannya?" tanya Atha.


Juna mengangguk perlahan.


"Aku membeli dua porsi ikan mujaer. Tadi aku meletakkannya di atas kompor" ucap Atha. Ia lalu bangkit dari tempat duduknya untuk mengambil ikan mujaer itu.


Wajah Juna langsung berbinar saat melihat sepiring mujaer bakar disodorkan Atha untuknya.


"Makan perlahan! Kalau kamu suka, nanti malam aku akan memesannya lagi" ucap Atha yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Juna.


***


"Ma.... Ma.... Ma....."


Bocah laki-laki bernama Juna itu memukul-mukul wajah Diandra. Rupanya Diandra terlelap saat menemani Juna bermain. Dilihatnya wajah bocah laki-laki itu. Juna menampakkan raut wajah kesal karena Diandra tidak menemaninya bermain.


"Maaf, Juna! Mama ketiduran. Tadi Juna main sendirian ya?" tanya Diandra.


"Hu...hu...hu... Mama tidak asylik. Juna ditindal main sendili" ucap Juna dengan gaya cadelnya.


"Maaf, mama kecapekan! Mama janji tidak akan meninggalkan Juna bermain sendiri lagi" ucap Diandra sembari menyodorkan jari kelingkingnya.


"Hem...Hem...Hem..."


Bocah laki-laki itu manggut-manggut. Ia nampak berfikir sejenak apakah menerima atau menolak berdamai dengan Diandra.


"Juna pedang janji Mama. Talau Mama intal janji, Juna mau Mama belitan sesuatu buat Juna" ucap bocah laki-laki itu.


"Juna mau dibelikan apa?" tanya Diandra.


"Juna minta dibelitan Papa. Juna mau Papa kayak teman-teman yan lain. Paham, Mama?" bocah itu menampakkan wajah sengitnya.


Diandra hanya tertawa mendengar permintaan Juna. Ia menggendong bocah laki-laki itu dan menciumnya dengan gemas.


"Juna mau punya Papa?" tanya Diandra.


"Tentu dong...! Juna mau punya Papa."


"Mau Papa yang seperti apa?" tanya Diandra lagi.


"Atu mau Papa yang danteng, yang punya pistol. Jadi nanti bisa nemenin Juna main tembak dor dor dor" ucap bocah itu lagi.


Diandra tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Juna. Ia tidak habis pikir bocah seumuran Juna bisa memberikan kriteria Papa yang diinginkan.


Diandra mengajak Juna menyudahi acara bermainnya. Hari sudah sore dan Juna harus segera mandi sebelum langit gelap datang.

__ADS_1


__ADS_2