HEI JUN

HEI JUN
82


__ADS_3

"Selamat pagi, Jun!"


Atha langsung mendaratkan kecupan paginya di bibir Juna. Wajah damai Juna saat terlelap benar-benar menggemaskan. Juna tidak langsung membuka kedua matanya. Ia masih bergeliat, meregangkan otot-ototnya yang kaku.


Cup


Sekali lagi, Atha memberikan kecupan di bibir Juna. Kali ini ia jeda waktu kecupan kedua lebih lama dari kecupan pertama. Tak ayal, Juna yang setengah sadar langsung kaget dan bangkit dari tidurnya.


"Kau? Apa yang kau lakukan?" nafas Juna langsung naik turun.


"Aku? Tentu saja memberimu morning kiss, Jun" ucap Atha santai.


Juna menyibak selimutnya. Ia kemudian turun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi. Selagi Juna membersihkan diri, Atha menyiapkan pakaian Juna.


"Aku tunggu di meja makan, Jun" teriak Atha.


Juna segera menyelesaikan ritual mandinya. Ia memamg tidak pernah berlama-lama saat mandi. Selain karena takut kedinginan, Juna juga takut terlambat. Ia harus datang ke SMA Cendekia pagi-pagi sekali untuk menyelesaikan pekerjaannya.


"Hmm" gumam Juna.


Ia sedikit tersentuh ketika melihat setelan pakaian kerjanya sudah berada di atas kasur. Juna mengambil baju yang disiapkan Atha dan segera memakainya.


"Sepertinya dia memang istriku" gumam Juna terkekeh.


Ia mengambil dasi dan memasangkan di leher. Tak lupa Juna menyisir rambut dan menyemprotkan parfum untuk menyempurnakan penampilannya hari ini.


Selesai bersiap, Juna langsung keluar dari kamarnya. Ia melangkah menuju dapur. Lagi-lagi Juna terkekeh. Biasanya ia akan langsung berangkat tanpa melihat kanan-kiri.


"Wow!!!"


Juna membulatkan kedua matanya. Di atas meja sudah banyak sekali makanan yang tersaji. Juna langsung menarik kursi. Ia duduk dengan mode siap makan.


"Kau yang memasaknya?"


Atha mengangguk.


"Bagaimana kau mendapatkan bahan makanan ini? Bukankah tidak ada apapun di kulkas?" tanya Juna heran.


"Aku membelinya, Jun. Tadi aku melihat ada ibu-ibu penjual sayur dan ikan lewat di depan rumah."


"Kau keluar rumah?."


"Tentu saja, Jun. Aku kan mau membeli sayur dan ikan. Kalau aku tidak keluar rumah, bagaimana bisa?."


"La...la...lu... kau keluar rumah dengan berpakaian seperti ini?" tanya Juna sembari menatap horor ke arah Atha.


"Ah tidak! Tadi aku melihat banyak ibu-ibu memakai sarung. Jadi aku mengambil sarungmu sebagai bawahan" ucap Atha dengan polos.


Kedua pipi Juna langsung mengembung. Ia reflek tertawa terbahak-bahak. Juna merutuki kebodohannya yang bangun kesiangan. Andai saja ia melihat saat Atha memakai sarungnya, pastilah Juna akan menyuruhnya masuk ke dalam.


"Apa yang lucu, Jun?" tanya Atha heran.


"Tidak ada. Sepertinya saya harus mengantarmu ke kota sekarang. Kamu perlu membeli banyak daster di pasar" ucap Juna terkekeh.

__ADS_1


"Sekarang?" beo Atha.


"Ya, karena saya tidak mau ke sekolah terlalu siang."


"Lalu sarapannya?."


"Bungkus saja, kita makan di pasar. Saya tidak pernah sarapan terlalu pagi. Bikin ngantuk. Saya ke depan dulu, mau memanasi mobil. Kamu bungkus saja makanannya. Saya tunggu di depan!."


Juna kemudian melenggang pergi meninggalkan Atha. Sesuai perintah Juna, Atha segera mengambil kotak makan dan membungkus makanan yang ia masak. Dua buah kotak makan ia isi dengan nasi, lauk, sayur dan sambal.


Usai menyiapkan bekal, Atha kembali ke kamar Juna. Ia mengambil sarung yang ia pakai tadi dan memakainya kembali. Tanpa rasa risih, Atha berjalan keluar. Ia menghampiri Juna yang sedang mengelap kaca mobil.


"Aku sudah siap, Jun."


Juna menoleh. Kembali, pipinya mengembung dan pecahlah tawa Juna.


"Buka sarungnya! Kau seperti mau sunat, Atha!" ucap Juna di sela-sela tawanya.


Atha menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Bagaimana mungkin ia melepas sarung hang dipakainya? Kedua pahanya bisa terekspose dengan jelas. Atha tentu saja risih, terlebih lagi ia akan ke pasar dengan Juna.


Bagaimana nanti jika banyak mata yang melihatnya? Bagaimana nanti jika banyak laki-laki yang mencolek-colek pahanya? Hih...! Membayangkannya saja sudah membuat Atha merinding. Ia menggelengkan kepala sebagai jawaban atas perintah Juna.


"Masuk ke dalam mobil! Buka sarungnya di sana! Nanti tidak perlu ikut turun. Biar saya yang membeli pakaian untuk kamu" kata Juna seperti mengerti dengan apa yang dipikirkan Athalia.


Gegas, Athalia masuk ke dalam mobil. Ia langsung membuka sarung yang dipakainya. Atha menoleh ke belakang. Ia melihat sebuah selimut bermotif spiderman. Atha segera mengambil selimut itu dan menggunakan sebagai penutup kedua pahanya.


"Eh? Kenapa ganti selimut?" tanya Juna saat ia sudah duduk di kursi belakang kemudi.


"Aku tidak nyaman saja, Jun."


"Karena hanya ada kamu, Jun. Kau ini bagaimana? Kita akan keluar dan kau masih bertanya mengapa aku menutup kedua kakiku seperti ini? Apa kau tidak risih akan banyak mata yang melihat kedua pahaku?" gerutu Atha kesal.


Juna kembali tertawa. Ia tidak menyahut keluhan istrinya. Juna memilih mulai melajukan kereta besinya menuju pasar untuk membeli pakaian.


Hening. Tak ada yang membuka obrolan saat ini. Juna memilih memutar lagu untuk memecah kesunyian. Entah lagu apa yang diputar, Juna tidak tahu. Baginya yang terpenting suasana di mobil saat ini tidak sepi bak kuburan. Juna tidak ingin terlalu canggung semobil dengan Athalia.


"Kita sudah sampai! Kamu tunggu di sini! Saya akan segera kembali" perintah Juna yang langsung di jawab Athalia dengan anggukan kepala.


Juna keluar dari mobil. Ia langsung masuk ke dalam pasar. Pasar Kolpajung adalah pasar terbesar di kabupaten ini. Tempatnya luas karena menampung banyak pedagang yang menjual berbagai macam barang. Mulai dari kebutuhan sembako, berbagai macam ikan, jajanan pasar, pakaian serta kebutuhan lainnya.


Juna berjalan di tengah padatnya emak-emak yang berbelanja. Ia rupanya tidak kesusahan mencari deretan ruko yang menjual pakaian. Juna memang hatam seluk-beluk pasar kolpajung karena dulu Juna sering mengantar Bu Tias berbelanja di sini.


"Pakai!."


Juna langsung menyerahkan kantong plastik hitam berisi daster kepada Atha. Memang tak butuh waktu banyak bagi Juna untuk membeli daster. Juna hanya membeli satu daster. Itu pun asal comot dan asal bayar saja.


"Kenapa lagi, Atha?" Juna menangkap keraguan di wajah Atha.


"Kau malu padaku? Baiklah, aku akan keluar" ucap Juna lagi dan tanpa menunggu jawaban dari Atha. Juna langsung keluar dari mobil.


Atha langsung membuka kaos milik Juna dan secepat kilat ia memakai daster yang dibelikan oleh Juna. Ia langsung membuka kaca jendela mobil, memanggil Juna agar masuk kembali ke dalam mobil.


"Keluarlah! Saya hanya membeli satu daster. Kau harus masuk ke pasar untuk membeli pakaian yang lain."

__ADS_1


Atha menurut. Ia langsung keluar dan berjalan memutari mobil. Diraihnya lengan kiri Juna. Atha tidak ingin suaminya itu lepas dari pegangannya. Atha seperti trauma meninggalkan Juna lagi.


"Apa kau tidak keberatan saya bawa ke pasar?" tanya Juna saat mereka mulai masuk ke area pasar.


"Saya takut kamu tidak nyaman di sini. Panas, bau dan sedikit sesak" lanjut Juna lagi.


Atha menggeleng. Ia memang tidak keberatan berada di pasar dengan Juna. Atha sudah berpengalaman ke pelosok desa. Jangankan ke pasar, ke hutan belantara pun sudah pernah ia jalani.


"Atha" bisik Juna membuat Athalia menoleh.


"Itu ada yang jual perangkat dalam. Kamu jalan duluan! Saya tunggu di sini. Belilah yang banyak! Saya malu jika harus berdiri di sana" bisik Juna lagi.


Atha mengangguk. Ia melepaskan pegangan tangannya di lengan Juna. Juna mengambil dompet di saku celananya. Ia menyuruh Atha membawa dompet itu guna membayar barang belanjaan Atha.


Tidak butuh waktu lama bagi Atha. Ia kemudian kembali menemui Juna. Kedua tangannya menenteng lima kantong plastik hitam yang Juna sendiri tidak tahu isinya apa.


"Maaf, Jun! Aku tadi sekalian ke toko baju. Aku membeli beberapa daster, kaos dan celana untukku. Uangmu terpakai banyak sekali" sesal Atha.


"Hem..." Juna bersedekap. Ia menampakkan wajah datar yang membuat Atha semakin merasa bersalah.


"Kau ini siapa?" tanya Juna.


"Aku? Aku ini istrimu, Jun. Mengapa kau bertanya lagi?."


"Kalau kau istriku, pakai saja uangku sesuka hati. Uangku adalah uangmu juga. Kau tidak perlu merasa bersalah sudah menghabiskan isi dompetku" ucap Juna santai.


Juna lalu mengajak Atha keluar dari pasar. Mereka melewati banyak sekali pedagang yang menjual aneka jajanan pasar. Juna jadi lapar mata. Ia membeli banyak jajanan tanpa peduli meskipun Atha sudah menegurnya berkali-kali.


"Aku sudah memasak untukmu, Jun. Sudah memasukkan ke dalam kotak makan sebagai bekal. Sekarang kau malah membeli banyak sekali jajanan pasar. Bagaimana mungkin kau akan memakan masakanku?" ucap Atha kesal ketika mereka masuk ke dalam mobil.


Juna tak menyahut. Ia sedang asyik menyantap kue lupis dan pecong yang dibelinya tadi. Makanan itu adalah makanan kesukaan Juna dan Bu Tias. Suapan Juna terhenti ketika ia sadar jika sejak tadi Athalia terus mengomelinya.


"Makan! Kue ini kesukaanku dan Emak. Emak biasanya membelikanku kue ini jika sedang ke pasar" Juna menyuapkan sepotong lupis ke mulut Atha.


"Kangen Emak, Jun?" tanya Atha yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Juna.


"Bagaimana kalau kita nyekar ke makam Emak? Sejak kita menikah, kau belum pernah membawaku ke makam Emak" ajak Atha.


"Sudah berapa lama kita menikah?."


"Hampir dua bulan. Juna, apa yang terjadi denganmu? Mengapa kau bisa lupa jika kita sudah menikah?" tanya Atha.


"Entahlah. Mungkin sesuatu sudah terjadi saat saya berada di Afrika. Maaf, jika saya tidak mengingat tentangmu. Mungkin Nyonya Kiara bisa membantu memulihkan ingatanku."


"Kau ingat dengan Kiara?" tanya Atha heran.


"Tentu saja! Dia kan Nyonya bos di Sanjaya corp. Saya anak buahnya. Anak buah yang terlalu diistimewakan" jawab Juna jujur.


"Lalu kalau dengan Tuan Dira?."


"Tuan Dira? Bos absurd itu? Mana mungkin aku melupakannya."


"Lalu mengapa kau tidak mengingatku, Jun?" tanya Atha sedih.

__ADS_1


Juna mengangkat bahu. Ia sendiri tidak tahu mengapa hal itu bisa terjadi.


"Maaf, Jun! Tidak seharusnya aku sedih. Lebih baik kita ke makam Emak sekarang. Biarlah, aku akan mencari tahu penyebab penyakitmu itu" ucap Atha.


__ADS_2