
"Bos, Anda sudah sampai?" seseorang langsung menghampiri Arya di bandara. Orang itu tak lain adalah anak buah Arya yang bertugas memantau Zeze dan Arjuna dari jauh.
Arya mengangguk. Ia memberi kode kepada anak buahnya untuk membawakan koper miliknya dan juga Juna.
"Di mana mobilnya?" tanya Arya.
"Sudah di depan, Bos. Mari ikut saya!" ucap anak buah Arya sopan.
Arya memberi kode agar Juna berjalan mengikuti. Ketiga laki-laki itu berjalan berurutan. Anak buah Arya membuka kunci mobil dari jauh. Ia sedikit bergerak lebih cepat agar bisa membukakan pintu untuk majikannya.
"Mari, Pak Juna!" ucap Arya mempersilakan Juna untuk masuk terlebih dahulu.
Mobil melaju perlahan. Meninggalkan lokasi Bandara Ngurah Rai. Mereka akan menuju desa Sumerta Kauh, tempat tinggal Zeze.
Mobil terus melaju, menampakkan pemandangan indah pulau dewata. Juna tak henti-hentinya mengagumi panorama alam yang ia lihat. Sangat asri dan menyegarkan pikiran.
"Apakah jauh, Pak?" tanya Juna.
"Lumayan, Pak. Satu jam perjalanan dari sini" ucap anak buah Arya.
Juna hanya mengangguk. Ia kembali menhalihkan pandangannya keluar jendela. Rasanya ia benar-benar tidak sabar untuk segera bertemu Arjuna. Juna tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi bocah itu saat bertemu dengannya.
Satu jam kemudian, mobil yang membawa Juna dan Arya berhenti di depan sebuah ruko. Juna menurunkan sedikit kaca jendela mobil. Ia mengamati deretan ruko yang tertata rapi.
Apakah Arjuna tinggal di sana? Ataukah Arya ingin mampir dulu untuk membeli oleh-oleh untuk Diandra? Juna melihat Arya keluar dari mobil. Anak buah Arya juga memintanya keluar. Meski dengan hati penuh tanda tanya. Juna menuruti juga perintah anak buah Arya.
"Uangku" gumam Arya lirih.
"Uang? Uang apa?" tanya Juna yang ternyata mendengar gumaman Arya.
Arya menggeleng dengan cepat. Ia malu ketahuan bergumam seperti itu. Buru-buru, Arya mengajak Juna menghampiri ruko itu untuk mengalihkan fokus pembicaraan Juna.
Tok..tok...tok...
Anak buah Arya mengetuk pintu. Terdengar suara bocah anak laki-laki menangis. Juna yakin jika suara tangisan itu berasal dari Arjuna, anak lelakinya. Ingin sekali Juna mendobrak pintu ruko itu agar bisa mengetahui apa yang terjadi.
"Permisiiiii....!!! Apa ada orang?" teriak anak buah Arya lagi.
Suara tangisan bocah laki-laki itu semakin terdengar. Juna pun semakin tak sabar untuk membuka pintu.
Ceklek.
Juna bernafas lega ketika terdengar suara pintu dibuka. Muncul seorang wanita paruh baya yang sedang menggendong Arjuna. Benar dugaan Juna, anaknya sedang menangis. Entah apa penyebab bocah laki-laki itu menangis.
"Mamaaaa.... Huhuhuhu...." tangis Arjuna belum juga reda.
Mbok De berusaha membujuk Juna. Ia sampai mengabaikan tiga orang laki-laki yang sejak tadi berdiri mematung di depan pintu.
"Maaf, apakah kami boleh masuk?" tanya Arya mengagetkan Mbok De.
"Si...si..a..pa kalian?" tanya Mbok De kaget.
__ADS_1
Juna yang tidak tega melihat Arjuna terus menangis segera mengulurkan tangannya. Bocah itu langsung menerima uluran tangan Juna, memberi kode agar ia digendong oleh Juna.
"Ah, Tuan jangan!" cegah Mbok De.
Juna memberi kode agar Mbok De diam. Ia mengusap-ngusap punggung anaknya agar berhenti menangis.
"Sudah, jangan menangis! Ada Papa di sini" bujuk Juna.
Mbok De tentu saja kaget mendengar ucapan Juna. Ia memindai penampilan Juna dari atas ke bawah berkali-kali.
"Mbok, kita tamu lho. Kenapa tidak disuruh masuk?" tegur Arya.
Mbok De menyadari kesalahannya. Ia segera mempersilakan ketiga pria itu masuk ke dalam ruko. Mbok De yang panik sampai lupa mempersilakan mereka untuk duduk. Ia malah berlari menuju kamarnya untuk menelepon Zeze.
"Aneh sekali pembantu itu. Bukannya mempersilakan duduk dan membuatkan minuman, malah kabur" cibir Arya yang langsung duduk di sofa panjang.
Juna tidak menanggapi. Ia masih sibuk menenangkan Arjuna yang masih menangis. Tangis Arjuna sudah mereda. Namun, hatinya belum tenang sepenuhnya.
"Arjuna mau apa? Nanti Papa belikan" ucap Juna membujuk kembali anak lelakinya.
"Mama... Juna mau Mama" rengek anak itu.
"Papa akan bawa Juna ketemu Mama. Tapi janji tidak boleh nangis."
Bocah laki-laki itu mengangguk. Juna segera mengambil air mineral gelasan yang tertata di atas meja. Ia membuka air mineral itu dan meminumkan kepada Juna.
"Juna mau mobil-mobilan? Apa pesawat terbang yang besar?" tanya Juna mencoba mengiming-iming anaknya.
"Bus Tayo besarrrrrr" jawab anak itu dengan wajah yang sudah mulai membaik.
Seorang gadis menendang pintu ruko dengan keras. Ia masuk dengan tergopoh-gopoh dan langsung mengambil Arjuna dalam gendongan Juna.
Zeze, gadis itu rupanya baru saja lari marathon. Nafasnya masih terengah-engah. Wajahnya juga penuh dengan keringat.
"Papaaaa....." teriak Arjuna. Ia meronta-ronta ingin melepaskan diri dari gendongan Zeze.
Zeze tentu saja kaget mendengar teriakan Arjuna. Bisa-bisanya bocah itu memanggil Papa kepada laki-laki yang baru dikenalnya.
Zeze mengamati dengan seksama laki-laki yang ditunjuk oleh Arjuna. Kedua netranya langsung membola ketika mengetahui siapakah sosok laki-laki itu.
"Pak Mayjuna?" tanya Zeze kaget.
Juna mengangguk. Ia berjalan menghampiri Zeze dan mengambil alih Arjuna. Bocah laki-laki itu menangis dalam gendongan Juna.
"Sudah, jangan menangis lagi! Tadi Tante tidak tahu kalau Juna digendong Papa" kata Juna mencoba menenangkan putranya.
"Pak Mayjuna? Papa? Maksudnya apa ini?" tanya Zeze bingung.
Juna meminta tolong anak buah Arya untuk membuka kopernya. Ia meminta agar laki-laki memgambilkan amplop cokelat dan memberikan kepada Zeze.
"Apa ini, Pak?" tanya Zeze bingung ketika menerima amplop cokelat dari anak buah Arya. Ia buru-buru membuka amplop itu dan mengambil isinya.
__ADS_1
"Ap...apa??? Ja...jadi.... Arjuna?" Zeze tidak dapat melanjutkan kata-katanya lagi. Ia sangat shock ketika mengetahui isi dari amplop tersebut.
"Diandra adalah mantan kekasih saya" ucap Juna.
"Tapi sekarang sudah menjadi istri saya lagi. Kami sudah rujuk" sambung Arya tidak mau kalah.
Zeze lagi-lagi dibuat jantungan dengan ucapan Arya. Ia pun bingung harus berkata apa menghadapi dua laki-laki di hadapannya.
"Jadi laki-laki yang tidur dengan Diandra...."
"Saya! Diandra menjebak saya sehingga saya merenggut mahkotanya" sesal Juna.
"Lalu? Kalian ke sini mau apa?" tanya Zeze.
"Saya mau menjemput Arjuna. Dia akan tinggal bersama saya" jawab Juna.
"Apa??? Tidak! Tidak! Tidak bisa, Pak" tolak Zeze panik.
"Mengapa tidak bisa? Saya adalah ayah biologisnya. Diandra sebagai ibunya sudah menikah lagi dan menyerahkan hak asuh Arjuna kepada saya."
"Betul, Mbak. Saya sepakat dengan Diandra untuk menyerahkan hak asuh anak itu kepada Bapaknya. Kami mau memulai hidup baru tanpa masa lalu yang perlu diingat-ingat" ucap Arya sedikit berbohong.
"Anda tidak bisa menghalangi saya. Saya ayah biologisnya. Saya juga sudah diberi hak untuk mengasuh Arjuna" kata Juna.
Zeze menatap Arjuna dengan sedih. Ia pun bingung harus bertindak seperti apa. Zeze bukan keluarga Arjuna. Ia tidak memiliki hubungan apapun selain sebagai tetangga.
"Mbak bisa menjenguk Arjuna kalau mau. Saya tidak akan menghalangi siapapun untuk bertemu Arjuna, termasuk Diandra" ucap Juna seperti bisa membaca kekhawatiran Zeze.
"Ah, tidak perlu Pak Mayjuna. Diandra tidak perlu bertemu dengan anak itu lagi. Kami akan membuat anak sendiri yang banyak dan lucu-lucu. Mulai detik ini, Arjuna resmi menjadi anak Pak Mayjuna dan istri" sambar Arya cepat.
"Pak... Apa saya boleh ikut?" kata Mbok De yang tiba-tiba muncul dari belakang. Sebenarnya sejak tadi perempuan paruh baya itu menguping pembicaraan mereka. Hatinya sedih mengetahui jika Arjuna akan dibawa oleh orang tuanya.
"Dia siapa?" tanya Juna.
"Dia Mbok De, Pak. Orang yang membantu Diandra merawat Arjuna dari kecil" jawab Zeze.
"Mbok De mau ikut saya ke Jakarta?" tanya Juna.
"Mau, Pak, asal saya bisa terus merawat Arjuna. Saya sudah sayang sekali dengan anak ini. Saya sudah menganggap Arjuna seperti cucu saya sendiri" kata Mbok De menunduk.
Juna mengangguk. Rasanya ia memang perlu membawa Mbok De karena nantinya ia juga perlu seseorang yang membantunya. Atha sedang hamil muda. Juna khawatir istrinya akan kelelahan jika ia juga mengurus Arjuna.
Membawa Mbok De adalah suatu solusi. Dengan begitu Juna tidak perlu susah-susah mencari pembantu sekaligus pengasuh untuk Arjuna.
"Bersiaplah, Mbok! Kita akan bertolak ke Jakarta sekarang" ucap Juna.
"Sekarang? Pak, apakah tidak mau jalan-jalan dulu?" tanya Arya.
"Saya langsung bertolak karena istri saya pasti sudah menunggu. Jika Pak Arya masih ingin jalan-jalan, silakan! Saya akan pulang duluan" ucap Juna.
Arya berpikir sejenak. Harusnya ia memang segera pulang. Jika dia berlama-lama di Bali, Arya akan melewatkan menggarap Diandra yang sudah dua hari tidak ia jumpa.
__ADS_1
"Baik, Pak! Saya juga pulang sekarang" ucap Arya bersemangat.
Arya lalu memerintahkan anak buahnya untuk memesan tiket kepulangan mereka. Arya meminta penerbangan paling awal karena dirinya sudah tidak sabar untuk menggarap Diandra.