
"Pak Juna...! Tunggu!" panggil Fira. Juna yang saat itu hendak membuka pintu mobil tentu saja mengurungkan niatnya.
Juna tersenyum ke arah Fira. Gadis itu sepertinya berlari mengejar Juna.
"Ada apa?."
"Saya mau bicara, Pak. Apa Pak Juna ada waktu?" tanya Fira.
Juna melihat jarum jam di arlojinya. Sebenarnya ia buru-buru ingin pulang. Namun, melihat Fira yang sepertinya ingin membahas hal yang penting membuat Juna berpikir lagi apakah menunda dulu kepulangannya atau tetap tancap gas menuju bandara.
"Pak Juna buru-buru?" tanya Fira ketika melihat Juna tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Hmm... bagaimana ya? Antara buru-buru dan tidak. Kita bicara di sini?" tanya Juna.
"Tidak, Pak. Di warung Bu Udin."
"Oh, baiklah. Berangkatlah terlebih dahulu! Saya akan menyusul!" perintah Juna yang langsung dijawab Fira dengan anggukan kepala.
Fira permisi dan langsung berlari keluar halaman. Juna hanya mengangkat bahu melihat tingkah mantan muridnya itu. Apa sepenting itukah pembicaraan mereka sehingga Fira seperti dikejar setan?
Juna kembali membuka pintu mobil. Ia duduk di kursi belakang. Pak Danu yang sudah siap mengemudi menunggu perintah Juna. Ia sudah menyalakan mesin, tinggal tancap gas ke mana Juna akan pergi.
"Bandara, Pak?" tanya Pak Danu.
"Tidak. Ke warung Bu Udin dulu" jawab Juna.
"Warung Bu Udin? Di mana itu Pak?" tanya Pak Danu lagi.
"Di sana."
Juna menunjukkan arah menuju warung Bu Udin. Pak Danu dengan sigap segera mengikuti arahan Juna. Jalanan berlubang menjadi santapan mereka. Membuat ketidaknyamanan bagi penumpang seperti Juna.
Ah, Mungkin lebih baik Juna berjalan kaki saja dari pada naik mobil. Jarak warung Bu Udin juga tidak terlalu jauh. Juna tidak kepikiran tentang hal itu karena dirinya buru-buru ingin cepat bertolak ke Jakarta.
"Udah, Pak Danu, Stop!" perintah Juna.
Pak Danu menginjak pedal rem dengan perlahan. Untung saja ada tempat kosong di sebelah warung Bu Udin sehingga Pak Danu bisa menjadikan tempat itu sebagai tempat parkir.
Juna keluar dari mobil. Ia mengajak Pak Danu untuk turun. Sayangnya, Pak Danu menolak. Ia lebih baik tiduran saja di dalam mobil sembari menunggu Juna.
Juna tidak memaksa. Ia kemudian masuk meninggalkan Pak Danu seorang diri. Juna bisa melihat sosok Fira yang sedang duduk seorang diri. Ia segera menghampiri mantan muridnya itu, mengambil tempat duduk di bangku sebelah Fira.
"Pak Juna sudah datang? Saya pesankan lontong pecel buat Pak Juna" ucap Fira.
__ADS_1
Juna meringis. Baru saja dirinya makan bersama dewan guru dan Fira sekarang menawarinya lontong pecel. Juna segera menggeleng. Bukan apa-apa perutnya sudah penuh. Juna tidak mau makanan itu nanti mubazir karena hanya dimakan sedikit.
Wajah Fira nampak kecewa. Ia kemudian meminta makanan yang sudah dipesannya agar dibungkus saja. Biarlah nanti ia bawa pulang. Ibunya pasti senang jika Fira membawakan lontong pecel ke rumah.
"Ada perlu apa, Fir? Maaf, saya tidak punya banyak waktu. Saya harus segera bertolak ke Jakarta" kata Juna langsung tancap gas.
"Oh, Pak Juna mau kembali? Tidak menetap di sini lagi?" lagi-lagi raut wajah Fira nampak kecewa .
"Benar. Saya akan kembali ke Jakarta. Keluarga saya di sana. Pekerjaan saya di sana..."
"Lalu sekolah ini?" tanya Fira, tanpa ia sadari Fira sudah memotong ucapan Juna.
"Sekolah ini yaa di sini. Saya kan pemilik sekolah, kepala sekolahnya tetap Pak Zaini. Jadi saya tidak wajib di sini. Pak Zaini tinggal memberi laporan saja pada saya. Kenapa? Ada masalah?" tanya Juna.
Fira menggeleng. Hatinya sedih sekali mendengar ucapan Juna.
"Pak Juna, maaf sebelumnya. Apakah Pak Juna sudah bertemu Mbak Diandra?" tanya Fira.
Juna langsung menoleh ke arah Fira. Sedikit kaget karena Fira bertanya masalah Diandra padanya.
"Saya... Saya.. Keceplosan. Saya bilang sama Mbak Diandra kalau Pak May adalah Pak Juna" ucap Fira menunduk.
"Kamu tahu saya Juna?" tanya Juna kaget.
"Dari siapa?."
"Saya mendengar obrolan Pak Juna dengan Pak Andika. Pak Juna, Mbak Diandra pulang ke sini membawa seorang anak laki-laki. Mbak Diandra bilang jika anak itu adalah anak Pak Juna" ucap Fira sedih.
Juna mengangguk.
"Saya sudah tes DNA dan hasilnya memang positif. Saya sudah sepakat dengan Arya jika anak itu berada dalam hak asuh saya dan Diandra bisa hidup bahagia dengan Arya. Mereka akan mulai hidup baru, dengan anak-anak mereka yang jumlahnya 12."
"Mas Arya? Mbak Diandra kembali menikah dengan Mas Arya?" tanya Fira kaget.
"Ya, mereka sudah rujuk. Apa Arya tidak menghubungi kalian? Dia juga bilang kalau mereka akan menetap di sini" ucap Juna membuat Fira semakin kaget.
"Apa karena Mbak Diandra di sini, sehingga Pak Juna menetap di Jakarta?" tanya Fira.
Juna menggeleng.
"Diandra di sini atau tidak, saya tetap di Jakarta."
Fira diam. Ia bingung mencari topik pembicaraan dengan Juna.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang mau kamu bicarakan? Apakah hanya perihal Diandra?" tanya Juna.
"Tidak, Pak."
"Lalu?."
"Saya hanya ingin bertanya tentang jawaban Pak Juna."
"Jawaban? Jawaban apa?" tanya Juna bingung.
"Jawaban dari permintaan Ayah saya."
Juna mengerutkan dahi. Ia mengingat-ingat apa permintaan Pak Narto kepadanya. Lama Juna terdiam, sepertinya dia memang benar-benar lupa dengan peristiwa itu.
"Ayah kamu minta apa? Saya lupa" jawab Juna sembari menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Pak Juna lupa? Ayah meminta Pak Juna untuk menikahi saya" ucap Fira.
"Eh???" Juna langsung menolehkan kepalanya. Seingatnya ia pernah membahas hal itu dengan Fira. Entah Juna yang lupa atau Fira yang lupa.
"Pak Juna lupa?" tanya Fira lagi.
"Hmm.. Saya lupa sudah bilang atau tidak, yang jelas saya menolak permintaan Ayah kamu. Diandra saja yang memiliki anak dengan saya tidak saya nikahi. Apalagi kamu yang masih perawan ting-ting. Saya ini sudah punya istri. Tidak ada niat untuk nambah lagi. Tolong sampaikan permintaan maaf saya kepada Pak Narto" ucap Juna kemudian ia langsung bangkit dari posisi duduknya.
"Pak Juna....!!!" teriak Fira.
"Hm..."
"Apa tidak ada kesempatan untuk saya? Saya cinta sama Pak Juna bahkan sejak Pak Juna masih menjadi guru olahraga di SMA Cendekia" tanya Fira lagi.
Juna sedikit kaget mendengar ucapan Fira. Namun, ia segera menormalkan kembali sikapnya. Nampak tenang dan acuh.
"Maaf, Fira. Saya tidak berminat membuka peluang untuk mendua. Istri saya sudah lebih dari cukup. Maaf, saya harus pergi" ucap Juna. Namun, lagi-lagi Fira berteriak memanggil Juna sehingga Juna urung melanjutkan langkahnya.
"Saya titipkan cinta saya pada Pak Juna. Sampai kapanpun, saya akan tetap mencintai Pak Juna" linangan air mata mulai membasahi kedua pipi Fira.
Juna menarik nafas panjang. Ia sebenarnya kasihan melihat Fira. Namun, ia juga tidak mau memberi celah untuk Fira. Juna harus tegas. Cintanya untuk Athalia tidak boleh terbagi.
"Saya menolak dititipi cinta kamu, Fira. Saya tidak membuka jasa penitipan barang. Jadi sekali lagi maaf. Lupakan saya! Saya pamit" ucap Juna kemudian ia keluar dari warung Bu Udin.
Tubuh Fira langsung jatuh ke tanah. Ia menangis tersedu-sedu. Hatinya sudah patah. Cintanya yang ia pendam selama bertahun-tahun sudah ditolak. Fira merasa sakit, sakit melebihi sakit gigi.
Juna langsung masuk ke dalam mobil. Ia meminta Pak Danu agar segera berangkat. Juna tidak ingin hatinya goyah. Ia harus segera pergi dari kampung halamannya dan bertolak ke Jakarta.
__ADS_1