HEI JUN

HEI JUN
65 - POV Atha


__ADS_3

Aku tiba di desa panglima tepat pukul delapan. Desa panglima adalah desa yang dulu pernah menjadi tempat tinggalku saat aku bertugas di di kabupaten ini. Untung saja aku masih menyimpan nomor ponsel kepala desa panglima, sehingga aku bisa menghubunginya untuk meminta bantuan untuk menyiapkan tempat tinggal sementara selama aku di kabupaten ini.


Aku mengirim pesan kepada Juna menanyakan keberadaannya sekarang. Mungkin ini adalah pertama kali aku menghubungi Juna terlebih dahulu. Biasanya Juna yang akan mengirimiku pesan atau meneleponku.


Beberapa menit kemudian Juna menjawab jika ia berada di rumahnya. Aku mengernyitkan dahi. Rumah? Dimana? Aku tidak tahu di mana Juna tinggal. Aku mengiriminya pesan lagi menanyakan pukul berapa Juna akan ke SMA Cendekia. Juna tidak membalas pesanku. Namun, ia langsung meneleponku.


“Tumben?” tanya Juna. Aku tahu apa maksud pertanyaannya. Ia pasti merasa heran dengan sikapku yang tiba-tiba bertanya tentang kegiatannya.


“Apa kau tidak senang jika aku perhatian?” tanyaku pura-pura marah.


“Aku senang sekali, sayang. Tapi aku lebih senang lagi jika kau berada di sini. Kau tahu? Aku membeli rumah baru di sini. Miss Lita membantu mengurus pembelian rumah ini. Andai kau ikut, kita bisa mengatur rumah ini bersama” ucap Juna dan aku bisa mendengar dia sangat bersemangat menceritakan tentang rumah barunya.


“Ngomong-ngomong besok acaranya jam berapa?” Aku bertanya lagi sekaligus mengalihkan topik pembicaraan Juna.


“Acara resminya pukul delapan pagi, sayang. Tapi saya akan datang jam enam pagi untuk memastikan segala kesigapannya?.”


“Mengapa pagi sekali, Jun? Apakah tidak ada panitia yang bertugas mengurus acaramu? Mengapa kau sampai repot-repot mengecek segala?” tanyaku.


“Aku ingin berkeliling dulu.”


“Katakan saja kau masih ingin menemui guru itu?.”


“Guru? Siapa? Tentu saja besok aku akan bertemu dengan dewan guru di sana” jawab Juna.


“Jadi benar kau besok akan bertemu dengan mantan calon gebetanmu? Kau mau bernostalgia?” tanyaku. Entah mengapa aku harus bertanya seperti itu.


“Mantan calon gebetan? Siapa, sayang? Aku tidak tahu siapa yang kau maksud” ucap Juna.


Aku tidak menjawab dan langsung memutuskan sambungan telepon. Aku memukul-mukul kepalaku dengan bantal. Mengapa aku bertanya seperti itu? Bukankah itu bukan urusanku? Juna pasti mengira jika aku sedang cemburu.


Aku memutuskan untuk tidur saja. Aku juga harus datang pagi-pagi agar bisa membuntuti Juna.


Pagi menjelang. Jam menunjukkan pukul setengah enam. Aku sudah rapi dan siap menuju SMA cendekia. Aku sengaja memakai hoodie dan masker. Aku tidak mau Juna mengenaliku.


Berbekal sepeda motor matic hasil meminjam dari kepala desa panglima. Aku segera meluncur ke SMA Cendekia. Suasana di SMA Cendekia nampak sepi. Tidak ada murid atau guru-guru yang berkeliaran di sana. Hanya Pak Udin, satpam sekaligus tukang kebun yang berjaga di depan gerbang.


Ke mana Juna? Bukankah ia mengatakan jika akan ke SMA Cendekia pukul enam pagi? Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari tempat parkir untuk motorku. Untung saja aku teringat warung yang menjual lontong pecel. Juna pernah mengajakku ke sana.


Aku segera menaiki motor dan meluncur ke warung itu. Ternyata otakku masih mengingat jalan menuju kesana.


Deg.


Aku dibuat mematung ketika melihat sosok Juna sedang duduk di warung itu. Ia sedang asyik mengunyah pisang goreng dan bisa ku lihat ada secangkir kopi di sampingnya.


Aku urung masuk ke warung itu. Namun, ku biarkan motorku terparkir di samping warung itu. Aku memilih bersembunyi sembari mengamati gerak gerik Juna. Untung saja banyak pepohonan di tempat ini sehingga aku bisa leluasa untuk bermain petak umpet dengan Juna.

__ADS_1


Tepat pukul tujuh, Juna beranjak dari warung itu. Ia berjalan menuju SMA Cendekia. Aku tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku mengikutinya dengan perlahan. Sesekali aku menoleh ke kanan dan ke kiri, mewaspadai jika nanti mantan tunangan Juna muncul di hadapan Juna. Namun, ternyata perempuan itu tidak muncul sampai Juna tiba di SMA Cendekia. Aku bisa bernafas lega dan buru-buru mencari tempat persembunyian yang strategis.


“Selamat pagi, Pak Zaini! Sehat?” sapa Juna kepada laki-laki paruh baya yang sedang berdiri di depan panggung. Aku bisa mengingat laki-laki itu. Kalau tidak salah dia adalah kepala sekolah SMA cendekia.


“Selamat pagi, Pak! Anda pemilik sekolah yang baru?” tanya Pak Zaini.


“Benar.”


“Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak yang mau membeli sekolah ini dari pemilik yang lama. Saya tidak bisa membayangkan jika sekolah ini jatuh ke tangan yang salah. Bagaimana nasib guru dan siswa di sini?” kata Pak Zaini sedih.


Juna tersenyum.


“Ngomong-ngomong mengapa Bapak membeli sekolah ini?” tanya Pak Zaini penasaran.


Juna tidak langsung menjawab. Ia masih mempertahankan senyumnya dan itu membuatku ingin sekali melempar batu padanya.


“Saya membeli sekolah ini untuk investasi amal saya, Pak. Kita tidak tahu sampai umur berapa Tuhan menitipkan nafas ini pada kita. Selama saya bisa berbuat kebaikan dengan harta yang saya punya, kenapa tidak?” ucap Juna.


Prok...prok...prok...


Aku bertepuk tangan perlahan, memberi applause atas jawaban Juna.


“Amal?.”


“Ya.”


Juna mengangguk lagi dan itu membuatku kembali bertepuk tangan perlahan.


“Setelah acara peresmian ini, saya ingin mengadakan rapat dengan dewan guru. Banyak hal yang ingin saya bahas. Pak Zaini, apakah semua dewan guru hadir pada acara ini?” tanya Juna.


“Tentu saja, Pak. Mereka sangat bersemangat untuk datang ke sekolah. Besar harapan mereka untuk bisa mengajar lagi mengingat sudah berhari-hari mereka libur.”


Juna mengangguk.


Acara peresmian dibukanya kembali SMA Cendekia di mulai. Aku bisa melihat Juna duduk di deretan paling depan bersama Pak Zaini. Selama satu jam pertama acara diisi dengan sambutan-sambutan dan hiburan. Barulah saat memasuki acara inti, Juna naik ke atas panggung untuk memberikan sambutan sekaligus meresmikan SMA Cendekia kembali.


Aku tidak menyangka Juna bisa berbicara di khalayak umum dengan memukau. Tidak ada rasa grogi dan kucuran keringat dingin yang biasa aku lihat pada Juna. Juna mengakhiri sambutannya lalu memukul gong sebanyak tiga kali sebagai tanda jika sekolah SMA Cendekia sudah resmi dibuka.


Terdengar suara riuh tepuk tangan dari orang-orang yang hadir dalam acara itu. Bahkan aku bisa melihat beberapa di antara mereka langsung sujud syukur sembari meneteskan air mata.


Pintu gerbang dibuka. Murid-murid SMA Cendekia langsung berhamburan ke area lapangan. Mereka melompat-lompat kegirangan persis seperti orang yang baru saja menang undian.


Brukk


“Maaf!”

__ADS_1


Seseorang menabrak punggungku. Aku langsung menoleh ke belakang dan ku dapati seorang gadis duduk di tanah sembari meringis, memegangi lengannya yang lecet.


“Maaf, Mbak ! Saya tidak sengaja menabrak Mbak” ucap gadis itu. Ia masih meringis memegangi lengannya.


Aku membantunya bangkit. Ia kemudian membersihkan rok dan almamaternya yang kotor. Aku mengambilkan beberapa bukunya yang terjatuh dan berceceran di tanah. Gadis ini sepertinya baru pulang kuliah.


“Kamu lucu sekali. Kau yang menabrakku tetapi kau sendiri yang jatuh dan terluka. Hai, apakah kau tidak melihatku?.”


“Saya buru-buru, Mbak. Saya telat menghadiri acara peresmian dibukanya kembali SMA Cendekia. Duh, pasti saya kena omel Pak Zaini” kata gadis itu cemas.


“Kamu murid di sana? Tapi melihat penampilanmu yang memakai almamater, dan membawa diktat tebal seperti ini sepertinya kamu sudah kuliah” tanyaku.


“Benar, Mbak. Saya masih kuliah tapi sambil mengajar di SMA Cendekia. Pak Zaini mengizinkan saya kuliah sambil mengajar, Mbak” ucap gadis itu.


Aku manggut-manggut.


“Saya duluan ya, Mbak. Saya harus setor muka di hadapan Pak Zaini. Kalau tidak absen, nanti nggak dapat uang transport. Lumayan kan uangnya bisa buat beli beras” curhat gadis itu tanpa sadar.


“Memangnya dapat berapa sih? Kok sampai segitunya dibelain datang setor muka?” tanyaku penasaran.


“Tergantung dananya, Mbak. Kalau ada dana bisa dapat lima puluh ribu tiap orang. Tapi kalau tidak ada dana, ya paling dapat dua puluh ribu.”


Aku meringis mendengar ucapan gadis itu. Dia susah payah datang ke sekolah hanya demi uang segitu? Gadis itu sangat berharap dengan uang transport yang di dapat dari sekolah. Walaupun bagiku nominalnya kecil, tapi baginya sangat berarti.


“Nih!” aku menyodorkan lima lembar uang seratus ribuan kepada gadis itu.


“Ini sebagai ucapan permintaan maafku karena kamu terluka” ucapku lagi.


Gadis itu diam. Ia menatapku dengan tajam.


“Saya yang nabrak, Mbak. Kenapa Mbak yang ngasih uang ke saya? Nggak, nggak, nggak. Saya nggak bisa terima uang itu” ucapnya.


“Ambil saja! Anggap saya yang nabrak kamu.”


“Yah nggak bisa gitu dong, Mbak! Mbak memutar balikkan fakta.”


“Sudah, ambil saja! Saya tidak menerima penolakan” ucapku sembari memasukkan uang itu ke dalam saku almamaternya.


“Terima kasih ya, Mbak. Mbak tidak perlu repot-repot seperti ini” ucap gadis itu. Kedua netranya sudah berkaca-kaca.


“Nggak repot kok. Sudahlah, kamu cepatlah masuk! Acara sudah selesai sejak tadi. Kalau kamu masih di sini, Pak Zaini bisa tambah marah nanti” ucapku.


Gadis itu mengangguk. Ia segera berjalan memasuki gerbang SMA Cendekia. Gadis itu melambaikan tanganku sekilas dan langsung berlari melewati koridor sekolah.


Aku tertegun ketika melihat gadis itu dari jauh. Entah mengapa aku merasa familiar dengan wajahnya. Aku tidak mengenalnya tapi aku merasa pernah bertemu dengannya. Aku memaksa otakku bekerja keras untuk mengingat sosok itu. Namun, sampai aku kelaparan. Tidak ada nama yang muncul.

__ADS_1


Aku memilih pergi dari tempat persembunyianku. Ku langkahkan kakiku menuju warung tempat aku memarkirkan motor. Sepertinya aku akan sarapan dulu. Perutku keroncongan, perlu diisi makanan agar tubuhku memiliki tenaga untuk memata-matai Juna .


__ADS_2