HEI JUN

HEI JUN
113


__ADS_3

Diandra menutup pintu rumah kontrakannya dengan rapat. Setelah adegan perang dengan Bu Tatik dan Fira, ia segera mendorong dua wanita beda generasi itu keluar dari rumah kontrakannya.


Fakta yang diucapkan Fira mengenai Juna yang masih hidup membuat Diandra seperti mendapatkan durian runtuh. Keyakinannya ternyata bukan hal yang semu. Penantiannya ternyata tidak sia-sia. Diandra harus bergerak cepat. Ia harus segera meminta pertanggung jawaban Juna kepadanya.


Satu hal yang masih menjadi tanda tanya dalam benak Diandra, yaitu ketika Juna mendatangi rumah kontrakannya. Diandra yakin jika Juna tidak amnesia. Ia juga menduga jika Juna sepertinya ingin memastikan sesuatu tentang Arjuna.


"Zeze....!" panggil Diandra.


"Ya, Dian? Ada apa?" tanya Zeze takut.


"Aku titip Arjuna. Aku akan pergi sebentar."


"Pergi? Ke mana?" tanya Zeze.


"Kau tidak perlu tahu. Tugasmu hanya menjaga Arjuna."


Diandra kemudian berlalu dari hadapan Zeze. Ia mengambil kunci mobil di atas nakas dan berjalan keluar dari rumah kontrakannya.


Zeze yang masih berada di dalam rumah bisa mendengar dengan jelas suara mesin mobil yang dinyalakan Diandra. Ia buru-buru mengintip dari jendela, mengamati ke arah mana Diandra akan pergi.


"Bodoh!" umpat Zeze. Ia baru menyadari kebodohannya. Untuk apa Zeze mengintip seperti itu? Toh, ia tidak akan tahu ke mana Diandra akan pergi.


Zeze memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Ia memanggil Mbok De agar membawa Arjuna ke kamarnya.


Sedangkan Diandra, ia mulai mengendari kereta besinya. Diandra memecah jalanan kampung yang rusak. Dia memang sedang dalam mode terburu-buru. Namun, medan yang tak bersahabat membuatnya harus bersabar.


Akan ke manakah Diandra? Ternyata Diandra melajukan mobilnya menuju SMA Cendekia. Jika Fira mengatakan bahwa Juna adalah pemilik SMA Cendekia. Itu artinya sedikit-banyak Juna berada di sana.


Butuh waktu sekita tiga pulih lima menit bagi Diandra untuk sampai di SMA Cendekia. Ia langsung keluar dari mobil dan mengedarkan pandangannya mencari sosok Juna.


Diandra lalu teringat akan sesuatu. Ia kembali membuka pintu mobilnya, mengambil kaca mata hitam dan masker. Diandra tidak ingin warga sekolah mengenalinya. Setidaknya ia harus menutup jati dirinya sebelum bertemu dengan Juna.


"Permisi, cari siapa?" tanya Pak Udin yang langsung menghampiri Diandra.


"Saya ingin bertemu Pak Mayjuna. Apakah beliau ada?" tanya Diandra.


"Wah, Pak May tidak ada di sini! Beliau sudah lama tidak ke sini" jawab Pak Udin.


"Sungguh? Bukankah beliau adalah pemilik sekolah?" tanya Diandea heran.

__ADS_1


"Benar, Ibu. Namanya juga pemilik sekolah. Suka-suka Pak May dong mau ke sini atau tidak" jawab Pak Udin santai.


"Kalau Pak May tidak di sini? Lalu dia di mana?."


"Yah, saya tidak tahu. Pak May seperti tupai, bu. Sebentar di sini, sebentar di sana. Datang nggak dijemput. Pulang nggak diantar. Jadi maaf saha tidak bisa memberi info lebih lanjut" kata Pak Udin.


Diandra hanya menggangguk. Ia langsung pamit kepada Pak Udin dan kembali masuk ke dalam mobil. Diandra membuka masker dan kaca mata hitamnya. Ia memukul-mukul stir mobil karena kesal gagal bertemu Juna.


Tok...tok...tok...


Kaca mobil Diandra diketuk. Diandra yang sedang tidak konsen itu langsung membuka kaca jendela mobil begitu saja.


"Maaf, mobil Anda mengha...." Andika, orang yang mengetuk kaca mobil Diandra seketika menghentikan ucapannya. Ia kaget setengah mampus ketika melihat orang yang berada di dalam mobil.


"Ada apa?" tanya Diandra dingin.


"Mobilmu menghalangi jalan. Minggir! Saya mau lewat" ucap Andika ketus. Dirinya yang saat itu juga membawa mobil, hendak meninggalkan area SMA Cendekia tentu saja kesulitan karena luas jalan yang sempit.


Diandra menghela nafas. Ia menyalakan mesin mobil dan mulai memindah lokasi mobilnya.


"Eh, itu Diandra? Ngapain ke sini?" tanya Andika dalam hati.


Andika yang saat itu hendak pergi, tiba-tiba mengurungkan niatnya. Ia berlari mendekati Pak Udin dan bertanya perihal keberadaan Diandra di sekitar sekolah.


'Diandra mau ketemu Juna? Apakah ia sudah tahu jika Juna masih hidup?" gumam Andika dalam hati.


Merasa sesuatu yang buruk akan menimpa Juna. Andika segera berlari dan masuk ke dalam mobilnya. Ia segera mengambil ponsel miliknya dan menghubungi Juna.


Sayangnya, nomor telepon Juna sedang tidak aktif. Andika lalu mengirim pesan singkat kepada Juna dengan harapan ia segera membacanya.


***


"Zezeeeee.....!!!" Diandra kembali berteriak ketika ia tiba di rumah kontrakannya. Ia yang kesal karena gagal bertemu Juna melampiaskan amarahnya pada bantal di sofa.


"Ada apa, Dian?" tanya Zeze setengah berlari menghampiri Diandra.


"Cepat berkemas sekarang. Kita akan berangkat ke Jakarta."


"Jakarta? Kenapa ke Jakarta? Kau tidak mau pulang ke Bali? Pekerjaanku sudah menunggu di sana. Kita pulang saja ya, Dian. Aku takut dioecat kalau kelamaan di sini" pinta Zeze dengan wajah memelas.

__ADS_1


"Tidak! Kita harus ke Jakarta sekarang. Baru setrlah urusanku selesai kau boleh pulang ke Bali" tolak Diandra tegas.


"Untuk apa lagi ke Jakarta, Dian ? Tidakkah kau merindukan bule - bule yang biasa membeli barang daganganmu?" kata Zeze mencoba merayu Diandra.


"Aku tidak merindukan mereka. Aku merindukan Juna. Andai aku tahu dari kemarin jika Mayjuna adalah Juna kekasihku, pastilah aku akan mengurungnya di sini."


Glek.


Zeze menelan ludah. Ia tidak menyangka jika Diandra sudah seperti psikopat.


"Jangan melamun dan cepat berberes! Antarkan aku ke kantor Sanjaya corp! Aku harus bertemu dengan Juna secepatnya."


Zeze tak menyahut. Ia segera memanggil Mbok De dan memintanya berkemas. Zeze juga berkemas barang-barang miliknya sendiri. Sepertinya ia akan langsung kembali ke Bali setelah mengantar Diandra.


Usai berkemas, mereka bertiga meninggalkan rumah kontrakan itu. Tak lupa Zeze menyerahkan kunci rumah kepada pemilik kontrakan. Untung saja jarak rumah si pemilik kontrakan hanya berjarak lima meter.


"Cepat masuk!" perintah Diandra.


Zeze menurut. Ia segera membuka pintu mobil dan duduk di samping Diandra. Diandra sudah siap di belakang kemudi.


Brrrmmmm...brrmmm...brrmmmm


Bunyi deru mesin mobil yang dikendarai Diandra. Keenpat roda mobil itu mulai bergerak perlahan, mengikuti arahan kemudi yang dipegang Diandra. Semakin lama suara deru mobil itu tidak terdengar. Artinya mobil itu sudah jauh meninggalkan area kontrakan itu.


"Lapor, Bos!" ucap seseorang melalui ponsel yang menempel di telinganya.


"Target meninggalkan kontrakan. Ia akan menuju ke Jakarta untuk menemui Juna" lanjut orang itu lagi


"Apa??? Juna??? Bukankah ia sudah meninggal?."


Arya, adalah orang yang menerima telepon di seberang. Ia memang menyuruh anak buahnya untuk memata-matai Diandra. Arya masih penasaran dengan mantan istrinya. Ia ingin kembali mendapatkan Diandra baik dengan cara halus maupun kasar.


"Menurut info dari mantan adik ipar Bos, Juna belum meninggal bahkan ia sekarang menjadi pemilik SMA Cendekia."


"APA????" teriak Arya. Otaknya langsung memberikan memori tentang laki-laki yang melunasi semua hutang Pak Narto. Arya langsung menduga jika Juna yang dimaksud adalah orang itu.


Nyali Arya sedikit menciut. Jika dugaannya benar, maka Arya kalah telak. Wajah dan dompetnya kalah jauh dengan Juna sekarang.


Kalau dulu Arya bisa tertawa di atas angin. Ia bisa menghina Juna seenaknya. Tapi sekarang? Tidak bisa. Keadaan berbalik. Dompet Arya pastilah kalah tebal dari Juna dan Diandra pastilah akan memilih bersama Juna.

__ADS_1


Tidak! Tidak! Arya tidak boleh diam. Diandra harus menjadi miliknya. Arya harus bertindak cepat. Diandra tidak boleh bertemu dengan Juna karena itu bisa menghancurkan keinginannya.


"Ikuti Diandra ke Jakarta! Saya juga akan menyusul. Jangan sampai lepas. Ingat, aku mau Diandra masuk ke dalam perangkapku. Aku ingin dia menjadi milikku lagi" ucap Arya kemudian ia memutuskan sambungan teleponnya.


__ADS_2